An Agreement

An Agreement
Bab 39



*


*


Authornya nggak kuat cuti lama-lama, udah rindu berat dengan mas Erlang yang ganteng hehe...


*


🌴🌴🌴


*


Hari ini Mutiara sudah pulang ke rumah, ia pulang bersama kedua orang tuanya.


Erlang? Seperti biasa, Erlang masih kerja dan tidak bisa ikut menjemput karena ada meeting penting bersama koleganya yang dari Medan.


Mutiara dan Erlang belum menempati rumah mereka yang baru karena rumah itu masih tahap finishing yang sudah mencapai 90 persen, mungkin akan mereka tempati setelah proses finishing selesai dan kondisi Mutiara sudah benar-benar sehat.


"Hati-hati Tiara..." Yuwina sedang membantu Mutiara turun dari mobil.


Setelah Mutiara turun dari mobil, Yuwina menuntunnya menuju kamar. "Erlang nanti kesini?"


"Mungkin." jawab Mutiara.


Yuwina membuka pintu kamar Mutiara kemudian mereka melangkah memasuki kamar. "Kamu jadi mau pindah dari sini?" tanya Yuwina lagi sembari membantu Mutiara duduk di tepi ranjang.


"Kak Erlang maunya begitu mah."


Setelah Mutiara duduk, kini Yuwina juga ikut duduk di sampingnya. "Gini aja sayang, kalau Erlang sedang nginep di rumah lamanya kamu nginep disini aja, jadi mama nggak kesepian terus."


"Ide bagus mah."


"Nanti kalau Erlang kesini bicarakan sama dia! Ya sudah kamu istirahat dulu, mama mau ke dapur dulu mau masak buat makan malam kita nanti."


"Makasih mah."


Tangan Yuwina terangkat untuk mengusap pipi Mutiara lalu ia tersenyum simpul kemudian keluar dari kamar anaknya.


Mutiara membaringkan tubuhnya di ranjang, ia memang sudah diijinkan pulang namun masih belum boleh banyak beraktivitas dan harus banyak istirahat.


Mutiara mengusap lembut perutnya sebuah senyuman terbit di sudut bibirnya, mengingat janinnya yang baik-baik saja, ia sangat bersyukur masih di beri kesempatan untuk merawat janinnya dan semoga sampai bayinya lahir dan ia akan merawatnya dengan penuh kasih sayang. "Hai sayang... maafin bunda, bunda tidak hati-hati waktu ke kamar mandi, jadi kamu yang terkena imbasnya, kamu jadi terancam, bunda janji akan lebih hati-hati lagi dalam menjaga kamu. Kamu adalah bagian dari ayah, karena bunda tidak bisa memiliki ayah, maka ijinkan bunda memiliki kamu, sehat terus sampai kamu lahir di dunia dan menemani bunda ya? Bunda sayaaang... sama kamu." Mutiara bermonolog dengan janinnya.


Mutiara merubah posisinya, ia memiringkan tubuhnya menghadap jendela kamarnya kemudian ia bangkit dari posisinya lalu melangkah menuju jendela.


Mutiara membuka jendela kamarnya, ia berdiri di dekat jendela menatap bunga krisan yang ia tanam sendiri, ada berbagai macam bunga krisan dan berbagai macam warna, Mutiara memang suka bunga itu, dulu waktu masih tinggal di panti ia juga menanam bunga krisan di dekat jendela kamarnya jadi jika ia membuka jendela maka hal pertama yang ia lihat pasti bunga krisan yang berwarna-warni dan itu adalah hal yang menyenangkan bagi Mutiara.


Cukup lama Mutiara memandangi bunga-bunga itu sampai pintu kamarnya terbuka ia tidak menyadarinya.


"Tiara... kamu ngapain berdiri di situ?!"


Mutiara tersentak kaget saat mendengar suara Erlang, ia memang sedang asik melihat bunga-bunganya yang tumbuh dengan subur. "Bosen kak tiduran mulu." jawabnya.


Erlang melangkah sampai di samping Mutiara lalu ia mengikuti arah pandangnya Mutiara, Erlang pun ikut tersenyum saat melihat apa yang sedang Mutiara lihat. "Bunganya cantik ya, sama kayak yang di panti. Itu kamu yang nanam sendiri?"


"Iya kak."


"Jangan berdiri lama-lama Tiara! Inget kamu harus banyak istirahat. Aku ambilkan kursi ya?"


"Tidak usah, ini juga mau kembali ke ranjang kok, tumben kak Erlang jam segini udah pulang kerja?"


"Kan kamu udah pulang dari rumah sakit, jadi begitu meetingnya selesai aku langsung pulang."


