An Agreement

An Agreement
Bab 59



*


*


"Bundaa...." rengek gadis kecil itu saat melihat bundanya sudah sampai di kamarnya.


Keyra memang berbaring di kamarnya namun ia tidak tidur, ia sedang mendengarkan ayahnya yang sedang menceritakan sesuatu padanya.


Erlang memundurkan kursi yang ia duduki untuk memberi tempat pada Mutiara.


Mutiara duduk di tepi ranjang, tangannya terulur untuk memeriksa dahi anaknya. "Keyra sudah minum obat kak?" tanya Mutiara pada Erlang.


"Sudah, tapi panasnya belum turun dan dia nyariin kamu terus jadi aku terpaksa chat kamu."


Mutiara hanya mengangguk, awkward. Itulah yang di rasakan Mutiara, mengingat status mereka saat ini di tambah mereka juga hampir tidak pernah ngobrol.


Keyra mengangkat kedua tangannya, meminta sang bunda supaya memeluk dirinya.


Mutiara membungkuk, ia menciumi anaknya sebelum memeluk tubuh mungilnya Keyra. "Cepet sembuh ya sayang, sakitnya jangan lama-lama, kalau kamu sakit bunda sedih."


"Keyla mau bobo sama bunda.... sama ayah juga..." rengek gadis kecil itu.


Mutiara dan Erlang saling lirik, namun hanya sesaat manik mata mereka bertemu karena Mutiara segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Ayo ayah...." rengek Keyra lagi.


Kalau anaknya sudah meminta maka Erlang tidak bisa menolaknya apalagi gadis kecilnya sedang sakit. "Iyaa..." jawab Erlang pasrah. kemudian ia menatap Mutiara lagi. "Sebentar saja Tiara, sampai Keyra tidur aja."


Akhirnya Mutiara menaiki ranjang, kemudian membaringkan tubuhnya di sebelah kanan Keyra dan Erlang di sebelah kirinya Keyra.


Keyra tersenyum gembira bisa tidur bersama kedua orang tuanya, ia memandangi ayah dan bundanya bergantian kemudian ia mulai memejamkan matanya, gadis kecil itu sebenarnya sudah ngantuk sedari tadi tapi memang menunggu bundanya datang barulah ia mau tidur.


Erlang dan Mutiara pun ikut tertidur bersama anak mereka.


Erlang terbangun di tengah malam, ia beringsut duduk, tangannya terulur untuk memeriksa dahi Keyra ternyata panasnya sudah turun.


Erlang menaruh kompres pada tempatnya kemudian merapikan rambut Keyra, ia membungkuk untuk mencium anaknya lalu ia menatap Mutiara yang masih terlelap di sebelah Keyra, tangannya kembali terulur untuk merapikan rambut Mutiara, ia kembali membungkuk untuk mencium Mutiara namun ia urungkan, Erlang menatap wajah Mutiara intens sudah lama sekali ia tidak menyentuh Mutiara.


Erlang menatap kedua wanita yang di sedang tertidur, kedua wanita yang ia sayangi, kemudian ia meraih handphonenya di atas meja rias anaknya, Erlang memotret kedua wanita yang masih terlelap, Erlang memang belum mempunyai foto kebersamaan mereka.


Setelah mengambil beberapa gambar, Erlang menuruni ranjang kemudian melangkah menuju kamarnya, biar bagaimanapun mereka saat ini bukan suami istri lagi tidak baik jika mereka tidur dalam satu kamar.


***


"Ayaaahhhh....." tangis Keyra saat bangun tidur dan tidak menemukan keberadaan ayahnya.


Mutiara beringsut duduk kemudian mengedarkan pandangannya dan tidak menemukan keberadaan Erlang. "Mungkin ayah di kamarnya sayang."


"Keyla mau ke kamal ayah." gadis kecil itu bangkit dari posisinya kemudian ia berdiri di atas ranjang kemudian mengalungkan kedua tangannya di leher Mutiara ia hendak meminta gendong.


Mutiara akhirnya mengangkat tubuh Keyra kemudian menggendongnya menuju kamar di sebelah kamar anaknya.


Setelah beberapa kali mengetuk akhirnya pintu terbuka dan muncullah Erlang dengan balutan handuk sebatas pinggang.


Tatapan Mutiara langsung tertuju pada kalung yang di pakai Erlang, sepasang cincin kawin miliknya dan milik Erlang menggantung di kalung yang di pakai Erlang.


"Ayah pakai baju dulu, tunggu sebentar ya." Erlang segera membalikkan badannya memasuki kamarnya kembali dan membiarkan pintu kamarnya tetap terbuka supaya Mutiara dan Keyra bisa memasuki kamarnya.


