An Agreement

An Agreement
Bab 37



*


*


🌴🌴🌴


*


Seperti rencana yang kemarin, pagi ini Erlang pulang ke rumahnya, Yusuf dan Niar yang ke rumah sakit untuk menjenguk Mutiara.


Kondisi Mutiara sudah membaik dan kondisi Elmira pun juga sudah sembuh hanya tinggal menunggu pemulihannya saja.


Erlang memasuki kamarnya.


Begitu melihat kedatangan Erlang, Elmira langsung memalingkan wajahnya, biar bagaimanapun ia masih merasa jengkel pada Erlang karena Erlang lebih memilih menjaga istri keduanya di banding dirinya.


Erlang membuang napas kasar, kemarin Mutiara yang seperti merajuk seperti itu dan sekarang Elmira, ia duduk di tepi ranjang. "Mira..." panggilnya.


Elmira tetap bergeming.


"Kamu marah?"


"Pikir aja sendiri!!!" jawab Elmira acuh tak acuh.


"Maaf... aku harus bagaimana lagi? Disini posisiku juga sulit, tolong mengertilah!"


Elmira menoleh lalu menatap Erlang. "Mengerti katamu?!" Elmira meninggikan nada suaranya untuk mengeluarkan segala isi hatinya. "Kamu meninggalkan aku di tengah malam padahal aku belum sembuh dan kamu baru pulang sore hari, itupun hanya sesaat setelah itu kamu pergi lagi semalaman dan baru pulang sekarang?! Istri mana yang tidak marah?!"


"Tiara waktu itu sedang gawat, dia terpeleset di kamar mandi dan aku harus menolongnya secepat mungkin."


"Terus keadaanku tidak penting gitu?!" sarkas Elmira.


Erlang memijit pangkal hidungnya, ia tidak tahu lagi harus menjelaskan seperti apa pada Elmira karena semua yang ia katakan pastinya tidak akan ada benarnya di mata Elmira saat ini, Elmira sedang emosi.


"Kenapa diam?! Baru sadar kalau kamu salah?!"


Erlang beranjak dari tempatnya, jika ia tetap disini perdebatan ini tidak akan berakhir.


"Kamu mau pergi lagi?!"


"Kamu maunya aku gimana?" tanya Erlang lembut mencoba bersabar, padahal sebenarnya ia jengah dengan perdebatan ini.


"Temenin aku dong! Masih nanya lagi!!"


Erlang kembali duduk di tempatnya. "Temenin kamu?! Tapi kamunya ngomel terus gitu!!"


"Makanya kamu jangan urus dia terus!!"


"Kalian sama-sama istriku dan kebetulan dia lebih membutuhkan aku pada saat itu."


"Tapikan dia hanya istri sementara."


"Tapi bukan berarti aku harus mengabaikan dia, ada anakku yang sedang di kandungnya dan aku juga harus menjaganya."


"Menjaganya dengan cara mengabaikan aku?!"


"Aku tidak mengabaikan kamu, aku sudah meminta mama dan papa untuk menjaga kamu?!"


"Yang aku butuhkan kamu!! Bukan papa dan mama kamu!!" Elmira kembali meninggikan suaranya.


"Hentikan perdebatan ini! Kamu baru sembuh, sebaiknya kamu istirahat." kata Erlang, kemudian ia beranjak dari tempatnya lalu melangkah menuju sofa.


Erlang menghempaskan kasar tubuhnya di sofa kemudian menyandarkan tubuhnya di punggung sofa, ia benar-benar stress dengan keadaan ini.


"Bagaimana mau membicarakannya pada Elmira tentang rencanaku yang akan membagi waktu untuk mereka berdua? Aku baru meninggalkan Elmira sebentar saja dia sudah semarah ini." batin Erlang.


Elmira beranjak dari ranjang kemudian duduk di sebelah Erlang.


Erlang mengangkat kepalanya saat merasakan seseorang duduk di sampingnya lalu ia menoleh sesaat. "Istirahat Mir!" titahnya kemudian menyandarkan kepalanya lagi.


"Kita belum selesai!!"


Erlang menegakkan tubuhnya kemudian menatap Elmira. "Aku capek Mir. Untuk apa berdebat kalau tidak ada ujungnya."


"Bukan berdebat tentang yang tadi."


Erlang kembali menegakkan tubuhnya, menatap Elmira dengan dahi berkerut. "Masalah apa lagi?"


