An Agreement

An Agreement
Bab 33



*


*


Yuwina menuruni ranjang dengan pelan, ia tak mau mengganggu tidur sang suami, kemudian ia melangkah keluar dari kamarnya menuju pintu utama.


"Erlang.. ada apa malam-malam kesini?" tanya Yuwina setelah membuka pintu rumahnya.


"Emm... ada yang ketinggalan di kamar Tiara mah dan itu sangat penting." jawab Erlang tidak jujur karena ia tidak mau membuat mertuanya ikut khawatir jika ia mengatakan kalau dirinya saat ini sedang khawatir.


Yuwina membuka pintu lebar-lebar. "Ayo masuk."


Setelah Erlang memasuki rumah, Yuwina menutup pintu dan kembali melangkah menuju kamarnya.


Erlang mengetuk pintu kamar Mutiara namun tidak ada jawaban dari dalam sana, Erlang menahan Yuwina yang hendak membuka pintu kamarnya. "Mah.. ada kunci cadangan kamar Tiara? Takutnya akan menganggu tidurnya Tiara."


Yuwina mengernyit sesaat namun setelah itu ia melanjutkan kegiatannya yang hendak membuka pintu kamarnya. "Sebentar mama ambilkan."


Erlang menunggu Yuwina mengambil kunci, tak butuh waktu lama Yuwina sudah keluar dari kamarnya beserta kunci cadangan ditangannya. "Nih kuncinya." Yuwina menyerahkan kunci cadangan pada Erlang.


"Makasih mah.."


Yuwina kembali ke kamarnya dan Erlang segera membuka pintu kamar Mutiara serta menguncinya kembali setelah dirinya memasuki kamar tersebut.


Erlang mengedarkan pandangannya namun ia tidak menemukan sosok Mutiara di kamarnya. "Tiara...." panggilnya.


"Kak..."


Terdengar sahutan pelan dari Mutiara di dalam kamar mandi, Erlang mengetuk pintu kamar mandi. "Tiara..." panggilnya lagi.


"Buka aja kak nggak di kunci." sahut Mutiara lagi.


Erlang membuka pintu kamar mandi dan benar saja pintu tersebut tidak di kunci dari dalam.


"Tiara, kamu kenapa?" tanya Erlang panik kemudian ia berjalan cepat sampai di depan Mutiara yang sedang duduk di atas closet sambil meringis menahan sakit.


"Tadi terpeleset setelah buang air kecil, mungkin karena aku ngantuk jadi kurang hati-hati."


"Mana yang sakit?" tanya Erlang sembari memeriksa badan Mutiara. "Aku anter ke rumah sakit sekarang ya?"


"Perutku nyeri kak."


Tangan Erlang mengusap lembut perut Mutiara. "Kita ke dokter sekarang?!"


Mutiara menggeleng. "Kak.."


"Ya.."


"Boleh minta tolong?"


"Tidak usah nanya Tiara! Kamu mau apa? Kamu mau aku ngelakuin apa buat kamu supaya tidak nyeri lagi perut kamu?"


"Emm... bisa tolong ambilkan celana buat aku? Celanaku basah waktu terpeleset, aku belum bisa berjalan ke kamar untuk mengambil sendiri."


Erlang segera mencari handuk kemudian menyerahkannya pada Mutiara. "Lepas celananya terus pakai handuk dulu, kamu keburu kedinginan memakai celana basah dari tadi."


Erlang meninggalkan Mutiara yang masih duduk di closet, ia akan ke kamar Mutiara untuk mengambil celana ganti buat Mutiara.


Mutiara melepas celana basahnya itupun dengan posisi duduk hanya sedikit mengangkat bokongnya, setelah celananya berhasil terlepas ia melilitkan handuk yang di berikan Erlang barusan.


Erlang kembali beserta celana untuk Mutiara di tangannya. "Nih celana kamu, kenapa tadi tidak minta tolong mama sama papa Tiara? Kenapa kamu malah diem di kamar mandi! Masih memakai celana basah lagi! Kalau aku tidak kesini bagaimana? Siapa yang akan menolong kamu?" cerocos Erlang, ia tidak bisa membayangkan jika sampai terjadi apa-apa pada Mutiara ataupun bayinya, ia juga jadi teringat dengan mimpi buruknya tadi.


Mutiara menunduk. "Tadinya aku mengira rasa nyeri ini akan menghilang dengan sendirinya." jawabnya sedikit takut, selama ini Erlang belum pernah ngomel padanya.


