
*
*
Erlang dan Mutiara masih bungkam, mereka belum bisa menjawab pertanyaan Elmira.
Elmira mengusap lengan Mutiara. "Aku tahu kalian masih saling mencintai. Rujuklah, aku yang akan mengalah." ucapnya dan langsung di balas gelengan cepat oleh Mutiara. "Enggak kak!"
"Kamu jangan keras kepal---"
"Maaf aku telat."
Ucapan Elmira terpotong dengan kedatangan Adrian.
Mereka bertiga menoleh ke arah sumber suara dan nampak terkejut kecuali Elmira.
"Rujuklah demi Keyra keponakanku dan aku akan kembali dengan Adrian." ucap Elmira sembari menatap Adrian.
Erlang menatap Adrian dan ia langsung teringat bahwa Adrian yang mengantar Elmira pulang waktu itu.
Mutiara masih bungkam, ia sama sekali tidak tahu tentang semua ini.
Elmira menarik tangan Adrian supaya duduk di sampingnya. "Aku dan Adrian dulunya memiliki hubungan dan kami berpisah saat aku memutuskan untuk menikah dengan Erlang, namun nyatanya cinta kami tidak hilang meskipun kita terpisah cukup lama."
"Di tambah sekarang kita saling melengkapi." Adrian menimpali.
"Maksudnya?" tanya Mutiara bingung.
"Setelah aku menikah dengan Erlang, Adrian juga menikah dan sekarang dia sudah memiliki anak." jawab Elmira.
"Istrinya?" tanya Erlang.
"Dia meninggal saat melahirkan. Dan aku yakin kalau Elmira bisa menjadi ibu yang baik untuk anakku." jawab Adrian.
Elmira tersenyum sembari menatap Adrian.
"Kamu pasti sudah lama duduk disini kan? Kamu masih harus banyak istirahat, Ayo aku anter ke kamar." ujar Adrian dan di jawab anggukan oleh Elmira.
"Kamarku yang mana Tiara?" tanya Elmira.
"Yang paling deket tangga kak." jawab Mutiara.
Adrian segera membantu Elmira berdiri kemudian menuntunnya menuju kamar.
'Hening' setelah kepergian Elmira dan Adrian.
Erlang dan Mutiara masih bungkam, ini mengejutkan untuk mereka.
Tatapan mereka saling bertemu hingga perlahan Erlang beranjak dari tempatnya, ia melangkah sampai di depan Mutiara.
Mutiara berdiri dan merekapun berhadapan, Erlang tersenyum, tanpa mengucapkan sepatah katapun ia menarik tubuh Mutiara ke dalam pelukannya.
Mulut mereka memang tidak mengeluarkan suara namun hati dan gerakan tubuh mereka yang menggantikan itu.
"Ayah... bunda..." gadis kecil itu lari dari arah dapur untuk menyusul kedua orang tuanya.
Keyra langsung memeluk kaki kedua orang tuanya, ia merengek ingin ikut berpelukan namun tidak di hiraukan oleh kedua orang tuanya.
Erlang dan Mutiara biasanya akan luluh dengan rengekkan anaknya, namun tidak untuk kali ini, biarkan mereka menjadi orang tua yang egois, kali ini saja mereka tidak ingin mengalah dengan anaknya untuk berbagi pelukkan.
*
π΄π΄π΄
*
Erlang, Mutiara dan Keyra telah sampai di rumah yang biasanya di tempati Erlang, Erlang telah resmi berpisah dengan Elmira beberapa hari yang lalu.
Erlang memang sengaja mengajak Mutiara dan Keyra ke rumah supaya kebersamaan mereka lebih intens, kalau di rumah Mahendra ia merasa kurang leluasa.
Tangan Mutiara terulur hendak membuka pintu mobil namun Erlang segera menahannya. "Kamu disitu aja!" titah Erlang kemudian ia menuruni mobil terlebih dahulu.
"Biar aku yang gendong Keyra." Erlang mengambil alih Keyra dari pangkuan Mutiara, gadis kecil itu telah terlelap, ini memang sudah waktunya ia tidur siang.
Erlang telah menggendong Keyra, Mutiara segera menuruni mobil kemudian mengikuti langkah Erlang memasuki rumah.
Setelah membaringkan Keyra, Erlang berdiri di depan Mutiara dengan lutut sebagai tumpuan. "Besok malem kedua orang tuaku akan ke rumahmu."
Mutiara menyatukan kedua alisnya. "Mau ngapain kak?" tanyanya bingung.
Erlang menggenggam tangan Mutiara serta menatap matanya intens. "Untuk melamar kamu sebagai istriku."
Mutiara terkikik geli dengan jawaban dari Erlang. "Emang harus pake acara lamaran segala ya? Kita kan udah pernah nikah kak."
"Aku ingin kita memulainya dari awal, tanpa adanya sebuah perjanjian, hanya ada perasaan kita. Perasaan saling mencintai dan saling ingin memiliki, aku ingin kamu juga merasakan seperti wanita lainnya, di lamar terlebih dahulu setelah itu baru menikah dan aku mau kita ngadain pesta, dulu waktu kita nikah nggak ada pesta kan, kita nikahnya aja cuma di kua."
"Terus pacarannya gimana?" tanya Mutiara.
"Anggaplah saat ini kita pacaran." jawab Erlang kemudian ia terkekeh pelan.
"Kalau saat ini kita pacaran kok belum pernah ngajak aku ngedate sih?" tanya Mutiara lagi.
"Kalau kita ngedate terus Keyra gimana?"
Mutiara terkekeh. "Aku bercanda kak, tidak semua pasangan harus pacaran terus ngedate, terus tunangan setelah itu baru menikah. Aku bahagia menjalani hubungan sama kamu, meskipun kita langsung langsung menikah."
Erlang berdiri kemudian menarik lengan Mutiara supaya ikut berdiri, setelah Mutiara berdiri Erlang memeluk Mutiara erat. "Aku ingin kita seperti papa Yusuf dan mama Niar, dulu mereka juga sempat terpisah namun karena cinta mereka bersatu kembali dan karena cinta juga hubungan mereka masih harmonis sampai saat ini. Begitupun dengan papa Hendra dan mama Wina, mereka juga dulunya terpisah akhirnya bisa bersatu kembali karena cinta."
"Semoga kita tidak terpisah lagi ya kak."
Erlang melepas pelukannya kemudian menangkup kedua sisi wajah Mutiara dengan kedua telapak tangannya. "Aamiin..."
Kedua pasang mata saling bertemu hingga perlahan bibir mereka juga bertemu, bibir mereka menyatu dan bergerak pelan seakan mereka sedang menyalurkan perasaan yang terpendam, tanpa terasa Mutiara meneteskan air matanya membuat Erlang melepas pagutan mereka. "Kenapa nangis Tiara?"
"Aku bahagia kak." jawab Mutiara sambil menangis dan tersenyum sekaligus.
Erlang menghapus air mata di pipi Mutiara kemudian mengecup dahi Mutiara lalu berpindah di kedua pipinya. "Aku juga bahagia bisa memiliki kamu dan Keyra, dua wanita yang melengkapi hidupku dan dua wanita sumber kebahagiaanku." ucapnya kemudian kembali memeluk Mutiara erat.
Mutiara membalas pelukan Erlang tak kalah erat. "Aku cinta kamu kak."
"Aku juga cinta kamu sayang." balas Erlang.
Mendengar kata sayang keluar dari mulut Erlang membuat jantung Mutiara berdetak semakin kencang, baru kali ini Erlang memanggil dirinya dengan sebutan itu.
Dulu mereka mengawali hubungan tidak seperti layaknya pasangan lain, hubungan mereka di awali dengan sebuah perjanjian. Namun karena perjanjian itu yang akhirnya bisa mengikat perasaan mereka.
*
*
END
*****
Sebenarnya ini endingnya maksa, karena ada misi lain yang mengharuskan aku segera menyelesaikan cerita ini secepatnya, dari pada cerita ini putus di tengah jalan, mending aku persingkat aja ya kan?? Author tenang dan readers pun senang.
Seharusnya cerita ini cukup panjang, belum ada badai air mata, cuma gerimis doang. π€£π€£π€£
Sebenarnya alur cerita ini ada seorang pria yang menjadi penghalang hubungan Mutiara dan Erlang. Yang mengharuskan Erlang berjuang lebih keras dalam mendapatkan Mutiara, namun hanya ada di khayalanku saja karena nyatanya nggak bisa aku ketik disini.
Terus hukuman buat Hanna seharusnya juga ada, namun lagi-lagi hanya ada di khayalanku saja.
Masih satu lagi, sebenarnya ada rebutan antara Mahendra dan Hanna dalam merebutkan Elmira.
*****
Pastinya sudah banyak ya cerita seperti, namun setiap Author pasti memiliki alurnya masing-masing tidak mungkin sama kalau sama itu namanya plagiat kalau plagiat bisa di tuntut.
*****
Mohon maaf apabila banyak kesalahan dalam kata-kata yang kurang tepat atau penulisan yang banyak typo.
Terima kasih untuk semua readers yang sudah setia mengikuti cerita ini sampai selesai. πππ
*****
Di tunggu Epilognya yaa... πππ