
Nadia duduk meringkuk sambil memeluk lututnya sendiri menyembunyikan wajah nya yang pucat dan sembab,
Pikiran nya berkecamuk memikirkan nasib dirinya yang tak pernah bahagia menjalani hidupnya semejak masih kecil dia begitu sangat kekurangan namun dulu keluarganya masih lengkap dan saling menyayangi
Tapi saat ini tak ada tempat untuk Nadia berkeluh kesah membagi beban hidupnya, tak ada tempat bersandar untuk menenangkan hatinya dan tak ada yang menghibur dirinya di saat Nadia berada di titik terendah dalam hidupnya
Dengan hati yang rapuh dan pikiran kalutnya membuat dirinya berpikiran Negatif
"Bagaimana kalau aku melepas semua beban dan rasa sakit ini, aku sudah tak sanggup lagi
Apa lagi yang harus di pertahan kan dengan hidupku bahkan sekarang aku tak berani untuk memikirkan tentang masa depan
hidupku sudah hancur berkeping keping
Mamah.. aku ingin tidur di pangkuanmu merasakan kehangatan pelukan mama lagi , belaianmu yang selembut sutra ketika mengantar ku tidur
mamah.. aku ingin menyusul mama.. " gumam hati Nadia merasa tak sanggup lagi untuk melanjutkan hidup
Nadia makin mengeratkan pelukan kepada dirinya sendiri mencoba menghangati dirinya yang begitu rapuh saat ini tanpa seorang pun yang bisa menjadi sandaran
Hampir seminggu semejak kejadian itu Nadia dan Steve tak pernah bertemu
Nadia pun seperti kehilangan semangat hidupnya selama seminggu itu dia tak bekerja sama sekali dan hanya meringkuk mengurung diri di kamarnya
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya dengan lemah Nadia beranjak bangun dari tempat tidurnya berjalan menuju pintu dan membukanya
Devano dan Diandra berdiri di depan pintu dan mencoba tersenyum
"Nadia boleh kami masuk..?? "tanya Devano dengan hati hati
"Silahkan.. "balas Nadia dengan suara pelan tak bersemangat
Devano dan Diandra pun duduk di atas karpet kumal yang ada di ruang tamu Nadia
"Kamu sudah agak baikkan...??"kata Diandra merasa khawatir melihat ke adaan Nadia karena wajahnya begitu pucat..
"hmm" jawab Nadia pelan
"Kami sebenarnya di perintahkan kepala sekolah untuk memberikan surat peringatan kepadamu.. entah aku harus senang atau sedih kamu tidak di keluarkan dari sekolah karena sebentar lagi kita akan ujian akhir, tapi kamu di skors beberapa minggu dan harus mencari kebenaran tentang Video itu.." kata Devano dengan hati hati tak ingin menambah beban pikiran Nadia
"Aku sudah tak peduli dengan sekolah.. "kata Nadia sambil menatap kosong ke arah depan
"Kamu harus semangat aku akan selalu ada untuk mu Nadia kita akan membantu kamu mencari siapa orang yang menyebar serta merekam video itu "kata Diandra sambil merangkul tubuh kurus Nadia mencoba memberi semangat kepada Nadia yang terlihat murung
"Sebelum itu.. ayo kita makan dulu aku dan Diandra sudah membeli makanan untuk mu.." kata Devano sambil menaruh tiga bungkus chiken dan nasi putih
"kalian saja yang makan.. aku tidak lapar.. " kata Nadia datar
"Ayo lah Nadia kamu juga butuh energi untuk mencari orang jahat itu.. kamu harus tetap semangat karena jika Steve ada disini dia juga pasti tak ingin melihat kamu bersedih
jika kamu ingin segera bertemu dengan Steve kita harus mencari orang jahat itu dan membersihkan nama mu kembali "
kata Diandra penuh semangat dan ceria agar Nadia ikut bersemangat seperti dirinya
"Tapi sebelumnya kamu harus makan agar kamu tetap kuat menghadapi semua ini.. . kamu mau di suapin sini aku suapin" oceh Diandra dengan perilaku seperti seorang ibu kepada anaknya mencoba menyuapi Nadia dan berhasil menyuapkan nasi pada mulut Nadia
