An Agreement

An Agreement
Bab 46



*


*


🌴🌴🌴


*


Hari ini Erlang tidak pulang ke rumah, ia akan tinggal dengan istri mudanya sesuai dengan kesepakatan sebelumnya.


Namun kali ini Elmira tidak tinggal di rumah mamanya, ia tetap tinggal di rumah bersama pembantunya, kalau tinggal di rumah mamanya pasti hanya akan menambah beban pikirannya karena mamanya tidak akan berhenti meminta uang padanya sama seperti minggu-minggu yang lalu.


Elmira sedang duduk di kursi depan meja rias, ia memandangi sisa uang yang di berikan Erlang waktu itu, kali ini dirinya dan mamanya harus berhemat supaya uang yang di berikan Erlang cukup sampai akhir bulan, jika uang itu habis maka ia tidak tahu lagi harus mencari tambahannya, mungkin yang bisa ia lakukan adalah menjual barang-barang branded nya.


Elmira membuka lacinya, ia mencari perhiasan yang sudah tidak ia sukai untuk ia jual, baru beberapa bulan mamanya tidak memiliki penghasilan namun ia sudah bingung untuk memenuhi kebutuhannya di tambah posisinya sebagai istri Erlang semakin terancam membuat kepalanya semakin berdenyut nyeri.


Belum sempat ia menemukan apa yang ia cari namun deringan handphonenya membuatnya menghentikan gerakannya, tangannya terulur untuk meraih handphone di ujung meja, ia membuang napas kasar saat mengetahui siapa yang meneleponnya, dari siapa lagi kalau bukan dari mamanya dan ia sudah bisa menduga pasti mamanya ingin meminta uang lagi.


Elmira menggeser icon hijau kemudian menempelkannya di telinga. "Iya mah." sahutnya.


"Mir, uangnya mana? Ini yang kemarin udah habis."


"Sebentar lagi mah, aku sedang memilih apa yang mau aku jual sisa uang yang kemarin tinggal dikit."


"Ya udah mama tunggu, jangan lama-lama! Terus kalau kesini bawain mama makanan ya!"


"Iya mah." jawab Elmira malas.


"Nanti kamu tidur di rumah mama lagi aja."


"Nggak usah mah, aku tidur di rumah aja." jawab Elmira, ia akan bertambah pusing kalau tinggal bersama mamanya.


"Ya udah yang penting kamu kesini anterin uang buat mama."


"Jangan boros-boros mah! Lama-lama barang kesayangan aku bisa habis."


"Kamu keberatan mama minta uang sama kamu?! Kamu lupa yang ngurus kamu sejak kecil itu siapa?!"


"Bukan keberatan mah... cuma jangan boros-boros! Kalau mama boros lama-lama uang aku juga habis mah."


"Kalau habis tinggal minta sama suamimu dong! Percuma punya suami kaya tapi kamu masih kesulitan keuangan."


"Iya ya mah." jawab Elmira pasrah, ia tidak ingin melanjutkan perdebatan itu kemudian ia memutuskan panggilan teleponnya.


Elmira kembali memilih perhiasan yang sudah tidak ia sukai untuk di jual, ia tidak ingin mamanya akan bertambah cerewet nantinya jika ia tidak segera memberinya uang.


Elmira menemukan kalung lamanya, kalung yang yang sudah tidak modern lagi menurutnya. Elmira kembali memperhatikan kalung itu kemudian ia menaruhnya ke dalam kotak lalu memasukkannya ke dalam tas.


Elmira beranjak dari kursinya, ia keluar dari kamarnya menuju garasi kemudian memasuki mobilnya untuk menjual kalung itu barulah mengantarnya langsung ke rumah mamanya.


Hari ini kalung yang akan ia jual entah apalagi setelah kalung itu, kalau dirinya akan tetap menjadi istri Erlang mungkin akan ada seseorang yang ia mintai tolong, namun seandainya ia dan Erlang berpisah maka ia tidak tahu lagi harus bagaimana kedepannya.


