An Agreement

An Agreement
Bab 53



*


*


"ENGGAK TIARA!!!" tolak Erlang tegas.


Mutiara merosotkan tubuhnya dari dekapan Erlang, ia terduduk di lantai. "Aku harus pergi kak. Aku harus pergi sekarang juga."


Erlang berjongkok, ia meraih kedua pundak Mutiara. "Jangan pergi Tiara, kumohon... tetaplah disini."


"Kamu tidak bisa mempertahankan pernikahan kakak beradik! Kamu harus merelakan salah satunya dan itu adalah aku." ucapnya di iringi mengalirnya air mata, meskipun ada anak di antara dirinya dan Erlang, namun ia juga tidak mau egois, mempertahankan sesuatu yang bukan miliknya.


Erlang menarik Mutiara ke dalam pelukannya. "Enggak Tiara!! Bukan kamu yang harus aku relakan tapi Elmira. Aku akan berpisah dengan Elmira setelah dia sadar."


Mutiara melepaskan diri dari dekapan Erlang. "Apa kamu pikir aku mau?! Aku nggak mau kak! Aku nggak mau menyakiti kakakku sendiri!"


"Kamu harus mau! Kita saling cinta dan anak di antara kita."


Erlang merasa dunianya jungkir balik, baru saja ia merasa bahagia bisa bercengkrama hangat dengan Mutiara namun sekarang Mutiara ingin pergi meninggalkannya.


"Maaf kak... tapi aku benar-benar tidak bisa! Aku tidak bisa terus bersamamu." Mutiara beranjak dari posisinya dan Erlang pun melakukan hal yang sama, Mutiara melangkah untuk mengambil koper, ia benar-benar akan pergi dari rumah ini, ia akan menjalani hidup tanpa Erlang.


Erlang mengambil alih koper yang sedang di buka oleh Mutiara. "Kamu nggak boleh pergi! Mana janji kamu? Janji kamu yang akan tetap disini!"


Mutiara mengambil alih kembali koper miliknya. "Keadaan sudah berbeda kak!" ujarnya sembari memasukkan barang-barang miliknya ke dalam koper.


Erlang menahannya, ia memeluk tubuh Mutiara erat dari belakang sehingga membatasi gerakan tangan Mutiara yang hendak memasukkan barang-barang ke dalam koper. "Kamu nggak boleh pergi! Aku tidak mengijinkannya."


Mutiara memejamkan matanya, ia berusaha menahan air matanya namun usaha gagal karena air matanya tetap keluar dan langsung mengalir di pipinya. "Tolong mengertilah kak. Kumohon..."


Erlang tetap bergeming, ia tidak melepaskan Mutiara barang sedetik pun, ia tetap memeluk Mutiara erat seakan kalau ia lepaskan maka Mutiara akan langsung pergi darinya.


Cukup lama mereka dalam posisi seperti itu sampai Mutiara merasa lelah. "Kak, sampai kapan kamu mau meluk aku kayak gini? Aku capek."


"Sampai kamu mau berjanji kalau kamu tidak akan pergi dari rumah ini."


Mutiara menghela napasnya. "Aku tidak akan pergi." jawabnya pasrah.


Erlang melepas pelukannya kemudian membalikkan tubuh Mutiara lalu kembali melingkarkan kedua tangannya di pinggang Mutiara, ia menatap mata Mutiara yang sudah memerah. "Janji?"


Mutiara mengangguk pelan. "Sekarang kita tidur, ini sudah malam."


Erlang akhirnya melepas pelukannya ia menuntun Mutiara menuju ranjang, ini memang sudah malam, sudah waktunya mereka istirahat.


Mereka menaiki ranjang kemudian membaringkan tubuh mereka di ranjang.


Tangan kiri Erlang sebagai bantalan Mutiara sedangkan tangan kanannya mengelus-elus perut buncit istrinya dimana buah hati mereka sedang berkembang disana. "Aku mau kita seperti ini terus Tiara, kita bertiga. Aku, kamu dan debay bisa terus bersama."


Erlang berhenti mengusap perut Mutiara, ia memeluk Mutiara dengan posesif lalu memejamkan matanya.


Mata Mutiara memang terpejam namun ia tidak tidur, ia menunggu Erlang tidur lebih dulu. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya Erlang sudah terlelap, dengan hati-hati Mutiara mengangkat tangan Erlang yang melingkar di perutnya kemudian ia beringsut mundur lalu bangkit dari posisinya, tanganya terulur untuk meraih handphonenya di nakas.


