
*
*
π΄π΄π΄
*
"BRENGSEKK!!! SIALANN!!!!" umpat seorang wanita paruh baya dengan lawan bicaranya di seberang telepon. "Jadi sebentar lagi dia bebas?"
"Betul han, kurang lebih satu minggu lagi dia bebas."
"Berarti kita harus hati-hati, kalau sampai dia mengorek kasusnya dan menemukan siapa dalang dari semuanya. matilah kita... kita akan membusuk di penjara."
"Yang penting kita harus hati-hati."
"Tapi aku sudah punya senjata jika suatu saat dia menyerang kita."
"An--"
"Mah..."
Suara Elmira membuat mamanya terpaksa memutus sepihak sambungan teleponnya dengan lawan bicaranya barusan, lalu menoleh. "Ada apa Mir?"
"Aku mau pulang."
"Udah baikan sama suamimu?"
Elmira melangkah beberapa langkah lalu duduk di sofa kamar mamanya. "Sebenarnya belum sih, tapi apa kita harus begini terus? Tabungan kita lama-lama menipis mah"
Hanna mencubit hidung Elmira. "Pintar sekali sih anak mama."
Elmira hanya memutar bola matanya malas.
Hanna membuka kembali layar handphonenya lalu menunjukkannya pada Elmira. "Kita jadi beli ini kan?"
"Seminggu lagi mah, uang bulanan Mira kan di kirimnya awal bulan."
Hanna mendengkus. "Tinggal minta apa susahnya sih?"
Elmira menatap sebal pada mamanya. "Mama lupa kalau hubunganku dengan Erlang sedang tidak baik?!!"
"Eh, mantan kamu yang dulu itu sekarang tajir loh Mir."
Elmira semakin sebal pada mamanya. "Mama lupa kalau dulu mama yang nyuruh aku pisah dengannya dan menyuruh aku melanjutkan hubunganku sama Erlang?!!"
"Tapi sepertinya mama lihat dia masih cinta sama kamu."
"Darimana mama tau?" tanya Elmira heboh.
Hanna tersenyum miring, dia tau kalau sebenarnya Elmira masih ada hati dengan mantan kekasihnya. "Bukankah waktu itu dia mengantarmu pulang dari kelap malam?"
"Mana aku tau? Aku kan mabuk." jawab Elmira. "Pantes, semenjak kejadian itu Erlang bersikap dingin padaku. Ternyata dia cemburu." batin Elmira.
Hanna merangkul pundak Elmira. "Kenapa tidak balikan aja dengan mantan kekasihmu itu? Sekarang mama setuju kalau kamu sama dia. Cintanya dia tuh lebih besar ke kamu, dari pada cinta suamimu ke kamu. Jadi bisa di pastikan kalau dia pasti akan menuruti semua kemauan kamu."
Elmira kembali memutar bola matanya malas. "Mama pikir segampang itu?!!"
"Pasti gampang, mama akan bantuin kamu."
Elmira beranjak dari sofa. "Aku pulang dulu mah, aku bisa gila kalau lama-lama deket sama mama!!"
Hanna tergelak. "Pikirkan itu Mir!!"
"Hemm." Elmira hanya menjawab dengan gumaman.
Elmira keluar dari rumah mamanya, ia memasuki mobilnya kemudian melajukannya membelah jalan menuju rumahnya.
Sepanjang perjalanan pikiran Elmira tak lepas dari mantan kekasihnya, ia mencoba mengingat-ingat kejadian saat dia mabuk, namun nihil. Elmira sama sekali tidak mengingatnya. "Masa iya tanya sama Erlang?" gumamnya.
"Kalau tanya nanti jadi semakin kacau. Tapi kalau tidak tanya penasaran." lanjutnya.
"Arrghhhh!!!" Elmira frustasi ia memukul roda kemudinya.
Elmira telah sampai di rumahnya lalu turun dari mobil, matanya membulat saat melihat mobil Erlang sudah berada di garasi, itu tandanya pemilik mobil itu sudah pulang kerja dan sekarang berada di dalam rumah.
Elmira berjalan cepat memasuki rumahnya, ia menaiki tangga sampai di depan pintu kamarnya kemudian membuka pintu itu hati-hati.
Pinta terbuka, Elmira menyembulkan kepalanya dari balik pintu, ia mangernyit bingung saat tidak menemukan Erlang di dalam kamarnya.
Akhirnya Elmira memasuki kamarnya dengan bernapas lega, Elmira melangkah menuju sofa lalu melepaskan sepatu dan meletakkan tas nya, kemudian menyandarkan tubuhnya di punggung sofa, pikirannya kembali tenggelam ke masa lalu.
