
*
*
π΄π΄π΄
*
Sudah hampir 2 bulan Mahendra dan Yuwina menetap di Lombok, dulu mereka bilang hanya beberapa minggu namun ternyata sampai saat ini urusan mereka disana belum selesai.
Saat ini usai kandungan Mutiara sudah menginjak 5 bulan, jika di tinggal Erlang tinggal di rumah lamanya maka ia tinggal di rumahnya bersama pembantunya.
Semakin hari Erlang semakin sering ke rumah barunya meskipun kadang ia tinggal di rumah lamanya namun tiada hari tanpa mampir ke rumah barunya kadang mampir di saat ia berangkat kerja kadang pulang kerja tapi kalau makan siang ia selalu ke rumah barunya.
Semakin hari pula Erlang semakin jarang menyentuh istri pertamanya ia semakin terlena dengan istri kedua nya, ia semakin nyaman berada di dekat istri kedua nya, wanita yang lembut, penyayang dan saat ini wanita itu pula yang sedang mengandung anaknya hampir seluruh waktu dan perhatian yang ia punya, ia curahkan pada istri kedua nya.
Erlang semakin lupa dengan janjinya, janji yang dulu ia buat sendiri, janji kalau ia akan adil untuk kedua istrinya, namun kenyataannya saat ini ia lebih sering bersama istri kedua nya, kalau tinggal memang masih berjalan sesuai janjinya namun Erlang tidak pernah melewatkan harinya tanpa menemui istri kedua nya.
Ini sudah tengah malam namun Mutiara masih belum bisa memejamkan matanya, janinnya masih terus bergerak padahal ia sudah mengelus-elusnya, namun janinnya masih enggan untuk tenang janinnya masih bergerak-gerak, Mutiara sampai membalikkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri mencari posisi yang nyaman namun ia belum juga menemukan posisi yang menurutnya nyaman.
Mutiara akhirnya beringsut duduk, ia membuang napas berat, ini sungguh menyiksa dirinya, matanya sudah terasa berat namun ia belum bisa tidur.
Erlang membuka matanya, ia juga tidak bisa tidur dengan nyenyak karena Mutiara terus bergerak. "Ada apa Tiara?"
Mutiara menoleh lalu menatap Erlang. "Aku nggak bisa tidur kak." keluhnya.
Erlang beringsut duduk lalu bersandar di kepala ranjang. "Kenapa? Kamu laper? Atau ada yang sakit?"
"Debay gerak terus kak, padahal aku sudah ngantuk tapi nggak bisa tidur kalau dia belum tidur."
Erlang mencondongkan tubuhnya untuk mencium anaknya yang sedang gelisah. "Sayang... bobo ya, kalau kamu tidak bobo bunda juga tidak bisa istirahat, kasihan bunda capek udah gendong kamu seharian." ujarnya di depan perut Mutiara.
Mutiara membaringkan tubuhnya kembali. "Aku nggak capek karena gendong debay kak, aku hanya ngantuk dan tidak bisa tidur."
Erlang pun melakukan hal yang sama, ia berbaring kemudian menarik tubuh Mutiara ke dalam pelukannya dan tangannya terus mengelus perut Mutiara. "Tidurlah... biar aku yang menenangkannya."
Mutiara menyandarkan kepalanya di dada Erlang lalu mulai memejamkan matanya, usapan lembut di perutnya membuat gerakan janinnya mereda dan perlahan diam, bersamaan janinnya diam, Mutiara pun tertidur.
Setelah Mutiara tertidur, Erlang berhenti mengusap perut istrinya, ia membenarkan posisi tidurnya kemudian ia beringsut duduk dan mencondongkan tubuhnya lagi. "Nakal kamu ya! Seneng banget ngerjain ayah dan bunda." ucapnya kepada sang anak kemudian mendaratkan satu kecupan singkat, setelah itu ia kembali ke posisi semula.
Erlang memperhatikan wajah damai nya Mutiara, pipinya bertambah cubby dan menggemaskan, ia tersenyum tipis kemudian mengecup kening Mutiara dan berlama-lama disana. "I love you." ucapnya setelah melepas kecupan panjangnya.
Erlang membaringkan tubuhnya, menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua dan mulai memejamkan matanya berusaha menyusul Mutiara ke alam mimpi.
*
π΄π΄π΄
*
Elmira membuka matanya, kepalanya terasa pusing mungkin pengaruh alkohol belum yang hilang, ini hampir tengah hari namun Elmira baru bangun dari tidurnya, semalaman ia pulang hampir pagi jadi wajar kalau jam segini ia baru bangun.