"Kita tunggu di kamar Keyra ya?" bujuk Mutiara pada anaknya.


Keyra mengangguk dan Mutiara melangkah kembali memasuki kamar anaknya.


Setelah selesai berpakaian Erlang menyusul Keyra ke kamarnya.


"Ayaaahhhh...."


Erlang segera mengambil alih tubuh Keyra dari gendongan Mutiara. "Kita sarapan yuk." kata Erlang dan di jawab anggukan oleh putrinya.


Mutiara membalikkan badannya kemudian ia meraih tasnya.


"Kamu mau kemana Tiara?" tanya Erlang.


"Keyra sudah sembuh jadi aku mau pulang." jawab Mutiara.


"Nanti di rumah aja."


"Keyla maunya di tuapin bunda..." rengek Keyra.


Mutiara menghela napas pelan kemudian mengangguk. "Ya udah bunda suapin Keyra, ayo turun sekarang."


"Kamu nggak mandi dulu?" tanya Erlang lagi.


"Aku nggak bawa baju ganti." jawab Mutiara.


"Mandilah! Pakaian kamu masih utuh di kamar." ujar Erlang kemudian ia melangkah menuju lantai bawah meninggalkan Mutiara yang masih berdiri mematung.


Mutiara nampak berpikir sesaat, ia menimbang antara mau atau tidak setelah beberapa saat berpikir akhirnya ia memutuskan untuk mandi sebentar.


Mutiara memasuki kamar Erlang, kamar yang dulu juga miliknya.


*


🌴🌴🌴


*


Mahendra melihat jam di pergelangan tangannya, ini sudah kelewat jam makan siang namun Yuwina belum juga datang menggantikan dirinya menjaga Elmira.


Mahendra memutuskan menunggu beberapa saat lagi, ia merogoh handphonenya kemudian mendial nomor sang istri namun sampai panggilan ketiga belum juga angkat oleh istrinya.


Akhirnya Mahendra memencet tombol untuk meminta seorang suster menggantikan dirinya menjaga Elmira sebentar, hanya untuk makan siang saja.


Beberapa saat kemudian seorang suster memasuki ruangan Elmira dan Mahendra segera keluar dari ruangan tersebut.


Begitu Mahendra keluar, seorang pria berseragam OB langsung mengeluarkan handphonenya untuk menghubungi seseorang.


"Aman boss."


Hanya dua patah kata yang ia ucapkan pada seseorang lawan bicaranya di seberang telepon kemudian ia memutus sambungan teleponnya.


Tak butuh waktu lama seorang pria berpakaian rapi memasukinya ruangan Elmira.


"Biar saya yang menjaganya sus." ucap seorang pria tadi.


"Anda siapa?" tanya sang suster.


"Saya saudara pasien."


"Baiklah."


Sang suster keluar dari ruangan Elmira dan seorang pria tadi berdiri di sebelah ranjang Elmira, ia membungkuk supaya bisa menatap Elmira lebih dekat. "Sampai kapan kamu akan seperti ini Mir? Kasihan adik kamu dia sudah menderita bertahun-tahun."


Seorang pria tadi menarik kursi kemudian mendudukinya, ia mengusap lengan Elmira kemudian hendak menggenggam tangan Elmira namun sebelum ia menggenggamnya ia melihat gerakan pelan di jemari Elmira, ia langsung menatap wajah Elmira. "Mir?"


Perlahan mata yang sekian tahun tertutup rapat sekarang perlahan terbuka.


"Elmira.... kamu sudah sadar?"


Elmira mengerjab beberapa kali kemudian menatap di sekelilingnya, Elmira sedang mengingat-ingat dimana dirinya saat ini, detik berikutnya dirinya paham kalau dirinya saat ini berada di rumah sakit namun ia belum mengingat kenapa dirinya bisa masuk rumah sakit kemudian Elmira menatap pria tadi. "Rian?"


Tangan Adrian terulur hendak memencet tombol untuk memanggil dokter namun Elmira menggeleng pelan, akhirnya Adrian mengurungkan niatnya. "Kamu inget aku Mir?"


Elmira mengangguk pelan kemudian kembali menatap lurus, ia sedang berusaha mengingat kembali kejadian sebelum dirinya masuk rumah sakit.


"Sebelum kamu masuk rumah sakit, kamu kecelakaan Mir." ujar Adrian seakan ia tahu apa yang ada di pikiran Elmira saat ini.


"Kamu tau dari mana?" tanya Elmira pelan.


Adrian terdiam, ia sedang menimbang jawaban jujur atau jawaban bohong yang akan ia katakan.


*


*


Apa yang akan terjadi setelah Elmira sadar???