
*
*
π΄π΄π΄
*
Mutiara sedang berjalan mondar-mandir tak jelas, ia sedang bimbang antara mau telepon Erlang atau tidak.
Mutiara merindukan Erlang, ia ingin sekali memeluk tubuh tegap itu, menghirup aroma tubuh yang menjadi candu baginya dan mendengarkan detak jantungnya saat di dalam dekapanya, dekapan yang terasa begitu nyaman bagi Mutiara.
Tetapi ia merasa tidak enak jika harus menelponnya dan menyuruh Erlang kesini, mengingat saat ini Elmira sedang sakit
Yuwina sampai jengah melihat Mutiara yang sedari tadi berjalan mondar-mandir di depannya. "Kamu ngapain Tiara?"
"Bosen mah." jawab Mutiara kemudian duduk di sebelah mamanya.
"Mau jalan-jalan sama mama?"
"Nggak mau! Mah kita nggak jadi pindah? Katanya kalau papa udah bebas kita mau pindah?"
"Papamu nggak mau, dia sedang fokus dengan pencarian kakakmu dan kasusnya, mungkin setelah semua beres kita baru pindah, entah itu pindah ke rumah yang baru atau pindah ke Lombok usaha kita kan ada disana."
"Kalau mama sama papa ke Lombok, Tiara gimana?"
"Setelah anak kamu lahir kita pindah ke Lombok aja."
"Kak Erlang gimana?"
"Ya-- seperti sebelumnya, hidup bersama istrinya."
"Kalau anak Tiara kelak mencari ayahnya gimana mah?"
"Cari alasan dong yang masuk akal."
Mutiara nampak berpikir namun detik berikutnya ia mengedikkan bahunya, ia belum mau memikirkan tentang itu. "Mama belum masak buat makan siang kan? Tiara aja ya yang masak?"
"Nggak usah, nanti kamu capek."
Mutiara beranjak dari sofa. "Nggak apa-apa, Tiara mau masak aja dari pada bosen."
"Dasar kepala batu!" dengus Yuwina kemudian ia melangkah menuju ruang kerjanya menyusul sang suami yang berada disana.
Mutiara melangkah menuju dapur, ia mulai meracik sayur dan bumbu-bumbu. Kali ini Mutiara ingin memasak sop buntut, sayur kesukaannya sedari kecil dan ayam krispi.
*
π΄π΄π΄
*
Sudah beberapa hari ini Erlang tidak menemui Mutiara, ia sibuk mengurus Elmira di rumah sakit, setiap pulang kerja ia langsung ke rumah sakit dan berangkat kerja pun dari rumah sakit.
Dan hari ini keadaan Elmira sudah membaik rencananya jam makan siang nanti Erlang akan ke rumah Mutiara, tidak bisa di pungkiri ia rindu dengan Mutiara, entah ia rindu Mutiara atau anaknya yang masih di dalam kandungan Mutiara, ia tak mau ambil pusing siapa yang ia rindukan yang ia inginkan saat ini adalah bertemu dengan Mutiara dan menciumi perutnya.
Erlang melirik jam di pergelangan tangannya sebentar lagi waktunya makan siang, ia segera membereskan meja kerjanya dan bersiap-siap ke rumah Mutiara, setelah semuanya beres ia keluar dari ruang kerjanya menuju basement.
Setelah sampai basement Erlang memasuki mobilnya kemudian melajukannya membelah jalan menuju rumah Mutiara.
Kurang lebih 40 menit Erlang baru sampai di rumah Mutiara, ia turun dari mobil kemudian melangkah menuju pintu.
Tok tok tok setelah mengetuk pintu, Erlang menunggu beberapa saat dan pintu pun terbuka dari dalam.
"Kak Erlang..."
"Tiara..." Erlang langsung mencondongkan tubuhnya kemudian mencium perut Mutiara. "Aku kangen tau." ucapnya di depan perut Mutiara.
"Baru beberapa hari tidak bertemu kak Erlang sudah sekangen itu pada anaknya padahal anak ini belum lahir, bagaimana jadinya jika aku membawa anak ini ke Lombok?" batin Mutiara.
"Kok diem? Kamu nggak kangen aku?" tanya Erlang, biasanya Mutiara akan langsung minta peluk ketika mereka bertemu.
Mutiara menarik lengan Erlang supaya memasuki rumah kemudian ia menutup pintu, setelah itu barulah ia memeluk erat tubuh Erlang.
