
Beberapa bulan telah Steve lalui dengan menjalani hari hari seperti mayat hidup yang berbaring di kamar tanpa keluar rumah dan sekarang terpaksa ia pergi kesekolah karna hari ini adalah hari kelulusan di sekolah nya
Pengumuman kelulusan yang biasanya sangat bahagia tapi tidak di rasakan oleh Steve.
Saat teman teman mereka merayakan hari special itu dengan bersenang senang mencoret coret baju sekolah mereka
Steve malah duduk termenung di bangku belakang sekolah dengan tatapan kosong nya
Setelah kejadian itu Steve seperti menjauh dari keramaian, menjadi penyendiri karena jika ada orang yang mendekati nya dia selalu marah tak terkendali,bahkan dengan bu Mira dan pak Adijaya sekalipun ,Steve menjadi pendiam dan lebih tempramen sedikit saja orang menyinggung nya dia akan memukulinya sampai babak belur
Steve menjadi manusia berdarah dingin tanpa hati
Steve masih duduk di bangku saat Devano mendekatinya dan ikut duduk di sampingnya
"Pergi kau..!! " kata Steve datar tanpa menoleh ke arah Devano
"Kau tidak mengikuti perayaan.. ??" kata Devano tak peduli dengan usiran Steve
"Itu bukan urusan mu " jawab Steve singkat masih dingin seperti tadi
"Kau sungguh menyedihkan.."
Devano menarik Nafas dalam melihat Steve masih terpuruk karena kepergian Nadia, dia mengingat saat Maria meninggal dulu dan hal ini pun terjadi pada dirinya Devano tersenyum ironi karena dia juga hampir kehilangan akal sehat waktu itu
"Jangan mentertawaiku atau ku hajar kau sampai menjadi debu.." kata Steve marah lalu mencengkram kerah baju Devano dan menatap setajam pisau ke arah Devano hendak memukulnya
"Pukul lah jika itu membuat mu lega.. "kata Devano dengan santai nya
Steve menghentikan tinju nya di udara dan mendesah dengan kesal "Sialan.. " umpat Steve kepada dirinya sendiri dan melepaskan cengkraman pada kerah baju Devano dan menangkup kepalanya sendiri dengan kedua tangan nya mencoba menahan amarah nya yang selalu meledak ledak
"Kita sama sama kehilangan orang yang kita cintai.. aku tau pasti rasanya, disini sangat kosong dan rapuh.. " Devano menunjuk ke dadanya dengan ironi
"Tapi sepertinya aku lebih kuat darimu yah.. " kata Devano meledek Steve
"Kau mau pamer hah.. pergi lah sebelum aku meledak dan menghajar mu.. " kata Steve dengan ketus dan mendorong bahu Devano
"Aku cuma mau bilang kalau akan ada seseorang yang akan mengisi kekosongan hati mu..jika kau butuh saran hubungi aku dan konsultasi kepadaku.. " kata Devano menyemangati Steve
"Aku tak butuh saran mu.. jangan sok tahu tentang hidup ku.. " dengus Steve tak senang
"terserah kalau begitu , ini undangan pertunangan ku aku tak peduli kau akan datang atau tidak tapi beritahu tante mira agar datang ke pertunangan ku " kata Devano lagi sambil meletakan surat undangan di samping Steve yang sedang duduk, Steve hanya terdiam tak menanggapi perkataan Devano
Tiba tiba Diandra muncul di samping nya
"Devano ayo teman teman sudah menunggu " kata Diandra menghentikan langkahnya yang setengah berlari
"Iya ayo.. " kata Devano dengan memasang senyum manis dan mengelus kepala Diandra
"Dia tidak di ajak sekalian.. " kata Diandra menunjuk Steve
"Tak usah mengajak orang menyedihkan ini dia tak akan mau.. " kata Devano sambil menepuk bahu Steve dengan keras dan menggandeng tangan Diandra lalu pergi meninggalkan Steve
"Sialan " teriak Steve yang merasa kesal sambil mengusap bahunya yang terasa sakit
****
Diandra dan bu Merisa sedang duduk di sofa keduanya sama sama sedang melamun entah apa yang sedang mereka pikirkan namun dari wajah kedua nya tersirat kesedihan
Bu Merisa dan Diandra sama sama menghela nafas dalam hampir bebarengan sampai mereka saling melirik dan sedikit heran
