
*
*
Mutiara meringis menahan sakit, tendangan di perutnya lumayan kencang, Yuwina yang menyadari itupun langsung melepas pelukannya. "Ada apa Tiara? Ada yang sakit?"
"Perut Tiara mah, akhh..." jawabnya masih sambil meringis.
"Ayo masuk ke dalam."
Yuwina menuntun Mutiara memasuki rumah kemudian mereka duduk di sofa, Yuwina mengelus perut Mutiara mencoba menenangkan janin di dalam kandungan Mutiara. "Jangan menangis lagi Tiara! Kasihan bayi kamu, dia jadi ikut stress."
Mutiara menenangkan dirinya, ia menarik napas dalam dan menghembuskan perlahan, ia melakukannya berulang-ulang berharap bayinya akan rileks.
Setelah beberapa saat akhirnya bayinya bisa tenang, Mutiara duduk bersandar di sofa. "Papa mana mah?"
"Papa di rumah sakit jagain kakak kamu."
"Besok Tiara mau jenguk kak Mira, mama temenin Tiara ya?"
Yuwina mengangguk. "Mama heran dengan orang tua yang merawat kakakmu, mama dan papa belum pernah ketemu sama dia padahal papa dan mama sering kesana."
"Kebetulan aja kali mah, pas mama dateng dia sedang ada urusan." Mutiara beranjak dari sofa. "Tiara ke kamar dulu mah."
Yuwina ikut beranjak dari sofa, ia akan mengantar anaknya ke kamar.
*
π΄π΄π΄
*
Erlang membuka matanya, ia mengerjab beberapa kali untuk mengumpulkan kesadarannya, setelah sadar sepenuhnya ia menoleh ke samping dimana ia mendekap Mutiara tadi malam. "Tiara..." panggilnya saat tidak menemukan keberadaan Mutiara di sampingnya.
Erlang menyibak selimut yang menutupi tubuhnya kemudian menuruni ranjang. "Tiara..." panggilnya lagi sembari melangkah keluar dari kamarnya.
Erlang menuruni tangga kemudian menuju dapur, namun ia tidak menemukan Mutiara di dapur hanya ada Inah yang sedang membereskan dapur. "Tiara dimana bi?"
Inah menghentikan kegiatannya lalu menoleh ke arah sumber suara. "Tidak tahu den, bibi belum melihat non Tiara turun ke bawah."
Erlang langsung berbalik, ia menaiki tangga dengan tergesa-gesa sampai di kamarnya kemudian menuju wardrobe ternyata pakaian Mutiara masih utuh.
Erlang kembali melangkah menuju nakas untuk mengambil handphonenya namun setelah sampai di dekat nakas ia berdiri mematung saat melihat cincin di atas sebuah kartu, dunianya seakan runtuh hatinya sakit bagai di hujam ribuan duri tajam, ketakutan yang tadi malam ia risaukan kini menjadi kenyataan, Mutiara benar-benar pergi meninggalkan dirinya, Mutiara pergi serta membawa anaknya.
Erlang menyambar kunci mobilnya yang berada di atas meja kerjanya, ia keluar dari kamarnya kemudian menuruni tangga dengan tergesa-gesa sampai di garasi.
Erlang menyalakan mesin mobilnya kemudian melajukannya menuju rumah Yuwina, hanya ada dua kemungkinan keberadaan Mutiara saat ini, di rumah orangtuanya atau di panti.
Erlang tidak memperdulikan penampilan saat ini, ia belum mandi masih memakai piyama perutnya pun masih kosong, ia sudah tidak bisa berpikir lagi karena yang ada di pikirannya saat ini adalah Mutiara dan anaknya.
Erlang memakirkan mobilnya di pelataran rumah Yuwina, ia langsung turun kemudian melangkah dengan cepat sampai di depan pintu, Erlang mengetuk pintu dengan tidak sabaran.
Setelah beberapa kali mengetuk akhirnya pintu di buka oleh Yuwina. "Erlang?"
"Tiara disini kan mah?" tanya Erlang to the point.
"Tiara ada di kamarnya."
Erlang hendak melangkah menuju kamar Mutiara namun Yuwina menahannya. "Tolong hargai keputusan Tiara."
"Enggak mah! Ada anak di antara kita, mana mungkin aku akan membiarkan Tiara pergi gitu aja. Aku akan mempertahankan Tiara!"
"Ini keputusan Tiara, tolong hargai itu!"
"Ijinkan aku bicara dengan Tiara dulu mah, sebentar saja aku mohon..."
Terdengar nada memohon dari Erlang membuat Yuwina tidak tega melihatnya, akhirnya ia mengangguk dan membiarkan Erlang ke kamar anaknya.
