An Agreement

An Agreement
Bab 49



*


*


🌴🌴🌴


*


Erlang menyandarkan kepalanya di sebelah pundak Mutiara, satu tangannya ia jadikan bantalan dan satu tangannya lagi menggenggam tangan Mutiara. Erlang sampai tertidur setelah menunggu berjam-jam dan Mutiara belum membuka matanya.


Erlang membuka matanya saat ia merasakan gerakan di tangannya, ia mengangkat kepalanya kemudian menatap Mutiara yang perlahan membuka matanya. "Tiara..."


Mutiara mengerjab beberapa kali kemudian menatap lurus dengan tatapan kosong, ia sedang mengingat-ingat sesuatu, sesuatu yang terjadi sebelum dirinya tidak sadarkan diri, setelah ia berhasil mengingatnya, Mutiara melepas tangannya yang di genggam oleh Erlang untuk meraba perutnya.


"Debay baik-baik aja." Erlang berujar sebelum Mutiara mengajukan pertanyaanya.


Ingatan Mutiara kembali pada saat ia melihat gelang mutiara yang di pakai Elmira dan saat ini juga hatinya hancur, ia sadar dirinya telah merenggut kebahagiaan kakaknya sendiri, menjadi orang ketiga dalam rumah tangga kakaknya.


Erlang beranjak dari kursi kemudian mencondongkan tubuhnya hendak mencium pipi Mutiara namun Mutiara segera memalingkan wajahnya untuk menghindari kecupan itu.


Erlang kembali duduk dengan lesu. "Apa Tiara marah padaku karena aku datang terlambat?" tanya Erlang dalam hati.


"Maaf Tiara... aku tahu aku salah, maafkan aku yang tidak pecus dalam menjaga kalian, aku bukan suami dan ayah yang baik."


Mutiara masih tetap dalam posisinya, ia membuang muka untuk menyembunyikan air matanya yang tumpah, sebenarnya ia sama sekali tidak marah pada Erlang, ia hanya sadar bahwa ia benar-benar harus pergi dari kehidupan Erlang, ia tidak ingin merusak kebahagiaan kakaknya lagi.


"Kenapa kamu tidak bilang kalau anak kita kembar Tiara?"


Pertanyaan dari Erlang berhasil membuat Mutiara mengalihkan atensinya, ia menyeka air matanya kemudian menatap Erlang dengan tatapan bingung, ia benar-benar tidak tahu kalau ia mengandung anak kembar, selama ini ia memang belum melakukan USG dan dokter yang selalu memeriksanya pun tidak pernah mengatakan itu. "Anak kita kembar?" tanyanya seakan tidak percaya.


Erlang mengangguk. "Iya. Masa kamu belum tahu?"


Mutiara menggeleng lemah.


"Dokter bilang kamu hamil kembar dan bayi kita yang satunya tidak bisa bertahan."


Kali ini Mutiara sudah tidak bisa lagi menyembunyikan air matanya, ia menangis sembari mengusap perutnya. "Ya Tuhan...." gumamnya, ia merasa gagal dalam menjaga anaknya, bahkan ia belum mengetahui keberadaan janin yang satunya namun Tuhan sudah mengambilnya kembali. "Maafkan bunda nak..."


Erlang beranjak dari kursi kemudian duduk di tepi ranjang menghadap Mutiara, tangannya terulur untuk menghapus air mata Mutiara namun Mutiara langsung menepisnya. "Aku bisa menghapusnya sendiri!" ucapnya datar.


"Kamu marah sama aku?"


Mutiara kembali memalingkan wajahnya, sebenarnya ia tidak ingin bersikap dingin seperti ini namun ia memang harus terbiasa hidup tanpa Erlang, ia akan mengalah demi kakaknya.


Erlang menghela napas pelan. "Istirahatlah kamu masih butuh banyak istirahat supaya kamu cepat pulih dan secepatnya kita bisa pulang ke rumah." ujar Erlang kemudian ia kembali duduk di kursi, ia hanya menatap Mutiara yang sedang membuang muka enggan menatap dirinya.


Erlang merogoh handphonenya yang bergetar di saku celana, ia mengernyit bingung siapa yang menelponnya tengah malam begini.


"Hallo..." sahutnya.


"Apa benar ini pak Erlangga?"


"Benar. Ini siapa?"


"Istri anda mengalami kecelakaan dan sekarang sedang di rawat di rumah sakit XXX XXXXXX."


"Elmira?!" Erlang terbelalak kaget namun detik berikutnya ia biasa saja, ia sudah tidak ingin lagi berurusan dengan wanita itu, wanita yang hampir mencelakakan kedua anaknya.


