
Pagi hari di sekolah
Dengan langkah berat Nadia berjalan menuju kelasnya wajahnya yang pucat serta mata nya yang sembab dengan kantung mata menghitam membuat orang orang di sekitarnya memandangi nya dengan heran
Malam itu di lalui dengan tangisan sepanjang malam tanpa tidur sedetik pun saat subuh hari datang Nadia mulai bersiap untuk bekerja mengantar susu lalu langsung berangkat kesekolah
Pagi ini dengan penampilan yang acak acakan dan suasana hati yang tak enak Nadia merasa tak ingin bertemu dengan Steve untuk sementara
Karena tidak berkonsentrasi berjalan Nadia menabrak Diandra yang juga sedang konsen memperhatikan buku yang ia baca sehingga mereka beradu dengan kencang dan terjatuh bersama sama
"Issh kalo jalan tuh pake mata "teriak Diandra yang belum mengetahui kalau yang menabraknya adalah Nadia
"Maaf aku gak sengaja.. " kata Nadia dengan lemah
Diandra melirik siapa yang menabraknya dan terkejut melihat keadaan Nadia yang begitu berantakan
"Nadia kamu kenapa.. apa kamu sakit aku bisa mengantar kamu ke UKS" cerocos Diandra ketika melihat Nadia begitu terlihat lemah
"Ga usah Di aku ga apa apa.. aku hanya kurang tidur kamu tau sendiri kan aku kerja di malam hari" kata Nadia mencoba tersenyum ramah namun suaranya tetap lemah
"Beneran kamu ga apa apa Nad.. aku khawatir.. " kata Diandra dengan cemas
Nadia membalas dengan menggelengkan kepalanya lalu berniat untuk masuk kelasnya tapi seketika tubuhnya terhuyung kehilangan keseimbangan untungnya Diandra ada di sana dengan sigap menahan bobot tubuh Nadia dengan kesusahan
"Nadia sebaiknya kamu harus segera ke UKS
kamu terlihat sakit.. " paksa Diandra cemas dan melihat kesekitar untuk meminta bantuan
Lalu Diandra melihat Devano yang berjalan dari kejauhan spontan ia berteriak memanggil manggil Devano
Devano segera berlari kearah Diandra dan juga melihat Nadia yang terkulai lemas di peluk oleh Diandra
"Kenapa lagi dengan Nadia..?? "tanya Devano dengan terengah engah mengatur nafas nya setalah ia sampai di dekat Diandra dan Nadia yang lemas
"Ga tau Dev dia kelihatan sedang sakit.."
balas Diandra kebingungan
Tanpa pikir panjang Devano langsung menggendong tubuh Nadia dengan tatapan penuh ke khawatiran untuk di bawa ke ruang UKS
Setelah sampai di ruang UKS Devano membaringkan Nadia di atas ranjang dan memeriksa ke adaan Nadia dengan telaten
Sementara Diandra terdiam menatap Devano yang selalu perhatian pada Nadia
"Apa yang kamu rasakan Nadia..?? " tanya Devano dengan nada khawatir
"Tiba tiba aku pusing dan kehilangan keseimbangan mungkin karena aku kurang tidur " jawab Nadia sambil memijit kening nya sendiri
"Sebaiknya kamu istirahat disini sampai kamu benar benar sehat.. minum obat ini supaya pusing mu mereda.. " kata Devano dengan menyodorkan sebutir obat berbentuk tablet dan segelas air putih kepada Nadia
"Terima kasih Devano.. " kata Nadia tersenyum dengan lemah kemudian meminum obat dengan di bantu Devano untuk mengakat badan nya agar sedikit menengadah
"Sama sama cepat sembuh ya..!!" kata Devano sambil membantu Nadia tiduran kembali dan tersenyum manis pada Nadia
Diandra yang sedari tadi ada di sana sedikit tak nyaman dengan kedekatan mereka berdua hingga melupakan dia yang juga ada di sana
"Ternyata Devano masih seperhatian ini kepada Nadia
Apakah dia masih suka kepada Nadia dan aku hanya di jadikan alat untuk kelancaran bisnis keluarganya saja "
