
*
*
Setelah berpelukan cukup lama akhirnya mereka duduk di kursi yang telah tersedia di ruang berkunjung.
Mutiara duduk di tengah di antara kedua orang tuanya, rasa hangat mengalir di aliran darahnya.
Mutiara sampai tidak bisa menggambarkan seperti apa rasa bahagianya saat ini.
Tangan Mahendra terangkat untuk mengelus rambut Mutiara. "Maafkan papa Tiara, banyak waktu yang terbuang sia-sia, seharusnya anak-anak papa hidup bahagia bersama papa dan mama tapi pada kenyataannya kalian harus hidup di panti asuhan dan hidup seadanya." ucap Mahendra penuh sesal.
"Mungkin ini memang jalannya Tuhan pah, tidak perlu di sesali yang penting sekarang kita sudah bertemu."
Mahendra tersenyum melihat anaknya yang telah tumbuh dewasa dan bijak. "Papa bangga sama kamu Tiara, jadi pengen cepet-cepet keluar dari sini terus kita berkumpul seperti dulu."
"Tiara juga tidak sabar pah."
"Tunggu beberapa minggu lagi pah." sahut Yuwina.
"Waktu berkunjung sudah habis." suara seorang penjaga menginterupsi.
Waktu mereka habis karena tadi terlalu lama berpelukan saat bertemu, alhasil mereka baru berbincang sebentar waktunya sudah habis.
Mereka bertiga beranjak dari kursi berpelukan lagi dan berpamitan.
Mahendra kembali ke sel, Yuwina dan Mutiara keluar dari ruangan tersebut.
"Malam ini kamu tidur di rumah mama ya?" pinta Yuwina setelah memasuki mobilnya bersama Mutiara.
"Bentar mah, Tiara telfon kak Erlang dulu." jawab Mutiara lalu mengeluarkan handphonenya dari dalam tas.
"Iya Tiara.." jawab Erlang dari seberang sana.
"Tiara malam ini nginep di rumah mama ya kak?"
"Mamaa----?" Erlang menggantungkan kalimatnya dia bingung mama mana yang di maksud Mutiara.
"Mama Wina."
"Oh, iya boleh terserah kamu mau tidur di rumah mama Wina atau di rumah mama Niar atau di panti, boleh asal kamu nyaman."
"Ya udah, Tiara tutup dulu telfonya."
"Kabari aku kalau ada apa-apa dan kalau kamu sudah pulang dari rumah mama Wina juga kabari aku ya?"
"Iya kak." kata terakhir Mutiara lalu menutup panggilannya.
"Kok Erlang nggak di suruh nyusul aja?"
"Nanti Tiara akan jelaskan di rumah mah." jawab Mutiara sembari memasukkan handphone di tempat semula.
"Okey. Kamu mau makan apa Tiara? Sekalian kita mampir beli makanan."
"Tiara maunya di masakin mama." jawab Mutiara lalu menyenderkan kepalanya di pundak Yuwina.
"Mama belum belanja bahan makanan sayang."
"Apa aja, nasi goreng telur juga nggak apa-apa."
Yuwina tersenyum kemudian mengusap pipi Mutiara. "Ya sudah nanti sampai rumah mama masakin nasi goreng, kebetulan di rumah memang hanya ada beras dan telur."
Mutiara melingkarkan kedua tangannya di pinggang Yuwina serta memejamkan matanya, menikmati momen bersama ibunya, momen yang sangat ia impikan sejak kecil.
Yuwina terus mengusap pipi Mutiara dan sesekali mengecup puncak kepalanya.
Tak terasa mereka telah memasuki pelataran rumah Yuwina, mobil berhenti di depan rumah kemudian mereka turun dari mobil.
"Ayo masuk." ujar Yuwina sembari membuka pintu lebar-lebar. "Maaf ya sayang rumahnya kecil, mama beli rumah di Jakarta kan dadakan jadi hanya dapat yang ini, nanti kalau papa sudah keluar dari penjara kita cari rumah yang lebih luas sama-sama."
"Yang penting itu bukan rumahnya mah, tapi penghuninya. Asalkan ada orang yang di sayangi tinggal di rumah tersebut pasti akan membuat kita nyaman dan betah di rumah."
Yuwina mengacak rambut Mutiara. "Bijak sekali sih anak mama."
Yuwina dan Mutiara memasuki rumah kemudian membersihkan diri, setelah mandi barulah mereka ke dapur untuk membuat makan malam.
