
Carissa berjalan dengan terburu-buru, entah kenapa dia merasa takut dengan ancaman Yang Cecilia katakan,ia harus segera menemui ibu nya karena yang ia lakukan adalah ide dari sang ibu,
Namun saat itu, tiba-tiba ada seorang yang menarik lengan nya dan menghentikan langkah Carissa,
Carissa begitu kaget karena ada orang asing yang berani menyentuh bahkan sampai menarik tangannya
"Lepaskan... jangan kurangajar kepada ku!!"bentak Carissa karena merasa tidak senang dengan apa yang dilakukan pria itu
"Apa Kau masih ingat kepada ku, Carissa?? "Kata Orang yang memegang tangan Carissa, yang ternyata adalah Angga,
"Memangnya Siapa Kau?? "bentak Carissa dengan menatap nyalang pria tinggi yang tadi menemani Cecilia itu
Kemudia Angga Melepeskan masker yang sedari tadi dia pakai
"Kau... Kak Angga... "Carissa terkejut,sampai membelalakan matanya,tak percaya Angga yang selama ini menghilang kini ada dihadapan matanya
"Iya ini Aku, Angga... "jawab Angga
"Kenapa Kau ada di disini,Kau adalah buronan yang di cari polisi selama ini, "Bisik Carissa ia terlihat resah, menengok kesana kemari, takut ada orang yang mengenali Angga,bisa gawat jika Steve bertemu dengan Angga sekarang
"Ayo pergi dari sini!!"pekik Carissa,dengan cepat menarik lengan Angga untuk membawanya menjauh dari butik itu,
###
###
Carrisa membawa Angga kesebuah caffe yang sepi pengunjung,kini mereka duduk saling berhadap hadapan
"Kenapa Kau datang kembali,dan sedang apa Kau bersama dengan perempuan itu? "runtutan pertanyaan langsung dilayang oleh Carissa,ia menatap Angga denga serius
"Aku bekerja menjadi pengawal nya,karena itulah Aku ada di sini,"Jawab Angga
"Bagus... apa Kau bisa membantuku untuk Membuat perempuan itu pergi dari sini,supaya dia tidak mengganggu Aku dan juga calon suami ku, Steve?"Tanya Carissa,
"Ternyata Kau masih sama seperti dulu yah, belum cukup kah kejahatan yang kau perbuat dulu?"Kata Angga dengan tatapan sinis
"Sudah lah jangan munafik,bukan nya Kau pun sama jahat nya dengan diri ku,dan demi uang Kau rela melakukan segala cara, sampai sesuatu yang Kau sebut jahat itu Kau lakukan, Apa aku benar?? "Tanya Carissa dengan nada meremehkan, ia terkekeh pelan
"Karena itu lah Aku datang kembali untuk mempertanggung jawabkan perbuatanku, Aku akan menyerahkan diri pada polisi,"Kata Angga dengan bersungguh-sungguh tatapan menjadi sendu saat mengingat begitu jahatnya perbuatan dia di masa lalu
"Apa Kau sudah gila,jangan lakukan itu,Aku tidak mau masuk penjara"pekik Carissa,ia panik luar biasa
"Maka dari itu hentikan niat jahat mu itu dan sadar lah,sudah cukup kita membuat satu nyawa melayang karena perbuatan kita,"Kata Angga
"Kau harus tahu, Nona Cecilia bukan anak orang biasa, entah apa yang akan di lakukan ayah nya saat ini kepada mu,atau keluarga mu.Karena Kau telah berani mengusik putri kesayangannya"Angga mencoba memperingati Carissa
"Lalu Aku harus berbuat apa sekarang?"Carissa tampak ketakutan,ia mulai resah karena Ancaman Cecilia tadi
"Pergi lah sejauh mungkin dari negara ini sekitar dua tau tiga tahun,Aku akan menanggung semua nya,tanpa menyeret nama mu dalam kasus itu"
"Itu tidak mungkin... Aku tidak mau,jika Aku pergi maka Steve akan bersama dengan gadis itu,tidak Akan... Aku tidak akan pergi dari sini,sebelum Steve menikahi ku"pekik Carissa begitu takut Steve jatuh ketangan orang lain
"Terserah jika itu memang keputusan mu, setidaknya Aku sudah memperingati mu, dan jangan salahkan Aku jika nama mu juga akan ku ungkap"Ucap Angga penuh penekana tanda ia tidsk main-main
Angga berdiri dan melangkah pergi meninggalkan Carissa yang semakin kalut dan juga takut dengan apa yang akan terjadi pada dirinya
"Tenang Carissa... tenang... Kau masih punya mama dan papah, iya Aku harus meminta tolong kepada mereka"Gumam Carissa mencoba berpikir jernih
###
###
Kembali Ke Butik yang tadi, Cecilia tengah memilih salah satu gaun ketika Steve lewat di depan nya
Cecilia menyapa Steve dan memasang senyuman termanisnya,namun Pria itu malah membuang muka seolah tak mengenal Cecilia,steve malah lebih tertarik pada sebuah Gaun pengantin dan juga Jas yang di pajang di dalam lemari kaca besar,