Erlang membulatkan matanya, ia terkejut dengan permintaan Elmira. "Apa uang 50 juta masih kurang? 50 juta bukan uang kecil. Dan itu hanya uang pribadi buat kamu bukan untuk keperluan lainnya, itupun kalau kamu beli barang-barang online juga masih aku yang bayar."


"Kok pelit banget sih sama istri?!" protes Elmira.


"Bukannya aku pelit, tapi aku mau tau kemana uang bulanan kamu, kamu belanjakan apa aja?"


"Katanya itu uang pribadi buat aku jadi ya terserah aku dong mau buat apa!"


"Kamu tau aku memberi bulanan berapa pada Tiara?"


Elmira hanya mengedikkan bahu acuh tak acuh.


"Uang bulanan buat dia hanya 30 juta itupun masih sisa banyak, sebenarnya aku mau ngasih dia sama jumlahnya dengan kamu tapi dia menolaknya."


"Jadi sekarang kamu udah mulai banding-badingin aku sama dia?!"


Erlang mengacak rambutnya kasar, dia selalu kehabisan kata-kata jika berdebat dengan Elmira, istri pertamanya itu pasti bisa mengeles semua perkataannya. "Bukannya membandingkan kamu dan Tiara, tapi aku perlu tau kemana uang bulanan kamu di belanjakan?" tanyanya geram.


"Mau jawab atau jatah kamu bulan ini tidak aku kirim?!"


Elmira menatap sebal pada Erlang, kalau sudah begitu dirinya sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain mengiyakan kemauan Erlang. "Buat biaya hidup mama." jawab Elmira ragu-ragu.


Erlang memicingkan matanya. "Bukankah mama punya penghasilan sendiri dari jual beli perhiasan?"


"Mama udah nggak usaha itu lagi."


"Kenapa?"


"Gulung tikar."


"Sejak kapan?"


"Beberapa bulan terakhir ini."


Erlang meraup wajahnya gusar, dia baru tau kalau mertuanya tidak memiliki penghasilan pantas saja beberapa bulan terakhir ini Elmira minta ini itu padahal ia sudah memiliki uang bulanan sendiri tapi masih minta dirinya yang membayarkan barang belanjaannya. "Baiklah bulan ini aku akan tambah uang bulanan buat kamu."


"Satu lagi!"


"Apa lagi?" tanya Erlang jengah.


"Aku mau kamu lebih memperhatikan aku di banding dia!"


"Tidak bisa. Kalian sama!" tolak Erlang tegas.


"Nggak! Aku maunya beda!! Jelas aku beda dengan dia, kamu menikahi aku karena cinta dan kamu menikahi dia karena anak."


"Tapi posisi kalian sama, sama-sama istriku dan mulai saat ini aku akan membagikan waktu untuk kalian berdua." kata Erlang sukses membuat Elmira terlonjak kaget, apa katanya tadi? Membagi waktu? Yang benar saja, dirinya akan semakin terabaikan dan bisa-bisa terlupakan, kalau sampai dirinya terlupakan bagaimana kehidupannya nanti?


"AKU TIDAK MAU!!!" protes Elmira dengan suara lantang.


"Aku suami disini dan aku yang akan memutuskan semuanya, kamu mau menerima keputusan ini atau uang bulanan buat kamu tidak jadi aku tambahin?!"


"Kok ancamannya gitu?!! Ini tidak adil!!"


"Kurang adil yang bagaimana Mir?? Aku akan membagi waktu sama rata untuk kalian berdua. Kamu boleh bilang aku tidak adil jika aku lebih memilih lama bersamanya."


Elmira kembali membuang muka, ia takut jika lama-kelamaan dirinya akan tersingkirkan dari kehidupan Erlang.


"Setuju??" tanya Erlang.


Elmira kembali menatap Erlang. "Bagaimana aku tidak setuju kalau ancaman kamu seperti itu?!"


Erlang meraih tangan Elmira untuk di genggamnya. "Maaf jika aku berubah, perhatianku tidak tercurah sepenuhnya padamu. Aku hanya ingin berlaku adil pada kalian, pada kamu dan anakku."


"Aku akan berusaha mengerti keadaan ini, tapi kamu juga harus mengerti keadaanku."


Erlang mengangguk, ia tersenyum tipis lalu tangannya terangkat untuk mengusap pipi Elmira. "Maaf atas ketidak nyamanan ini."


*


*


Eh. Busyettt!! Uang bulanan Elmira banyak banget yak? 😱😱😱


Tugas Author kan emang mengkhayal, jadi terserah Authornya mau ngetik angka berapa aja wakwakwak πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