A Love Story

A Love Story
Bab 44



Seorang pria berdiri di atas jembatan yang di bawahnya air sungai mengalir dengan deras pria itu seolah sedang menunggu sesuatu, menatap air sungai dengan tatapan kerinduan dan kesedihan terpancar di matanya


Tapi sepertinya sesuatu yang ia tunggu tak kunjung datang dan tak akan mungkin datang, Pria itu menyadarinya dan menghela nafas dalam, matanya terpenjam menahan buliran yang akan terjatuh ke pipinya rambutnya tertiup angin sampai menutupi dahi menutupi wajah tampan yang terbalut kesedihan dan tangan nya mengenggam erat sebuah kalung berliontin kupu kupu. kemudian ia melemparkan buket bunga ke sungai di bawahnya pria itu tak lain adalah Steve


Sepuluh tahun telah berlalu namun secuil pun kenangannya bersama Nadia tak pernah terlupakan melekat erat di hatinya


Hari ini adalah hari yang paling menyakitkan dalam hidupnya hari dimana gadis yang ia cintai melompat dari jembatan itu dan menghilang tak kembali lagi tak tau ia hidup atau pun sudah tiada


"Kau masih memikirkan nya..?? " tiba tiba seorang pria berdiri di sampingnya dan ikut menatap air sungai yang mengalir deras


"Masih.. dan tak akan mungkin ku lupakan " balas Steve dengan nada datar dia tidak terkejut dengan kedatangan saudaranya yang tiba-tiba itu, karena memang dia selalu di ikuti oleh Devano atas perintah orang tuanya agar dia tak melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya sendiri


"Pulanglah ke rumah mama menunggumu " kata Devano masih menatap air sungai


"Aku masih ingin di sini menunggu kekasih ku" kata Steve datar dengan sorot mata kerinduanya yang selalu menyedihkan jika terlihat oleh orang lain


Devano menghela nafas dalam


"Aku tau perasaan mu Steve,lampiaskan sesukamu lalu lupakan kenangan dengan nya dan lanjutkan hidup mu,Aku yang paling tau rasanya kehilangan orang yang paling ku sayang, dan aku yakin kau juga akan menemukan wanita yang akan mengubah perasaan mu dan membahagiakan mu " kata Devano dengan menepuk bahu Steve


"Tungguilah dia sesukamu" kata Devano lalu masuk kedalam mobilnya dan pergi meninggalkan Steve sendirian


Steve berjalan menuju rumah kecil yang baru ia bangun,rumah itu terletak di area paling pojok, rumah kecil yang terasa nyaman bagi Steve karena dulu adalah bekas kostan Nadia yang di beli oleh Steve dan membangunnya menjadi rumah kecil yang nyaman untuk di tinggali


Disana lah ia merasa kenangan bersama Nadia semakin jelas


Steve membuka pintu rumah dan membayang kan Nadia yang membukakan nya pintu dan tersenyum padanya menyiapkan makanan dan menaruh jas dan sepatunya seperti seorang istri


Tapi yang ada hanya rasa hampa yang menyambutnya,Steve menjatuhkan badannya ke soffa yang ada di ruang tamu mengusap wajahnya beberapa kali


"Sayang aku merindukan mu.. " gumam Steve lirih menatap kalung kupu kupunya dengan kesedihan yang mendalam


****


Suara benda jatuh memenuhi ruangan kerja di sebuah kantor beberapa file berserakan di lantai seorang pria berkacamata terlihat tegang dan ketakutan berdiri dihadapan meja yang terdapan plat nama yang bertuliskan CEO Steven Adijaya


"Sekretaris tak berguna melakukan hal seperti ini saja tidak bisa dasar otak udang bodoh.. " teriak Steve dengan kemarahan yang membludak membuat pria yang berdiri di hadapan nya menjadi bergetar setelah beberapa file map yang di lemparkan mengenai wajahnya


"Aku ingin rekan bisnis ku terkesima dengan kemampuan kerja perusahaan ku.. tapi kau tak becus melakukan nya "


"Ma.. maaf kan saya tuan.. "


"Tak ada maaf. kau di pecat.. angkat kaki dari perusahaan ku" teriak Steve dengan tatapan tajam nya yang seolah menusuk mencabik cabik yang ada di hadapan nya


Begitulah setelah Steve memperingati hari kepergian Nadia dia selalu melampiaskan kepada karyawan nya , sekecil apa pun kesalahan yang karyawan nya buat di hari itu dia akan menjadi sangat marah dan memecat orang yang membuat kesalahan


Mungkin hari itu hari sial pria berkacamata karena salah memberikan file pada bos nya di saat suasana hati nya sedang tak baik.