"Kak.."


"Ya."


"Bisa tolong petikkan bunga itu?"


"Kok di petik? Nggak sayang sama bunganya kalau dipetik?"


"Aku pengennya bunga itu di taruh meja riasku."


"Ya udah aku petikkan sebentar."


Erlang keluar lagi dari kamar Mutiara, ia ke dapur untuk mengambil gunting.


"Mah, ada gunting nggak?" tanya Erlang pada mertuanya yang sedang memasak.


"Tiara pengen bunga yang ada di samping kamarnya."


"Oh.." Yuwina membuka laci lalu mengambil gunting yang perlukan Erlang. "Nih."


"Makasih mah."


Erlang melanjutkan langkahnya menuju samping kamar Mutiara dimana bunga itu berada dan Mutiara menunggunya di jendela.


"Kamu mau yang warna apa Tiara?" tanya Erlang setelah sampai di tempat bunga-bunga itu berada.


"Aku mau yang putih dan yang ungu kak." jawab Mutiara girang.


Erlang memetik bunga berwarna putih dan ungu sesuai permintaan Mutiara. "Segini cukup?" tanyanya sembari memperlihatkan beberapa bunga yang telah ia petik.


"Yang putih di tambahin lagi kak, itu masih kurang."


Erlang memetik lagi yang berwarna putih. "Cukup?" tanyanya lagi.


"Cukup."


"Aku bawa ke dapur dulu terus aku taruh di vas bunga."


Erlang kembali ke dapur untuk menempatkan bunga-bunga krisan itu di vas bunga.


Setelah Erlang menghilang dari pandangan Mutiara, ia menutup jendela kamarnya lalu melangkah menuju ranjang kemudian duduk di tepi ranjang menunggu Erlang yang sedang menata bunganya.


Erlang kembali memasuki kamar Mutiara beserta bunga yang sudah tertata rapih di vas. "Tambah cantik ya bunganya setelah di taruh di vas." kata Erlang sembari menaruh vas tersebut di atas meja riasnya Mutiara.


Mutiara beranjak dari tempatnya lalu mengecup singkat pipi Erlang. "Makasih kak."


Erlang sampai speechless di buatnya, selama ini Mutiara belum pernah mengecup dirinya, hanya dirinya lah yang melakukan itu, itupun lebih sering ia tujukan ke anaknya bukan ibunya.


"Kak!!"


Erlang tersadar lalu menoleh ke arah Mutiara. "Ya."


"Kok diem?"


Erlang membungkuk lalu mengecup perut Mutiara kemudian menegakkan tubuhnya lagi. "Tidak apa-apa, yuk kita duduk."


Erlang dan Mutiara duduk di tepi ranjang.


"Satu minggu kedepan aku tidak nginep disini ya? Mungkin hanya sekedar mampir saat aku berangkat atau pulang kerja."


Mutiara mengangguk.


"Rumah kita akan selesai beberapa hari lagi dan minggu depan kita akan menempatinya bersama."


"Emm... kalau kak Erlang sedang di rumah yang lama, aku boleh nginep disini nggak?" tanya Mutiara hati-hati, takutnya akan menyinggung perasaan Erlang.


Erlang terkekeh. "Kenapa takut gitu sih? Jelas nggak apa-apa, malahan aku seneng kamu di jagain mama dan papa."


"Jadi boleh?" tanya Mutiara memastikan.


"Boleh..." jawab Erlang lalu mengusap perut Mutiara. "Anak kita cewek apa cowok ya Tiara?"


Mutiara terkikik geli, pertanyaan dari Erlang sungguh menggelikan, usia janinnya baru menginjak tiga bulan, Erlang sudah menanyakan jenis kelamin anaknya. "Kamu tuh ada-ada aja kak, usia debay belum genap tiga bulan, jadi belum terlihat jenis kelaminnya apa."


"Tapi aku udah penasaran pengen tau anak kita cewek atau cowok."


"Emang kak Erlang pengennya debay cewek apa cowok?"


"Cewek atau cowok, dengan senang hati aku akan menerimanya." jawab Erlang lalu kembali mendaratkan kecupan di perut Mutiara. "Aku udah nggak sabar pengen lihat dia."


Mutiara kembali di buat terkekeh oleh Erlang, usia kandungan masih masuk di trimester pertama tapi Erlang sudah menanyakan jenis kelamin anaknya dan sudah tidak sabar ingin melihat anaknya.


*


*


Meskipun tangan tidak bisa saling menjabat dan mata tidak bisa saling menatap. Maka melalui pesan singkat saya mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah.


Taqqoballahuminna wa minkum taqqobal ya kariim. πŸ™πŸ™πŸ™