"Sudah, jangan di bahas! Sekarang pakai celana kamu terus ke kamar."


"Kak Erlang menghadap sana dulu!" pinta Mutiara sembari menunjuk pintu.


Erlang menahan tawanya, sebenarnya di saat seperti ini ia tidak ingin tertawa namun Mutiara membuatnya ingin menyemburkan tawanya. "Ya Tuhan, Tiara... kamu masih malu? Aku udah tau bentuknya kayak gima--"


"Ya udah iya." ujar Erlang pasrah lalu ia membalikkan badannya menghadap pintu membelakangi Mutiara.


Mutiara melepas handuk yang melilit di pinggangnya kemudian memakai celananya. "Udah." Mutiara menginterupsi pada Erlang supaya membalikkan badan lagi seperti semula.


"Sekarang ke kamar ya."


"Tapi masih nyeri kak."


Erlang mengangkat tubuh Mutiara dan Mutiara pun tidak menolaknya karena ia memang masih merasakan nyeri pada perutnya akibat benturan keras waktu ia terpeleset.


Dengan hati-hati Erlang menurunkan tubuh Mutiara di atas kasur kemudian ia menarik selimut hingga sebatas dada untuk menutupi tubuh Mutiara. "Apa sebaiknya kita ke rumah sakit aja Tiara?"


"Tidak usah kak, aku masih bisa menahannya mungkin dengan aku tidur rasa nyerinya akan menghilang."


Erlang duduk di tepi ranjang menghadap Mutiara yang sudah berbaring. "Aku bikinin susu hangat ya? Atau teh hangat?"


"Susu aja kak, siapa tau debay nya bisa rileks setelah aku minum susu."


"Aku bikinin sebentar. " Erlang beranjak dari ranjang namun Mutiara menahan lengannya. "Maaf kak, jadi ngerepotin kamu."


"Kamu ngomong apa Tiara? Jelas ini tidak merepotkan aku sama sekali, aku kesini kan emang untuk kamu dan untuk debay."


"Makasih kak."


Erlang beranjak dari ranjang, ia keluar kamar menuju dapur untuk membuat susu hangat untuk Mutiara.


Tak butuh waktu lama Erlang sudah kembali beserta segelas susu hangat di tangannya, ia kembali duduk di tepi ranjang. "Minum dulu susunya!"


Mutiara beringsut duduk kemudian meminum susu hangatnya hingga habis.


Erlang mengambil alih gelas kosong di tangan Mutiara kemudian menaruhnya di atas nakas, setelah itu ia menaiki ranjang. "Sekarang tidur lagi." ujarnya sembari menarik tubuh Mutiara ke dalam pelukannya.


Mutiara menyandarkan kepalanya di dada Erlang mencari posisi ternyaman untuk memasuki alam mimpi lagi.


Mutiara terlelap Erlang pun ikut terlelap sampai pagi menjelang.


Erlang memaksa membuka matanya saat mendengar suara rintihan dari Mutiara, Erlang menoleh ke samping dimana Mutiara berada, Mutiara tidur dengan posisi membelakangi dirinya, ia merintih dengan tangan yang memegangi perutnya.


Erlang beringsut duduk. "Tiara... perutnya masih sakit?" tanyanya panik.


"....." tidak ada jawaban dari Mutiara.


Erlang membalikkan tubuh Mutiara, cairan bening mengalir di sudut matanya namun matanya masih terpejam, rupanya Mutiara masih tertidur, Erlang menepuk-nepuk pelan pipi Mutiara. "Tiara.. bangun! Perut kamu masih sakit? Kita ke dokter sekarang?"


Mutiara membuka matanya perlahan. "Kak... perutku sakit bahkan lebih sakit dari yang tadi malem."


Erlang beranjak dari ranjang ia akan membopong Mutiara, namun gerakannya terhenti saat mendengar getaran handphonenya di atas nakas. "Aku angkat telfon sebentar."


"Hallo bi..." jawab Erlang setelah menggeser icon hijau di layar handphonenya.


"Den, non Elmira badannya panas lagi." sahut bi Atik dari seberang telepon.


"Kasih obat yang kemarin bi!"


"Sudah, tapi panasnya belum turun juga."


Erlang memijit pelipisnya pelan, ia bingung harus bagaimana sekarang? Disini Mutiara membutuhkan dirinya.


Di rumah, Elmira juga membutuhkan dirinya.


*


*


Makanya punya istri tuh satu aja mas Erlang!


Jadi pusing sendiri kan sekarang?? 😜😜😜