
*
*
π΄π΄π΄
*
Sudah hampir satu minggu ini Erlang selalu pulang larut malam bahkan menjelang pagi, dia harus mampir dulu ke rumah orang tuanya. Dan itu membuat Elmira menjadi frustasi, kebiasaan yang sudah lama ia tinggalkan sekarang kembali lagi.
Saat ini sudah tengah malam namun Elmira masih enggan beranjak dari tempatnya karena dia tau saat ini suaminya belum pulang, Elmira masih setia duduk di depan meja bartender di sebuah kelap malam, jari telunjuknya sedang memainkan bibir gelas berisi minuman beralkohol, bibirnya meracau tak jelas, Elmira sudah mabuk dan tidak ada yang tau kalau Elmira berada di kelap malam bahkan teman-temannya juga tidak tau keberadaannya.
Elmira mengangkat gelas yang ia mainkan tadi kemudian menenggaknya hingga tandas. "Satu lagi!" pintanya pada seorang bartender.
"Anda sudah mabuk nona." jawab seorang bartender tersebut.
"Gue bayar disini!!!" balas Elmira ngegas.
"Tapi anda sudah mabuk, nanti anda pulangnya bagaimana?" seorang bartender mencoba menolak permintaan Elmira.
"Kasih gue satu lagi atau gue lapor pada pemilik kelap ini!!!!" ancam Elmira.
Seorang bartender itu akhirnya memberi satu gelas minuman pesanan Elmira, dia tidak mau jika sampai wanita di depannya itu benar-benar melapor pada atasanya, karena dia masih butuh pekerjaan ini.
Elmira langsung menenggaknya, belum habis minuman beralkohol itu namun Elmira sudah tidak kuat, kepalanya terasa berat kemudian ia meletakkan kepalanya di atas meja bartender.
Seorang bartender itu kemudian memutari meja sampai di sebelah Elmira. "Nona.." panggilannya sembari menepuk-nepuk pelan pipi Elmira.
Elmira hanya mengangkat sedikit kepalanya.
"Apa ada seseorang yang bisa saya hubungi untuk menjemput anda disini?" tanya seorang bartender tersebut.
Elmira tidak merespon dia kembali menurunkan kepalanya.
Seorang bartender itu meraih tas Elmira untuk mencari handphonenya, setelah beberapa saat mencari akhirnya ia menemukan handphone Elmira kemudian membuka layarnya namun sayangnya handphone Elmira menggunakan password dan seorang bartender itu tidak mungkin bisa membukanya.
Seorang bartender itu mengarahkan handphone Elmira di depan Elmira. "Nona ketikkan password anda."
Elmira sudah tidak merespon.
"Huffttt..." seorang bartender itu membuang napas kasar.
"Ada apa?" tanya salah satu bartender lainya.
"Biasa, mabok. Pusing gue kalau ada pelanggan mabok kek gini, tugas gue jadi nambah kan? Nganterin dia pulang." keluh seorang bartender yang sedari tadi melayani Elmira.
"Permisi..."
Suara seorang pria membuat kedua orang bartender itu menoleh.
"Biar saya yang mengantarkannya pulang." ucap seorang pria tadi.
"Anda kenal nona ini?" tanya seorang bartender yang melayani Elmira.
"Dia teman saya." jawab seorang pria itu lagi.
Kedua orang bartender itu mundur untuk memberi tempat pada seorang pria tadi supaya bisa mengangkat tubuh Elmira yang sudah tidak kuat berjalan.
Seorang pria itu mengangkat tubuh Elmira keluar dari kelap menuju mobilnya dan di ikuti salah satu bartender yang membawakan tas Elmira serta membuka pintu untuk seorang pria tadi.
Elmira sudah masuk mobil kemudian seorang pria itu juga memasukki mobilnya.
Sebelum melajukan mobilnya pria itu lebih dulu memasang seatbelt untuk Elmira.
Seatbelt telah terpasang kemudian pria itu menyingkirkan rambut Elmira yang menutupi dahinya. "Mira, kamu kenapa?" tanyanya, padahal ia tau kalau Elmira tidak akan menjawab pertanyaannya.
Pria itu menegakkan tubuhnya lalu menyalakan mesin mobilnya kemudian melajukannya membelah jalan menuju rumah Elmira.
Jangan heran mengapa pria itu tau tentang Elmira, pria itu mengenal Elmira sebelum Erlang mengenal Elmira.
