
Nadia berlari menuju caffe tempat kerja nya dengan perasan yang begitu campur aduk membuat dia seperti melayang tak karuan hingga sampai di depan caffe kecil tersebut
Dengan terengah engah Nadia mencoba masuk ke dalam caffe tapi pintu kaca itu masih terkunci rapat Nadia tak memperdulikan rasa lelah dan keringat yang membasahi pakaian nya
"Buka bos.. buka pintu nya.. " teriak Nadia tak sabar sambil menggedor gedor pintu kaca dengan begitu kerasnya
beberapa kali Nadia berteriak teriak
ketika Nadia akan berteriak lagi kesekian kali keluar lah bos Nadia dari dalam caffe sambil menguap karena baru saja bangun tidur
"Apa sih Nadia ini masih pagi bukan waktu nya kerja.. ganggu orang tidur aja.. " kata pak bos Nadia dengan kesal mencoba mengumpulkan energi nya dengan menggeliat
"Maaf pak bos.. tapi ini penting sekali
apakah pak bos punya alamat Angga pegawai baru yang kemarin malam bos pekerjakan.." teriak Nadia dengan tak sabaran
"Angga.. Angga yang mana..?? " kata bos Nadia sedikit kebingungan
"Angga pegawai baru yang pak bos pekerjakan semalam di mana dia tinggal.. " teriak Nadia lagi
"Hah.. saya tidak menerima pegawai baru untuk apa saya menerima pegawai lagi buang buang uang saja kamu pagi pagi udah ngelindur.. harusnya saya yang ngelindur.. " kata bos Nadia sambil menguap lagi
"Apa.. jadi bos benar benar tak menerima pegawai baru..??" tanya Nadia dengan mata yang sudah berkaca kaca
"Tidak.. sudah ya saya ngantuk mau tidur lagi.. awas kalo kamu ngetuk ngetuk lagi pintu caffe saya.. saya lempar kamu pake guling "kata Bos Nadia dan masuk lagi ke dalam caffe
" Jadi dia memang sudah merencanakan semuanya untuk berbuat itu sama aku.. tapi aku ga kenal dia kenapa dia berbuat jahat kepadaku..?? " kata Nadia dengan menahan perasaan yang berkecamuk di dadanya mengingat lagi saat dia bangun tidur dalam keadaan polos tak berpakaian dan mengingat Video yang dia lihat sebelumnya
tangis Nadia pecah menyadari kenyataan yang membuat nya terguncang
Nadia jatuh terduduk di pinggir jalan menangis meraung sejadinya
Nadia membekap telinga dengan kedua tangan nya seolah teriakan teriakan orang yang menyebut dirinya gadis rendahan, gadis murahan dan semacamnya mengelilingi indera pendengaran Nadia dan kenyataan bahwa tubuhnya telah terjamah oleh seorang laki laki asing yang tidak dia kenal sama sekali membuat nya jijik terhadap dirinya sendiri
"Tidak.. tidak.. " teriak Nadia meraung raung penuh kepiluan
Steve baru sampai dan melihat ke adaan Nadia yang begitu memilukan
Hati nya terasa seperti teriris iris pisau tajam tak kuasa melihat orang yang sangat ia cintai begitu terlihat menderita
Steve langsung memeluk tubuh Nadia dari belakang dan mengecup puncak kepala Nadia
"Aku ada di sini untuk mu.. menangis lah sampai kamu tenang bagi kesedihan ini padaku.. " kata Steve dengan lembut menahan tangisannya sendiri agar terlihat kuat untuk menjadi tempat bersandar bagi Nadia gadis yang sangat dia cintai
Nadia menenggelamkan wajah nya pada dada Steve dan menangis sejadi jadi nya di sana
Steve mengelus punggung Nadia untuk memberikan ketenangan sementara dan usahanya berhasil Nadia mulai tenang hanya sesekali isak tangis terdengar dari bibirnya
Nadia tersadar dan melepaskna pelukan Steve dari tubuhnya menatap Steve dengan sendu penuh kesedihan
"Aku merasa aku tak pantas lagi untuk bersama mu Steve aku gadis rendahan yang sudah kotor terjamah oleh laki laki lain aku memang pantas di sebut gadis murahan.." kata Nadia lemah dengan isak tangis nya yang memilukan
"Sshhtt.. jangan bilang seperti itu.. sayang.. " kata Steve menenangkan Nadia dengan menarik kepelukannya lagi
"kamu harus tau itu hanya lah video editan jaman sekarang mudah sekali membuat hal seperti itu agar terlihat seperti nyata
kamu harus tenang Nadia.. " kata Steve mencoba meredakan tangisan Nadia dan mencoba menghiburnya
"Tapi tadi pagi aku terbangun dengan keadaan tak berpakaian sama seperti yang ada di video Steve.. sekarang aku sudah tak punya masa depan lagi aku gadis kotor.. rendahan dan menjijikan.. dan aku tak pantas untuk mu tapi dari awal pun aku memang sudah tak pantas " teriak Nadia dengan pilu..
