An Agreement

An Agreement
Bab 35



*


*


🌴🌴🌴


*


Yusuf dan Niar telah sampai di rumah Erlang, mereka memencet bel dan menunggu beberapa saat kemudian pintu terbuka dari dalam. "Selamat pagi tuan, nyonya." sapa ramah bi Atik kemudian ia membuka pintu lebar-lebar.


"Bagaimana keadaan Elmira bi?" tanya Niar setelah memasuki rumah anaknya.


"Non Elmira masih panas dan sekarang di kamarnya." jawab bi Atik.


Niar dan Yusuf menaiki tangga menuju kamar Elmira. "Kalau memang belum sembuh kenapa kemarin pulang? Seharusnya kan di rumah sakit dulu sampai sembuh."


Bi Atik mengikuti langkah Yusuf dan Niar dari belakang. "Non Elmira sudah tidak betah di rumah sakit, lagi pula kemarin non Elmira juga sudah di ijinkan pulang oleh dokternya."


Yusuf dan Niar telah sampai di depan pintu kamar Elmira kemudian membuka pintu kamar tersebut.


Elmira terlihat terkejut melihat kedatangan kedua mertuanya karena ia mengira yang akan memasuki kamarnya adalah Erlang.


Yusuf dan Niar mendekati ranjang Elmira, Niar memeriksa dahi Elmira dan benar saja Elmira panas kemudian ia menoleh ke samping dimana suaminya berada. "Kita bawa Elmira ke rumah sakit sekarang pah."


"Tidak usah mah." tolak Elmira.


"Kamu belum sembuh Mir. Kita ke rumah sakit biar kamu cepet sembuh." Yusuf bersuara.


"Nggak usah pah, aku bosen di rumah sakit." keluh Elmira.


Yusuf menghela napas pelan. "Ya sudah kita panggil dokter ke rumah aja." ujarnya.


"Mama setuju, dari pada Elmira tidak mendapat penanganan yang ada nanti malah semakin parah." Niar menimpali.


"Ya udah papa telfon dokter dulu." Yusuf berujar kemudian ia melangkah menuju sofa di kamar anaknya, ia akan menelepon dokter disana.


"Mama Hanna nggak disini Mir?" tanya Niar setelah duduk di tepi ranjang di sebelah Elmira.


"Mama Hanna sedang ada urusan mah, mungkin nanti sore baru kesini."


"Oh.." Niar menanggapi jawaban dari Elmira.


"Erlang belum kembali mah?"


"Erlang masih di rumah sakit."


"Bagaimana kondisi Tiara?"


Niar membuang napas berat. "Mama juga belum tau kondisi Tiara dan janinnya, mama dan papa kan di tugaskan untuk menjaga kamu disini."


Elmira memalingkan wajahnya menatap meja rias di sampingnya, tidak bisa di pungkiri hatinya terasa sakit kala mengingat sebelumnya seluruh perhatian Erlang hanya untuk dirinya tetapi kini dirinya harus membaginya dengan wanita lain apalagi wanita itu akan memberi Erlang seorang anak pasti Erlang akan memberi perhatian lebih pada wanita itu.


*


🌴🌴🌴


*


Erlang duduk di kursi samping ranjang Mutiara sedangkan Yuwina dan Mahendra duduk di sofa.


Hari semakin siang namun Mutiara belum juga terbangun dari tidur panjangnya dan itu yang membuat Erlang masih di selimuti rasa khawatir.


Yuwina beranjak dari sofa, ia berjalan sampai di sebelah Erlang. "Erlang, ini sudah lewat jam makan siang, kamu nggak makan siang dulu? Padahal kamu tadi juga belum sarapan kan?"


"Nanti aja mah."


"Jaga kesehatan kamu Lang, jangan sampai kamu jadi ikut sakit. Kalau kamu sakit yang akan jagain anak kamu siapa?"


"Tapi sampai sekarang Tiara belum sadar mah..."


"Dia akan baik-baik saja tidak usah khawatir, bukankah kamu sudah mendengar sendiri penjelasan dari dokter?"


"Mama sama papa aja duluan nanti kita gantian."


"Kamu aja dulu, mama sama papa mau makan siang sekalian pulang buat ganti baju."


"Bener nggak apa-apa?"


"Nggak apa-apa mah, beneran."


"Ya udah mama pulang duluan ya, kalau ada apa-apa langsung hubungi kami!"


"Iya mah."


Mahendra beranjak dari sofa, ia berjalan sampai di sebelah Erlang. "Jaga anak dan cucu papa." ujarnya sembari menepuk pelan bahu Erlang.


"Pasti pah."


Yuwina dan Mahendra keluar dari kamar rawatnya Mutiara, mereka akan pulang untuk makan siang dan ganti pakaian serta mengambil beberapa barang untuk Mutiara.


