
*
*
Erlang masih di kamar Mutiara, ia masih menemani istri keduanya yang sedang sakit.
Mutiara pun masih enggan melepas Erlang, entah mengapa Mutiara saat ini sangat menyukai aroma tubuh Erlang, aroma itu sungguh menenangkan bagi Mutiara bahkan bisa menetralisir rasa mualnya.
"Kak Erlang nggak pulang? Ini sudah sore loh."
"Gimana bisa pulang, kamu aja nggak mau melepas pelukannya."
Mutiara tersadar dengan posisi mereka saat ini, Erlang duduk bersandar kepala ranjang dan dirinya menyandarkan kepalanya di dada Erlang sambil terus menghirup aroma tubuh Erlang. Mutiara segera menjauhkan kepalanya serta menegakkan tubuhnya. "Maaf."
"Tidak apa-apa jika itu bisa buat kamu nyaman dan tidak mual lagi."
Mutiara beringsut menjauh. "Kak Erlang pulang aja, tapi bajunya di tinggal sini ya?"
Dahi Erlang berkerut. "Buat apa?"
"Kan baju yang kak Erlang pakai ada aromanya kak Erlang, yang membuat aku nggak mual lagi."
"Ini kotor Tiara, aku sudah memakainya seharian, besok aja aku bawain yang bersih."
"Kalau bersih nggak ada aromanya kak Erlang dong!"
Erlang membulatkan matanya, mengerjab beberapa kali untuk mencerna kalimat dari Mutiara barusan, apa dirinya tidak salah dengar? Masa iya Mutiara suka aroma tubuhnya padahal ia belum mandi. "Kalau begitu besok aku ak--"
"Tiara..."
Suara Yuwina membuat keduanya menghentikan percakapan mereka lalu menoleh ke arah sumber suara.
Yuwina memasuki kamar Mutiara lalu menyerahkan beberapa testpack pada Mutiara. "Coba di tes!"
Erlang terbelalak kaget. "Tiara kamu--??"
Mutiara menggeleng cepat. "Belum tau kak."
"Makanya di tes." sahut Yuwina.
Mutiara bangkit dari posisinya, ia menerima beberapa testpack dari Yuwina.
"Mau aku gendong lagi?"
"Nggak usah."
Mutiara berjalan ke arah kamar mandi dan di ikuti Yuwina dan Erlang di belakangnya.
"Masuk Tiara!" titah Yuwina, karena langkah Mutiara terhenti di depan pintu kamar mandi.
Mutiara menatap Erlang dan Yuwina bergantian. "Nanti kalau hasilnya positif gimana? Terus kalau negatif gimana?"
"Tidak apa-apa." jawab Erlang, setenang mungkin, padahal sebenarnya ia juga deg-degan bahkan sangat deg-degan.
Mutiara menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan untuk menetralisir rasa takutnya, ia takut jika hasilnya positif bagaimana nasib anaknya kedepannya? Memiliki kedua orang tua yang hidup terpisah.
"Ayo Tiara! Tunggu apalagi?" Yuwina meraih tangan Mutiara lalu menuntunnya memasuki kamar mandi.
Setelah masuk ke kamar mandi, Yuwina meninggalkan Mutiara di dalam, ia menunggu di luar kamar mandi bersama Erlang. Yuwina berjalan mondar-mandir dengan gelisah ia berharap hasilnya negatif.
Di sisi lain, Erlang sedang berdiri bersandar dinding, Erlang juga gelisah menanti Mutiara di luar, tak henti-hentinya ia berdo'a semoga hasilnya positif.
Setelah sepersekian menit menunggu akhirnya pintu kamar mandi terbuka dari dalam, Mutiara muncul dengan wajah yang tidak bisa di tebak oleh Yuwina dan Erlang.
"Bagaimana Tiara?" tanya Erlang tidak sabaran.
Mutiara menunduk lesu, ini sungguh di luar dugaan. Bagaimana nasib anaknya kelak? Itulah yang di pikirkan Mutiara saat ini, ia tidak tau apakah ini membahagiakan atau menyedihkan.
"Bagaimana Tiara?" kali ini Yuwina yang bertanya.
Mutiara mengangkat tangan kanannya lalu membuka genggaman tangan yang berisi tiga buah testpack bergaris dua merah semuanya.
"Ya Tuhan... terima kasih." Erlang langsung memeluk erat tubuh Mutiara.
Yuwina hanya mematung di tempatnya, ia tidak tau harus bereaksi seperti apa, ia akui kalau ia senang akan memiliki cucu tapi bukan cucu dari kedua orang tua yang akan berpisah nantinya.
