
π΄π΄π΄
Yuwina dan Mutiara telah sampai di rumah sakit, Mutiara memasuki ruang ICU sedangkan Yuwina menunggu di luar, ia memberi kesempatan pada Mutiara supaya bisa leluasa ngobrol dengan kakaknya.
Mutiara berdiri sembari menatap wajah Elmira beberapa saat kemudian ia menarik kursi untuk di dudukinya.
Mutiara meraih tangan Elmira kemudian mengelusnya lembut. "Bangun kak! Jangan tidur terus, aku belum pernah merasakan mempunyai seorang kakak dan sekarang di saat aku sudah menemukan kakakku tapi dia malah tidur panjang." Mutiara bermonolog di sertai mengalirnya air mata.
Mutiara menarik napas dalam kemudian membuangnya perlahan, ia sedang mengatur napasnya yang hampir tersengal karena isak tangisnya, tangannya terangkat untuk menghapus air mata di pipinya. "Kak Mira nggak usah khawatir lagi, aku sudah melepas kak Erlang sepenuhnya, jadi kalau kak Mira bangun, hidup kak Mira akan seperti dulu lagi. Maafkan adikmu yang nakal ini kak, yang sudah mengganggu kebahagiaanmu."
Mutiara menatap lekat-lekat wajah Elmira dan sesekali menyeka air matanya ia berharap mata Elmira akan terbuka, namun sayang harapannya belum menjadi kenyataan karena Elmira masih menutup matanya rapat-rapat.
Mutiara menunduk dan masih menangis, sampai ia merasakan tendangan di perutnya lumayan kencang seperti tadi malam, Mutiara meringis menahan sakit kemudian ia mengusap perutnya hingga beberapa saat akhirnya tendangan itu mereda.
Setelah tendangan di perutnya mereda, Mutiara bangkit dari kursi. "Aku keluar dulu kak." pamitnya kemudian mengelus lengan Elmira sebelum melangkah menuju pintu keluar.
Namun sebelum Mutiara membuka pintu, pintu lebih dulu terbuka dari luar dan Mutiara bisa melihat Yusuf, Niar, Erlang dan Kayla dari balik pintu dan hendak masuk.
Niar menarik lengan Mutiara supaya tidak berada di ambang pintu kemudian ia memeluk Mutiara dan di susul oleh Kayla, mungkin mereka sudah tahu tentang semuanya.
Mutiara melepas pelukan mereka. "Mama masuk dulu nanti kita ngobrol di luar."
Mutiara melangkah menuju kursi tunggu sambil menunduk, ia tidak berani menatap Erlang.
Satu persatu keluarga Yusuf memasuki ruang ICU.
"Akhhh..." Mutiara kembali meringis saat merasakan tendangan di perutnya, sejak semalam janinnya sering menendang perutnya kencang hingga membuat Mutiara meringis menahan sakit.
Erlang yang baru sampai di ambang pintu langsung membalikkan badannya, ia berjalan cepat sampai di depan Mutiara. "Ada yang sakit?" tanyanya panik.
Mutiara menggeleng namun tangannya mengelus perutnya berharap bayinya segera tenang.
"Ada apa Tiara?" tanya Yuwina dan ia langsung beranjak dari kursi.
Yusuf, Niar dan Kayla ikut keluar saat mendengar kepanikan dari Erlang dan Yuwina.
"Ada apa? Tiara sakit?" tanya Yusuf.
Mutiara langsung menggeleng cepat. "Enggak apa-apa kok, cuma debay agak nakal aja."
"Kita duduk dulu." Erlang berujar dan hendak menuntun Mutiara namun Mutiara menolaknya. "Aku bisa jalan sendiri."
Mutiara melangkah menuju kursi kemudian mendudukinya, tangannya tidak berhenti mengelus perutnya.
Setelah mengetahui kalau Mutiara tidak apa-apa, Yusuf, Niar, Yuwina dan Kayla kembali masuk ruang ICU.
Tangan Erlang terangkat untuk mengelus perut Mutiara namun dengan cepat Mutiara menepisnya. "Masuk kak! Kak Mira butuh kamu!"
Erlang ikut duduk di sebelah Mutiara. "Di dalam sudah ada papa, mama Niar, mama Wina dan Kayla."
"Tapi yang di butuhkan kak Mira bukan hanya mereka, tapi juga membutuhkan kam--" kalimat Mutiara terpotong saat ia merasakan tendangan itu lagi. "Akhh...."
Tangan Erlang kembali terangkat untuk mengelus perut Mutiara dan Mutiara kembali menolaknya. "Jangan keras kepala Tiara!!!" ucap Erlang tegas.