Hingga Devano menahan senyum karena kebawelan Diandra
"Aku bisa makan sendiri Di.. kamu nyuapin aku kebanyakan "kata Nadia yang terlihat kesusahan saat mengunyah
"Ga apa apa biar kamu cepet gede.. melihat badan kamu yang kurus itu aku jadi ingin menangis " kata Diandra sambil menyuapi Nadia kembali membuat Nadia tak bisa menahan senyuman nya
"Terimakasih.. kalian memang teman yang baik.. " kata Nadia mencoba tersenyum tapi malah air mata yang mengalir di pipinya
Diandra menatap Nadia dengan sedih lalu memeluk Nadia sambil menepuk nepuk punggungnya
"Sudah jangan menangis kami akan selalu ada untuk mu " kata Diandra menenangkan Nadia sambil ikut menangis juga
Devano tersenyum melihat kedekatan Nadia dan Diandra dan terkagum kepada Diandra yang terlihat sangat judes di luar namun hatinya begitu baik dan sangat simpati kepada orang yang sedang kesusahan
"Gadis judes itu membuat ku tergila gila setiap hari sampai aku tak sabar ingin segera menikahinya.." gumam Devano pikiran itu terlintas kembali membuat wajah Devano menjadi merah merona
Setelah selesai makan Nadia, Diandra dan Devano menyusun strategi untuk mencari siapa dalang di balik perekam dan penyebar video itu
Karena itu mereka akan mencari dan menyelidiki laki laki yang bernama Angga untuk mendapatkan kebenaran membuat Angga bertanggung jawab dengan perbuatannya
"Sebaiknya kamu istirahat kamu terlihat begitu lelah dan lemah saat ini biar aku yang mencari informasi "kata Devano sambil menatap wajah Nadia yang terlihat pucat serta kantung mata yang menghitam
Memang setelah kejadian itu Nadia tak bisa tidur dengan nyenyak karena terlalu banyak pikiran sampai masuk ke dalam mimpinya
Nadia pun mengangguk kemudian pergi ke dalam kamar dengan di antar oleh Diandra
tak lama Nadia mulai tertidur pulas karena Diandra mengelus rambut nya dengan lembut
Setelah itu Devano dan Diandra mulai menjalankan rencananya
mereka duduk berdampingan sambil memperhatikan sebuah laptop
"Aku punya teman di berberapa kampus yang ada di kota ini.. aku sudah menyuruh mereka menyelidiki tentang laki laki yang bernama Angga Mungkin dia adalah mahasiswa di salah satu kampus " kata Devano dengan serius menatap laptop yang ada di depannya kemudian muncul data data pada laptop tersebut memperlihatkan ratusan propil orang yang bernama Angga serta poto nya dengan ciri ciri yang di kata kan Nadia
Akhirnya Devano mendapatkan poto orang yang mirip dengan laki laki yang ada di Video
"Kita mendapatkan nya dia mahasiswa di ******* " kata Devano dengan senang
"Tunggu apalagi ayo kita tangkap dia..!!"kata Diandra dengan penuh semangat
Mereka pun segera pergi untuk mencari laki laki yang bernama Angga dengan menggunakan mobil Devano
Setelah sampai di depan kampus Devano memarkir mobilnya di pinggir jalan dan memperhatikan dengan serius orang orang yang berlalulalang keluar masuk kampus tersebut
Setelah cukup lama menunggu terlihat seorang laki laki yang mirip seperti yang ada di foto keluar dari gerbang kampus sambil berjalan kaki
Diandra yang pertama kali melihat nya dan langsung keluar dari mobil berlari mengikuti laki laki yang berjalan kaki tersebut
Devano menyusul dengan cepat lalu memegang tangan Diandra
"Kamu jangan gegabah jangan berlari seperti tadi.. jangan membuat orang itu curiga kalau kita sedang mengikutinnya.. " bisik Devano dengan hati hati
Diandra pun menurut mereka berjalan seperti biasanya dan saling berpegangan tangan agar Angga yang ada di depan mereka tidak curiga..