"Mama ke ruang kerja dulu." akhirnya Yuwina memilih untuk meninggalkan Mutiara dan Erlang. Tapi dalam hati ia sedikit lega karena sudah tidak ada perjanjian itu jadi hak asuh cucunya kemungkinan besar bisa ia menangkan.
Erlang melepas pelukannya. "Kita kembali ke kamar ya?"
Mutiara duduk bersandar di kepala ranjang, ia masih sedikit terkejut dengan kenyataan ini.
Erlang duduk di tepi ranjang menghadap Mutiara, ia mengusap perut Mutiara yang masih rata, tak henti-hentinya ia bersyukur karena keinginannya sebentar lagi terwujud, memiliki bayi yang lucu dan kalau bisa mirip dirinya.
Mutiara menatap wajah bahagianya Erlang yang sedari tadi mengusap lembut perutnya.
Erlang menghentikan gerakannya lalu mendaratkan kecupan di perut Mutiara. "Ternyata ada si tengil disini." ucapnya di depan perut Mutiara setelah melepas kecupannya.
Mutiara melotot tajam pada Erlang. "Kok tengil sih??!!" protesnya.
Erlang terkekeh. "Habisnya dia baru muncul udah ngerjain kamu habis-habisan, kamu di buat muntah terus sama dia. Dan dia juga ngerjain aku, seharian aku nggak kerja gara-gara dia, dia mintanya aroma diriku."
Seketika Mutiara menyadari sesuatu, berarti tadi rasa mualnya mereda gara-gara bayinya menginginkan ayahnya di dekatnya. Bagaimana jika itu terus berlanjut?
"Kenapa diam Tiara? Kamu nggak suka adanya dia di rahim kamu? Kamu nggak suka mengandung anakku?"
"Bukan begitu kak, hanya saja ini mengejutkan buat aku."
Erlang meraih tangan Mutiara lalu menggenggamnya. "Terima kasih Tiara, aku sampai tidak tau harus dengan cara apa harus membalas kebaikanmu."
"Sayangi dia sepenuhnya."
"Itu pasti."
*
π΄π΄π΄
*
Erlang memasuki rumah kedua orang tuanya. "Pah... mah..." teriaknya girang.
Yusuf keluar dari ruang kerjanya, Niar juga datang dari dapur.
"Erlang? Tumben kesini, ada apa?" tanya Niar.
Erlang tidak menjawab pertanyaan mamanya, ia malah memeluk erat tubuh mamanya. "Erlang bahagia sekali mah." ujarnya setelah melepas pelukannya lalu mencium pipi mamanya.
Niar mengernyit bingung. "Ada apa sih?" tanyanya penasaran.
"Tiara hamil mah. Sebentar lagi mama papa punya cucu."
"Beneran??"
"Bener mah, ini Erlang baru pulang dari sana."
Yusuf mendekati Erlang lalu memeluknya sesaat lalu menepuk bahunya. "Selamat sayang, kami juga ikut bahagia."
"Makasih pah."
"Kita duduk dulu." ujar Yusuf lalu melangkah lebih dulu menuju ruang tengah.
Erlang dan Niar mengikutinya dari belakang.
"Erlang, ingat. Sudah tidak ada perjanjian jadi hak asuh anak kalian kemungkinan besar ada di pihak Tiara, karena dia ibu kandungnya." ujar Yusuf setelah duduk di sofa.
'Deg' Erlang teringat bahwa dirinya tidak akan bisa memiliki anaknya sepenuhnya. "Tidak apa-apa pah, yang penting Erlang punya anak." jawabnya.
"Papa kok merusak suasana sih!!" protes Niar.
"Papa hanya sekedar mengingatkan mah."
Benar saja, raut wajah bahagianya Erlang langsung berubah. Dia menyadari akan hal itu, ia tidak akan bisa merawat anaknya sepenuhnya.
*
*
Tuh Mutiara hamil, biar seneng kalian semua.
Tapi jangan kira Mutiara hamil gara-gara Authornya baca komen dari readers terus Authornya nurutin, kebetulan aja alurnya begitu.
Di buai kupu-kupu malam ada tuh komen dari readers yang bilang katanya 'Yusuf beli apartemen karena baca komentar'
Enteng banget jempolnya buat ngetik itu ya? Nggak lihat dulu tanggal update dan tanggal komentarnya duluan yang mana?!
Eh. Kenapa jadi misuh-misuh disini ya wakwakwak..π€£π€£π€£ maapin yeπ€π€