Erlang terkekeh dan membalas pelukan Mutiara tak kalah erat.
Setelah beberapa saat Mutiara teringat sesuatu, ia teringat kalau dirinya sedang memasak.
Mutiara melonggarkan pelukannya. "Kak Erlang udah makan siang?"
"Belum."
Mutiara melepas pelukannya. "Aku sedang memasak dan sebentar lagi siap, kita makan siang ya?"
Memang masakan Mutiara hampir selesai karena hanya tinggal menggoreng ayam krispi nya, Mutiara menyalakan kompor lagi dan mulai menggoreng ayam.
Erlang berdiri di sebelah Mutiara yang sedang menunggu ayam krispi nya matang, bibirnya rapat namun tangannya bergerak di perut Mutiara yang sedikit menonjol tanda bahwa janinnya berkembang dengan sempurna.
"Kak! Apaan sih, nanti aja setelah makan siang."
"Kangen...."
Mutiara mengangkat ayam yang telah matang kemudian menuangnya di atas piring. "Yuk ke meja makan."
Erlang mengikuti langkah Mutiara menuju meja makan kemudian mereka duduk di kursi.
"Papa sama mama mana?" tanya Erlang, ia sedang menanti piringnya di isi makanan oleh Mutiara.
"Di ruang kerja, mereka kalau makan siang emang agak telat. Kita duluan aja." jawab Mutiara sembari menyerahkan piring yang telah terisi makanan pada Erlang.
Erlang mulai memakan makanannya. "Kamu masih mual?"
"Kadang-kadang." jawab Mutiara setelah selesai mengisi piringnya kemudian ia duduk di kursi.
"Maafkan aku Tiara, sudah beberapa hari ini aku tidak kesini."
Mutiara menghentikan gerakannya yang hendak menyendok makanannya. "Tidak apa-apa, bagaimana keadaan kak Mira?"
"Sudah membaik, mungkin nanti sudah boleh pulang."
Mutiara mengangguk. "Syukurlah.."
"Kita makan dulu nanti kita lanjut ngobrol lagi."
Mutiara dan Erlang melanjutkan makan siang mereka hingga makanan mereka habis.
Setelah makanan mereka habis Mutiara mengumpulkan piring kotor mereka namun Erlang menahannya. "Biar aku aja yang cuci piring."
"Nggak apa-apa biar aku aja."
"Jangan! Tadi kamu udah masak, nanti kalau kecapekan gimana?"
Mutiara terkekeh. "Nggak usah berlebihan kak, cuma masak dan cuci piring tidak akan membuat aku kecapekan."
"Ya udah aku bantu kamu."
Mutiara menycuci piring di wastafel sedangkan Erlang yang mengambil piring kotor dari meja menuju wastafel, dengan begitu Mutiara tidak berjalan mondar-mandir untuk mengambil piring kotor.
"Udah selesai?" tanya Erlang, setelah selesai mengambil piring kotor ia masih menunggu Mutiara di ruang makan.
"Udah." jawab Mutiara kemudian ia melangkah dan di ikuti Erlang di sebelahnya, namun saat langkah Mutiara lurus menuju ruang tamu, Erlang membelokkan langkahnya menuju kamar. "Kita ke kamar aja."
Dahi Mutiara berkerut. "Loh, kak Erlang nggak balik ke kantor lagi?"
"Nanti aja, aku masih pengen bersama anakku." jawab Erlang kemudian ia membuka pintu kamar.
Mereka memasuki kamar kemudian duduk di tepi ranjang.
"Kamu duduknya disitu." pinta Erlang, supaya Mutiara duduk bersandar di kepala ranjang.
Mutiara mengernyit. "Harus ya?!"
"Harus!"
Mutiara beringsut dan duduk bersandar di kepala ranjang sesuai permintaan Erlang.
Erlang segera menaiki ranjang, ia membaringkan tubuhnya dan menggunakan paha Mutiara sebagai bantalan dan menciumi perut Mutiara lagi.
"Serindu itukah kak Erlang pada anaknya?" batin Mutiara.
"Habis makan tuh nggak boleh tidur kak."
"Aku nggak tidur hanya tiduran."
Mutiara mendengkus. "Sama aja kali!"
*
*
Kangen anaknya apa kangen ibunya sih Lang?
Aku belum mau menjawab teka-teki nya sekarang ya hehe. π€π€π€