Mutiara mengirimkan chat pada Budi supir pribadi orang tuanya, meskipun sebenarnya ia merasa tidak enak hati menyuruh Budi menjemputnya malam-malam begini namun ia harus melakukannya tidak mungkin malam-malam begini pesan taxi online, dirinya seorang wanita sedang hamil pula, ia takut dan tidak mau ambil resiko.


Setelah ia mengirim pesan pada Budi, Mutiara juga mengirimkan pesan pada mamanya, Mutiara beranjak dari ranjang, ia mengambil tas kemudian memasukkan dompet dan satu kemeja milik Erlang karena ia pasti akan membutuhkan kemeja itu nantinya, Mutiara tidak membawa apapun dari rumahnya.


Semua sudah beres, sambil menunggu Budi datang menjemput Mutiara duduk di tepi ranjang, tangannya terulur untuk mengelus rambut hitam dan lebat milik Erlang. "Maafkan aku kak... sudah banyak janji yang aku ingkari, janji yang akan tetap tinggal disini, aku terpaksa mengingkarinya karena aku harus tetap pergi biar bagaimanapun kamu adalah milik kakakku. Dan janji kalau aku akan menyerahkan anak ini padamu namun nyatanya aku akan membawanya pergi."


Mutiara menjauhkan tanganya dari rambut Erlang, ia mengambil dompet dari dalam tas nya kemudian mengeluarkan kartu debit pemberian Erlang lalu meletakkannya di nakas, setelah itu ia memandangi cincin kawinnya beberapa saat kemudian melepasnya lalu menaruhnya di atas kartu debit tersebut. "Maafkan aku kak, aku harus pergi serta membawa anak kamu. Aku akan mengurus perpisahan kita setelah debay lahir." ucapnya pelan kemudian menghapus air mata di pipinya.


Mutiara mengangkat tangan Erlang dan membawanya ke perutnya, mungkin itu akan menjadi usapan terakhir untuk anaknya, setelah itu ia mencondongkan tubuhnya untuk mengecup singkat pipi Erlang dan berakhir mengelusnya. "Aku pergi kak."


Mutiara beranjak dari tempatnya ia melangkah keluar dari kamarnya sambil sesekali menyeka air matanya.


Langkahnya Mutiara terhenti di depan rumahnya dimana bunga-bunga kesayangannya masih bermekaran, ia tersenyum miris mungkin ia tidak akan melihat pemandangan itu lagi, Mutiara melanjutkan langkahnya sampai di mobil dimana sang supir telah menunggunya.


Mutiara memasuki mobil meninggalkan rumahnya dan meninggalkan Erlang yang masih terlelap, ia tidak bisa membayangkan jika Erlang terbangun esok hari dan dirinya sudah tidak disisinya lagi.


Selama perjalanan menuju rumah mama Wina, Mutiara tidak berhenti menangis, ini sungguh berat untuknya apalagi untuk anaknya kelak namun ia harus melakukannya.


"Non Tiara nggak apa-apa?" tanya sang supir, Budi bisa melihat Mutiara menangis dari kaca spion di depannya.


Mutiara kembali menyeka air matanya, entah itu sudah yang keberapa kalinya. "Nggak apa-apa pak." jawabnya kemudian memaksakan senyumnya yang kaku.


Budi memutar roda kemudinya, mobilnya telah sampai di pelataran rumah Yuwina.


"Makasih pak." ucap Mutiara kemudian menuruni mobil.


Mutiara melangkah menuju pintu utama, sebelum dirinya sampai di depan pintu, pintu di buka dari dalam oleh Yuwina.


Mutiara langsung berhamburan ke pelukkan mamanya.


Yuwina mengusap lembut punggung Mutiara untuk menyalurkan kekuatan untuk putrinya. "Yang kuat ya sayang, mama tahu ini berat buat kamu."


Mutiara sudah tidak bisa mengeluarkan satu patah kata pun, ia hanya menangis dalam pelukan mamanya menumpahkan segala rasa sakit yang ia rasakan.


*


*


Bagaimana reaksi Erlang saat ia bangun dari tidurnya dan tidak menemukan keberadaan Mutiara??


Inget ya janji kalian?? Janji kalau nggak akan misuh-misuh. Kalau kalian misuh-misuh jempolku nggak mau ngetik loh... πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