Angga terus berjalan dengan santai nya dan ia memasuki gang sempit dengan rumah rumah yang berdempetan sedangkan Devano dan Diandra dengan hati hati mengikuti Angga masuk kedalam gang yang sepi hanya ada Angga dan mereka yang mengikuti nya
Angga mulai merasa ada yang mengikutinya dan menoleh ke belakang
tapi dengan cepat Devano menarik tangan Diandra untuk bersembunyi di celah sempit perbatasan antara rumah rumah warga
Celah itu Sempit sekali sampai badan Devano dan Diandra sangat dekat hampir bersentuhan
Angga merasa tak ada siapa siapa dan meneruskan langkahnya
Devano dan Diandra menarik nafas karena mereka hampir ketauan
Tapi seketika terasa ada yang merayap di tangan Diandra , dengan sedikit takut Diandra melirik ke bawah dan melihat ada seekor kecoa merayap di tangan nya
Diandra begitu takut pada kecoa ia hendak berteriak dan meloncat ke luar dari persembunyianya tapi dengan sigap Devano menutup mulut Diandra dengan tanganya dan menahan tubuh Diandra dengan merapatkan nya ke tembok rumah warga agar tidak terlihat oleh Angga yang mereka ikuti
Mata Diaandra terbelalak merasakan Kecoa itu makin merayap ke atas lengannya replek menyembunyikan wajah nya ke dada Devano karena tak mau melihat kecoa
untungnya Devano langsung menghempaskan kecoa dari tangannya dan memeluk Diandra
Devano dan Diandra begitu dekat sampai detak jantung mereka terdengar oleh satu sama lain dengan mata Diandra yang membelalak menatap Devano karena hampir rencana mereka ketahuan
Dengan perlahan Devano melepaskan tangan nya pada mulut Diandra dan tak sengaja matanya melirik bibir Diandra yang ranum berwarna pink berkilau begitu terlihat sangat manis
Dengan kondisi badan mereka saat ini yang begitu menempel dekat sekali Devano tak bisa mengendalikan hasrat nya ke pada Diandra
Devano memegang kedua pipi Diandra dengan lembut kemudian menunduk dan mencium bibir Diandra
Diandra yang terkejut lalu mendorong dada Devano untuk menghindar
"Dev ini bukan waktunya untuk.. " kata kata Diandra terhenti karena Devano mencium kembali bibir nya sekarang malah semakin agresif ******* bibir Diandra yang terasa seperti permen begitu manis dan menggoda "Pleas sebentar saja.. " bisik Devano lirih lalu mencium Diandra kembali dengan penuh hasrat tangan nya turun menelusuri leher Diandra dan terus semakin kebawah
"Nghh.. Dev hentikan.." erang Diandra ingin memberontak namun Devano masih saja menelusuri tubuh Diandra
Hingga Diandra kesal lalu dengan sengaja menginjak kaki Devano dengan keras membuat Devano mengaduh kesakitan dan melepaskan ciumannya
"Sakit tau.. " bisik Devano agak sedikit kesal karena dia jadi berhenti mencium Diandra
"Rasain.. lagian kamu tuh ga tau waktu kita harus menangkap laki laki itu kan..??" bisik Diandra sedikit kesal sambil memelototi Devano
"Oh iya sampai lupa.. kamu sih begitu menggemaskan lain kali kamu ga usah ikut bikin aku ga fokus tau ga.. "bisik Devano lagi tanpa rasa bersalah sedikit pun
" Malah nyalahin aku.. kan kamu yang nyosor duluan.. " bisik Diandra lagi sambil cemberut kepada Devano
" Udah lah sekarang ayo kita kembali membuntuti orang itu lagi " bisik Devano mencoba mengalihkan pembicaraan ia memperhatikan sekeliling
Devano dan Diandra berjalan dengan cepat menyusul Angga yang sudah mulai menjauh dari pandangan mereka