
Nadia duduk di depan kostan nya menunggu Devano dan Diandra dengan harap harap cemas
Hingga sebuah mobil mewah berhenti di hadapan nya Nadia langsung berdiri membelalakan matanya demi melihat siapa yang keluar dari dalam mobil
"Papah nya Steve.." gumam Nadia sedikit ketakutan melihat Pak Adijaya yang berdiri di hadapan nya dengan wajah suram dan tatapan tajam mengintimidasi tapi Nadia melihat juga jika pak Adijaya sedang merasa resah saat itu
"Nadia.. ayo ikut saya.. " kata pak Adijaya datar sambil menarik tangan Nadia kasar untuk masuk ke mobilnya
"A.. ada apa ya pak.. ??" Nadia merasa aneh dengan pak Adijaya yang biasanya selalu memaki maki dirinya tapi sekarang malah mengajaknya pergi
Pak Adijaya memejamkan matanya prustasi dan menarik nafas dalam
"Sebenarnya saya tak sudi mempertemukan kamu dengan anak saya tapi... Steve begitu nekad ingin bertemu dengan kamu sampai ia loncat dari lantai atas dan sekarang dia ada di rumah sakit dia masih berteriak teriak memanggil nama kamu.. " wajah pak Adijaya tak bisa menyembunyikan kesedihanya begitupun dengan Nadia ia mulai menangis khawatir dengan ke adaan Steve
"Apa.. Bagai mana bisa dia senekad itu.. ??" gumam Nadia dengan air mata mulai mengucur deras membasahi kedua pipinya
"Ba.. bagaimana ke adaan Steve sekarang..?? " kata Nadia dengan lemah
" kamu harus sadar untuk tidak membebani Steve lagi dengan segala masalah kamu anak saya seperti ini gara gara kamu kamu harus lihat sendiri keadaanya yang menyedihkan dan setelah itu pergilah sejauh jauh nya dari kehidupan Steve.. " kata Pak Adijaya berucap dengan penuh amarah
"Bapak tenang saja saya cukup tau diri dengan keadaan saya saat ini saya akan pergi jauh dari kehidupan Steve tapi saya mohon biarkan saya melihat Steve untuk yang terakhir kalinya"ucapan Nadia bergetar seiring airmata yang keluar dari matanya
Pak Adijaya mengangguk perlahan lalu mereka pun pergi menuju rumah sakit
Steve terbaring dengan tangan dan kaki kanan nya yang di balut perban dan terpasang gift di tangan dan kakinya dia tertidur setelah di suntik obat penenang karena terus saja memberontak saat di tangani oleh dokter sambil terus berteriak teriak ingin bertemu dengan Nadia sampai ia menambah luka yang di deritanya semakin parah
Sore tadi di rumah Steve Steve yang sudah tidak betah di kurung di kamarnya merasa gusar dan ingin segera keluar untuk menemui Nadia dia mulai menggedor gedor pintu kamarnya tapi tak di buka sama sekali
akhirnya Steve mempunyai akal dia keluar dari jendela dan turun menelusuri atap kanopi yang ada di depan kamarnya namun karena tak hati hati Steve terpeleset dari kanopi tersebut dan terjatuh dari lantai atas sampai ke tanah
Steve terpekik merasakan sakit pada kaki dan tangan sebelah kananya serta kepalanya yang terbentur tanah hingga terluka mengucurkan darah segar
Suara benda jatuh terdengar sampai ruang tamu tempat pak Adijaya dan bu Mira yang sedang memperdepatkan Steve yang dikurung di kamar
Mereka langsung keluar mencari asal suara benda jatuh tersebut dan kaget melihat keadaan Steve yang begitu mengkhawatirkan dengan luka di kepala, kaki dan tangan sebelah kanan yang patah
Bu Mira menjerit dan syok melihat Steve dengan keadaan seperti itu lalu pak Adijaya segera membawa Steve menuju rumah sakit terdekat
Saat di tangani dokter Steve masih sadar sambil menahan sakit nya Steve memberontak ingin keluar dari ruangan sampai ia jatuh dari ranjang lalu beringsrut ingin keluar dengan menggunakan badannya tak peduli rasa sakit yang ia rasakan ia berteriak teriak ingin bertemu dengan Nadia sampai dokter menyuntiknya dengan obat penenang
Bu Mira tak kuat melihat Steve seperti itu dan mendesak pak Adijaya supaya membawa Nadia ke sana untuk bertemu dengan Steve sampai pak Adijaya mengalah dengan kekeras kepalaan nya dan pergi menemui Nadia
Nadia dan pak Adijaya sampai di ruangan tempat Steve di rawat. Nadia duduk di samping ranjang Steve dan dengan sedih memandangi Steve yang terbaring lemah tak berdaya melihat kepala Steve yang di bungkus perban dan mengusap pipi Steve yang terlihat pucat pasi
