
*
*
"Tunggu sus!" Erlang kembali menghentikan langkah para suster.
"Ada apa pak?" tanya salah satu seorang suster setelah berhenti lalu menoleh.
Erlang berlari kecil untuk menyusul para suster yang mendorong inkubator. "Anak saya cewek atau cowok sus?"
"Anak anda perempuan pak, mari ikut kami sebentar untuk memberi nama pada bayinya."
Para suster melanjutkan langkahnya dan Erlang mengikutinya.
Yuwina menemani Mutiara yang akan segera di pindahkan ke kamar rawat.
Setelah memberi nama pada anaknya, Erlang ke ruang rawatnya Mutiara, ia berdiri mematung di ambang pintu menatap Mutiara yang sedang berbaring di ranjangnya.
Erlang seakan ingin mengumpat kepada kedua wanita kakak beradik itu, sang kakak yang menyebabkan salah satu anaknya pergi. Sedangkan sang adik yang membuat anaknya terlahir prematur, namun ia juga tidak bisa menyalahkan salah satunya karena dirinya juga bersalah dalam situasi ini.
Erlang melangkah memasuki kamar tersebut kemudian berhenti di samping ranjang Mutiara, ia menatap datar pada Mutiara karena keegoisan Mutiara hampir membahayakan nyawa anaknya.
Yuwina menatap Erlang dan Mutiara bergantian, ia memahami situasi ini kemudian ia beranjak dari kursi lalu melangkah menuju sofa untuk memberi kesempatan pada Erlang dan Mutiara.
Mutiara memalingkan wajahnya ia merasa tidak nyaman di tatap seperti itu oleh Erlang sekaligus menyembunyikan air matanya yang tumpah.
Erlang masih berdiri di samping ranjang, ia menunggu sampai Mutiara mau menatap dirinya, namun sampai beberapa menit Mutiara tak kunjung menatap dirinya.
"Anak kita perempuan--" ujar Erlang membuat Mutiara menoleh kemudian menatap Erlang. "Dan aku sudah memberinya nama." lanjutnya.
"Siapa nama anak kita kak?" tanya Mutiara.
"Apa kamu masih peduli dengan anak kita?!" tanya Erlang datar namun begitu menusuk ke relung hatinya Mutiara.
Air mata Mutiara langsung mengalir dari sudut matanya, ia sudah tidak bisa lagi menyembunyikan tangisnya.
"Kenapa menangis?! Baru sadar?! Sadar bahwa keegoisanmu itu membahayakan anak kita?!"
Yuwina beranjak dari sofa, ia langsung menarik lengan Erlang. "Tolong jangan menghakimi Tiara! Dia baru saja menjalani operasi, biar dia pulih dulu barulah kalian membahasnya lagi."
"Tapi Tiara sebagai ibu sudah egois mah! Dia tidak mementingkan anaknya, yang dia utamakan egonya."
"Mama tau. Tapi tolong jangan bahas sekarang!"
"Kasihan Keyra mah, bayi sekecil itu harus menderi--"
"Keyra?" potong Mutiara. "Itu nama anak kita kak?" tanyanya.
"Aku kasih dia nama Keyra Shafira." jawab Erlang.
"Keyra Shafira." Mutiara mengulang nama anaknya. "Maafin bunda Keyra..." batin Mutiara.
Erlang membuang napas berat kemudian duduk di di tepi ranjang. "Maafkan aku." ucapnya kemudian ia beranjak dari ranjang lalu melangkah keluar dari kamar tersebut.
Mutiara hanya menatap punggung Erlang yang kian menjauh sampai menghilang di balik pintu, Erlang benar. Dirinya jahat, dirinya yang menyebabkan anak mereka harus terlahir sebelum waktunya.
Ingin rasanya Mutiara melihat anaknya, namun belum bisa, kondisinya belum memungkinkan dirinya untuk melihat anaknya, anak yang ia kandung selama tujuh bulan.
Yuwina duduk di tepi ranjang kemudian menghapus air mata Mutiara. "Sudah, jangan terlalu di pikirkan Tiara! Erlang seperti itu karena dia merasa kasihan terhadap anaknya, tidak ada yang bisa di salahkan dalam situasi ini termasuk kamu."
Mutiara tidak menanggapi perkataan Yuwina, ia masih terus menangis, menyesali semua situasi ini, andai dirinya tidak tidak menikah dengan Erlang mengkin semua ini tidak akan terjadi dan semua akan baik-baik saja.
