
*
*
"Jawab Tiara!" desak Yuwina.
"Karena Tiara mencintai kak Erlang." jawab Mutiara sambil terisak.
Yuwina terdiam saat mendengar jawaban dari Mutiara, sebenarnya dirinya tidak tega memisahkan Mutiara dari seseorang yang di cintainya karena Yuwina tau itu menyakitkan, tapi di sisi lain Yuwina ingin menyelamatkan masa depan anaknya.
Bagaimana nasib Mutiara kedepannya jika sudah berpisah dengan Erlang dan anaknya? Pasti hidup Mutiara akan lebih hancur, berpisah dari kedua orang yang di cintainya.
Yuwina menangkup kedua sisi wajah Mutiara. "Dengerin mama! Tolong pisah dengan Erlang secepatnya! Ini demi masa depanmu, mama nggak mau kamu akan menderita nantinya. Bayangkan ketika anak itu sudah hadir apa kamu rela berpisah dengan anakmu? Malaikat kecil yang kamu kandung selama sembilan bulan dan kamu lahirkan dengan bertaruh nyawa."
Mutiara menggeleng lemah. "Tiara nggak mau mah." jawabnya terdengar pilu di telinga Yuwina.
"Kamu cantik, kamu masih muda, pasti tidak akan sulit bagimu untuk mendapatkan seorang pria pengganti Erlang yang jauh lebih baik."
"Bagaimana dengan hati ini mah?"
"Hati manusia bisa berubah Tiara, seiring berjalannya waktu kamu pasti bisa melupakan Erlang."
"Entahlah mah." kata Mutiara pada akhirnya lalu membaringkan tubuhnya membelakangi Yuwina.
"Pikirkan baik-baik Tiara." balas Yuwina kemudian ikut membaringkan tubuhnya.
*
π΄π΄π΄
*
Waktu terus berjalan, sudah satu minggu Mutiara tinggal di rumah mamanya dan satu pula Mutiara memikirkan pernikahannya dengan Erlang, bagaimana kedepannya, keputusan apa yang akan dia ambil, meneruskan pernikahan itu atau menuruti nasehat mamanya. "Mama benar, aku tidak akan sanggup jika suatu saat nanti berpisah dengan anakku." batin Mutiara.
"Tiara." panggil Yuwina dari ambang pintu.
Mutiara tersadar dari lamunannya lalu menoleh ke arah pintu. "Ya mah."
"Ini sudah sore kamu nggak mandi?"
"Ini baru mau mandi mah." jawab Mutiara kemudian beranjak dari ranjang lalu berjalan menuju pintu. "Malam ini Tiara nginep di rumah mama Niar ya mah?"
"Nggak boleh!! Kamu tidak boleh bersama Erlang lagi!!" tolak Yuwina tegas.
"Kak Erlang tidak ada disana mah, dia tinggal bersama istrinya."
"Terus kamu ngapain kesana?"
"Kangen aja nginep disana, disana ada Kayla adiknya kak Erlang dan Tiara suka curhat sama dia dan begitu pun sebaliknya."
"Tapi inget, jangan tidur dengan suami kamu itu!!"
"Enggak mah, ya udah kalau gitu Tiara mandi dulu terus siap-siap berangkat kesana."
"Kesananya nanti di anter pak Budi."
"Iya." jawab Mutiara lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.
Setelah siap Mutiara berpamitan pada mamanya kemudian di antar oleh pak Budi supir pribadi mamanya menuju rumah Yusuf.
***
Mutiara sampai di rumah keluarga Yusuf sudah gelap, dia memang berangkatnya sudah sore.
"Non Tiara?" sapa bi Lastri saat membuka pintu utama.
"Malam bi." balas Mutiara lalu melangkah memasuki rumah dan langsung menuju kamar Kayla, sebelum berangkat Mutiara sudah mengirim pesan pada Kayla kalau malam ini ingin menginap disini dan ada yang ingin di bicarakan pada Kayla.
"Tiara?" panggil Niar sembari berjalan dari arah dapur.
Mutiara menghentikan langkahnya yang hendak menaiki tangga lalu berjalan sampai di depan Niar. "Tiara boleh nginep disini kan mah?"
Jawaban dari Niar membuat hati Mutiara mencelos, mungkin sebentar lagi dirinya bukan bagian dari keluarga ini.
