An Agreement

An Agreement
Bab 42



*


*


🌴🌴🌴


*


Erlang dan Mutiara sudah menempati rumah mereka yang baru, mereka masih tinggal berdua karena mereka belum menemukan pembantu yang cocok bagi mereka.


Mutiara yang menyiapkan segala keperluan Erlang dari pakaian, memasak dan semuanya, hanya bersih-bersih rumah yang ia tinggalkan karena Erlang tidak mengijinkan Mutiara mengerjakan semua pekerjaan rumah, mengingat Mutiara saat ini sedang berbadan dua.


Beberapa hari sekali bi Lastri akan datang untuk membersihkan rumah dan pakaian mereka di laundry.


Erlang memasuki kamarnya. "Tiara..." panggilannya.


Mutiara beranjak dari ranjang, ia mengambil alih tas kerjanya Erlang lalu ia taruh di ranjang terlebih dahulu, barulah nanti akan ia taruh di meja kerja Erlang yang terletak tidak jauh dari ranjang. "Tumben pulangnya malem banget kak?" tanyanya sembari membantu Erlang melepas jas nya.


Setelah jas nya terlepas, Erlang membungkuk untuk mengecup anaknya yang masih di dalam kandungan Mutiara, setelah itu ia duduk di kursi depan meja rias. "Tadi ada meeting dadakan." jawabnya sembari melepas kancing kemejanya.


Mutiara menaruh jas kotor Erlang di ranjang pakaian kotor setelah itu ia masuk ke kamar mandi untuk menyalakan water heater untuk mandi Erlang.


Setelah semua beres Mutiara keluar dari kamar mandi kemudian ia menyiapkan piyama untuk Erlang. "Aku siapin makan malam dulu ya kak, aku tunggu di bawah."


Erlang segera menahan tangan Mutiara yang hendak berlalu dari hadapannya. "Jangan capek-capek Tiara, aku bisa ambil sendiri makan malamnya. Kamu disini aja!"


"Nggak apa-apa, aku juga belum makan malam kok."


"Kenapa belum makan malam Tiara?! Aku kan udah bilang jangan nungguin aku."


"Tadi belum laper kak."


"Ya udah kamu duluan, aku mau mandi dulu."


Erlang memasuki kamar mandi dan Mutiara turun ke lantai dasar untuk menghangatkan makan malam mereka.


Setelah selesai menghangatkan makan malam, Mutiara menatanya di meja makan.


"Makan malamnya udah siap Tiara?" tanya Erlang yang baru saja sampai di ruang makan.


Erlang terlihat lebih segar dan telah memakai piyama yang telah di pilihkan Mutiara tadi.


"Udah kak." jawab Mutiara sembari meletakkan makanan terakhir yang ia bawa dari dapur.


Erlang menarik kursi lalu mendudukinya.


Dengan telaten Mutiara mengambilkan makanan dan teh hangat untuk Erlang. Erlang terdiam, ia menatap Mutiara takjub, Mutiara mau menyiapkan segala kebutuhannya, menyiapkan pakaian gantinya, menemaninya makan, bahkan memijit badan nya di saat ia merasa capekan karena pekerjaan kantor yang menumpuk, sesuatu yang tidak ia dapatkan dari istri pertamanya.


Mutiara telah selesai mengisi piring Erlang namun ia mengernyit saat mendapati Erlang hanya menatap kosong padanya kemudian ia mengibaskan telapak tangannya di depan wajah Erlang. "Kak??!!"


"Eh.." Erlang tersentak, ia mengerjab beberapa kali kemudian menatap Mutiara. "Udah selesai?"


"Sudah selesai dari tadi kak, kamu malah ngelamun."


"Ayo kita makan." Erlang memakan makanannya. "Kalau kamu capek masak kita go food aja Tiara." ujar Erlang di sela-sela kegiatannya mengunyah makanan.


Mutiara menghentikan suapannya kemudian menatap Erlang. "Nggak apa-apa kak dari pada aku bosen nggak ada kerjaan."


"Kalau itu emang buat kamu seneng, aku nggak bisa ngelarang asal jangan capek-capek ya!" ujar Erlang lalu melanjutkan suapannya.


"Iya, nggak capek kalau cuma masak doang."


Mereka menaiki tangga menuju kamar mereka.


"Aku mau gosok gigi dulu."