gumam Diandra sedikit kesal kepada Devano
"Ya ampun seharus nya aku tak berprasangka buruk seperti ini
Yang terpenting sekarang adalah ke sehatan Nadia " gumam Diandra seolah menepis pikiran jelek nya terhadap Devano
Setelah obat yang diminum Nadia bereaksi Nadia mulai merasakan kantuk yang dari semalam ia tahan tahan karena terlalu banyak guncangan dalam dirinya ketika bertemu dengan pak Adijaya
Nadia pun sekarang mulai tertidur dengan tenang
Devano menunggui Nadia sampai ia tertidur pulas dan baru menyadari kehadiran Diandra di sana
Devano pun langsung membalikan badan nya ke arah Diandra yang sedang duduk di belakangnya sedari tadi
Devano melihat wajah Diandra yang muram dan sedikit cemberut khas Diandra yang selalu membuat Diandra semakin cantik
"Sorry sorry aku terlalu fokus jadi tak sadar ada kamu di sini.. " kata Devano sedikit menyesal melihat Diandra terlihat muram seperti ini
"Nadia udah baikan kan kalo gitu aku pergi aja.. " kata Diandra dengan ketus sambil melangkah hendak keluar Ruangan itu
"Mau apa lagi..??" kata Diandra makin ketus
"Aku melakukan ini karena aku berdedikasi hanya untuk menolong orang yang sedang membutuhkan perawatan tidak lebih.. " kata Devano mencoba menjelaskan kepada Diandra agar dia tidak salah paham
"Aku ga peduli.. " kata Diandra datar dan mencoba melepaskan genggaman tangan Devano tapi genggaman Devano malah semakin kuat
"Kamu harus tau bahwa cita cita ku adalah menjadi seorang dokter yang hebat dan kompeten dan tetap me nomer satukan pasien yang butuh perawatan segera.. kamu mengertikan " kata Devano menjelaskan lagi dengan sabar
"Jadi kamu harus bersiap untuk terbiasa bahwa nantinya aku akan lebih mementingkan ke selamatan pasien ku dan kamu harus selalu mendukungku di saat aku menjadi seorang dokter dan juga menjadi suami mu nanti.. " kata Devano lagi tanpa merasa malu
Tapi kebalikan dengan nya Diandra terbelalak dengan ucapan Devano dan jantungnya berdetak cepat serta pipinya bersemu merah karena malu
"Menjadi Su.. suami..?? "katanya pelan dengan ekspresi wajah nya terlihat begitu menggemaskan dimata Devano
"iya bukan nya kita bertunangan untuk menuju kejejang berikutnya yaitu menikah tentu aku akan menjadi suami mu kan..?? " kata Devano sedikit tertawa lalu menatap wajah Diandra yang tersipu penuh rasa gemas
Diandra langsung berlari keluar saat tak sengaja Devano melepaskan genggaman tangan nya
"Andai aku lebih cepat dewasa aku akan langsung menikahimu "gumam Devano dengan segala rasa di hatinya untuk Diandra itu bukan sekedar suka tapi dia sudah tergila gila kepada gadis judes,cantik nan menggemaskan itu seketika dia mengacak acak rambutnya sendiri menahan rasa untuk langsung menikahi Diandra. Devano tertawa dengan pemikiran konyolnya sendiri
Jam istirahat pun tiba namun Nadia masih berbaring di ranjang ruang UKS setelah Devano melaporkan keadaanya kepada guru kelas guru kelas pun mengijinkan Nadia beristirahat sampai benar benar pulih
Nadia terbangun dengan perasaan yang lebih baik sekarang
Steve yang baru tau dari Diandra segera berlari menuju UKS dan menyesal kenapa dia tidak mengetahui dari awal kalau Nadia sedang sakit
Nadia melihat pintu UKS dibuka dengan terburu buru dan suara terbanting yang mengagetkan
"Steve kenapa kamu heboh begitu.. " kata Nadia sedikit kaget setelah Steve duduk di kursi yang ada di depan nya
