An Agreement

An Agreement
Bab 27



*


*


🌴🌴🌴


*


Sudah beberapa hari ini Erlang tidak mampir ke rumah Mutiara, dia sedang sibuk dengan pekerjaannya, sebenarnya ia rindu ingin mencium perut Mutiara yang belum membuncit dimana calon anaknya sedang berkembang di dalam sana, namun Erlang harus menahannya menunggu sampai hari libur tiba.


Weekend ini Mutiara akan menghabiskan waktunya bersama Kayla, mereka akan belanja, makan dan jalan-jalan.


Mutiara memasuki ruang kerja mamanya dimana papa dan mamanya berada di dalam ruangan tersebut.


"Pah mah Tiara berangkat ya?"


Yuwina menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengetik di atas keyboard laptopnya lalu menatap Mutiara yang berada di ambang pintu. "Di anter pak Budi kan?"


"Papa anter aja." sahut Mahendra kemudian beranjak dari kursinya.


"Ya udah di anter papa aja!" Yuwina menimpali.


"Siapa aja yang penting sampai tujuan." jawab Mutiara lalu melangkah memasuki ruangan tersebut sekedar mencium pipi mamanya sebelum berangkat.


Mutiara keluar dari ruangan tersebut bersama papanya, mereka menuju garasi.


"Kemana Tiara?" tanya Mahendra setelah memasuki mobil sebelum melajukan mobilnya.


"Mall pah." jawab Mutiara sembari memasang seatbelt nya.


"Inget. Jangan capek-capek! Kamu sedang hamil." pesan Mahendra pada putrinya kemudian menyalakan mesin mobilnya.


"Iyaa.."


Mahendra melajukan mobilnya membelah jalanan yang tidak terlalu padat menuju mall tempat putrinya akan bertemu dengan temannya disana.


Mahendra menoleh sesaat ke samping dimana putrinya berada. "Erlang sudah beberapa hari ini tidak mampir, apa kalian ada masalah?" tanyanya lalu kembali fokus kedepan.


"Kak Erlang sedang sibuk pah."


"Apa kalian akan berpisah setelah cucu papa lahir?" tanya Mahendra lagi.


Mutiara terdiam karena ia juga tidak tahu bagaimana nasib pernikahan kelak.


Mahendra menoleh lagi. "Kenapa diam Tiara?"


"Tiara nggak tau pah."


Mahendra menghembuskan napasnya berat. "Ya sudah jangan di pikirkan, jalani dulu yang sekarang di depan mata."


Mutiara mengangguk lalu menatap kaca di sampingnya.


Mahendra mematikan mesin mobilnya di parkiran mall. "Mau papa anter ke dalam?"


"Tidak usah pah." jawab Mutiara sembari melepas seatbelt nya.


"Hati-hati dan inget jangan capek-capek!"


Mutiara membuka pintu mobil lalu keluar dari mobil. "Iya pah." jawabnya kemudian menutup pintu mobil.


Mahendra melajukan mobilnya kembali menuju rumah dan Mutiara memasuki mall untuk menyusul Kayla yang lebih dulu sampai, Kayla sedang berburu sepatu di dalam sana.


Mereka sama-sama berburu barang-barang wanita lainnya sampai mereka merasa kelaparan.


"Tiara, aku laper Kita makan dulu ya?" ucap Kayla sembari mengusap perutnya yang sudah keroncongan.


"Aku juga udah laper, kita bagi tugas aja gimana? Biar lebih cepet."


Kayla menyatukan alisnya. "Maksudnya?"


"Kamu ke lantai atas dulu pesen makanan dan aku yang bayar belanjaan kita."


"Oke." Kayla meninggalkan Mutiara, ia akan memesan makanan terlebih dahulu.


Mutiara membawa beberapa barang belanjaan mereka menuju kasir


"Maaf saldo anda tidak mencukupi." ucap sang kasir pada pelanggan di depannya.


Mutiara memperhatikan wanita di depannya, ternyata ada Elmira yang sedang membayar belanjaannya namun saldonya kurang. "Pakai kartuku aja kak." ucapnya sembari menyodorkan kartu debit nya pada kasir.


Erlang memang tidak memberi kartu kredit pada kedua istrinya, ia hanya memberi kartu debit supaya pengeluaran kedua istrinya tidak melebihi batas.


"Gak usah gede kepala lo, itu juga duit suami gue!"


Mutiara tidak menanggapi ucapan Elmira, memang benar itu adalah uang Erlang.


"Terima kasih." ucap sang kasir pada Elmira sembari menyerahkan belanjaannya.


Elmira meraih barang belanjaannya, namun sebelum pergi menyusul temannya ia menatap Mutiara dari atas sampai bawah dan berhenti di perut Mutiara. "Lo hamil beneran nggak sih? Tuh perut belum ada perubahannya."


"Usianya baru dua bulan kak, jadi belum begitu kentara."


"Oh." Elmira melenggang pergi meninggalkan Mutiara yang masih menunggu barang belanjaannya di depan kasir.


