
Setelah bel tanda istiraha berbunyi Nadia langsung pergi ke toilet karena ingin buang air kecil tak di ketahui oleh nya Diandra mengikuti dia dari belakang dan setelah sampai di depan toilet Diandra langsung mendorong dan menampar pipi Nadia
Nadia terkaget dan memegangi pipinya yang terasa perih
" Apa yang loe lakuin ..?? kenapa loe nampar gue " kata Nadia dengan heran
" Loe ga usah sok polos di hadapan gue..
gue tau loe sengaja ngedeketin tunangan gue Devano hingga dia nyuekin gue " kata Diandra dengan ketus dan memojokan Tubuh Nadia
"Gue gak pernah goda Devano, karena gue ngga punya perasaan apa apa sama dia jadi tolong..ga usah nyangka yang ngga ngga sama gue " kata Nadia dengan kesal
" Pinter banget loe ngehindarin fakta bahwa loh tuh suka caper sama cowok cowok di sekolah ini, emang loe pikir di perebutkan cowok itu bagus loe tuh keliatan seperti cewek murahan banget tau ngga.."
"Plakkk " Nadia begitu marah mendengar kata kata Diandra sehingga menampar pipi Diandra hingga Diandra terhuyung ke belakang
"Loe boleh ngatain gue apa aja.. tapi gue masih punya harga diri gue bukan cewek murahan camkan itu baik baik.. " teriak Nadia sambil menangis karena tak terima dikatai murahan oleh Diandra
" Jangan mentang mentang loe kaya terus se enekanya merendahkan orang ingat dunia itu berputar.. karma pasti berlaku sama orang jahat kaya loe.. " teriak Nadia dan langsung pergi meninggalkan Diandra yang terbengong mengingat perkataan Nadia yang mendalam itu dan memegangi pipinya
Di ruang kelas XII -A Devano sedang mendengarkan musik dengan earphone nya
Lalu bu Mira masuk bersama Steve ke kelas itu
Devano menyadari kedatangan bu Mira dan entah kenapa dia merasa senang sekali melihat bu Mira
"Tante.. tante yang malam itu kan..?? "
kata Devano langsung berdiri dan menyalami bu Mira
"Iya.. tante kesini mau berterima kasih sama kamu karena sudah menolong tante waktu itu, kalau ngga ada kamu tante pasti sudah jatuh dan terluka" kata bu Mira mengelus pelan kepala Devano
" Sama-sama tante, kita kan harus saling menolong.. " kata Devano tersenyum senang kepada bu Mira
" kamu memang anak baik Devano.. " ucap bu Mira
Steve yang melihat itu tampak cemburu dengan kedekatan ibu nya dan Devano
" Udah yuk mah.. aku udah laper nih.. "kata Steve sambil menarik narik tangan bu Mira seperti anak kecil
"Kamu mau ikut makan nak.. kebetulan tante bawa banyak" kata bu Mira menawarkan makanan yang di bawa nya
" Ngga usah tante devano tidak lapar.."
" kruyukkk.. " suara perut Devano terdengar cukup keras
" Kalau gitu kita makan di sini saja sama sama yuk.. " kata bu Mira tersenyum mendengar suara perut Devano. Devano hanya mengangguk malu karena ketauan berbohong sedangkan Steve kelihatan tidak suka
Mereka pun makan bersama di meja Devano dengan lauk sup ayam dan nugget serta buah yang di potong potong
Devano menyuapkan Nasi dan juga sup ayam kedalam mulut nya dan terasa enak dia membayang kan kalau ibu nya yang memasak makanan untuknya matanya pun menjadi berkaca kaca
" Aku juga pengen makan masakan mama.. " gumam Devano lalu dengan lahap memakan masakan bu Mira
Bu Mira memandangi Devano entah kenapa dia begiru sedih melihat Devano yang makan seperti orang kelaparan saking enaknya
"Yang banyak makannya kamu pasti sangat lapar.. " kata bu Mira menambah kan lagi sup ayam ke piring Devano
" masakan tante enak sekali jadi Devano makan dengan lahap.. " kata Devano sambil mengunyah makanan
" pelan pelan .. ya Ampun makannya sampai belepotan. " kata bu Mira sambil mengusap pinggir bibir Devano denga lembut seperti ke anak sendiri
Devano yang di perlakukan seperti itu menjadi ingat kepada ibunya dirinya pun tak bisa menahan butiran air mata yang keluar dari mata nya dan langsung menghapusnya tanpa bu Mira sadari
Steve merasa dia di abaikan dan merasa aneh memandang kedekatan bu Mira dan Devano yang baru saja bertemu
" Oh iya .. mama lupa" bu Mira tertawa dan mengambilkan nasi dan sup ayam untuk Steve
" Aaaa.. sini mama suapin" kata bu Mira menyodorkan sendok berisi nasi ke Steve
" Mamah tuh apaan sih aku bisa makan sendiri.. " gerutu Steve dengan kesal
" Biasanya di rumah juga minta di suapin kan..?? " kata bu Mira yang di ikuti tawa Devano
" Kelakuan aja kaya preman tapi masih kaya anak bayi.." celetuk Devano membuat Steve menjadi sangat malu
" Enak aja loe ngatain gue" kata Steve melihat Devano dengan marah
" Sudah sudah ah.. jangan berantem ayo makan lagi" kata bu Mira menengahi keduanya
Bu Mira sekali kali menyuapi Steve dan Devano seperti bayi
Mereka tertawa bahagia bersama sama
Ternyata Geng Carrisa ce'es mengintip di jendela ruang kelas itu
" Calon mama mertuan aku kelihatan baik banget.. aku harus berusaha terlihat baik di hadapan ibu nya Steve " bisik Carrisa dengan senang
" Hah Calon mertua... bukanya loe suka sama Devano..?? " balas Nina dengan berbisik
" Aku sekarang berubah pikiran karena aku suka yang liar dan ganas seperti Steve
penampilan nya garang tapi hati nya bagai hellokitty " bisik Carrisa dengan centil
" Liar dan ganas..?? pacaran aja loe sama singa" celetuk Novi yang cekikikan mendengar ocehan Carrisa
" Lo liat aja gue bakal dapetin Steve dan menarik perhatian Nyokap nya Steve" kata Carrisa tersenyum licik
Tak lama setelah bu Mira dan Steve pergi dari kelas XII - A bel tanda masuk pun berbunyi dan anak anak murid mulai memasuki kelas nya masing masing
Di bangku nya tampak Nadia terdiam dengan wajah sembab habis menangis karena perkataan Diandra saat di toilet Nadia langsung pergi ketempat sepi dan menangis di sana
Devano menyadari ke adaan Nadia
" Nadia kamu kenapa..?? " kata Devano sambil mendekat kan kursinya
" Aku ga apa apa.. " kata Nadia singkat
Devano melihat pipi Nadia yang aga kemerahan
"Kamu terluka..?? Sini aku obatin kamu"
kata Devano hendak memegang pipi Nadia tapi Nadia malah menepis tangan Devano
" Udah lah aku bilang aku ga apa apa kamu ga usah sok perhatian sama aku.. "
balas Nadia dengan nada marah
Devano yang tak tau apa apa pun merasa aneh
" kok kamu marah sama aku ga biasanya.??"
ucap Devano heran
" Udah lah Dev.. mulai sekarang kamu ga usah deketin aku lagi.." balas Nadia ketus
"Ada yang ga beres nih pasti ini penyebanya adalah Dindra.." gumam Devano dan melirik ke bangku Diandra yang juga memiliki bekas kemerahan di pipinya