Erlang kembali menatap Mutiara yang masih setia memejamkan matanya, Erlang mencondongkan tubuhnya kemudian menopang dagunya di telapak tangannya, ia menatap lekat-lekat wajah wanita yang sedang mengandung anaknya, selama ini Erlang tidak terlalu memperhatikannya secara seksama, matanya, hidungnya, bibirnya dan semuanya. "Kamu cantik Tiara." gumamnya. "Jika anak kita perempuan pasti dia akan cantik seperti kamu." lanjutnya.


Erlang menegakkan tubuhnya lalu meraih tangan Mutiara untuk di genggamnya. "Bangun Tiara! Kamu sudah terlalu lama tidur, kamu nggak laper?"


Erlang teringat dengan Elmira, Bagaimana kondisinya? Erlang sampai melupakan itu, ia terlalu larut dengan kondisi Mutiara. Tangan kiri Erlang masih menggenggam tangan Mutiara sedangkan tangan kanannya mengeluarkan handphonenya dari dalam saku celananya, ia hendak menelepon papanya untuk menanyakan kondisi Elmira.


Erlang membuka layar handphonenya mencari kontak papanya, namun gerakan terhenti saat merasakan gerakan lain di tangan kirinya, tangan siapa lagi kalau bukan tangan Mutiara, Erlang menutup kembali layar handphonenya kemudian menatap Mutiara yang perlahan membuka matanya.


Erlang segera meletakkan handphonenya di atas nakas kemudian mencondongkan tubuhnya lagi. "Tiara... akhirnya kamu bangun juga, kamu membuat aku takut Tiara."


Mutiara belum merespon perkataan Erlang, ia meraba perutnya dan seperti mengingat-ingat sesuatu.


"Perut kamu masih sakit?" tanya Erlang panik. "Aku panggil dokter sekarang ya?"


Erlang hendak beranjak dari kursi namun Mutiara menahan tangan Erlang yang masih menggenggam tanganya. "Kak, debay bagaimana?" mata Mutiara sudah berkaca-kaca, ia teringat bagaimana ia merasa kesakitan dan dirinya di bawa ke rumah sakit. Mutiara takut jika sampai terjadi apa-apa pada bayi yang di kandungnya.


Erlang tersenyum tipis. "Dia baik-baik aja tidak usah khawatir, yang penting kamu tidak boleh capek, stress, dan kamu harus rajin minum vitamin dan makan makanan yang bergizi."


"Syukurlah..." Mutiara bernapas lega, meskipun awalnya ia terkejut dengan kehadiran bayinya, lebih tepatnya khawatir dengan masa depan anaknya.


Tapi Mutiara tetap mencintai anaknya dan tidak mau kehilangannya.


Anaknya adalah pengikat dirinya dan Erlang karena nyatanya pernikahannya bukan pengikat antara dirinya dan pria yang di cintainya.


"Kamu mau makan? Atau minum?" tawar Erlang.


"Aku mau minum kak." jawab Mutiara.


Erlang memencet tombol di samping ranjang Mutiara supaya sedikit naik hingga posisi Mutiara duduk, setelah itu ia meraih gelas berisi air putih di atas nakas kemudian meminumkannya pada Mutiara.


"Sudah?"


Mutiara mengangguk, Erlang meletakkan gelas tersebut di tempat semula dan memencet tombol itu lagi sehingga posisi Mutiara kembali seperti semula.


Erlang mengusap perut Mutiara. "Kamu tidur terlalu lama Tiara dan itu membuat aku khawatir." ujar Erlang.


Mutiara memalingkan wajahnya, ia merasa bukan dirinya yang di khawatirkan Erlang tetapi hanya bayinya.


"Kenapa melihat kesana Tiara? Aku disini." protes Erlang.


"Kak Erlang bukan khawatir padaku tetapi khawatir pada debay." jawab Mutiara tanpa menatap Erlang.


"Aku juga khawatir sama kamu Tiara, aku juga sayang sama kamu."


"Sayang pada debay." sarkas Mutiara.


Erlang terdiam mungkin yang Mutiara katakan ada benarnya, ia memang sangat menyayangi anak yang sedang berkembang di rahim Mutiara. "Aku juga sayang sama kamu."


"Sayang seorang kakak terhadap adiknya." sarkas Mutiara lagi, entah mengapa dirinya menjadi sensitif.


Mutiara menginginkan lebih dari itu ia ingin di sayangi layaknya seorang istri sebelum pernikahannya berakhir, ia merasa kalau pernikahannya memang akan berakhir pada waktunya, tidak mungkin kan mereka bertiga akan menjalani kehidupan seperti ini selamanya?


Erlang kembali terdiam karena ia sendiri tidak tahu rasa sayang apa yang ia rasakan terhadap Mutiara, yang ia rasakan adalah ingin selalu dekat Mutiara, entah itu dekat Mutiara atau lebih tepatnya ingin dekat dengan anaknya.


*


*


Yang request pertemuan keluarga lengkap Mutiara sabar ya semua ada waktunya,, ikuti dulu alurnya. πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