Elmira beringsut duduk dan bersandar di kepala ranjang ia langsung teringat dengan barang-barangnya yang tinggal sedikit, semua benda pemberian Erlang hampir habis terjual, entah bagaimana ibunya membelanjakan uang darinya ia sendiri tidak tahu.
Elmira memijit pelipisnya berharap bisa mengurangi rasa pening di kepalanya, semakin kesini posisinya sebagai istri Erlang semakin terancam, kadang Erlang memang pulang kesini namun Erlang tidak pernah menyentuh dirinya lagi.
Elmira beranjak dari ranjang, ia melangkah menuju meja rias kemudian duduk di kursinya, tangannya terulur untuk membuka laci di depannya, ia melihat perhiasannya yang hanya tinggal beberapa buah saja, mungkin setelah perhiasannya habis ia akan menjual barang-barang branded pribadinya.
Handphonenya yang berada di atas nakas bergetar, ia beranjak dari kursi kemudian lalu melangkah menuju ranjang kemudian duduk di tepi ranjang, ia meraih handphonenya kemudian membuka chat yang baru saja masuk, chat dari sahabatnya yang mengiriminya foto. Foto-foto di saat Erlang sedang mampir di rumah barunya dan di foto tersebut terdapat jam dan tanggal kapan foto itu di ambil.
"Agrrhhhh!!!" Elmira mengangkat tangannya dan hampir membanting handphonenya namun ia urungkan karena ia menyadari ia tidak akan mampu membeli handphone seperti itu lagi.
Elmira melajukan mobilnya menuju rumah yang di tempati Mutiara, ia tidak peduli dengan penampilannya yang berantakan, belum mandi dan bau alkohol masih melekat di tubuhnya.
Setelah sampai di depan rumah Mutiara, Elmira turun dari mobil lalu berjalan menuju pintu utama, ia mengetuk pintu dengan tidak sabaran.
Pinta terbuka dari dalam, belum di persilahkan masuk oleh pembantu rumah tersebut namun Elmira langsung memasuki rumah tersebut. "TIARA..!!!" teriaknya dari bawah.
"Maaf, anda siapa?" tanya Inah pembantu di rumah Mutiara.
"Katakan dimana Tiara?!!"
"Non Tiara di atas."
Elmira langsung menaiki tangga mencari keberadaan Mutiara. Karena Mutiara, posisi dirinya sebagai istri Erlang menjadi terancam.
"TIARA...!!!" teriaknya lagi sembari membuka kamar di sebelah kamar Mutiara.
Mutiara keluar dari kamarnya saat mendengar keributan di luar kamarnya.
"Ternyata lo disini?!!"
"Ada apa kak?"
Elmira langsung mencengkram lengan Mutiara. "GARA-GARA LO KEHIDUPAN GUE JADI HANCUR!!!!"
"Maaf kak." lirih Mutiara sembari berusaha melepaskan lengannya dari cengkeraman Elmira.
'PLAK' satu tamparan mendarat di pipi Mutiara.
"PERGI LO DARI KEHIDUPAN ERLANG!!!"
Mutiara menyentak cekalan Elmira dan ia berhasil lolos, Mutiara berlari menuruni tangga ia hendak meminta pertolongan dari pembantunya, namun di pertengahan tangga Elmira berhasil mencekalnya lagi.
"LEPAS KAK!!!" teriak Mutiara sembari berusaha melepaskan diri dari cekalan Elmira lagi.
"LO HARUS PERGI DARI KEHIDUPAN ERLANG!!!"
"ENGGAK!!!"
"ADA APA INI NON??!" teriak Inah dari bawah, ia panik melihat kedua wanita yang saling tarik di tengah tangga.
Elmira tersentak kaget saat mendengar suara teriakan dari Inah, ia melepas cengkraman tangannya dan itu membuat Mutiara kehilangan keseimbangan, tubuhnya berguling dari tengah tangga sampai di lantai dasar.
"TIARA..!!!" teriak Elmira panik, ia tidak berniat mencelakai Mutiara, ia hanya ingin Mutiara pergi dari kehidupan Erlang.
Inah segera berlari untuk menolong Mutiara.
Elmira menuruni tangga dengan tergesa-gesa ia juga takut terjadi apa-apa dengan Mutiara.
Mutiara tergeletak di lantai namun ia masih setengah sadar dan ia sempat melihat gelang mutiara yang di pakai Elmira saat ini. "Kakak." ucapnya tanpa suara sebelum penglihatannya menggelap dan kesadarannya menghilang sepenuhnya.
*
*
Bagaimana nasib Mutiara dan janinnya??
Tanyakan pada seseorang yang mengarang cerita ini. π€π€π€