Erlang keluar dari kamar rawatnya Mutiara, ia melangkah menuju ruang NICU meskipun ia belum bisa menyentuh anaknya namun ia bisa melihat dari jendela kaca. "Hai princess..." sapanya kemudian ia tersenyum miris saat mengingat nasib anaknya, bayi perempuan itu sudah bertahan di saat saudara kembarnya tidak mampu bertahan dan setelah kejadian itu bayinya tidak bisa berkembang karena sang ibu yang terlalu stress dan berakhir bayinya harus lahir sebelum waktunya. "Ayah janji, akan selalu berusaha membuat kamu bahagia nak."
Usapan lembut di bahunya membuat Erlang mengalihkan atensinya dari sang anak, ia menoleh dan mendapati papanya, mamanya dan adiknya sudah berdiri di sebelahnya.
Yusuf menepuk-nepuk bahu anaknya untuk memberi semangat pada sang anak. "Papa tahu ini rumit buat kalian, maafkan papa dan mama yang dulu menyuruh kamu menikah lagi dan sekarang berakibat seperti ini."
"Tidak ada yang perlu di maafkan pah, apalagi sudah ada cucu papa yang hadir." kata Erlang kemudian menatap anaknya kembali.
Niar memeluk anaknya sesaat kemudian mengusap bahunya. "Maafkan kami ya sayang."
Erlang menatap sang mama yang sudah menumpahkan air matanya, tangannya terangkat untuk menghapus air mata sang mama. "Semua sudah terjadi mah, tidak perlu di sesali lagi. Lihat cucu mama, cantik ya?"
Niar menoleh mengikuti arah pandangnya Erlang dan Kayla yang berdiri di sebelah mamanya juga ikut menatap bayi mungil di dalam inkubator.
"Cucu mama cewek?" tanya Niar dan Erlang mengangguk.
"Duh pasti cantik kayak tantenya." celetuk Kayla.
Erlang melirik adiknya sesaat kemudian menatap anaknya kembali, seolah tidak ada puasnya menatap bayi mungil itu. "Kalau cantiknya bolehlah mirip tantenya tapi kalau galak dan manjanya nggak boleh kayak tante Kayla."
Kayla memukul lengan kakaknya dengan tas miliknya. "Apaan sih kak!!! Aku nggak galak ya!" sungut Kayla.
Erlang mengusap lenganya. "Ini barusan apa?!"
"Sudah-sudah!" Yusuf melerai kedua anaknya, ini di rumah sakit tidak boleh berisik apalagi mereka saat ini di depan ruang NICU.
"Papa mama tadi sudah menjenguk Tiara?" tanya Erlang sembari menatap kedua orang tuanya bergantian.
"Sudah, makanya kami tahu kalau kamu disini, tadi mertua kamu bilang gitu." jawab Niar.
"Nama ponakanku siapa kak?" tanya Kayla.
"Itu udah ada namanya." tunjuk Erlang pada inkubator yang di tempati anaknya.
"Nggak kelihatan. Jauh." kata Kayla.
"Iya, nggak jelas." Niar menimpali.
"Emang tadi nggak nanya sama Tiara mah?"
"Gimana mau nanya, Tiara kelihatan sedih gitu." jawab Niar, membuat Erlang tersadar bahwa Mutiara seperti itu pasti karena kata-kata yang ia lontarkan tadi.
"Namanya siapa kak?" desak Kayla.
"Namanya Keyra Shafira." jawab Erlang.
"Wahh... namanya hampir sama dengan tante Kayla ya? Pasti nanti besarnya cantik kayak tante Kayla." Kayla berceloteh heboh.
"Kamu tuh kepedean!!" dengus Yusuf.
"Biarin!! Dari pada nggak percaya diri!!" balas Kayla cuek.
Niar menatap cucunya yang mungil, ia jadi teringat dengan bayi Erlang dan Kayla, dulu Erlang dan Kayla lahir dengan berat badan normal sama seperti bayi pada umumnya, tapi cucunya lahir dengan tubuh sekecil itu. "Yang kuat ya nak! Cepet besar, kami semua menantimu dan kami semua menyayangimu." gumamnya pelan.
*
*
Sekedar mengingatkan. Jangan lupa klik jempol dan komentar ya! Biasanya readers tuh kalo udah keasikan baca lupa klik jempol buat hadiah sang pemilik jempol yang mengarang cerita. 🤭🤭🤭