
*
*
π΄π΄π΄
*
Erlang membereskan meja kerjanya, ini sudah waktunya makan siang, ia akan pulang ke rumah barunya untuk makan siang tadi sebelum berangkat kerja Mutiara bilang ingin makan urap sayur dan ikan, Mutiara juga bilang kalau dirinya juga harus memakan masakannya itu.
Hanya membutuhkan kurang dari sepuluh menit Erlang sudah sampai di rumah barunya, jarak antara rumah barunya dan kantor memang dekat.
Erlang turun dari mobil dan langsung memasuki rumahnya, aroma ikan yang sedang di goreng langsung masuk ke indera penciumannya, Erlang melangkah menuju dapur ia bisa menebak kalau istrinya saat ini sedang berada di dapur.
Benar saja, setelah sampai di dapur, Erlang melihat istrinya sedang menggoreng ikan. "Tiara..." panggilannya.
Mutiara menoleh. "Kak... kamu udah laper? Sebentar lagi ya."
Erlang mendekati istrinya, ia berdiri menghadap Mutiara kemudian mengusap perutnya. "Kamu tambah cantik kalau sedang masak gini, pakai celemek, rambutnya di kuncir ke atas dan penampilan kamu yang sedikit berantakan membuatmu semakin perfect. Di tambah perut kamu yang membuncit, aura keibuannya benar-benar terpancar."
Mutiara hanya menanggapi perkataan Erlang dengan senyuman.
Erlang merubah posisinya, ia berdiri di belakang Mutiara kemudian mengusap perutnya dari belakang dan melihat ikan yang sedang di goreng oleh Mutiara yang hampir matang. "Kamu nggak mual goreng ikan? Dulu waktu di rumah mama Niar kamu nggak mau turun ke bawah gara-gara bi Lastri sedang goreng ikan."
Mutiara mengangkat ikan gorengnya yang telah matang kemudian meniriskannya, ia membalikkan tubuhnya dan langsung berhadapan dengan Erlang. "Sekarang udah enggak, aku juga udah nggak muntah lagi."
Tangan Erlang terangkat untuk menjumput beberapa helai rambut Mutiara yang terlepas dari ikatannya dan menutupi sisi wajahnya kemudian menyelipkannya di balik telinga, ia menatap Mutiara intens dan perlahan mendekatkan wajahnya.
"Ayo makan." ujar Mutiara membuat Erlang terkekeh, ia menggeleng pelan. Ada apa dengan dirinya? Kenapa setiap menatap Mutiara dirinya seperti terhipnotis?
Erlang melangkah lebih dulu menuju meja makan, sedangkan Mutiara menuang ikan yang telah ia tiriskan tadi ke piring setelah itu membawanya ke meja makan.
Erlang melihat menu yang sudah tersedia di meja makan, ada sayur yang sudah direbus dan sudah di campur dengan sambal kelapa, ada lalapan, ada ayam goreng dan lele goreng.
Mutiara meletakkan ikan goreng yang baru saja ia bawa dari dapur, ia membalikkan piring Erlang dan mengisinya dengan makan siangnya.
"Nggak usah di kasih kecambah Tiara." pinta Erlang saat melihat Mutiara hendak menaruh tauge di piringnya.
"Harus mau!!"
"Aku nggak suka kecambah."
"Tapi debay pengen kecambah."
"Ya kamu yang makan dong! Kenapa harus aku?"
"Aku juga nggak suka kecambah, jadi kamu yang harus makan!"
Erlang membulatkan matanya, bagaimana bisa Mutiara yang ngidam dan dirinya yang harus memakannya?
"Kalau emang kamu nggak suka ya nggak usah di makan Tiara!"
"Tapi debay pengen.... dan kak Erlang sebagai ayahnya harus makan kecambah itu!"
"Jangan menyiksaku Tiara... aku nggak suka itu!"
"Kak Erlang mau debay ileran gara-gara keinginannya tidak terpenuhi?!"
Erlang menelan ludahnya dengan susah payah, seumur-umur dirinya belum pernah makan tauge mentah.
"Kecambahnya di rebus dulu ya?" Erlang mencoba peruntungannya.
"Nggak mau! Debay maunya yang mentah."
Erlang membuang napas berat, ia menatap ngeri tauge di piringnya, kalau di paksa mungkin dirinya bisa muntah.
Erlang menatap Mutiara dan tauge di piringnya bergantian, ia bertekad akan memakannya, demi anaknya ia akan melakukan apapun termasuk memakan makanan yang tidak ia sukai. "Tapi dikit aja ya?"
Mutiara mengangguk cepat.