*
π΄π΄π΄
*
Malam ini Erlang pulang lebih awal karena dia tidak mampir ke rumah orang tuanya, hampir satu minggu Erlang tidak menyentuh istrinya dan dia merindukannya, namun semua itu ternyata hanya ada di khayalan Erlang saja karena nyatanya sudah larut malam begini istrinya belum pulang.
Sudah puluhan bahkan ratusan kali Erlang mencoba menghubungi Elmira namun tidak ada jawaban dari sana, Erlang juga sudah menghubungi teman-teman Elmira namun tidak ada satupun yang mengetahui keberadaan Elmira.
Cukup lama Erlang menunggu, akhirnya Erlang memutuskan mencari istrinya meskipun ia sendiri tidak tau harus mencari kemana, namun ia tidak bisa berdiam diri di rumah menunggu kepulangan istrinya.
Erlang mengemudikan mobilnya keluar dari garasi namun sebelum sampai gerbang rumahnya sebuah mobil berwarna hitam lebih dulu memasuki gerbang rumahnya, Erlang mematikan mesin mobilnya kemudian turun untuk menemui siapa yang datang di tengah malam begini.
Seorang pria turun dari mobilnya kemudian berjalan sampai di pintu penumpang, beberapa saat kemudian pria itu menggendong Elmira.
Erlang berjalan cepat sampai di sebelah pria itu. "Biar saya yang gendong dia."
Pria itu tidak merespon dia terus melanjutkan langkahnya menuju pintu.
Erlang hanya mengikutinya dari belakang setelah itu membukakan pintu untuk pria itu.
"Turunkan di sofa saja." Erlang kembali berucap.
Pria itu menuruti perkataan Erlang, dia menurunkan Elmira di sofa kemudian berbalik menuju pintu.
"Anda siapa?" tanya Erlang membuat pria itu menghentikan langkahnya.
"Tanyakan pada istri anda." jawab pria itu tanpa menoleh kemudian kembali melanjutkan langkahnya keluar dari rumah Erlang.
"Agrrhhh...!!!!!" emosi Erlang memuncak, dimana harga dirinya sebagai seorang suami? Istrinya pulang dalam keadaan mabuk berat di tambah pulangnya di antar seorang pria.
Erlang duduk di sofa berseberangan dengan Elmira bahkan Erlang tidak memindahkan Elmira ke kamar karena rasa kecewanya yang begitu mendalam, Erlang lebih memilih tidur di sofa.
Kurang apa dirinya? Apapun yang istrinya inginkan Erlang selalu menurutinya bahkan Erlang mau menerima kekurangan Elmira yang tidak bisa memberinya keturunan.
Mereka tidur di sofa sampai pagi datang.
Erlang membuka mata lalu meregangkan otot-ototnya setelah itu menatap istrinya yang masih terlelap mungkin pengaruh alkohol.
Erlang tidak membangunkan istrinya, dia lebih memilih ke atas untuk membersihkan diri dan siap-siap ke kantor.
Setelah semua siap, Erlang kembali menuruni tangga menuju ruang makan untuk sarapan.
Sarapan telah tersedia di meja makan yang sudah di siapkan oleh pembantu rumahnya.
Erlang menarik kursi di ruang makan kemudian mendudukinya dan mulai menyantap makanannya, Erlang sudah terbiasa sarapan sendiri.
Erlang memakan makanannya sembari sesekali melirik ke arah sofa dimana istrinya sedang terlelap disana.
Setelah selesai dengan sarapannya, Erlang melangkah menuju garasi dia belum juga membangunkan istrinya.
Erlang melajukannya mobilnya membelah jalan menuju kantor, namun sebelum sampai kantor Erlang berubah pikiran, percuma ke kantor kalau pikirannya sedang kalut.
Erlang menepikan mobilnya kemudian menghubungi asistennya untuk memundurkan jadwal meetingnya hari ini.
Setelah selesai menghubungi asistennya Erlang menunduk, sikunya berada di atas roda kemudi, Erlang memijit pelipisnya pelan berharap bisa mengurangi rasa pening di kepalanya yang terasa mau pecah.
Erlang pusing memikirkan kehidupannya yang sekarang, dirinya harus menikah lagi demi mendapatkan seorang anak dan saat ini yang membuatnya tambah pusing adalah kebiasaan buruk istrinya kambuh lagi.
*
*
Mohon maaf lahir batin ππ
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya.