
*
*
Erlang telah sampai di rumah barunya, ini adalah waktunya ia makan siang, Erlang memakirkan mobilnya di sebelah mobil Elmira, ia turun dari mobil dengan tergesa-gesa kemudian berjalan cepat bahkan sampai berlari, ia sudah bisa menebak, ada mobil Elmira disini pasti ada keributan di dalam.
Pintu utama masih terbuka, saat Erlang memasuki rumahnya ia langsung melihat Mutiara tergeletak di lantai. "TIARA...!!!" teriaknya sambil berlari. "Tiara kenapa bi?" tanyanya kepada sang pembantu rumahnya.
"Tadi non Tiara bertengkar dengan mbak itu." jawab Inah sembari menunjuk Elmira yang masih berdiri mematung di sebelah Mutiara.
Erlang menatap tajam ke arah Elmira. "Aku nggak nyangka kamu bisa melakukan ini Mir."
Elmira menggeleng cepat. "Bukan aku yang melakukannya! Aku nggak sengaja!!"
Pandangan Erlang turun ke bawah dimana ada darah di sela-sela kaki Mutiara, ia beralih menatap Elmira dengan tatapan penuh benci serta amarah. "KAMU JAHAT!!! AKU BENCI SAMA KAMU!!!" teriaknya kemudian ia mengangkat tubuh Mutiara.
"Bi Inah ikut aku!!!" titahnya pada sang pembantu.
"Baik den." jawab Inah kemudian mengikuti langkah Erlang menuju mobil.
Erlang berusaha memasukkan Mutiara di kursi belakang dan di bantu oleh Inah.
"Biar aku bantu." ujar Elmira sembari berusaha ikut membantu Erlang dan Inah yang sedang berusaha memasukkan Mutiara ke dalam mobil.
"AKU NGGAK BUTUH BANTUAN KAMU!!" tolak Erlang tegas.
Mutiara sudah berhasil masuk mobil dan susul Inah yang akan menjaganya di kursi belakang, setelah Inah masuk mobil, Erlang langsung memasuki mobilnya meninggalkan Elmira yang masih berdiri mematung di tempatnya.
Erlang melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, ia tidak peduli dengan aturan-aturan lalu lintas yang ada di pikirannya saat ini adalah secepatnya sampai di rumah sakit supaya anak dan istrinya cepat mendapatkan pertolongan.
Saat ini Erlang jauh lebih panik di banding dengan waktu Mutiara terpeleset, waktu Mutiara terpeleset, Mutiara memang merintih kesakitan namun tidak ada darah yang keluar, berbeda dengan kali ini, Mutiara pingsan dan ada darah yang terus keluar dari sela-sela kakinya, Erlang takut kalau kali anaknya tidak akan selamat.
"Bibi takut den." tangan kiri Inah memeluk Mutiara dan tangan kanannya berpegangan kuat pada gagang pintu mobil.
"Tenang bi! Nggak apa-apa." kata Erlang untuk menenangkan pembantunya, padahal ia sendiri juga sedang ketakutan bahkan tangannya sampai gemetar.
Sesampainya di rumah sakit, Erlang turun dari mobil dan langsung mencari pertolongan.
Erlang kembali bersama beberapa orang perawat serta ranjang brankar kemudian ia memindahkan Mutiara dari mobil ke ranjang brankar.
Mutiara sudah berbaring di ranjang brankar dan mereka segera mendorongnya menuju ruang IGD.
Mutiara memasuki ruang IGD, Erlang dan Inah menunggu di luar.
Inah duduk di kursi ruang tunggu sedangkan Erlang berdiri bersandar di dinding, kemeja dan celananya bahkan terkena darah dari Mutiara.
Perlahan tubuh Erlang merosot ke lantai, ia meraup wajahnya gusar, bibirnya tak berhenti bergerak ia sedang berdoa, berdoa untuk anak dan istrinya.
Sekian lama Erlang menunggu akhirnya pintu IGD terbuka, Erlang langsung berdiri lalu melangkah mendekati sang dokter. "Bagaimana kondisi istri dan anak saya dok?" tanyanya tidak sabaran.
"Kenapa harus di operasi dok?"
"Nanti akan saya jelaskan pak, kami harus segera bertindak secepatnya untuk menyelamatkan keduanya."
