
Diandra menerima cincin dan kemudian memasukan ke jari Devano dan para hadirin bertepuk tangan penuh suka cita
Namun tidak dengan Bu Mira tubuhnya bergetar menahan tangis dan kakinya tanpa di perintah berlari ke arah Devano dan menghambur memeluk Devano
Setelah nama Mahendra terdengar sebagai ayah dari Devano iya yakin sekali bahwa Devano adalah Daniel anaknya perasaan nya sudah tidak bisa di bendung lagi kaget, bahagia dan suka cita bercampur menjadi satu
"Anak ku.. anak ku.. ternyata kamu masih hidup nak.. " teriak Bu Mira dengan isak tangisnya melepas pelukannya dan menangkup pipi Devano yang tetegun keheranan tak tau harus berbuat apa
"Tante.. kenapa.. ??" hanya itu yang bisa di katakan Devano
"Kamu adalah anak ku... mereka.. mereka memisahkan kita dan berbohong kepada ku" teriak Bu Mira histeris dan menunjuk kepada Pak Mahendra dan bu Melinda
Suasana suka cita di pesta itu menjadi berubah hening setelah bu Mira naik ke atas panggung
"Apa benar tante mira adalah ibu ku..?? " Devano menatap lekat mata Bu Mira yang sudah berurai airmata, Devano tak memungkiri dia merasa waswas jantungnya berdegup menanti jawaban bu Mira karena memang dia berharap bu Mira menjadi ibunya sebelum kejadian ini terjadi
pertanyaan yang sama juga ditanyakan kepada Pak Mahendra,
Pak Mahendra menatap putranya itu dengan sorot mata sedih, memikirkan tindakan nya dulu yang memisahkan anak dari ibunya dan memaksakan kehendak kepada putranya itu Sehingga Devano membencinya,tapi dia sudah sadar dengan kesalahannya dan menginginkan Devano berbahagia serta tak membencinya lagi
"Iya.. Devano dia adalah ibu mu " kata Pak Mahendra dengan tegas menyembunyikan kesedihan nya
"Maafkan papah karena memisahkan kalian.. maafkan saya Mira.." kata pak Mahendra dengan suara bergetar menahan tangisan
Devano serta merta memeluk erat bu Mira dengan tangisan yang tersedu
Bahagia, suka cita tak terlukiskan oleh kata kata dia hanya memeluk bu Mira yang ternyata adalah ibunya, ibu kandung nya,
Bu Merisa dan Diandra tersenyum penuh haru dengan melihat kedua orang yang ternyata ibu dan anak yang baru mengetahui kebenarannya itu. Sedangkan pak Mahendra pergi meninggalkan ruangan untuk menghindari orang orang melihat nya menangis di susul bu Melinda yang terlihat tak senang dengan bertemunya bu Mira dan Devano
Ada lagi diantara mereka yang terlihat tak senang dan begitu terpukul dengan pertemuan antara bu Mira dan Devano
Steve berdiri mematung dengan tangan yang sudah terkepal, matanya menatap tajam ada rasa benci, sedih dan kecewa pada sorot matanya memandang bu Mira dan Devano yang saling menghapus air mata dan tersenyum dengan bahagia
"Jika dia adalah anak mama.. lalu aku anak siapa..?? " teriakan Steve menggema di ruangan pesta yang mulai kacau itu
"Jawab mah.. ini semua bohongkan aku satu satunya anak mu benarkan mah.?? " teriak Steve mencoba menyangkal kebenaran
"Steve maafkan mamah.. "kata bu Mira sendu menatap mata Steve yang sudah berkobar api amarah
"Aku tak butuh maaf mu.. cuma aku anak kandung mu kan..?? "tak sadar Steve semakin mencengkran lengan bu Mira dengan kuat hingga bu Mira terlihat kesakitan
"Hentikan jangan sakiti ibu ku.. " teriak Devano dan tak sengaja mendorong Steve hingga tersungkur ke lantai
Dengan amarah yang begitu besar Steve bangun dan memukul Devano tanpa ampun Devano pun tak mengalah dia membalas pukulan Steve hingga terjadilah perkelahian hebat. Sampai bu Mira.Bu Merisa dan Diandra menghentikan mereka
By Mira menangis terisak melihat Steve dan Devano sama sama terluka mengucurkan darah yang lebih parah adalah Devano yang hampir tak sadarkan diri bu Mira merangkul Devano dengan tangisan nya Diandra dan bu Mira tak kalah khawatir dan mengerubungu Devano
Sedangkan Steve melihat dengan rasa benci
"Ayo kita pulang mah.. " kata Steve datar dan menarik tangan Bu Mira
Tapi bu Mira seakan menjadi tuli tak menyadari perkataan Steve dan masih memeluk Devano dan mengusap darah yang keluar dari hidung dan mulut Devano sampai ia tak sadar menepis tangan Steve yang hendak memegang nya
Steve menatap penuh kesedihan dia melangkah gontai meninggalkan ruangan pesta yang sudah kacau dengan keributan
Hatinya teramat sangat sakit, menerima kenyataan bahwa dia bukan lah anak bu Mira yang di pertegas dengan penolakan bu Mira kepadanya, Steve sudah tak kuasa menahan Sakit di dadanya tubuhnya lemas dan jatuh terduduk di tanah air matanya keluar dan isakan terdengar dari mulutnya setelah dua orang perempuan yang ia kasihi pergi meninggalkan nya tak ada yang tersisa rasa bahagia di hatinya hanya ada kekosongan di hatinya saat ini yang begitu rapuh dan hampa di ganti dengan rasa sakit yang mendalam menghujam palung hatinya yang paling dalam
Steve meneggelamkan kepalanya di antara lutut dan dada menangis terduduk di tanah
hingga tangan seorang gadis menepuk nepuk pelan bahunya dan berjongkok di hadapan Steve lalu menangkup pipi Steve dan memeluknya
"Pergi Carrisa.. atau aku akan menyakitmu.. " teriak Steve mencoba mendorong tubuh Carrisa dari pelukannya
"Sakiti aku sesukamu jika itu bisa membuat mu tenang Steve.. aku tak keberatan.. walaupun orang orang meninggalkan mu tapi masih ada aku yang akan ada di samping mu.. menangislah di bahuku jika kau tak punya sandaran lagi untuk menangis.. " kata Carrisa sendu mengelus punggung Steve dengan lembut
Steve kemudian menangis sejadi jadinya di bahu Carrisa meluapkan kesedihan, kekesalan dan kebencian yang bercampur menjadi satu yang menghancurkan hatinya yang luluh lantah tak tersisa