"Payah lo! Duit abis ngajakin shoping." dengus Kania.


"Yakin laki lo nggak akan berpaling dari lo?" kali ini Tika yang bersuara.


"Menurut kalian cantik mana dia sama gue?"


Tika dan Kania saling pandang.


"Kalau dari segi penampilan sih dia kalah jauh dari lo." jawab Tika.


"Tapi kalau kecantikan kalian imbang." jawab Kania.


Elmira mendengkus sebal saat mendengar jawaban dari Kania. "Sialan lo!! Maksud lo gue bakalan kalah saing sama dia??"


Kania hanya mengedikkan bahunya, kalau di jawab yang ada nanti Elmira ngambek dan tidak akan ada traktiran shoping lagi.


*


🌴🌴🌴


*


Erlang dan Mutiara memasuki movie room yang di desain khusus oleh Yusuf untuk istrinya, selama ini Mutiara tidak tahu kalau ada ruangan tersebut.


"Persis kayak di bioskop ya kak." puji Mutiara sembari terus mengedarkan pandangannya.


Di dalam ruangan tersebut persis seperti bioskop beneran cuma bedanya yang disini versi mini dan tidak ada kursi berjejer yang ada hanya sofa bed sehingga bisa nonton sambil duduk atau bisa juga sambil tiduran.


"Jadi nonton drama kan?" tanya Erlang setelah menutup pintu.


"Nggak apa-apa kan kalau kita nonton drama?"


"Nggak apa-apa lah terserah kamu. Kamu duduk dulu, aku mau nyalain proyektor nya."


Mutiara duduk di sofa bed dan Erlang sibuk menyalakan proyektor.


Setelah semua sudah siap Erlang mematikan lampu sehingga suasana ruangan tersebut menjadi remang-remang, kemudian ia duduk di samping Mutiara.


Perlahan Erlang memutar film yang di inginkan Mutiara.


Erlang tidak menyukai film itu jadi ia tidak fokus pada filmnya tetapi malah fokus pada setiap ekspresi Mutiara yang menurutnya lucu, Mutiara kadang tertawa, kadang merengut dan yang terakhir Mutiara menangis.


Erlang menyerahkan beberapa lembar tisu pada Mutiara.


"Makasih kak." ucap Mutiara lalu menghapus air mata di pipinya.


"Nggak usah di lanjut aja ya? Kamu sampai nangis gitu, nanti malah jadi stress loh."


"Nggak apa-apa kak, aku hanya terbawa suasana tapi kan tidak masuk ke hati."


"Ya sudah kita lanjut tapi kalau sampai kamu nangis lagi aku ganti filmnya."


"Iya." Mutiara mulai fokus lagi kedepan sampai ada adegan ciuman, pipi Mutiara memerah dan ia langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya namun ia juga mengintip sedikit.


Ekspresi kali ini membuat Erlang terkekeh, Mutiara benar-benar lucu, seperti gadis yang belum pernah ciuman padahal Mutiara pernah merasakan lebih dari itu.


"Kenapa mukanya di tutup Tiara?" goda Erlang.


Mutiara menoleh namun masih menutup wajahnya. "Malu kak." jawabnya polos.


Erlang sudah tidak bisa lagi menahan tawanya, ia tergelak kencang.


"Kok malah di ketawain sih!!" protes Mutiara.


"Lagian kamu tuh lucu, masa cuma adegan ciuman gitu kamu malu. Udah selesai tuh, nggak usah di tutup lagi."


Perlahan Mutiara menurunkan tangannya dan benar saja adegan ciuman itu telah selesai.


Mutiara kembali fokus di depan dan Erlang fokus ke samping untuk melihat ekspresi Mutiara selanjutnya.


Ternyata adegan ciuman itu masih berlanjut dan Mutiara menutup wajahnya kembali. "Udah kak, ganti aja filmnya!"


"Kenapa? Seru loh ini."


"Masa ciuman mulu!"


Erlang menarik tangan Mutiara yang menutupi wajahnya. "Nggak apa-apa Tiara, cuma gitu doang."


"Tapi-- itu... haishh!!!" kalimat Mutiara terpotong-potong karena adegannya terus berlanjut bahkan semakin panas.


Wajah Mutiara benar-benar merah padam, mungkin jika ia nonton sendirian tidak akan malu tapi ini ada Erlang di sampingnya, membuat jantungnya berdisko di dalam dadanya.


Adegan di depan semakin panas membuat Erlang juga terbawa suasana, ia menangkup wajah Mutiara kemudian mendekatkan wajah mereka.


"Kak..." Mutiara mencoba menahan Erlang yang semakin mendekatkan tubuhnya.


"Aku menginginkanmu Tiara." bisik Erlang seduktif kemudian mendaratkan bibirnya di bibir Mutiara, mengecap bibir manis itu lagi.


*


*


Awas jangan kebablasan mengkhayalnya 🀭🀭


Ingat sedang puasa 🀣🀣🀣