"Kamu nanti tidur di kamar mama ya Tiara." pinta Yuwina sembari menuang nasi goreng yang telah matang di atas piring.
"Tiara memang ingin tidur di peluk mama."
Yuwina telah selesai menuang nasi goreng kemudian ikut duduk di sebelah Mutiara.
Mutiara memakan makanannya dengan lahap. "Masakan mama enak banget."
"Suka?" tanya Yuwina, ia juga mulai menyuap nasi goreng ke dalam mulutnya.
Mutiara mengangguk mantap sembari terus mengunyah makanannya.
"Besok mama masakin lagi."
Mutiara kembali mengangguk kemudian meraih gelas berisi air putih di samping piringnya lalu meminumnya sesaat kemudian melanjutkan suapan nasi goreng ke dalam mulutnya.
Mereka makan sampai makanan di piring mereka habis.
Setelah habis Yuwina mengumpulkan piring kotor di meja makan, namun Mutiara segera menahannya. "Biar Tiara aja mah yang nyuci piring."
"Biar mama aja."
"Nggak apa-apa biar Tiara aja tadi kan mama udah masak, mama tunggu di kamar aja nanti Tiara nyusul."
"Ya sudah." Yuwina meninggalkan Mutiara di dapur kemudian menuju kamarnya.
Mutiara mulai mengumpulkan piring dan gelas kotor kemudian membawanya ke wastafel.
Tak butuh waktu lama Mutiara telah selesai mencuci piring karena yang makan hanya mereka berdua jadi piring kotornya hanya sedikit.
Setelah selesai mencuci piring, Mutiara segera menyusul Yuwina ke kamar.
Yuwina menggeser tubuhnya serta menepuk sisi sebelahnya. "Sini sayang."
Mutiara menaiki ranjang kemudian membaringkan tubuhnya di sebelah Yuwina.
"Katanya tadi mau jelasin kenapa kamu nikah muda dan kenapa Erlang nggak nyusul kesini?"
Mutiara meraih tangan Yuwina kemudian menggenggamnya. "Sebenarnya Tiara menikah dengan kak Erlang hanya untuk mendapatkan keturunan." jawab Mutiara dengan nada rendah serta menatap langit-langit kamar.
Yuwina membelalakkan matanya kemudian menoleh cepat ke samping dimana Mutiara berada. "Kamu ngomong apa Tiara?" tanyanya, berharap kalimat yang keluar dari bibir Mutiara tadi salah.
Mutiara ikut menoleh dan menatap ibunya. "Istri pertamanya kak Erlang tidak bisa hamil, dan Tiara yang akan memberi kak Erlang keturunan." air mata Mutiara luruh di sudut matanya. "Pernikahan ini hanya sementara mah."
Yuwina beringsut duduk. "KENAPA KAMU MELAKUKAN ITU TIARA??!!" tanyanya dengan nada meninggi, Yuwina tidak habis pikir dengan keputusan putrinya.
Mutiara juga beringsut duduk. "Keluarga kak Erlang sangat baik pada Tiara mah, Tiara nggak mungkin menolak permintaan mereka. Mereka selalu membantu anak-anak panti dan mereka juga yang membiayai kuliah Tiara sampai selesai."
"Tapi balas budi itu tidak dengan cara mengorbankan dirimu Tiara. Kamu harus berpisah dengan Erlang secepatnya! Masa depanmu masih panjang."
"Tiara nggak mau mah!"
"Mama akan mengganti semua uang yang dikeluarkan oleh keluarga Erlang. Dan kalian harus berpisah secepatnya."
"Tiara nggak mau!!" tolak Mutiara lagi.
"Apa kamu pikir mama rela jika sampai kamu benar-benar hamil dan cucu mama di ambil oleh mereka? Jadi sebelum kamu hamil kalian harus berpisah secepatnya."
Mutiara menggeleng lemah. "Nggak mah!"
"Kenapa nggak mau? Karena mereka telah mengeluarkan banyak biaya untukmu? Mama akan ganti semuanya kalau perlu mama kasih bunganya sekalian!"
"Bukan hanya itu mah."
"Karena apa lagi?" tanya Yuwina geram.
"Kare-- karena...." Mutiara belum bisa menjawab pertanyaan Yuwina, namun air matanya mengalir di pipinya.
*
*
Karena apa sih Tiara? Ngomong yang jelas dong! 🤭🤭🤭