"Shhtt. aku tak peduli apapun yang terjadi kepadamu.. kamu masih gadis polos dan suci bagi ku.. aku tak akan pernah meninggal kan mu sayang.. tak akan pernah.. " kata Steve dengan lembut memper erat pelukan nya pada Nadia seolah dia tak ingin melepaskan Nadia sedikit pun
"Aku akan membalas orang yang telah menyakiti mu dengan setimpal.. " kata Steve kini nada suaranya penuh dengan kemarahan
Saat mereka tangah berpelukan dua orang pria berseragam hitam keluar dari mobil yang berhenti di depan mereka menarik paksa badan Steve yang tengah memeluk Nadia
"Apa apaan ini lepasin gue.. " teriak Steve mencoba memberontak tapi pegangan mereka sangat lah kuat hingga tubuh Steve terangkat dan hendak membawanya masuk ke dalam mobil
"Gue gak mau pulang.. " teriak Steve sambil memberontak menggerakan tangan dan kaki nya namun kedua pria itu tak bergeming sedikit pun
"Maka kami akan memaksamu.. " kata nya tegas dan menyeramkan
Kedua pria itu menyeret Steve masuk ke dalam mobil Steve berteriak teriak memanggil manggil Nadia
"Steve.. " Nadia meneriakan nama nya dengan serak sambil menangis Tapi mobil itu sudah berjalan menjauhi Nadia yang masih terduduk di pinggir jalan
Beruntung Diandra dan Devano segera datang dan mencoba menenangkan Nadia kembali lalu mengantarkan Nadia pulang ke kostan nya
Steve diseret oleh kedua pria berjas hitam untuk masuk ke rumah nya
Di ruang tamu tampak pak Adijaya berdiri dengan melipat kedua tangan nya di dada.. dan bu Mira menatap penuh kecemasan menunggu Steve pulang kerumah
Saat melihat Steve datang Pak Adijaya melangkah mendekati Steve
"Pah apa apaan ini pah.. kenapa mereka menyeretku pulang..??" teriak Steve kepada pak Adijaya sambil menepis ke dua tangan pria berjas hitam agar melepas pegangan nya
"Ini semua demi kebaikan kamu Steve.. karena kamu tidak menuruti perintah papah untuk tidak mendekati gadis itu.. " kata Pak Adijaya datar dengan menatap tajam ke arah Steve
" jangan sekarang pah.. aku harus ada di sana untuk menenangkan hati Nadia dengan siapa lagi dia akan mengadu selain aku .. " kata Steve lagi dengan suara serak matanya mulai berkaca kaca
"Kenapa kamu memperdulikan gadis rendahan itu Steve kamu sudah melihat video nya yang begitu menjijikan, bukan" kata pak Adijaya datar dengan ekspresi wajah seriusnya
"Itu tidak seperti yang papah kira Nadia mungkin telah di jebak oleh seseorang pah.." teriak Steve mencoba meyakinkan pak Adijaya agar mempercayai omongan nya
"Cukup Steve kamu tak pantas membela dan mengasihani dia gadis murahan itu memang pantas menerima hukuman atas perbuatannya yang merendahkan dirinya sendiri.. " teriak pak Adijaya mulai marah dengan pembelaan Steve pada Nadia
"Dan akhirnya kedoknya terbongkar kenyataan nya dia tidak sepolos dan selugu yang kamu pikirkan Steve.. " kata pak Adijaya lagi dengan ekspresi wajah jijik saat mengingat Nadia
"Tidak.. dia memang begitu polos pah dia tidak pernah berpura pura.. aku yakin itu.. " teriak Steve sungguh sungguh