"Maaf kan aku Steve.. aku membuatmu menderita seperti ini.. ini kesalah ku harusnya aku tak menerima perasaana mu dan menjauihi mu saja.. hal ini tak akan terjadi jika aku tak hadir dalam hidup mu.. " Nadia mulai menangis terisak di hadapan Steve
Bu Mira yang menatap di balik kaca ruangan Steve tersentuh dengan tangisan Nadia yang terlihat begitu khawatir kepada anaknya lama sekali Nadia menangis di dalam ruangan Steve menunggu Steve terbangun dari tidurnya
Bu Mira pun tak tahan segera masuk ke ruangan Steve
"Sudah lah nak jangan menangis lagi.. kamu pasti cape menangis terus menerus seperti ini.. " kata Bu Mira mencoba menenangkan Nadia
"Tidak tante ini salah saya.. saya tak seharusnya berhubungan dengan Steve.. tapi hati saya tak bisa menolak Steve karena saya sangat mencintainya.. saya memang tak tau diri.. " Nadia berucapa dengan terisak serta suara yang hampir hilang karena terlalu lama menangis
"Seberapa dalam cinta kalian sampai sama sama kurus seperti ini " gumam bu Mira merasakan hatinya sakit karena mengingat masa lalunya yang kelam ketika melihat Nadia
Kemudian Steve mulai membuka matanya perlahan, Nadia dan bu Mira melihatnya dan tersenyum senang , bu Mira langsung keluar untuk memanggil dokter
"Steve.." kata Nadia senang sambil menggenggam tangan Steve dengan erat
"Nadia.. " kata Steve dengan lemah ia tersenyum mencoba menggerakan tangan kanan nya untuk mengelus rambut Nadia tapi malah merasa kesakitan karena tangan nya yang patah
"Sudah kamu jangan bergerak dulu tangan mu masih sakit.. " kata Nadia lembut sambil mengusap pipi Steve
"Aku kangen kamu Nadia.. "kata Steve lemah sambil memegang tangan Nadia yang ada di pipinya lalu mengecupnya lembut
"Aku juga kangen kamu Steve.. "
"Aku hampir gila karena di kurung di kamar dan tak bisa bertemu dengan kamu.. Akhirnya aku nekad buat kabur lewat jendela tapi tak berhasil malah berakhir di rumah sakit.. " kata Steve tersenyum ironi
"kamu memang bodoh Steve , kenapa bertindak gegabah seperti itu " kata Nadia dengan air mata yang mulai mengalir lagi
"Maaf kan aku membuat kamu sedih.. sudah jangan menangis lagi aku sekarang tidak apa apa kan lihat aku sehat dan kuat.." kata Steve mencoba menghibur Nadia
"Dasar cowok sok kuat.. " kata Nadia sambil mencubit ke dua pipi Steve
"Tapi bagaimana bisa kamu ada di sini bukannya papa ga memperboleh kan kita bertemu..?? " kata Steve merasa aneh
"Tidak aku di sini karena di jemput pak Adijaya.. " kata Nadia mencoba tersenyum
"Apakah dia sudah mulai mengijinkan kita berpacaran lagi.. " teriak Steve begitu senang mendengar Nadia di jemput oleh ayahnya
" Mungkin iya.. " kata Nadia berbohong sambil tetap tersenyum manis
"Syukurlah.. Nadia tidak akan ada lagi yang menghalangi hubungan kita.." kata Steve merasa senang sekali sambil menggenggam erat tangan Nadia
"iya" kata Nadia berbohong mencoba menahan tangis nya lagi dan tersenyum dengan terpaksa
Lalu bu Mira, pak Adijaya dan seorang dokter masuk ke ruangan itu sang dokter lalu memeriksa ke adaan Steve dan mengatakan keadaan nya stabil saat ini
Setelah selesai memeriksa Steve dokter pun keluar dari ruangan
Steve memandangi kedua orang tua nya bergiliran dan tersenyum bahagia lalu ia beranjak bangun dari tempat tidur di bantu oleh Nadia
Dan langsung memeluk pak Adijaya dengan perasaan bahagia
"Papah... terimakasih telah membawa Nadia kesini dan juga mengijinkan kami untuk bertemu dan berhubungan kembali terimakasih pah.. " suara Steve mulai bergetar menahan tangis di pelukan pak Adijaya
"Maafkan Steve pah sudah membantah keinginan papah Steve janji akan melakukan apa pun yang papah bilang karena papah telah mengijinkan Steve bersama dengan Nadia Steve tau papah orang yang baik.. " kata Steve lagi
"I.. iya nak.. " kata pak Adijaya tak mampu mengelak perkataan Steve dan menepuk nepuk punggung Steve mata pak Adijaya melirik ke arah Nadia
"Sepertinya gadis itu bicara yang baik baik tentang aku " gumam pak Adijaya merasa lega Steve ternyata masih sayang kepadanya bahkan meminta maaf ke padanya walaupun dengan kejam pak Adijaya mengurung Steve di kamarnya