An Agreement

An Agreement
Bab 6



*


🌴🌴🌴


*


Erlang sudah rapi dan siap berangkat ke kantor padahal ini masih terlalu pagi namun karena Erlang selalu profesional dalam bekerja pagi ataupun malam akan tetap ia jalani.


Hari ini ada meeting pagi dengan karyawannya jadi Erlang harus berangkat lebih awal dari biasanya, padahal istrinya masih bergelung di bawah selimut merajut mimpi yang indah.


Erlang duduk di tepi ranjang kemudian menarik selimut yang menutupi tubuh istrinya sampai sebatas pinggang. "Mira, bangun..! Ini sudah pagi."


Elmira hanya membalikkan badannya namun masih dengan mata terpejam. "Jam berapa sih?"


"Ini sudah jam tujuh, tadi malem kamu pulangnya terlalu larut jadi jam segini kamu masih ngantuk."


Akhirnya Elmira membuka matanya. "Aku stress asal kamu tau! Aku butuh hiburan. Istri mana yang tidak stress jika suaminya menikah lagi, meskipun itu hanya untuk mendapatkan keturunan." keluh Elmira.


Erlang membuang napas berat. "Iya ya aku yang salah."


"Itu kamu nyadar." cibir Elmira.


"Malam ini aku nginep di rumah papa ya?"


Elmira langsung membulatkan matanya kemudian beringsut duduk. "Tidak boleh!!" tolaknya tegas.


Erlang mengernyit. "Kok tidak boleh?"


Elmira beringsut kemudian bergelayut manja di lengan Erlang. "Nanti aku tidur sama siapa kalau kamu nginep disana?"


"Kalau aku mengulur-ulur waktu maka akan semakin lama perjanjian itu, kamu mau aku berlama-lama menduakanmu? Aku ingin perjanjian itu segera berakhir dan kita bisa menjalani hidup kita seperti dulu lagi."


"Tapi tidak harus nginep disana juga kan!" protes Elmira.


"Baiklah nanti aku akan pulang kerumah tapi mungkin agak larut malem, nggak apa-apa?"


"Nggak apa-apa." jawab Elmira.


"Okey."


Erlang beranjak dari ranjang kemudian keluar dari kamar untuk sarapan sebelum berangkat ke kantor.


*


🌴🌴🌴


*


Semenjak menikah dengan Erlang, Mutiara tinggal di rumah Yusuf dan masih bekerja seperti biasa, bedanya dulu Mutiara harus naik angkutan umum atau ojek online tapi sekarang berangkat dan pulang kerja bersama Kayla.


Kayla menaruh beberapa berkas di atas meja kerjanya Mutiara. "Sebelum pulang harus selesai ya!"


Mutiara menatap Kayla. "Semua ini?" tanyanya seakan tidak percaya dengan pekerjaannya hari ini.


"Itu bahan buat presentasi besok pagi dengan kolega kita yang dari Surabaya." jawab Kayla kemudian duduk di kursi berseberangan meja dengan Mutiara. "Maaf kali ini aku tidak bisa membantumu karena aku ada acara reuni bersama teman SMA ku, dan nanti kamu pulangnya bareng kak Erlang aja ya?"


"Soal pulang itu gampang, tapi ini? Aku bisa pulang larut malam Kayla." keluh Mutiara.


"Mau gimana lagi." ujar Kayla lalu mengedikkan bahu.


Mutiara masih menatap tumpukan kertas di atas mejanya lalu dia menelan ludahnya dengan susah payah membayangkan dirinya akan pulang larut malam hari ini.


Kayla beranjak dari kursi. "Udah ah, aku mau makan siang."


"Kamu nggak basa-basi gitu nawarin aku makan siang?" celetuk Mutiara.


Kayla memutar bola matanya malas. "Bukannya aku pelit, tapi biasanya kamu selalu membawa bekal dari rumah jadi percuma aku nawarin kamu makan siang."


Sebelum Kayla membuka pintu tersebut, pintu itu sudah lebih dulu terbuka dari luar. "Kak Erlang?"


"Bener kan dugaanku kamu disini, ayo kita makan siang."


"Nggak bisa kak, aku udah ada janji sama temen." tolak Kayla kemudian menarik lengan Erlang. "Hari ini kak Erlang makan siang sama Tiara dulu ya?"


Erlang memicingkan matanya. "Kamu mau makan siang sama siapa sih?" tanyanya curiga.