"Minggir... jangan rusak keindahan gaun itu dengan wajah mu!"Steve berbicara dengan ketus, tanpa mau menatap Cecilia
"Hei, memang kenapa dengan wajah ku?"Cecilia mengalihkan wajah steve dengan kedua tangannya,kakinya berjinjit untuk menyentuh wajah Steve,karena Steve begitu tinggi,
"Jangan sentuh Aku?"Kata Steve datar
"Kau kenapa sih sebenarnya?"Cecilia mengerutkan keningnya,sambil lepaskan tangan nya dari wajah Steve
"Padahal Aku ingin di pilihkan pakaian oleh mu,"Terlihat murung"Bagaimana,gaun ini cocok atau tidak?"Tanya Cecilia sambil menunjuk satu gaun berwarna biru yang terpajang pada manekin
"Kenapa meminta pendapatku, pinta saja pendapat kekasih mu itu"jawab Steve dengan ketus dan sok cuek
"Oh... Ya ampun Apakah Kau... cemburu kepada Kak Angga?"Pekik Cecilia yang malah kegirangan seraya menatap Mata Steve yang terlihat menahan malu
"cih... mana mungkin Aku cemburu, kepercayaandiri mu tinggi sekali"elak steve
"Ahh... teryata kau bisa manis seperti ini, Yah sudah Aku akan menjelaskanya, sebenarnya pria tadi itu pengawal pribadi ku yang sudah Aku anggap sebagai Kakak,Jadi kau tidak usah khawatir,Oke"
"Siapa juga yang minta penjelasan dari mu,cepat sana cari gaun yang Kau mau!"mendorong pelan bahu Cecilia,dan menyuruhnya untuk memilih,
"Tapi Kau yang pilihkan yah..."
"Iya... iya"Kata Steve dengan nada malas
"Aku tidak bisa memilih gaun yang elegan, karena Aku suka pakaian seksi,seperti lingeri, apa Kau mau melihatku memakai ini?"Cecilia menunjuk satu manekin yang memajang kan sebuah lingerie berwarna merah dengan bahan menerawang
"Hei jangan main-main..."Bentak Steve mengalihkan tatapan nya, karena tidak mau melihat Cecilia yang mengepaskan lingeri yang ada di manekin pada badannya
"kenapa pakaian ini tidak aneh,dan sering ku pakai di tempat ku dulu,"
"Astaga,jangan coba-coba Kau pakai lagi di depan orang lain..."pekik Steve yang merasa risih dan menarik tangan Cecilia untuk menjauhi tempat khusus pakaian dalam itu
tanpa Sadar Steve dan Cecilia berjalan sambil bergandengan tangan, seperti pasangan kekasih,mereka asyik memilih pakain yang bagus
"Sudah lama sekali aku tidak pernah di buat sekesal ini oleh seorang gadis"gumam Steve ada sedikit lengkungan di bibir Steve,ia menatap Cecilia yang tengah bertanya pada Pelayan butik tentang gaun apa yang cocok untuk dirinya, ternyata Cecilia gadis yang supel dan ramah, gampang bergaul dengan orang lain,
Akhirnya mereka sudah memilih gaun dan juga jas juga kemeja bernuansa batik berwarna soft lavender berpadu dengan warna abu-abu kalem,gaun itu di rekomendasikan oleh pelayan butik disana,karena kualitas bagus dan keluaran baru yang limited edition,
"Kenapa Aku jadi punya baju couple bersama nya ? "gumam Steve setelah sadar apa yang sudah ia lakukan,ia melirik pada Cecilia yang saat itu tengah memeluk lengannya sambil berjalan beriringan,
"Apa Aku... telah menghilangkan garis pembatas dalam hati ku dan membuka hati ku kembali? "
Seketika bayangan wajah Nadia melintas di benaknya,semua kenangan manis serta janji Steve untuk menjadikan Nadia satu-satunya perempuan dalam hidupnya,
Saymtu perasaan Yang paling besar dan mengganjal di hatinya selama ini adalah rasa penyesalan, Steve menyesal karena tidak bisa membuat Nadia bahagia, karena dirinya tidak ada di saat Nadia membutuhkan semangat hidup,dia tidak ada di sisinya ketika Nadia sedang rapuh dan hancur,karena menyebarnya video asusila itu,
Steve berhenti berjalan dan melepaskan lengan nya dari pelukan Cecilia
"Aku harus pergi,ada urusan penting yang harus ku urus"Katanya datar
"Apa Kau tidak mau mengantar Aku pulang..? "Tanya Cecilia agak kecewa
"Maaf Aku tidak bisa"Steve langsung pergi begitu saja,berjalan begitu cepat seperti di kejar sesuatu,sementara Cecilia menghela nafas panjang seolah kecewa dengan kepergian Steve,
###
###
"Hosh... hoshh... obat ku di mana??"Steve mengacak-acak isi mobilnya,mencari obat serangan paniknya,ia merasa sesak nafas dan keringat dingin bercucuran di seluruh tubuhnya
"Kenapa harus kambuh di saat seperti ini,"batin steve,ia menyadarkan kepalanya pada kursi mobil,menghela nafas dalam sambil memejamkan mata
Bersambung...