*


🌴🌴🌴


*


Setelah selesai dengan semuanya Mutiara ke kamar sembari membawa segelas susu, ia meletakkan susunya di nakas kemudian ia mengganti pakaiannya, pakaian yang lebih longgar, perutnya yang semakin membuncit membuatnya tidak nyaman memakai pakaian biasanya.


Selesai mengganti pakaiannya, ia membawa susunya menuju balkon menikmati semilir angin di sore hari sembari menikmati pemandangan samping rumahnya taman kecil di depan rumahnya itu sampai ke samping rumah bedanya kalau di depan rumah banyak tanaman bunga tapi yang di samping rumah hanyalah beberapa pohon buah.


Mutiara menatap ke bawah sambil sesekali meminum susunya, sampai ia tersentak kaget saat tiba-tiba ada sepasang tangan kekar melingkar di pinggangnya, gelas berisi susu hangatnya terjun bebas ke lantai dasar.


Pandangan Mutiara turun ke bawah dimana sepasang tangan yang sedang mengusap lembut perutnya dan saat itu juga ia langsung mengenali siapa pemilik tangan itu. "Kak!! Tuh kan, susunya jadi jatoh. Gara-gara kamu ngagetin aku sih!!!"


Erlang terkekeh dan sambil terus mengelus perut buncit istrinya. "Nanti aku bikinin lagi."


"Susunya habis tinggal satu gelas itu."


"Nanti aku beliin."


Erlang mengikis habis jarak di antara mereka supaya tubuh mereka semakin rapat tanpa celah kemudian menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Mutiara, menghirup aroma yang ia rindukan. "Aku kangen kamu Tiara..."


Mutiara bergerak-gerak gelisah, ia hendak melepaskan diri dari dekapan Erlang, hembusan nafas Erlang yang menerpa ceruk lehernya membuatnya meremang. "Kak... geli."


Erlang tidak perduli dengan gerakan-gerakan kecil dari Mutiara, ia tetap memeluk Mutiara dari belakang sembari terus mengusap perutnya. "Kok udah pakai pakaian hamil sih?"


"Kalau pakai pakaian yang biasanya udah nggak nyaman kak."


Gerakan tangan Erlang berhenti saat ia merasakan gerakan halus dari dalam perut Mutiara. "Debay gerak Tiara?" ucapnya antusias.


Mutiara tersenyum kecil. "Iya kak, dia udah gerak, apalagi kalau di elus-elus dia suka banget di elus-elus."


Erlang mengangkat kepalanya kemudian menatap Mutiara. "Masa sih? Aku tidak ketemu dia baru satu minggu loh, masa aku udah ketinggalan sejauh itu."


Mutiara membalikkan tubuhnya menghadap Erlang. "Semakin hari maka dia semakin banyak perkembangannya."


Erlang membungkuk untuk mengecup perut Mutiara sesaat kemudian ia menegakkan tubuhnya lagi lalu memeluk tubuh Mutiara lagi. "Aku semakin tidak ingin jauh-jauh dari kalian."


Mutiara melonggarkan pelukan mereka lalu menatap Erlang. "Ingat kak, ada satu hati lagi di antara kita."


"Tapi semakin lama aku semakin tidak ingin berpisah dengan kalian, di saat aku berpisah dengan kalian aku semakin menyadari itu, menyadari jika aku membutuhkan kalian."


Mutiara mengeratkan pelukan mereka lagi, ia diam tidak mau membahas tentang itu lagi, kalau di bahas pasti tidak akan ada jalan keluar lain selain salah satu dari dirinya atau Elmira yang harus mengalah. Dan kemungkinan besar dirinya lah yang harus mengalah.


Begitupun dengan Erlang, ia juga diam, ia sendiri tidak tahu harus memilih siapa nantinya, di satu sisi ia tidak akan tega mencampakkan Elmira namun di sisi lain ia juga tidak bisa berpisah dengan Mutiara sekaligus anaknya.


*


*


Semakin hari semakin pusing aja mas Erlang, karena semakin hari dirinya semakin hanyut dalam permainannya sendiri.


Nanti giliran udah bucin di tinggal... 🀭🀭🀭