
Di pantai dengan deburan ombak yang begitu besar tubuh bu Mira tertelungkup di pasir dengan ke adaan hampir sekarat dia telah bergelut dengan anak buah bu Melinda di atas kapal
Bu Mira ternyata akan di jual ke Luar negri untuk di jadikan wanita penghibur, itu yang bu Mira dengar dari percakapan antara anak buah bu Melinda dan yang di sambungan telpon nya saat dirinya telah sadar dari pingsan nya sehingga bu Mira nekad menceburkan diri kedalam laut Meskipun itu beresiko dia kehilangan nyawanya, tapi pikir nya lebih baik dia mati dari pada harus menjadi seorang wanita penghibur yang melayani para laki laki hidung belang.
Pak Adijaya yang sedang memandangi laut lepas dan berjalan jalan santai di sore hari menjelang magrib
Wajah nya terlihat sangat begitu sedih dan terpuruk karena istrinya baru meninggal 2 bulan yang lalu meninggalkan nya beserta anak nya yang baru berusia 2 tahun
Pak Adijaya di ajak berlibur oleh rekan kerja nya untuk menenangkan pikirannya karena teman teman nya begitu prihatin melihat Pak Adijaya yang selalu melamun dan pendiam setelah kehilangan isteri tercintanya
"Haruska aku menceburkan diri ku ke laut itu untuk menyusul mu.. ??" gumam pak Adijaya memandang kosong ke arah laut dan mengingat kenangan bersama isterinya
"Tapi bagaimana dengan nasib anakku kalau aku mati.. tidak tidak aku harus hidup untuk mebahagiakan anak ku Steve" gumam pak Adijaya lagi seolah menyemangati dirinya sendiri walau hatinya terasa sesak dengan kepedihan yang sungguh luar biasa baginya
Dikejauhan pak Adijaya melihat sesuatu yang aneh seperti ada orang yang tertelungkup di atas pasir dan pak Adijaya pun mendekati nya dan terkejut melihat seorang wanita yang di sangka sudah tak bernyawa
Lalu pak Adijaya mengecek denyut nadi bu Mira yang ternyata masih berdenyut pak Adijaya langsung menggendong tubuh bu Mira dan membawa nya kerumah sakit terdekat
Di salah satu ruangan rumah sakit terbaring bu Mira yang masih tak sadarkan diri dengan pak Adijaya duduk di kursi di samping tempat tidur dengan seorang anak balita yang berlari lari di dekat nya
Tak lama setelah itu bu Mira terlihat membuka mata nya
" Saya dimana..?? " kata bu Mira masih lemas
" ini di rumah sakit.. kamu tadi saya temukan
pingsan di pantai.." kata pak Adijaya
" anda siapa.. "
"Dimana anak saya.. dimana anak saya.. " kata bu Mira histeris mengingat kembali anaknya
" pasti wanita ular itu yang bawa anak ku " gumam bu Mira dan seketika itu dia bersedih dan mengingat kembali saat dia di tak sadarkan diri dan menangis sejadi jadi nya.