"Ada deh." jawab Kayla kemudian berlalu dari hadapan kakaknya.


Erlang membalikkan badan namun dia melihat sekilas tumpukan kertas di atas meja Mutiara kemudian ia berbalik lagi untuk memastikannya, ternyata benar kerjaan Mutiara hari ini cukup banyak, bahkan ini sudah memasuki waktu makan siang Mutiara masih berkutat dengan laptop dan tumpukan kertas di atas meja kerjanya.


Akhirnya Erlang melangkah memasuki ruang kerjanya Mutiara kemudian duduk di kursi berseberangan meja dengan Mutiara.


Mutiara menatap Erlang sekilas kemudian melanjutkan lagi kegiatannya. "Loh, kak Erlang nggak makan siang?" tanya Mutiara tanpa menatap Erlang karena tatapannya tertuju pada layar laptop di depannya.


"Kamu nggak makan siang dulu Tiara?" Erlang tidak menjawab pertanyaan Mutiara namun malah mengembalikan pertanyaan tersebut.


"Nanti aja kak, nanggung. Lagian aku bawa bekal kok jadi kalau sewaktu-waktu aku laper tinggal makan." jawab Mutiara.


Tangan Erlang terangkat untuk menutup laptopnya Mutiara namun dengan cepat Mutiara menahannya. "Jangan kak! Nanggung dikit lagi selesai." pinta Mutiara dan Erlang menurunkan tangannya kembali. "Kak Erlang makan siang aja sana!" usir Mutiara.


Erlang beranjak dari kursi lalu meninggalkan ruangan Mutiara dan Mutiara bisa bernapas lega kemudian melanjutkan lagi pekerjaannya yang sempat tertunda, namun baru beberapa menit Mutiara melanjutkan kegiatannya pintu kembali terbuka dan muncullah Erlang dari balik pintu beserta laptop di tangannya.


"Lah, kak Erlang ngapain bawa laptop segala?" tanya Mutiara bingung.


Erlang melangkah memasuki ruangan Mutiara kemudian menaruh laptopnya di atas meja. "Bantuin kamu lah." jawab Erlang lalu memilih beberapa dokumen di sebelah laptopnya, Erlang duduk di tempat semula kemudian membuka laptopnya.


"Nggak usah bantuin Tiara kak!" tolak Mutiara.


Erlang tidak memperdulikan penolakan dari Mutiara dia terus melanjutkan kegiatannya, namun itu hanya bertahan kurang dari 30 menit, setelah itu cacing-cacing di perut Erlang protes meminta jatah, ini sudah hampir lewat jam makan siang namun Erlang belum memberi mereka jatah.


Mendengar suara nyaring yang berasal dari perut Erlang membuat Mutiara terkikik geli. "Kak Erlang laper?" ledeknya, tangan Mutiara terulur untuk meraih paper bag di ujung meja lalu menyerahkannya pada Erlang. "Nih, kak Erlang makan bekal Tiara aja."


Erlang menaikkan satu alisnya. "Kalau aku makan ini, terus kamu makan apa?"


"Gampang, nanti Tiara pesen go food." jawab Mutiara masih sambil terkikik.


"Kita makan berdua aja."


"Sendoknya cuma satu kak."


"Kan bisa gantian."


Erlang membuka bekalnya Mutiara lalu mulai menyendok makanannya tersebut kemudian memasukkannya ke dalam mulutnya, hanya satu suap setelah itu Erlang menaruh sendoknya. "Sekarang giliran kamu."


Mutiara menatap Erlang dan sendok bergantian seolah ragu untuk melakukannya. "Ayo!" seru Erlang.


Akhirnya Mutiara meraih sendok bekas Erlang lalu menyendok makanan tersebut kemudian memasukkannya ke dalam mulut dan berganti begitu seterusnya sampai makanan yang di bawa Mutiara habis.


Setelah habis Erlang kembali membantu pekerjaan Mutiara, hanya saat jam makan siang saja setelah itu dia kembali ke ruangannya untuk mengerjakan tugasnya hingga selesai.


*


*


Meskipun mereka agak kaku tapi malah mesra loh. 🀣🀣🀣


Bagi yang penasaran dengan cerita ini bisa ikut dulu di Buai kupu-kupu malam, disana udah sampai Bab 11


Ini Author cuma mau mindahin biar nggak jadi satu sama judul yang sebelumnya.


Tapi nanti pada akhirnya juga kelanjutnya tetep disini.