An Agreement

An Agreement
Bab 36



*


*


Mutiara masih enggan menatap Erlang, tatapannya lurus ke jendela yang tidak jauh dari ranjangnya.


Erlang membuang napasnya berat lalu ia beranjak dari kursi kemudian berjalan memutari ranjang sampai di sisi sebelahnya dimana Mutiara yang sedang memalingkan wajahnya. "Kamu kenapa Tiara? Biasanya kamu nggak kayak gini, biasanya kamu baik, sabar, penyayang."


Mutiara tidak menanggapi perkataan Erlang, ia memalingkan wajahnya lagi.


Tangan Erlang terangkat untuk menyentuh pipi Mutiara dan menolehkannya paksa menatap dirinya. "Hei... kenapa buang muka terus sih? Terus itu kenapa mukanya di tekuk gitu?" tanyanya.


Mutiara belum menanggapi perkataan Erlang, ia belum merubah mimik wajahnya dan hanya menatap Erlang.


"Eh, tapi kamu lucu loh kalau sedang cemberut gitu jarang-jarang aku lihat kamu kayak gini, ini momen langka harus di abadikan." goda Erlang kemudian ia mengeluarkan handphonenya hendak memotret Mutiara.


Sikap Erlang yang selalu baik membuat Mutiara tidak bisa menolak perasaannya, ia menjatuhkan hatinya pada sosok Erlang bahkan rela menyerahkan dirinya dan mengorbankan masa depannya untuk memberi keturunan pada Erlang.


"Kak!!" Mutiara merebut handphone Erlang.


Erlang terkekeh ia sudah menduga reaksi Mutiara akan seperti itu, Mutiara pasti malu.


"Kamu maunya aku harus gimana Tiara?" tanya Erlang serius.


"Aku mau mulai saat ini kak Erlang bersikap adil."


Dahi Erlang berkerut. "Adil yang seperti apa Tiara? Yang jelas!"


"Ya-- adil dalam artian kak Erlang harus adil membagi waktu untuk aku dan kak Mira."


Dahi Erlang semakin berkerut dalam, ia belum memahami sepenuhnya permintaan Mutiara, yang bisa di pahami Erlang saat ini adalah Mutiara meminta hak nya sebagai seorang istri.


"Maaf, jika aku egois... aku juga pengen merasakan menjadi seorang istri yang sesungguhnya, hidup dalam satu atap dan menjalani waktu bersama."


Erlang memicingkan matanya. "Itu keinginan kamu atau keinginan debay?!"


Mutiara masih menatap Erlang, sebenarnya itu memang murni keinginannya, ia ingin menghabiskan waktu bersama pria yang di cintainya sesering mungkin sebelum waktu itu habis.


Jika waktu itu sudah habis maka mereka hanya bisa bertemu beberapa menit saja, tidak ada pelukan hangat lagi yang akan ia dapatkan, tidak ada perhatian lebih lagi dan tidak ada kecupan-kecupan di perutnya.


Meskipun dirinya harus rela tersesat lebih jauh lagi dalam lembah cinta, karena semakin sering mereka bersama maka semakin dalam pula rasa cintanya terhadap Erlang dan akan semakin sakit pula ketika mereka nantinya berpisah.


"Apa itu keinginan debay?" tanya Erlang lagi.


"Tentu ini keinginan debay, dia ingin dekat dengan ayahnya." jawab Mutiara pada akhirnya.


"Sampai seperti itukah?"


"Mungkin. Dia juga mau di perhatikan lebih oleh ayahnya."


Erlang mencondongkan tubuhnya lalu mengecupnya perut Mutiara. "Kamu cewek ya?" tanyanya di depan perut Mutiara. "Manja banget sih kayak tante Kayla."


Mutiara tersenyum tangannya terangkat untuk mengusap bahu Erlang, sebenarnya bukan bayinya yang manja tetapi memang dirinya yang ingin merajut momen bersama mereka bertiga, Erlang, dirinya dan bayinya. "Maafkan aku kak Mira, aku akan meminjam suamimu sementara waktu." batin Mutiara.


Erlang menegakkan tubuhnya kemudian menatap Mutiara yang sedang tersenyum. "Ih... beneran manja ya dia? Tuh, setelah aku cium dia, kamu bisa senyum gitu."


