An Agreement

An Agreement
Bab 26



*


*


🌴🌴🌴


*


Hari ini adalah hari kebebasan Mahendra, Yuwina dan Mutiara sudah bersiap-siap sejak pagi mereka akan menjemput Mahendra di Rutan di antar oleh pak Budi supir pribadinya.


Seperti biasa Erlang datang ke rumah Yuwina sebelum berangkat kerja.


"Tiara..." panggilnya setelah memasuki kamar Mutiara.


Mutiara mengehentikan gerakan tangannya yang sedang menyisir rambutnya lalu menoleh ke arah sumber suara. "Kak Erlang?"


Erlang melangkah sampai di belakang Mutiara, ia menatap Mutiara lewat pantulan cermin. "Tumben udah rapi? Mau kemana?"


Mutiara memutar tubuhnya menghadap Erlang. "Hari papa bebas. Aku sama mama mau jemput papa di Rutan."


Erlang membungkuk untuk memberi kecupan pada sang anak yang masih di dalam kandungan. "Tapi jangan capek-capek ya! Habis jemput papa langsung pulang!"


"Tapi aku pengen mampir di restoran Jepang."


"Nanti pulang kerja aku beliin aja ya?" rayu Erlang sembari menegakkan tubuhnya.


Mutiara mengerucutkan bibirnya. "Kalau di makan di rumah nggak kayak di Jepang dong!"


"Ya sudah." jawab Erlang lalu melangkah menuju ranjang.


"Beneran, boleh?" tanya Mutiara antusias sembari mengikuti langkah Erlang.


Erlang mengangguk lalu duduk di tepi ranjang kemudian menarik tangan Mutiara hingga duduk di sampingnya, ia menarik tubuh Mutiara ke dalam pelukannya.


"Kak Erlang nggak capek tiap hari kesini terus?"


"Enggak lah, seneng malah."


Erlang memang menyempatkan diri sebelum dan setelah pulang kerja mampir ke rumah mertuanya hanya untuk memberi pelukan hangat pada sang istri keduanya serta kecupan untuk sang anak yang masih di dalam kandungan.


"Sarapan yuk kak."


"Aku udah sarapan di rumah. Kamu mau sarapan sekarang? Ya udah aku berangkat sekarang aja."


Mutiara langsung menahan Erlang yang hendak melepas pelukannya. "Nggak! Aku lebih milih di peluk dari pada sarapan."


Erlang terkekeh. "Ini yang manja anaknya apa ibunya sih?"


"Anaknya lah!! Emang sejak kapan aku suka cuddle kayak gini?"


"Iya ya anakku yang manja."


Mutiara mendongak untuk menatap Erlang. "Kak.."


"Hmm.."


"Aku mau..."


"Mau apa?"


"Mau nonton bioskop."


Erlang menaikkan satu alisnya. "Bioskop??"


Mutiara mengangguk cepat.


Erlang berpikir sejenak lalu ia teringat sesuatu. "Nonton bioskop di rumah mama Niar ya? Disana ada ruangan khusus seperti bioskop buatan, mama kan suka nonton bioskop jadi papa buat itu supaya nggak perlu jauh-jauh ke bioskop."


"Aku mau kak."


Erlang melepas pelukannya lalu mencondongkan tubuhnya untuk mengecup perut Mutiara. "Heh.. dasar tengil, mintanya yang aneh-aneh. Biasanya minta peluk, sekarang minta nonton bioskop." Erlang bermonolog di depan perut Mutiara.


"Kok si tengil terus sih?!" protes Mutiara. "Yang bagusan dikit kek!"


"Habisnya dia nakal sih." jawab Erlang sembari menegakkan tubuhnya lalu memeluk Mutiara lagi.


"Emang permintaan seperti itu nakal ya? Kalau dia minta kamu manjat pohon mangga milik tetangga, itu baru nakal. Atau dia minta makanan Padang tapi belinya di Padang, atau dia minta gudeg Jogja tapi belinya di Jogja, itu juga baru nakal."


"Ciee... belain anaknya buk?" goda Erlang.


"Ya iyalah!!" dengus Mutiara.


Erlang melirik jam di dinding. "Aku berangkat sekarang ya?"


Mutiara mengangguk lalu melepas pelukannya.


Erlang kembali mencium perut Mutiara lalu beralih mencium pipi Mutiara.


"Aku masih suami kamu jadi aku punya hak buat nyium kamu." Erlang berujar seolah ia bisa menebak apa yang ada di pikiran Mutiara.


