
"Kak Angga kenapa kau membawa aku ketempat ini aku mau ke diskotik dan party mencuci mata melihat cowok tampan di sekitar ku.. " Teriak Cecilia merasa tak suka di bawa oleh Angga ke sebuah kafe kecil yang tidak terlalu ramai
"Sudah lah kita nongkrong di sini saja.. bukannya sudah ku bilang kalau pria disini sangat berbahaya karena sering memeluk sembarangan, apalagi di diskotik.. "Kata Angga menakut nakuti Cecilia
"Ini sebabnya aku masih menjomblo sampai sekarang.. karena kau selalu mengatur dan mengekangku seperti ini.. "ucap Cecilia sambil mengerucutkan bibirnya dengan gemas
"Ini demi kebaikan mu Nona.. " ucap Angga yang tengan meminum kopi nya dengan santai
"Kalau begitu kau saja yang menjadi pacar ku..!!"Cecilia berucap dengan sembarangan
"Sudah ku bilang aku tidak bisa.. "jawab Angga tegas
"Kalau begitu jangan mengatur hidup ku lagi aku sudah dewasa dan ingin punya pacar.. " gerutu Cecilia kesal sambil menyeruput cofelatte nya sampai terdengar suara seruputan nya
Angga hanya menggeleng kan kepala dan tersenyum simpul.. entah kenapa Cecilia menjadi gadis yang kekanakan tak sesuai dengan usia nya atau karena benturan di kepalanya dulu yang membuat ia amnesia
Lalu terdengar dering ponsel dari saku celananya dan dia dengan cepat mengangkat telpon yang ternyata telpon dari staf di kantor nya
"Oke aku akan langsung kesana.. " kata Angga lalu memutuskan sambungan telpon
"Ehm nona bisa kah kau menunggu disini dulu sebentar ..?? aku ada urusan mendadak.."
"Silahkan cepat lah pergi.. . aku akan menunggu.. "
"Lebih baik jika kau tidak ada di samping ku aku akan dengan bebas pergi kemana saja.. hhihi.. "gumam hati Cecilia dambil tersenyum simpul
Lalu Angga pergi meninggalkan Cecilia sendirian di kafe itu
Setelah memastikan Angga sudah benar benar pergi Cecilia beranjak dari duduk nya kemudian keluar dari kafe yang suasana nya sangat membosankan
Cecilia keluar dari caffe dan melirik kesana kemari menatap jalan aspal yang serasa familiar di matanya.
Cecilia berjalan tanpa tau arah ia hanya mengikuti kakinya yang seolah replek melangkah dengan sendirinya
Cecilia terus berjalan hingga sampai di sebuah jembatan besar
Suara air sungai terdengar bergemericik mengalir deras dibawah sana
Mata Cecilia mengamati jalan dan seluruh jembatan ,lalu tak sengaja ia melihat seorang pria berdiri di dekat pembatas jembatan dengan menaikan satu kakinya ke pagar pembatas jembatan
Cecilia masih mengingat wajah pria itu
pria yang kemarin tiba tiba memeluknya di bandara yang tak lain pria itu adalah Steve
"untuk apa malam malam begini dia berdiri disana " gumam Cecilia merasa heran, lalu langkahnya semakin mendekati ke tempat Steve yang sedang berdiri mematung dengan tatapan kosong
Mata Cecilia tak berkedip demi menatap makhluk ciptaan tuhan yang nyaris sempurna berdiri tak jauh di hadapan nya
Namun ia mengerutkan kening ketika ekspresi wajah Steve yang sedingin es itu menunduk kemudian ia manangis sampai terisak sambil tangan nya mengepal sesuatu yang berkilauan dengan erat
"Pria aneh yang melankolis... aku penasaran apa yang membuat dia bersedih seperti itu.." gumam hati Cecilia tetap mengamati Gerak gerik Steve
Cecilia masih memperhatikan Steve dengan seksama saat tiba tiba ia melihat kaki Steve naik ke pagar pembatas dan Steve memejamkan mata nya