"Maaf Nadia aku ga tau kalau kamu sakit seharusnya aku yang pertama kali merawat kamu maaf aku lalai menjaga kamu.. " cerocos Steve seketika dengan tanpa menarik nafas dalam kalimatnya
membuat Nadia sedikit terhibur lalu tertawa kecil
"Pelan pelan Steve bicaranya nanti kamu tersedak ocehan mu sendiri.. " kata Nadia tertawa melihat tingkah Steve yang selalu terburu buru saat terjadi sesuatu padanya
"Apakah kamu baik baik saja.. kamu sudah mendingan.. kamu udah minum obat..?? "Berondong Steve dengan beberapa pertanyaan
"Udah.. udahh.. udaah.. " kata Nadia sambil terkekeh
"Seharusnya kamu kasih tau aku kalau kamu sakit Nadia.. kamu sakit apa sebenarnya..?? " tanya Steve menatap lembut Nadia dan memegang tangan ya erat
"Aku ga apa apa cuma kurang tidur aja.. kamu ga usah khawarir aku udah mendingan sekarang.. " kata Nadia sambil tersenyum manis
"Apa itu gara gara semalam.. apa papah ku berbuat sesuatu ke kamu hingga kamu tak bisa tidur"
kata Steve merasa bersalah sambil menatap penuh rasa khawatir kepada Nadia
Nadia menggeleng dengan wajah nya yang berusaha di buat nya ceria
"Ayah mu tak berbuat apa apa padaku .." kata Nadia berbohong kepada Steve dan berusaha untuk tidak terlihat sedih di hadapan nya
"Tapi kamu apakah.. ayah mu memarahimu Steve..?? "tanya Nadia sedikit khawatir
"Iya dia marah karena aku melanggar peraturannya untuk tidak keluar malam beralasan karena sebentar lagi akan ujian akhir sekolah.. cuma itu sih..
beneran papah ga bilang apa apa sama kamu.. kalau kamu kenapa napa gara papah aku akan berbicara dengan papah ku untuk tak mengusik mu.." kata Steve begitu terlihat aura melindungi dari diri Steve kepada Nadia
"Tidak Steve papah mu tak melakukan apa apa dia hanya memperingatkan ku sama seperti dia memperingat kan kamu tidak lebih dari itu.. " kata Nadia sambil menahan gejolak hatinya supaya tidak menangis dihadapan Steve karena Nadia tak mau merusak hubungan antara anak dan ayah itu
"Aku tau papah memang sangat baik Dia menjadi ayah sekaligus sahabat untuk ku dia selalu mewujudkan ke inginanku apapun itu dan aku juga akan selalu menuruti dia
Walaupun dia sedikit tempramen sepertiku tapi dia sebenarnya penyayang kamu juga pasti akan sangat dia sayangi nanti.. "kata Steve dengan penuh keyakinan sambil mengelus rambut Nadia
Nadia hanya mengangguk dan tersenyum getir
"Aku tak yakin Steve.. ayah mu membenciku tak tau kenapa.. merendahkan ku seperti gadis yang tak baik aku jadi merasa tak pantas untuk mu.. " gumam Nadia merasakan hatinya sesak sekuat tenaga ia menahan air matanya
"Steve sebaiknya kamu masuk kelas aku.. sepertinya mengantuk lagi aku ingin istirahat.. " kata Nadia lemah dengan tatapan memohon kepada Steve
Steve pun tersenyum dan menuruti permintaan Nadia dia mengelus rambut Nadia kemudian pergi meninggalkan Nadia
yang langsung menangis tersedu sedu
"Sepertinya kita tak akan pernah bisa mewujudkan keinginan untuk bersama seperti yang kamu ingin kan.. "gumam Nadia di dalam tangis nya yang mulai terisak
Entah mengapa baru beberapa bulan mereka bertemu tapi hatinya sudah begitu terikat dengan Steve hingga merasa sakit seperti teriris sembilu ketika pak Adijaya mengatakan dia harus menjauhi Steve dan tak pantas untuk Steve yang sangat ia cintai kalau saja dia tak membuka hatinya untuk Steve dan tetap menjauhinya dulu mungkin dia tak akan merasakan kesakitan seperti sekarang ini