"Apa yang sedang kamu pikirkan Di, sepertinya kau begitu sangat sedih bukannya seharusnya kamu bahagia katena besok hari pertunangan mu dengan Devano..?? " tanya bu Merisa mengawali percakapan mereka dengan pertanyaan
"Aku teringat teman ku yang sudah tiada mam, dia sangat berperan besar dalam hubungan ku dengan Devano dia memperbaiki hubungan ku dan Devano,seharusnya dia ada disini sekarang dan ikut bahagia bersama ku , " kata Diandra lirih matanya mulai berkaca kaca mengingat tentang Nadia
"Yang sabar ya.. sayang.. " kata Bu Merisa sambil menepuk pelan Bahu Diandra beberapa kali untuk menguatkan anak nya itu
"Lalu kenapa mama juga terlihat sedih helaan nafas mama terdengar berat sekali..??" Diandra balik bertanya kepada ibunya dan menatap penuh keingin tahuan
"Teman mama tiba tiba akan pindah keluar negri,dia sudah menemukan apa yang dicarinya selama ini.." kata bu Merisa menghela nafasnya lagi kali ini dia terlihat lebih sedih
"Om yang tempo hari bertemu dengan mama di kafe xxxx bukan..?? " selidik Diandra
"Kok kamu tau Di.. " kata Bu Merisa gelagapan mengetahui anaknya melihat di yang sedang berkencan dengan seorang Pria
"Iya waktu itu Diandra lagi jalan sama Devano liat mamah sama om itu siapa nama om itu.. apa dia calon papa baru aku..?? " Diandra sedikit menggoda ibu nya dengan tatapan kecurigaan yang du buat buat
" Tentu saja bukan Di.. pak Erlangga cuma rekan bisnis mama dan kebetulan kami selalu nyambung kalo ngobrol" elak bu Merisa dengan wajahnya yang tersipu malu
"Ngaku aja lah ma.." goda Diandra lagi sambil tertawa
"udah di bilang bukan Di.. " kata bu Merisa menyangkal kembali sambil mencubit pipi anak perempuan kesayangan nya itu
*****
Hari pertunangan pun tiba di hadiri oleh beberapa rekan bisnis bu Merisa dan pak Mahendra dan tentunya teman teman Devano dan Diandra
Devano sudah berdiri berhadapan dengan Diandra yang terlihat sangat cantik dengan mengenakan gaun berwarna krem gold yang terlihat mewah sehingga Devano salah tingkah dan menatap Diandra tanpa berkedip terhipnotis dengan kecantikan Diandra malam ini
Begitupun Diandra yang selalu tersipu malu menatap Devano yang terlihat sangat tampan mengenakan setelan jas berwarna hitam
Pembawa acara mulai berbicara mengawali pesta pertunangan dan menyambut para tamu kehormatan dari jajaran pengusaha kelas atas yang hadir di pesta pertunangan
Nampak bu Mira baru datang bersama Steve dan Carrisa yang mengintil di samping Steve dan menggandeng tangan Steve dengan mesra, Seperti biasa Steve hanya terdiam menatap dengan dingin tapi juga tak melepaskan tangan Carrisa, ia sudah lelah untuk mengelak lagi dari Carrisa apalagi orng tuanya berniat menjodohkan Steve dengan Carrisa, Carrisa selalu menempel dengan Steve dan selalu datang kerumahnya saat Steve terpuruk karena kepergian Nadia, menjadikan pak Adijaya dan bu Mira memutuskan untuk mendekatkan Carrisa dengan Steve agar melupakan Nadia yang sudah tiada
mata bu Mira berbinar melihat senyum bahagia Devano dan Diandra ,perasaan sayang nya pada Devano seperti rasa sayang nya kepada Steve,dia pun tak tau kenapa hatinya begitu terenyuh melihat Devano yang bahagia
Pembawa acara kemudian memulai untuk acara menukar cincin
"Silahkan untuk bu Merisa sebagai ibu dari pihak perempuan untuk menyerahkan cincin kepada Devano dan di pakaikan pada jari Diandra" kata Pembawa acara
Bu Merisa segera berdiri dan membuka kotak cincin dan memberikannya le Devano Devano menerima cincin dan memasukan cincin itu ke jari lentik Diandra mereka saling pandang dan tersipu malu
"Dan Silahkan untuk pak Mahendra sebagai ayah dari pihak laki laki untuk menyerahkan cincin kepada Diandra "
Diandra menerima cincin dan kemudian memasukan ke jari devano
di akhiri riuh tepuk tangan dari para tamu