Seketika itu pun Cecilia dengan cepat berlari kearah Steve dengan detak jantung yang bedegup kencang karena tak menyangka Steve hendak meloncat dari jembatan
Sebelum Steve kehilangan keseimbangan dan jatuh ke sungai Cecilia lebih dulu menarik tangan Steve sampai mereka sama sama terjatuh di jalanan dengan tubuh Steve berada di atas Cecilia
Napas Cecilia tersengal karena keterkejutan hampir dia melihat orang bunuh diri dihadapan mata kepalanya sendiri dan ia juga merasakan sakit di sekujur tubuh nya
Sedangkan Steve terpana menatap mata Cecilia dengan lekat sampai air mata yang masih mengalir dari pipinya membasahi wajah Cecilia
Entah kenapa hati Cecilia selalu merasakan hal aneh ketika melihat sinar kepedihan dan keputusasaan dari bola mata Steve dadanya menjadi sesak dengan rasa yang tak pernah dia rasakan sebelumnya Cecilia mengusap air mata Steve yang terjatuh di wajahnya
"Perasaan apa ini.. " gumam Cecilia saat jantungnya berdegup kencang saat menatap mata Sembab Steve
Mereka saling bertatapan dengan posisi yang tidak mengenakan itu sampai Cecilia replek mendorong badan Steve untuk menyingkir dari atas nya dan terduduk di jalanan Steve juga melakukan hal yang sama duduk sambil mengatur nafasnya
"Heh.. Pria tidak waras.. kenapa kau melakukan hal yang begitu bodoh .. " teriak Cecilia entah kenapa ia merasa kesal sekali kepada Steve saat ini
"Tak usah ikut campur dengan urusan ku.. pergi sana.. " perkataan Steve terdengar sedingin es oleh Cecilia
Cecilia yang merasa sangat kesal bangkit berdiri dan berkacak pinggang
"Kenapa kau ini.. apa dengan bunuh diri semua akan baik baik saja.. meskipun aku tidak tau apa masalah mu tapi kau tak perlu merasa semua beban derita di dunia berada di pundak mu, karena masih banyak orang yang lebih menderita di luar sana namun mereka tetap menghargai hidupnya.." teriak Cecilia dengan geram entah kenapa perasan nya menjadi teriris saat melihat keadaan Steve dan air mata nya mengalir begitu saja tanpa ia sadari dan tangan nya mengepal menahan emosi
"Kau tidak berpikir bagaimana perasaan orang yang menyayangi mu jika kau mengakhiri hidup mu sendiri dan mati meninggalkan mereka "Lanjut Cecilia lagi
"Kenapa kau sok tahu sekali dengan kehidupan ku.. kau tidak akan pernah tau rasanya menjadi diri ku.. " Suara Steve seakan terdengar putus asa sekali
"Aku memang tidak mengenalmu.. tapi aku tak mau melihat kau mati begitu saja di hadapan mata ku sendiri.. "
" Maka pura pura lah tidak melihat ku.. "
"Aku tidak bisa.. aku juga tidak tau kenapa.. aku replek berlari kemari untuk mnyelamatkan mu.. setelah aku bertemu dengan mu aku merasa ada sesuatu yang tak asing dalam diri mu.." suara Cecilia tersengal karena menahan rasa aneh pada hatinya
"Apa maksud perkataan mu.. "Steve terheran dengan perkataan gadis dihadapanya
"Sepertinya aku jatuh cinta pada mu pada pandangan pertama.. "teriak Cecilia kata kata itu begitu saja meluncur dari mulut nya sampai ia juga terkaget kenapa dia berbicara tak karuan begitu
Steve mematung di posisi nya demi mendengar pernyataan cinta dari gadis asing yang baru ia temui kemarin pagi dan menatap mata Cecilia yang terlihat mulai berkaca kaca dan masih juga ia melihat Nadia di wajah gadis itu meskipun rupa mereka berbeda namun mata itu membuat Steve tak berdaya melihat buliran air mata yang membasahi pipi gadis itu
Steve mendekati gadis itu dan mencengkram kedua bahu Cecilia