Senyum Mutiara kian melebar. "Aku mencintai kamu kak." batin Mutiara lagi.


"Nanti kalau aku pulang aku akan membicarakannya dengan Mira."


Mutiara mengangguk. "Kak, aku mau--"


"Mau apa lagi?" potong Erlang.


"Mau jeruk itu." tunjuk Mutiara pada beberapa buah jeruk di sebelah makan siangnya.


"Makan nasi dulu ya?"


Mutiara menggeleng. "Nanti aja, aku maunya itu dulu."


"Aku bisa sendiri." Mutiara menerima jeruk tersebut dan mulai memakannya. "Wanita mana yang tidak jatuh cinta padamu? Jika sikap kamu sebaik ini." batin Mutiara.


*


🌴🌴🌴


*


Setelah kedua orang tua Mutiara kembali, kini gantian Erlang yang pulang ke rumahnya, ia akan mengganti pakaiannya sekaligus untuk melihat kondisi Elmira, biar bagaimanapun Elmira adalah istrinya dan tanggung jawabnya.


"Erlang?"


Suara Yusuf menghentikan langkah Erlang yang hendak menaiki tangga, kemudian ia menoleh ke arah sumber suara.


"Papa? Bagaimana kondisi Elmira pah?" tanya Erlang setelah duduk di sebelah papanya di ruang tengah.


"Elmira nggak mau papa anter ke rumah sakit katanya bosen di rawat di rumah sakit, jadi tadi papa panggil dokter kesini dan dokternya bilang Elmira nggak apa-apa, dia akan segera pulih asalkan rajin minum obat, istirahat yang cukup dan makan teratur."


"Syukurlah..."


Yusuf meletakkan laptopnya, ia memang sedang mengerjakan tugas kantor karena Erlang seharian tidak mengurus kantor. "Kondisi Tiara bagaimana?" tanyanya.


"Tiara dan kandungannya baik-baik aja pah."


"Syukurlah.."


Erlang meraih beberapa berkas di atas meja yang di antar sekretarisnya tadi siang, namun Yusuf segera menahannya. "Biar papa yang selesaikan, kamu urus Elmira dan Tiara dulu."


Erlang meletakkan kembali berkas-berkas tersebut kemudian beranjak dari sofa. "Erlang ke atas dulu ya pah."


"Mama juga masih di kamar kamu menemani Elmira."


Erlang mengangguk kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar.


Erlang membuka pintu kamarnya lalu melangkah masuk, Niar langsung menempelkan jari telunjuk di bibirnya supaya Erlang tidak bersuara karena Elmira sedang istirahat.


Erlang melangkah menuju sofa kamarnya dimana mamanya berada sedang melihat majalah sambil menunggu menantunya yang sedang sakit.


"Bagaimana kondisi Tiara?" tanya Niar setelah menutup majalahnya dan menatap anaknya.


Erlang duduk di samping mamanya. "Semua baik-baik aja mah. Maaf, Erlang sudah merepotkan mama dan papa dalam mengurus istri Erlang."


Niar mengusap bahu Erlang. "Tidak apa-apa, yang penting semua baik-baik saja dan kamu fokus ke Tiara aja, biar mama dan papa yang ngurus Elmira."


"Makasih mah."


Niar meletakkan majalahnya di sisi sampingnya. "Tapi mama juga pengen jenguk Tiara."


"Besok pagi aja mah ini kan udah sore, besok pagi Erlang pulang dan mama papa bisa gantian yang kesana."


"Ya udah besok aja." Niar memperhatikan penampilan anaknya yang tidak karuan, Erlang masih mengenakan piyama yang sudah lecek, rambut acak-acakan serta sandal jepit yang melekat di kakinya. "Sana kamu mandi dulu! Kamu tuh anak mama apa bukan sih? Jelek amat." ledeknya.


"Kalau Erlang jelek berarti orang tua Erlang juga jelek." balas Erlang di sertai kekehan kecil.


"Udah sana mandi! Bauk!!" dengus Niar.


Erlang beranjak dari sofa menuju kamar mandi, ia memang seharian belum mandi.


*


*


Repot kan punya istri dua? 🀭🀭🀭


Kedua-duanya sedang sakit pula, bingung nggak tuh.


Untung Erlang memiliki kedua orang tua yang baik dan mau merawat salah satu dari istrinya.