"Entah racun apa yang gadis itu berikan hingga kamu begitu tergila gila oleh bujuk rayunya Steve.. kamu mulai berubah menjadi anak pembangkang tak pernah menuruti papah lagi setelah mengenal gadis itu "teriak Paka Adijaya
"Aku tergila gila karena aku sayang padanya tanpa alasan lain aku yang mengejarnya dia tak pernah merayuku sama sekali dia gadis polos yang tak mungkin melakukan hal yang di batas wajar.. "teriak Steve penuh amarah
"kamu sudah di butakan oleh cinta jelas jelas gadis itu mengobral tubuhnya untuk di cicipi oleh laki laki lain.. papah tidak mau kamu tersakiti oleh gadis rendahan itu jelas jelas kamu di permainkan dan di manfaatkan Steve kamu harus sadari itu.. " teriak pak Adijaya tak mau kalah dengan pertengkaran mereka
"Tidak Nadia gadis polos jangan jelek jelekan dia.. aku bisa membuktikan kalau Nadia adalah gadis baik baik yang polos " teriak Steve lagi
Pak Adijaya menjadi jengkel setengah mati
mendengar pembelaaan Steve kepada Nadia
"Kurung dia di kamarnya sampai dia menyadari siapa gadis itu sebenarnya dan pastikan jaga supaya dia tak bisa keluar dari kamarnya " teriak pak Adijaya kepada ke dua bodyguard nya lalu kedua pria tersebut mengangguk dan menyeret Steve yang masih berteriak tak mau di kurung
Bu Mira yang baru pertama kali melihat pertengkaran antara anak dan ayah yang sama sama keras kepala itu menjadi sangat sedih dan menangis mencegah supaya pak Adijaya tidak mengurung Steve tapi tak ada gunanya pak Adijaya tak bergeming sedikit pun
"Pah jangan kurung anak kita biarkan dia menemui gadis itu.. setelah itu pasti Steve akan pulang sendiri ke rumah.. " kata bu Mira menenangkan pak Adijaya yang masih begitu sangat marah
"Tidak papah tidak akan membiarkan Steve berhubungan lagi dengan gadis rendahan itu.. "
"Tapi pah.. kasian dia setidaknya berikan Steve kesempatan untuk membuktikan ucapanya "
"Aku bilang tidak yah tidak.. kamu kenapa selalu membela dan memanjakan anak itu.. pantas dia menjadi anak yang pembangkang.. " teriak Pak Adijaya tak sengaja membuat Bu Mira menangis
" Jadi semua salah saya. begitu..??kamu memang sudah berubah seharusnya kamu berpikir dengan jernih tak hanya memakai hawa nafsu mu Adijaya " teriak bu Mira dengan kesal dan menghentakan kakinya pergi menuju kamar Steve yang ada di lantai atas
"Kenapa keluarga ku menjadi kacau seperti ini setelah gadis itu datang dalam kehidupan Steve.. membuat ku malah bertengkar dengan Mira.. " gumam pak Adijaya merasa menyesal karena telah membentak bu Mira
Steve berteriak sepanjang hari sambil menggedor gedor pintu kamar untuk bisa keluar dari kamarnya agar bisa menemui Nadia dan menghibur Nadia di saat Nadia sangat membutuh kan untuk bersandar di bahunya dan Steve ingin memeluknya meredam rasa sakit hati Nadia tapi saat ini dia terkurung di kamarnya sendiri
bu Mira pun tak di perbolehkan masuk kamar Steve
bu Mira hanya boleh mengantar makanan untuk Steve