Mutiara hanya menatap Erlang sembari mengatur detak jantungnya.


"Aku berangkat." kata terakhir Erlang sembari mengacak rambut Mutiara lalu melangkah meninggalkan Mutiara yang masih tenggelam dalam keterkejutannya.


Setelah beberapa saat Mutiara tersadar ia segera bangkit dari posisinya, melangkah menuju dapur untuk sarapan.


"Kita jadi jemput papa kan mah?" tanya Mutiara sembari menarik kursi lalu mendudukinya.


Yuwina mengisi piring Mutiara dengan sarapannya, ia memang memanjakan anaknya mengingat selama ini ia tidak mengurus anaknya. "Jadi dong, kamu jadi ikut kan?"


"Ikut, tapi nanti pulangnya mampir ke restoran Jepang ya mah?"


"Iyaa.. kenapa nggak ajak suamimu aja kalau kamu emang ngidam?"


Mutiara terdiam, pertanyaan dari mamanya mengingatkan dirinya bahwa suaminya bukanlah miliknya, jadi ia tidak bisa mengajak Erlang menuruti kemauannya.


"Tiara..."


"Eh, iya mah."


Yuwina menghela napas pelan. "Ayo sarapan setelah itu berangkat."


Mutiara dan Yuwina mulai memakan sarapannya sampai habis setelah itu berangkat ke Rutan untuk menjemput Mahendra.


*


🌴🌴🌴


*


Mahendra, Yuwina dan Mutiara telah sampai rumah setelah mereka tadi mampir di restoran yang di inginkan Mutiara.


Mutiara langsung ke kamar, ia capek dan juga kekenyangan apalagi ini sudah waktunya tidur siang, ia lebih memilih untuk istirahat di kamar.


Mahendra dan Yuwina duduk di sofa, banyak hal yang ingin mereka bicarakan, tentang tuduhan penggelapan dana milyaran hingga Mahendra masuk penjara, tentang anak sulung mereka yang belum ketemu dan tentang pernikahan Mutiara tentunya.


"Mama buatin minum dulu ya pah, papa mau di buatin minuman apa?"


"Jus mah, papa udah lama nggak minum jus buatan mama."


Yuwina beranjak dari sofa. "Oke."


Sambil menunggu istrinya membuat jus, Mahendra menyandarkan tubuhnya di sofa, ia harus segera menemukan anak sulungnya barulah setelah itu ia akan mengungkap siapa dalang di balik tuduhan penggelapan dana itu.


"Nih pah jus nya."


Mahendra menerima gelas berisi jus dari tangan istrinya lalu meminumnya hingga tinggal setengah, setelah itu meletakkan gelas tersebut di atas meja.


"Bagaimana perkembangan tentang pencarian Aurel mah?" tanya Mahendra setelah meletakkan gelasnya.


Yuwina menggeleng lesu lalu mendudukkan dirinya di sofa. "Baru ada sedikit informasi yang mama dapat pah, Aurel di adopsi oleh seorang wanita janda dan identitasnya di rahasiakan."


"Janda?" Mahendra nampak berpikir, ia heran mengapa identitas sang pengadopsi di rahasiakan. "Apa kita tidak bisa mengambil jalur hukum? Menuntut pihak panti misal?"


Yuwina menatap Mahendra.


"Kita pikirkan nanti gimana strateginya. Sekarang kita bahas Tiara dulu."


Dahi Mahendra berkerut. "Kenapa dengan Tiara? Bukankah dia baik-baik saja?"


"Tiara hamil."


"Kita mau punya cucu?" tanya Mahendra girang.


"Tapi pernikahan Tiara hanya sementara pah." jawab Yuwina lesu.


Dahi Mahendra semakin berkerut dalam. "Maksud mama?"


"Pernikahan Tiara di landasi sebuah perjanjian, pernikahan itu hanya sementara pah. Mungkin setelah anak itu lahir mereka akan berpisah."


"KENAPA BISA SEPERTI ITU??!!" Mahendra meninggikan suaranya, seorang ayah mana yang tidak emosi jika putrinya di nikahi hanya untuk mendapatkan keturunan.


"Tapi perjanjian itu sudah batal, jadi Tiara tidak akan berpisah dengan anaknya."


Mahendra sedikit bernapas lega, setidaknya ia tidak akan berpisah dengan cucunya, meskipun ia tidak tahu bagaimana perasaan putrinya jika berpisah dengan suaminya.


*


*


Mahendra sudah bebas, kita tunggu bom waktunya meledak. 🀭🀭🀭