Begitu mendapat ijin dari mertuanya, Erlang langsung berjalan cepat menuju kamar Mutiara.
Tangan Erlang terangkat untuk memutar handle pintu namun ternyata pintu terkunci dari dalam, akhirnya Erlang mengetuk pintu. "Tiara..." panggilnya.
Sudah beberapa kali Erlang mengetuk pintu namun tidak ada tanda-tanda pintu akan terbuka. "Tiara... buka pintunya! Kita harus bicara."
Masih belum ada jawaban dari dalam.
"Mah, Tiara nggak mau bukain pintu, bisa mama pinjamkan kunci cadangan lagi?"
Yuwina membuang napas berat, ia melangkah menuju kamarnya untuk mengambil kunci cadangan untuk Erlang.
Setelah mendapat kunci cadangan Erlang kembali melangkah menuju kamar Mutiara lalu membukanya, pintu terbuka Erlang melangkah memasuki kamar Mutiara. "Tiara..." panggilnya saat ia tidak menemukan keberadaan Mutiara di dalam kamarnya.
Erlang menoleh ke arah pintu kamar mandi, ternyata pintu tertutup kemungkinan Mutiara di dalam kamar mandi, Erlang duduk di tepi ranjang menunggu Mutiara selesai mandi.
Mutiara keluar dari kamar mandi, ia telah selesai dengan ritualnya di kamar mandi 'deg' Mutiara membeku di tempatnya saat melihat Erlang sudah berada di dalam kamarnya dan tatapan mata mereka langsung bertemu.
Sampai di detik ke sepuluh barulah Mutiara sadar dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Erlang beranjak dari tempatnya ia melangkah sampai di depan Mutiara dan langsung memeluk Mutiara erat.
"Lepas kak!!!" Mutiara bergerak-gerak hendak melepaskan diri dari dekapan Erlang.
"Enggak Tiara! Aku nggak mau lepasin kamu kalau aku lepasin kamu pasti pergi lagi."
"Tolong hargai keputusanku kak!!! Aku tidak akan berubah pikiran."
"Kita bicara dulu Tiara, kamu nggak bisa pergi gitu aja kita cari jalan keluarnya bersama."
"LEPASIN!!!" Mutiara meninggikan suaranya.
"NGGAK!!!"
"Lepasin atau aku akan pergi jauh dari sini? Kalau kamu kesini terus aku akan ke Lombok."
Perlahan Erlang melepas pelukannya, ia tidak mau Mutiara jauh dari dirinya, ia ingin selalu melihat Mutiara dan anak mereka nantinya.
"Tolong pulang kak dan jangan kembali lagi kesini."
"Enggak bisa gitu Tiara... aku masih suami kamu."
"Begitu anak ini lahir aku akan segera mengurus perpisahan kita." ucap Mutiara datar, meskipun dalam hati ia merasa hancur saat mengatakan kalimat pisah.
"Aku nggak mau berpisah denganmu Tiara."
"Mau tidak mau kita tetap akan berpisah." ucap Mutiara masih dengan nada datarnya.
"Tiar---"
"Tolong pergi dari sini kak!!" potong Mutiara.
"Aku nggak mau!!!"
"Baiklah kalau kamu tidak mau pergi biar aku yang akan pergi."
Mutiara hendak melangkah namun Erlang menahannya. "Biar aku yang pergi, tapi ijinkan aku mencium anakku sebentar."
Mutiara hanya mengangguk.
Erlang membungkuk ia mencium perut Mutiara berulang-ulang. "Ayah pergi nak, sehat terus sampai lahir, ayah pasti merindukanmu." ucapnya di depan perut Mutiara.
Mutiara mendongak mengerjab beberapa kali untuk menghalau air matanya supaya tidak tumpah, ia sudah tidak bisa menggambarkan perasaan saat ini.
"Aku masih boleh cium kamu kan?" tanya Erlang dan Mutiara hanya memalingkan wajahnya.
Erlang menarik kepala Mutiara kemudian mengecup keningnya dan berlama-lama disana. "Jaga diri baik-baik." ucapnya setelah melepas kecupannya.
Mutiara kembali mengangguk. "Tolong jangan kembali lagi kesini."
Erlang pura-pura tidak mendengar ucapan Mutiara ia melangkah keluar dari kamar Mutiara.
Mutiara segera menutup pintu kemudian bersandar di balik pintu, ia kembali menumpahkan air matanya, perlahan tubuh merosot ke bawah hingga ia terduduk di lantai. "Maafkan aku kak." ucapnya lirih kemudian ia mengusap perutnya. "Maafkan bunda nak..."
*
*
Haishh.... jadi ikut melow aing. πππ
Siapa yang patut di salahkan dalam permasalahan ini?