Seluruh karyawan tau betul sikap atasan nya yang begitu tempramen sampai tak berani melakukan apa pun karena itulah cara kerja Ceo nya yang tegas dan berani hingga setelah Steve menjadi Ceo di perusahaan ayah nya, perusahan itu berkembang pesat menjadi perusahaan besar, kukuasaan perusahaan Adijaya group mencakup seluruh negri dan Asia, hingga Nama Ceo Steve Adijaya menjadi terkenal bak seorang artis di tambah paras Steve Adijaya yang rupawan membuat perempuan yang menatapnya langsung terkesima namun sikap Tempramental,Dingin dan kasar membuat Steve di segani orang orang yang ada di sekitarnya


***


"Hei.. kenapa kau memecat sekertaris mu lagi.. kau membuat ku semakin sibuk.. " kata Devano dengan berdecak kesal mengurus yang seharusnya di lakukan oleh sekretaris Steve


"Dia tidak becus melakukan pekerjaannya dan aku memecatnya apa aku salah..?? " kata Steve ketus sambil masih melakukan pekerjaan nya


"Akhh.. memang kau tak pernah salah hanya aku yang tidak beruntung pekerjaan ku bertambah lagi..padahal aku sedang sibuk juga " teriak Devano kesal dan duduk dihadapan meja Steve lalu mulai mengerjakan tugas sekretaris Steve


Di kantor itu hanya Devano yang berani meneriaki Steve tapi karyawan yang lain hanya menatap pun tak berani sampai sampai takut jika Steve sedang berada di lift lalu berpas pas an dengan mereka


"Kalau kau menggerutu terus , kenapa kau tidak berhenti saja menjadi wakil Ceo hah..?? masih banyak yang mau menjadi wakil ku " tanya Steve dengan nada kesombongan dan masih sibuk memperhatikan laptop nya


"Kalau bukan karena permintaan mama aku tak sudi bisa se kantor dengan mu dan melihat sikapmu yang menyebalkan setiap hari.. " gerutu Devano dengan kesal dan melakukan tugas nya sebagai sekretaris Ceo


"Aku memang menginginkan kau tersiksa.. " kata Steve meledek terkekeh melihat wajah muram saudaranya yang sedang kesal


"Ya ya terserah padamu.. berhenti bergantung pada ku aku ingin menjadi seorang dokter bukan pesuruhmu dan lagi memikirkan pekerjaan kantoran membuat otak ku seakan mau meledak.."Devano menggerutu membanting berkas berkas ke mejanya


"Kau kan kaka ku yang pintar dan baik hati jadi aku akan selalu bergantung kepadamu" celetuk Steve


itu lah kata kata Steve yang selalu menahan Devano agar dia tetap berada di samping Steve karena adik nya itu terlalu berharga dan takut Steve menyakiti dirinya sendiri seperti yang ia lakukan dulu


"Terserah kau.. aku ingin segera pulang dan menemui calon istriku pernikahan ku dua minggu lagi dan kau masih mempekerjakan ku seperti ini " umpat Devano dengan kesal


"Baguslah agar kau tak ada stamina saat malam pertama mu nanti.. dan kau akan mulai libur sehari sebelum pernikahan mu dan akan bekerja lagi dua hari setelahnya " kata Steve sambil terkeukeuh


"Dasar adik durhaka.. " teriak Devano yang tadinya semangat bekerja menjadi kesal Steve hanya tertawa melihat kelakuan Devano yang terlihat prustasi mengacak acak rambutnya sendiri, tawa yang baru Devano lihat lagi setelah beberapa lama


Devano tersenyum ironi karena tawa itu hanya sekilas dan pada akhirnya Steve akan murung kembali jika mengingat kenangan nya tentang Nadia


"Hadian pernikahan apa yang kau ingin kan.. apa aku berikan sebuah rumah saja untuk mu.." kata Steve sambil menopang kening dengan telapak tangan nya


"Aku hanya butuh kau segera mendapatkan kebahagiaan kembali Steve.. " gumam Devano dengan wajah yang terlihat sedih menatap Steve yang tersenyum padanya tapi matanya menggambarkan kesedihan yang mendalam


Bisa bisanya dia tersenyum dengan mata yang penuh keperihan itu