"Siapa kau sebenarnya.. ?? " kata Steve lirih dengan menatap wajah Cecilia memperhatikan dengan seksama wajah Cecilia jelas jelas dia bukan Nadia tapi Steve merasa satu perasaan aneh saat menyentuh Cecilia mungkin karena sorot mata Cecilia yang begitu mirip dengan Nadia
"Aku Cecilia dan aku akan menjadi fans girl mu mulai saat ini.. " Cecilia berucap tanpa mengedipkan mata karena terpesona dengan ketampanan Steve
Steve melepaskan cengkraman nya dan menyeringai dengan sinis mendengar perkataan Cecilia
"Omong kosong apalagi lagi sekarang.. aku tidak sudi mempunyai fans sepertimu.. "
"Siapa suruh kau memeluk orang sembarangan kau yang salah dan harus bertanggung jawab.. "
Steve tak menghiraukan ocehan Cecilia dengan tanpa peduli ia melangkah pergi meninggalkan Cecilia sendirian
"Hei kau jangan pergi.. aku tak tau jalan pulang... " teriak Cecilia dengan kesal berharap Steve menghentikan langkah
Namun sialnya Steve tetap berjalan kini langkahnya semakin cepat
"Pria mesum sialan.. " umpat Cecilia lalu dengan kesal ia melemparkan sebelah sepatunya ke arah kepergian Steve namun Steve tidak bergeming tetap meneruskan langkahnya
Dan datang lah sebuah mobil menghampiri Cecilia yang tak lain mobil Angga yang baru saja sampai
Melihat mobil Angga datang Cecilia langsung masuk kedalam dan menutup pintu mobil dengan keras menunjukan wajah cemberutnya kepada Angga
"Dari mana saja kamu lama sekali.. " teriak Cecilia dengan wajah emosi, jadilah dia melampiaskan amarah ke kepada Angga
"Maaf nona aku ada urusan janga marah yah.. "
"Dasar menyebalkan.. " teriak Cecilia yang sebenarnya marah bukan kepada Angga
"Kak kau harus mencari tahu informasi tentang pria yang satu ini sedetail mungkin dia pria yang ada di hadapan kita " kata Cecilia sambil menujuk Steve yang sedang berjalan
"Oke sesuai perintah mu.." kata Angga mengikuti kemauan Cecilia yang tak bisa di bantah
" Tuan aku sudah berhasil melaksanakan tugas mu.. " ketik Angga di hp nya lalu mengirim kepada Tuan Erlangga papa Cecilia
Mobil yang di kendarai Angga dan Cecilia pergi meninggalkan tempat itu
dan kemudian Steve berbalik arah menuju jembatan kembali untuk mencari kalung yang ternyata hilang dari genggaman nya dan malah melihat sepatu Cecilia lalu memungut sebelah sepatu yang di lemparkan oleh Cecilia
"Apa kalung nya terbawa oleh gadis aneh itu.. " gumam Hati Steve sedikit panik karena sekian lama dia mencari kalung namun tetap tak bisa menemukan nya di mana pun
***
Setelah dia memarahi Angga yang meninggalkannya sendiriran dan mengancam akan melaporkan kepada ayahnya dengan kesal Cecilia masuk kekamarnya menjatuhkan tubuhnya ke kasurnya yang empuk
"Ishh aku jadi kepikiran dia terus.. tak ada pria yang tidak mau kepada ku karena aku memang cantik...
Tapi pria itu membuat harga diriku terluka
Aku harus mendapatkan nya " gumam Cecilia dengan tekda yang bersungguh sungguh
Lalu ia ingat belum bersih bersih dan berganti baju
Cecilia pun dengan malas melangkah ke kamar mandi, ketika ia membuka jaket denim nya ada sesuatu yang teruntai menempel terkait di jaketnya
"Inikan sebuah kalung.. " Cecilia terheran dan menatap kalung berliontin kupu kupu itu dan menelitinya hingga dia melihat tulisan kecil di tiap tiap sayap nya
"Steve... Nadia.. " kata Cecilia seperti mengeja hurup hurup yang sangat kecil di liontin itu..
"Nadia...??? "