Kalau sudah begitu Mutiara tidak bisa menolaknya, akhirnya ia pasrah dan membiarkan Erlang yang menenangkan janinnya.
Mutiara menyandarkan kepalanya di dinding, ia memejamkan matanya dan sesekali mengatur napasnya, sedangkan Erlang yang mengelus perutnya dan sesekali mengajak janinnya berinteraksi. Tidak bisa di pungkiri kalau tindakan Erlang membuat aliran darahnya berdesir dan itu yang akan membuat dirinya semakin sulit terlepas dari Erlang.
π΄π΄π΄
Mahendra baru sampai di rumah sakit, setelah tadi ia mendatangi alamat rumah Hanna bersama Herman, namun Mahendra tidak menemukan keberadaan Hanna di dalam rumahnya.
Meskipun Mahendra sudah melengkapi semua bukti-buktinya dan siapa saja yang bekerja sama dengannya, namun ia belum melaporkan Hanna ke pihak yang berwajib, ia ingin memberi pelajaran pada wanita itu terlebih dahulu.
Mahendra menelusuri lorong rumah sakit hendak ke ruang ICU namun langkahnya terhenti saat ia melihat seorang wanita paruh baya sedang berjalan cepat sambil menunduk.
Mahendra menajamkan penglihatannya untuk memastikan bahwa ia tidak salah lihat, meskipun Mahendra sudah bertahun-tahun tidak bertemu dengan wanita itu namun ia masih mengingat wajahnya dan ia juga pernah melihat fotonya saat Herman memperlihatkannya pada dirinya.
Wanita yang baru saja ia datangi kini muncul di dekatnya. "HANNA....!!!" teriak Mahendra kemudian ia lari mengejar wanita yang menjebloskannya ke penjara.
Hanna menoleh sesaat dan ia langsung menyadari bahwa yang memanggilnya adalah Mahendra, detik berikutnya ia berlari sekuat tenaga, bahkan ia sengaja menabrak Yuwina yang baru saja keluar dari ruang ICU.
Yuwina terhuyung dan jatuh hingga terduduk di lantai, Mahendra menghentikan langkah kakinya saat sampai di dekat Yuwina kemudian membantunya berdiri namun dengan cepat Yuwina menepisnya. "KEJAR DIA PAH!!"
Mahendra tersadar ia sedang di kecoh oleh Hanna, ia kembali lari sekuat tenaga menyusul Hanna.
Mereka kejar-kejaran menelusuri lorong rumah sakit, entah sudah berapa orang yang sudah di tabrak oleh Hanna, ia tidak peduli.
Setelah sampai di ujung lorong barulah Mahendra bisa mencekal lengan Hanna. "Mau kemana lagi kamu?!!"
"LEPAS!!!"
"Setelah apa yang sudah kamu lakukan padaku, kamu minta lepas?!!"
"ITU BUKAN SALAHKU!! ITU SALAH KAMU SENDIRI!!"
"Salahku apa padamu?! Dulu Aku memang tidak memiliki perasaan padamu, jadi aku tidak bersalah waktu menolakmu!!"
"TAPI KAMU MENYAKITI AKU!!"
"Seharusnya kamu bisa berbesar hati kalau memang cintamu bertepuk sebelah tangan!! Bukan dendam seperti ini!!"
"AKU MENDERITA DAN KAMU JUGA HARUS MENDERITA!!" ujar Hanna kemudian ia tertawa penuh kemenangan. "Dan aku berhasil."
"Kamu memang berhasil, tapi kamu juga harus mempertanggung jawabkan semua perbuatanmu selama ini! Kamu harus menghabiskan sisa hidupmu di penjara!!!"
"Ada apa pak, bu?" tanya seorang OB rumah sakit yang kebetulan lewat dan mendengar perdebatan Mahendra dan Hanna.
"Dia mau melecehkan saya." jawab Hanna sambil menangis.
Sang OB terbelalak kaget dengan jawaban dari Hanna, pasalnya kedua orang di depannya ini sudah sama-sama tua.
"Dia bohong!!" sahut Mahendra.
Hanna menyikut kencang perut Mahendra membuat Mahendra melepas cengkramannya di lengan Hanna, ia langsung memegangi perutnya yang sakit, secepat kilat Hanna melarikan diri sebelum Mahendra mencekalnya lagi.
Duh jelek ya? πππ
Aku tuh nggak bisa bikin cerita bergenre action.
Aku bisanya bikin cerita yang romantis bikin baper atau melow yang bikin mewek dan hot yang bikin pembacanya kayak cacing kepanasan. π€π€π€