Erlang menyendok nasi beserta tauge, ia menahan napas dan memasukkan makanan tersebut ke dalam mulutnya, Erlang mengunyahnya asal dan langsung menelannya meskipun belum halus.
Mutiara tersenyum gembira, ia mengusap perutnya kemudian ia berdiri di sebelah Erlang lalu meraih gelas berisi air putih dan memberikannya pada Erlang. "Minum dulu kak." Mutiara menjadi tidak tega, sepertinya Erlang benar-benar tersiksa, wajah Erlang sampai memerah.
Erlang langsung meneguk habis air putih yang di berikan oleh Mutiara.
"Udah ya??" pinta Erlang.
Mutiara mengangguk. "Maaf kak..."
Erlang menarik pinggang Mutiara yang berdiri di sebelahnya kemudian ia mengecup perut yang kian membuncit itu. "Nakal kamu ya!!" ucapnya di depan perut Mutiara.
Mutiara membungkuk kemudian mencium pipi Erlang. "Makasih ayah." ucapnya di sertai senyuman.
Erlang memundurkan kursinya lalu memutar tubuh Mutiara kemudian menarik pinggangnya lagi sampai duduk di pangkuannya, ia meletakkan dagunya di bahu Mutiara. "Aku ingin kita selalu seperti ini Tiara."
Tubuh Mutiara menegang, ia tidak tahu harus merespon seperti apa perkataan Erlang. Maksudnya bagaimana? Apa Erlang ingin menjalani kehidupan dengan kedua istrinya sekaligus?
Erlang menatap Mutiara dari samping. "Maaf, jika aku egois. Aku tidak bisa lepas begitu saja denganmu, apalagi ada anak di antara kita, aku ingin selalu bersamamu, aku ingin selalu memilikimu."
Mutiara menoleh dan tatapan mereka kembali bertemu. "Aku sudah bilang berulang kali kalau kak Erlang hanya ingin bersama debay, bukan ibunya."
"Aku bisa membedakan rasa sayangku terhadap anakku dan terhadap ibunya, itu beda."
"Sudah kak, tidak usah di bahas sekarang! Sebaiknya kita lanjut makan siang, nanti kamu kelamaan disini dan kerjaan kamu makin menumpuk."
Mutiara hendak beranjak dari pangkuan Erlang namun Erlang menahannya. "Jika anak kita sudah lahir, jangan pergi membawa anakku, tetaplah disini dan aku akan sering mengunjungi kalian."
Mutiara menatap Erlang sendu, permintaan Erlang yang terdengar sangat memohon membuat Mutiara tidak tega. "Aku akan tetap disini dan merawat anak kita. Kamu bebas mengunjunginya."
Erlang mengeratkan pelukannya. "Makasih Tiara..."
"Tapi kalau untuk tetap menjadi istrimu aku tidak janji kak, mana mungkin kita akan menjalani kehidupan seperti ini selamanya?"
Perkataan Mutiara membuat Erlang melonggarkan pelukannya, ia merasa tertohok. Benar kata Mutiara, mana mungkin ia akan mengikat kedua wanita sekaligus, ia harus melepas salah satu dari mereka dan membiarkan salah satu dari mereka bahagia tanpa dirinya, tapi bagaimana dengan anaknya? Erlang tidak ingin anaknya kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya, ia ingin anaknya hidup di keluarga yang utuh seperti anak lainnya.
Mutiara beranjak dari pangkuan Erlang, ia berdiri di sebelah Erlang. "Jangan di pikirkan sekarang kak, kita jalani dulu apa yang sudah di depan mata, biarlah semua mengalir dengan sendirinya."
Erlang mendongak untuk menatap Mutiara. "Entahlah Tiara..."
Mutiara tersenyum, ia mengusap bahu Erlang. "Ayo kita lanjut makan." ucapnya dan hendak duduk di kursi namun lagi-lagi Erlang menahannya. "Nanti sore aku tidak pulang kesini sampai satu minggu kedepan dan aku sudah menyuruh Kayla untuk menemani kamu disini."
"Iya kak."
Erlang kembali mencium perut Mutiara. "Aku pasti merindukan kalian."
Mutiara hanya tersenyum kecut menanggapi perkataan Erlang barusan.
*
*
Maaf, episode kemarin tuh emang nanggung banget, bukannya authornya nggak mau melanjutkan itu tapi di MT tuh nggak boleh terlalu dalam adegan dewasanya.
Ceritaku yang Because Baby itu dulunya ada banyak adegan dewasanya terus pada akhirnya di suruh revisi dari pihak MT. πππ
Masa yang ini aku mau ngulangin lagi?? Minta di cekal beneran dari pihak MT?? π€£π€£π€£