Pak Adijaya menjadi bingung dan segera memanggil dokter
Dokter pun datang dan segera memeriksa ke adaan bu Mira dan menyuntikkan obat penenang karena bu Mira
tidak bisa dikontrol
" Bagaimana ke adaanya dok..?? " kata pak Adijaya begitu gelisah
" ke adaan nya belum stabil mungkin karena ada trauma psikis pak
sebentar lagi dia akan sadar kembali " kata Dokter tersebut
"Kalau begitu terimakasih pak dokter" kata pak Adijaya
"Sama sama pak kalau begitu saya permisi dulu.. " kata dokter tersebut lalu pergi meninggalkan ruangan itu
" Siiapa kah wanita ini sebenarnya" kata pak Adijaya berbicara sendiri
Sedangkan anak nya menarik narik celana pak Adijaya
"appa ain..u ( papa main yuk) " celoteh balita tersebut sambil memberikan bola kecil pada pak Adijaya
" Iya sayang.. " kata pak Adijaya lembut
Saat mereka tengah asyik bermain bu Mira mulai sadarkan diri membuka matanya perlahan
"Amamma.. ammaamaa.. " kata si anak sambil menujuk bu Mira yang telah sadar pak Adijaya pun menoleh ke arah bu Mira yang sekarang tampak lebih tenang
" Iya mas , makasih mas udah nolongin saya.. saya sangat berhutang budi sama mas.. " kata bu Mira dengan lemah
" Tak apa apa.. sudah kewajiban kita untuk saling tolong menolong.." kata pak Adijaya sambil tersenyum
"Anda baik sekali pak.. "
kata bu Mira matanya sudah berkaca kaca mengingat bahwa suaminya tidak sebaik pak Adijaya
"Ammama.. amama.. angku" kata anak kecil yang di gendong pak Adijaya sambil menggapai gapai tangan nya kepada bu Mira
" Sayang jangan tantenya lagi sakit kasian,
jadi gabisa gendong kamu " kata pak Adijaya menenangkan anaknya namun anaknya tetap ingin di gendong bu Mira hingga dia menangis kejer
"Sini ga apa apa mas.. sepertinya anak mas se umuran anak saya " kata bu Mira seraya bangkit dari tidurnya di bantu oleh pak Adijaya dan Anak itu pun duduk di pangkuan bu Mira dan seperti merasa nyaman
" Mama.. ain u.. " kata anak itu
" boleh sayang tpi nanti kalo mamah udah......" bu Mira tak meneruskan ucapannya dia merasa steve adalah Daniel anaknya yang biasa ia minta main dan air mata nya pun bercucuran tak bisa terbendung lagi.
" Mama anis.. pa amma anis.. " celoteh anak balita itu sambil mengusap usap pipi bu Mira dan ikut menangis juga
"Ga apa apa sayang tante ga apa apa.. " kata bu Mira memeluk serta mengelus punggung Anak pak Adijaya dengan penuh kasih sayang
Pak Adijaya menantap sedih ke dua orang yang seperti ibu dan anak itu
" Mungkin Steve kangen sekali dengan ibu nya" gumam pak Adijaya memandang sedih tapi mencoba tak menitikan air mata
Sejak saat itu bu Mira dan Pak Adijaya selalu bertemu karena Steve selalu menanyakan bu Mira yang dia panggil mama
Hubungan mereka pun semakin dekat karena merasa bisa saling berbagi cerita pahitnya kehidupan yang di alami dan menyembuhkan luka hati mereka, saling mengisi kekosongan dalam hati mereka.
Apalagi bu Mira yang begitu terpukul dengan tidak adanya Daniel di kehidupan nya dengan adanya Steve membuat ia merasa anak nya masih bersamanya hingga dia mengurus Steve saperti anaknya sendiri
Bagi bu Mira kehadiran pak Adijaya dan Steve bagaikan malaikat penolong dalam hidupnya yang penuh kepahitan
Di dermaga kapal di pinggir laut bu Mira dan pak Adijaya berdiri berhadapan
" Mau kah kamu menikah dengan ku dan menjadi ibu dari anakku..?? " Kata pak Adijaya seraya berlutut di depan bu Mira memegang kotak merah kecil yang berisi cincin
bu Mira begitu terharu dan menitikan air matanya
" Iya mas.. aku mau menikah dengan mu " balas bu Mira tersenyum bahagia
Pak Adijaya seraya bangkit dan memeluk tubuh bu Mira lalu memandang wajah bu Mira dan menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik bu Mira yang tertiup angin laut di sore hari itu
" Aku berjanji tidak akan pernah menyakitimu Mira.. " kata pak Adijaya lalu mencium kening bu Mira
" Aku pegang janji mu mas.. " kata bu Mira lirih
Mereka pun saling berpelukan di dermaga kapal di pinggir laut tempat pertama kali pak Adijaya menemukan bu Mira
Dengan moment yang tepat ketika matahari yang mulai terbenam menambah keromantisan dan kehangatan lamaran pak Adijaya yang di warnai cahaya jingga kemerahan yang begitu indah di atas langit
##### Terimakasih sudah mampir readers sejati
kritik dan saran di persilahkan jangan lupa like vote dan komen ya..!!! 💖💖💖💖😍😍 #######