"Ada masalah apa Tiara?" tanya Niar saat melihat raut wajah Mutiara yang tidak seperti biasanya.
Mutiara menggeleng lemah. "Nggak apa-apa mah." jawab Mutiara. "Tiara langsung ke kamar Kayla ya mah."
"Kayla sepertinya sedang mandi."
"Nggak apa-apa, Tiara tunggu di kamarnya."
Mutiara meninggalkan Niar yang masih berdiri di tempatnya dengan seribu pertanyaan.
Mutiara membuka pintu kamar Kayla dan benar saja ternyata Kayla masih mandi, Mutiara melangkah menuju ranjang lalu duduk di tepi ranjang tak lama kemudian Kayla keluar dari kamar mandi dengan mengenakan bathrobe dan handuk yang melilit di kepalanya.
"Ada apa Tiara?" tanya Kayla to the point.
Kayla berjalan ke arah meja riasnya lalu melepas handuk yang melilit di kepalanya kemudian mulai mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.
Mutiara belum menjawab pertanyaan Kayla, dia lebih memilih menunggu Kayla hingga selesai mengeringkan rambutnya.
Kayla telah selesai mengeringkan rambutnya kemudian beranjak dari kursi dan berjalan beberapa langkah menuju ranjang, Kayla duduk di tepi ranjang di sebelah Mutiara.
"Kayla kalau aku berpisah dengan kak Erlang apa kamu masih mau berteman denganku?"
Kayla menoleh ke samping dimana Mutiara berada. "Kok ngomongnya gitu? Perjanjian itu sah Tiara, tidak segampang itu untuk membatalkannya."
Mutiara merebahkan tubuhnya di ranjang Kayla dengan posisi kakinya menggantung di di tepi ranjang. "Aku juga pusing dengan semua ini Kayla, tapi benar kata mama jika aku hamil dan melahirkan, aku tidak akan bisa berpisah dengan anakku."
"Tapi kamu sudah terlanjur berkorban Tiara, kamu sudah menyerahkan dirimu pada kak Erlang."
"Setidaknya aku punya status janda nantinya."
Kayla ikut merebahkan tubuhnya di sebelah Mutiara. "Aku tidak bisa melarang ataupun mendukung keputusanmu, tapi aku hanya berharap kamu tidak menyesal dengan keputusan yang akan kamu ambil. Aku tidak buta Tiara, aku tau perasaanmu pada kak Erlang bagaimana."
"Tapi aku tidak bisa bersama dengan kak Erlang, sudah ada kak Elmira di sampingnya."
"Terserah kamu Tiara, dan perlu kamu ingat bahwa aku tidak akan memutus persahabatan kita dengan alasan apapun."
"Terima kasih banyak Kayla."
Kayla bangkit dari posisinya lalu berjalan menuju lemari mengambilkan pakaian gantinya.
Mutiara pun juga bangkit dari posisinya. "Aku ke kamar kak Erlang dulu."
"Nanti aku nyusul habis ganti baju."
Mutiara keluar dari kamar Kayla menuju kamar Erlang, kamar yang sudah satu minggu ini ia tinggalkan.
Mutiara melangkah memasuki kamarnya lalu menaruh tasnya di atas ranjang kemudian melanjutkan langkahnya menuju balkon.
Mutiara berdiri di balkon menatap jauh kedepan, hembusan angin menerpa wajah dan rambut Mutiara hingga beberapa helai rambutnya berantakan.
Seperti itulah Mutiara kalau pikirannya sedang kalut dia suka menyendiri, dia sedang memikirkan keputusan yang akan di ambilnya, berpisah dengan Erlang mungkin memang keputusan paling baik, sebelum dirinya hamil. Tapi bagaimana reaksi Erlang? Yusuf dan Niar? Itulah yang sedang di pikirkan Mutiara saat ini.
Pernikahan yang baru seumur jagung harus ia akhiri.
Mutiara memejamkan matanya menikmati hembusan angin yang menerpa dirinya di malam itu, sampai ia merasakan seseorang memakaikan jas di tubuhya membuat Mutiara membuka mata lalu menoleh. "Kak Erlang?" Mutiara sedikit terkejut karena dirinya tidak memberi tau pada Erlang kalau dirinya akan menginap di rumah ini, tapi kenapa Erlang bisa berada disini?
*
*
Haruskah mereka berpisah??
Hanya Tuhan dan Author yang tau. π€π€π€
*
*