Erlang membelokkan langkahnya menuju wastafel dan Mutiara melanjutkan langkahnya menuju ranjang, ia menunggu Erlang menggosok giginya setelah selesai barulah ia yang akan gosok gigi.


Erlang dan Mutiara telah selesai cuci muka dan gosok gigi dan mereka menaiki ranjang, bersiap untuk istirahat.


Erlang duduk bersandar di kepala ranjang, ia membuka iPad nya memeriksa beberapa email yang masuk.


"Udah malam loh kak, kamu nggak istirahat? Kerjaannya di urus besok lagi."


Erlang menepuk pundaknya sendiri. "Sini!" ucapnya kemudian menarik Mutiara supaya bersandar di pundaknya. "Tidurlah..."


Mutiara bersandar di pundak Erlang dan Erlang melanjutkan kegiatan.


Hanya beberapa menit dalam posisi seperti itu karena Erlang memang hanya memeriksa pekerjaannya saja dan hampir selesai.


Erlang menoleh ke samping dimana Mutiara berada. "Kok belum tidur?" tanyanya.


Mutiara mendongak. "Belum bisa tidur."


Erlang meletakkan iPad nya di atas nakas kemudian memeluk Mutiara. "Belum bisa tidur karena belum di peluk?" godanya.


"Nggak tau." jawab Mutiara asal kemudian ia kembali menunduk.


"Mau ngobrol dulu?"


"Ngobrolin apa kak?"


Erlang menegakkan tubuhnya yang sedikit merosot serta membenarkan posisi mereka supaya nyaman untuk ngobrol. "Rumah ini atas nama kamu Tiara, jadi rumah ini sepenuhnya milik kamu, jika aku berbuat kasar atau menyakiti kamu. Kamu bisa mengusir aku dari sini."


Mutiara mendongak lagi untuk menatap Erlang. "Kenapa pakai namaku kak?"


"Karena ka---" kalimat Erlang terpotong saat ia menunduk dan tatapan mata mereka saling bertemu, keduanya tidak bisa terlepas dari tatapan yang mengunci itu.


Wajah mereka saling mendekat dengan ragu, semakin lama semakin dekat, Mutiara memejamkan matanya dan Erlang sedikit memiringkan kepalanya untuk menjangkau bibir Mutiara, Erlang memagut bibir Mutiara, bibir yang saling menyatu dan bergerak dengan ragu namun semakin lama keduanya semakin menikmatinya dan semakin lama pula ciuman itu semakin menuntut, satu tangan Erlang yang tadinya berada di punggung Mutiara kini merambat naik sampai di tengkuk Mutiara kemudian menekannya pelan untuk memperdalam ciuman mereka.


Erlang sudah kehilangan logikanya yang tersisa hanyalah hasrat kelelakiannya, ia lupa akan janjinya yang dulu, janjinya yang tidak akan menyakiti Mutiara, kabut gairah lebih menguasai dirinya saat ini.


Erlang menyudahi pagutannya, ia membersihkan sisa-sisa cairan di bibir Mutiara dengan ibu jarinya. "Aku sudah memberikan hak mu sebagai seorang istri. Sekarang aku yang meminta hak ku sebagai seorang suami."


Pipi Mutiara terasa panas bahkan mungkin sudah memerah, ia paham apa yang di inginkan Erlang saat ini. "Tapi pelan-pelan ya!"


Erlang membelai pipi Mutiara dengan punggung tangannya. "Aku tau, mana mungkin aku akan menyakiti anak kita, sedangkan aku sangat menyayanginya."


Mutiara kembali memejamkan matanya dan Erlang kembali memagut bibir Mutiara, namun kali ini lebih agresif, tangannya pun tidak tinggal diam, tangan kekar itu menelusuri setiap lekuk tubuh Mutiara dan berhenti di perut Mutiara yang sudah terlihat sedikit membuncit.


Erlang melepas pagutannya lalu mengusap lembut perut Mutiara sesaat setelah itu ia kembali melanjutkan kegiatannya, namun bukan bibir Mutiara lagi yang ia jamah, bibir Erlang turun ke leher dan akan semakin turun lagi seiring berjalannya waktu.


*


*


Silahkan di teruskan ngayal nya!


Bebas, sudah tidak puasa. 🀣🀣🀣


Tapi yang jomblo gimana ya? πŸ€”πŸ€”πŸ€”