"Betul pak, ibu Elmira. Tolong segera kesini, pasien membutuhkan anda."


Erlang memijit pangkal hidungnya, biar bagaimanapun status Elmira saat ini masih istrinya, jadi Elmira masih menjadi tanggung jawabnya, mau tidak mau dirinya harus mengurus Elmira.


Mendengar nama Elmira membuat Mutiara menatap Erlang lagi, ia mencoba membaca ekspresi raut wajah Erlang.


"Kak Mira kenapa kak?" tanya Mutiara.


"Dia kecelakaan." jawab Erlang singkat.


"Kok kamu nggak menyusulnya?"


"Kamu dan anak kita lebih membutuhkan aku Tiara."


"Kak Erlang menyusul kak Mira aja! Aku nggak apa-apa disini sendiri."


"Enggak Tiara!! Dia udah jahat sama kamu, dia sudah mencelakai salah satu anak kita."


"Kak Mira nggak jahat! Dia hanya berusaha mempertahankan apa yang dia punya. Aku yang jahat, aku yang sudah merusak kebahagiaannya."


"Kamu ngomong apa Tiara?! Kamu lupa dengan apa yang dia lakukan sama kamu tadi siang?!"


"Aku sudah bilang, sebenarnya kak Mira nggak jahat dia hanya mempertahankan apa yang seharusnya menjadi miliknya."


"Aku nggak ngerti dengan jalan pikiranmu Tiara!! Dan aku tidak akan kesana sebelum ada orang yang menemani kamu disini."


Mutiara meraih tangan Erlang. "Tolong kak, kamu kesana kasihan kak Mira."


"Jangan memintaku kesana lagi Tiara! Mau kamu merengek, membujuk, merayu, aku tidak akan berubah pikiran. Aku akan tetap disini, aku tidak akan pergi, bagiku kamu dan anak kita jauh lebih penting dari pada Elmira."


"Tapi kak Mira adalah kakakku!" Mutiara berujar sembari memejamkan mata, ia berusaha menahan air matanya, sebenarnya ini sangat berat baginya namun ia tidak mau egois merebut kebahagiaan kakaknya, maka dari itu ia harus mengatakannya pada Erlang.


Erlang membulatkan matanya, ia sangat terkejut dengan perkataan Mutiara. Jadi dirinya telah menikahi dua wanita bersaudara? Kakak adik?


"Tolong kak. Tolong kakakku..." pinta Mutiara lagi.


"Darimana kamu tahu kalau Elmira adalah kakakmu?"


"Kak Mira memakai gelang yang sama denganku, kamu pernah dengar sendiri kan kalau gelang itu hanya ada tiga, tidak ada yang memilikinya selain aku, kakakku dan mama."


"Gelang mutiara itu?" tanya Erlang memastikan.


Mutiara mengangguk.


Erlang teringat gelang yang di simpan Mutiara dan gelang yang di simpan Elmira, ia berusaha mengingat-ingat bentuk gelang itu, kalau gelang milik Mutiara, Erlang bisa langsung mengingatnya karena Mutiara tidak memiliki banyak gelang, namun gelang milik Elmira ia belum terlalu mengingatnya karena Elmira memiliki banyak gelang dan gelang yang di maksud Mutiara, Elmira jarang memakainya.


Namun setelah sepersekian menit ia berusaha mengingatnya akhirnya Erlang sudah bisa mengingatnya dan benar yang di katakan Mutiara, gelang mereka sama.


"Aku harus secepatnya me---"


Kalimat Erlang terpotong saat ia mendengar pintu terbuka dari luar, Mahendra dan Yuwina masuk ke kamar tersebut.


Erlang beranjak dari kursi lalu melangkah mundur untuk memberi tempat pada Yuwina dan Mahendra.


Mereka melangkah sampai di sebelah ranjang Mutiara. "Tiara... maaf mama baru sampai." ujar Yuwina kemudian ia membungkuk untuk mencium putrinya kemudian ia menegakkan tubuhnya lalu melangkah mundur untuk memberi tempat pada suaminya supaya suaminya bisa bergantian mencium putrinya.


"Mamaaa...." Mutiara kembali menangis.


Yuwina kembali membungkuk untuk memeluk putrinya untuk menenangkannya.


*


*


Hemm.... kira-kira bagaimana reaksi Yuwina dan Mahendra jika mereka tahu istri pertamanya Erlang adalah putri sulung mereka??? πŸ€”πŸ€”πŸ€”