"Mira?"
Suara Erlang membuat Elmira mengurungkan niatnya untuk mengambil sesuatu, lalu menutup kembali laci tersebut.
"Ini jam berapa Mir?!! Bisa nggak sih sekali-kali kalau suami pulang kerja kamu di rumah menyambut kepulangan suami kamu?!" protes Erlang.
Elmira beranjak dari tempatnya lalu berjalan mendekati Erlang yang berada di ambang pintu. "Aku tadi habis dari rumah mama, maaf, lain kali nggak lagi deh." rayunya sembari mengusap lembut lengan Erlang.
Elmira berjinjit hendak mencium Erlang, namun Erlang segera memalingkan wajahnya. "Aku mau gosok gigi terus istirahat." ucapnya lalu meninggalkan Elmira yang masih berdiri di tempatnya.
Rupanya Erlang masih belum bisa menerima kejadian pada saat Elmira di antar pulang oleh seorang pria, sikapnya pada Elmira masih dingin.
Elmira mendengkus sebal lalu berjalan dengan menghentak-hentakkan kakinya menuju ranjang, ia menaiki ranjang kemudian membaringkan tubuhnya serta menarik selimut hingga sebatas leher.
*
π΄π΄π΄
*
Setelah kepergiannya ayahnya, Yuwina yang meneruskan usaha mutiara milik ayahnya.
Dan saat ini Yuwina sedang berada di ruang kerjanya, ia memantau perkembangan usahanya dari Jakarta meskipun usahanya berada di Lombok.
Yuwina memiliki orang-orang kepercayaan yang bisa di andalkan dalam mengurus semuanya.
'Tok tok'
"Masuk!" sahut Yuwina.
Seorang pria tegap dan berseragam serba hitam itu melangkah menuju meja kerja Yuwina. "Selamat siang bu Wina, saya kesini ingin menyampaikan perkembangan kita dalam mengorek informasi tentang kasus pak Hendra di perusahaannya dulu dan sedikit informasi tentang hilangnya putri pertama anda."
"Taruh di meja!" titah Yuwina pada orang suruhannya.
"Saya permisi bu" pamit seorang pria tadi sambil sedikit membungkuk.
"Silahkan."
Pria berseragam serba hitam itu meninggalkan ruang kerja Yuwina.
Tangan Yuwina terulur untuk memeriksa berkas itu, namun sebelum membukanya pintu ruang kerjanya kembali terbuka.
"Mah.."
Yuwina meletakkan kembali berkas itu saat melihat anaknya muncul dari balik pintu serta memanggil dirinya. "Ada apa Tiara?"
Mutiara menutup pintu lalu melangkah menuju meja kerja mamanya kemudian menarik kursi sampai di sebelah mamanya lalu mendudukinya. "Tiara bosen mah, kasih Tiara kerjaan gitu."
Yuwina menatap anaknya. "Kamu kan bisa bantu mama cari kakakmu Tiara."
"Tiara sudah berusaha mah, Tiara sudah meng upload gelang Tiara di banyak sosmed. Tapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda orang lain yang memiliki gelang seperti itu. Andai Tiara tau dimana jejak kakak, kita pasti akan lebih mudah mencarinya mah.
Yuwina membuang napasnya berat. "Mama juga sedang berusaha mencarinya tapi hanya sedikit informasi yang mama dapat."
Mutiara merangkul pundak mamanya. "Kata bunda Tuhan itu adil mah, suatu saat kita pasti bisa bertemu dengan kakak."
"Bunda Dewi??"
Mutiara mengangguk. "Iya mah, dulu bunda juga bilang seperti itu pada Tiara dan buktinya sekarang Tiara bisa bertemu kan dengan mama dan papa."
"Syukurlah kamu dulu di titipkan di panti itu, tidak seperti panti tempat kakakmu di titipkan."
"Kita harus tetap semangat mencari kakak dan Tiara yakin kalau semua akan indah pada waktunya."
Yuwina memeluk Mutiara. "Terima kasih sayang, setidaknya mama sudah menemukan kamu, itu sudah bisa menguatkan mama dalam menjalani hidup dan kekuatan untuk mama dalam mencari dimana keberadaan kakakmu."
*
*
Teka-teki nya banyak banget sih?
Hahaha semua akan terungkap pada waktunya.
Semua sudah ada alurnya dan sudah tertata rapih di dalam khayalan pengarangnya.
Ikuti aja alurnya okay. πππ