Erlang segera melakukan apa yang di perintahkan oleh sang dokter, sedangkan dokter dan beberapa perawat segera memindahkan Mutiara ke ruang operasi.
Setelah menyelesaikan semuanya Erlang dan Inah kembali menunggu Mutiara di luar ruang operasi, bahkan Erlang sampai lupa mengabari keluarganya dan orang tua Mutiara, sudah tidak ada lagi yang ada di pikiran Erlang saat ini selain Mutiara dan anaknya.
Berjam-jam Erlang menunggu akhirnya lampu di atas pintu ruang operasi mati pertanda operasi telah selesai tak lama kemudian pintu tersebut terbuka dan Erlang langsung mendekati sang dokter.
"Bagaimana kondisi istri dan anak saya dok?"
Sang dokter menghela napas pelan. "Maaf pak, kami tidak bisa menyelamatkan janin istri an--."
Erlang langsung mengguncang kedua bahu sang dokter. "MAKSUD DOKTER APA??!!" tanya Erlang dengan suara meninggi bahkan seperti berteriak.
"Tenang pak!!"
Erlang akhirnya melepas sang dokter, ia melangkah mundur sampai punggungnya membentur dinding, ini bagaikan pukulan berat yang menghujam hatinya, harapannya pupus sudah, janin yang selalu ia elus dengan penuh kasih sayang, ia cium dengan gemas dan baru tadi malam ia menenangkan janin itu ketika janin itu gelisah, tapi sekarang? Calon anaknya telah tiada.
Sang dokter mendekati Erlang kemudian menepuk bahunya. "Yang sabar pak, semua sudah kehendak Tuhan. Kami memang tidak bisa menolong yang satunya, namun kami bisa menolong yang satunya lagi. Janin istri anda yang satu memang tidak bisa tertolong, namun janin yang satunya masih bertahan."
Erlang menatap bingung pada sang dokter. "Maksud dokter istri saya hamil dua?"
"Apa anda belum tahu?"
Erlang menggeleng, ia memang tidak tahu menahu tentang janin kembar yang di kandung Mutiara.
"Mungkin ada alasan lain mengapa istri anda merahasiakannya pada anda. Istri anda akan segera di pindahkan ke kamar rawat inap dan anda bisa menunggunya disana." ujar sang dokter kemudian meninggalkan Erlang yang masih tenggelam dalam keterkejutannya.
Sampai dokter menghilang dari hadapan Erlang, Erlang masih terdiam, ia tidak tahu harus sedih atau bahagia saat ini ternyata sebenarnya ia akan memiliki 2 bayi sekaligus namun yang satu harus pergi sebelum di lahirkan.
Erlang melangkah dengan gontai menuju kamar rawat, ia membuka pintu kemudian memasuki kamar tersebut, Mutiara masih berbaring lemah di ranjang, matanya masih terpejam.
Langkah Erlang terhenti di sebelah ranjang Mutiara, ia membungkuk kemudian mencium perut Mutiara. "Makasih sayang kamu sudah bertahan, ayah bersyukur sekali sayang meskipun saudaramu sudah pergi meninggalkan kita." ucapnya di depan perut Mutiara setelah itu ia menarik kursi di sebelah ranjang kemudian menduduki kursi tersebut.
Erlang meraih tangan Mutiara yang tidak terpasang infus kemudian mengecupnya singkat setelah itu di genggamnya. "Kenapa kamu tidak bilang kalau anak kita kembar Tiara?" tanyanya pada Mutiara yang masih terpejam.
Erlang menatap wajah Mutiara, wajah yang masih pucat pasi, ia melepas genggaman tangannya lalu mengusap lembut pipi Mutiara. "Maafkan aku Tiara... aku tidak bisa menjaga kalian, aku terlambat datang, seandainya aku datang lebih cepat mungkin kedua anak kita masih baik-baik saja dan kamu tidak harus berbaring lemah seperti ini. Maafkan aku... aku bukan suami dan ayah yang baik." ucapnya kemudian mengecup singkat kening Mutiara lalu kembali duduk seperti posisi semula.
*
*
Authornya penuh kejutan... ✌️✌️✌️
Tunggu kejutan-kejutan selanjutnya okay... 😉😉😉