
Setelah kedua kalinya Cecilia membawa setumpuk berkas yang benar dan menyerahkan kepada Steve
dengan menahan rasa cape nya Cecilia berdiri di depan meja Steve sambil sesekali menyeka keringatan nya dengan tangan dan memasang wajah cemberut karena kekesalan nya kepada Steve
"Jadi sekarang apa yang harus kulakukan lagi.. " kata Cecilia dengan ketus
"Buatkan aku kopi.. "
Apa apaan dia memangnya aku pesuruhnya apa
Cecilia menatap kesal kearah Steve dan mengepalkan kedua tangan nya geram namun dia bertekad kalau dia harus berhasil mendapatkan Steve dan membuat Steve menyukainya, entah kenapa setelah bertemu dengan Steve Cecilia selalu terbayang bayang wajah Steve yang selalu terlihat bersedih dan berputus asa sampai terbawa dalam mimpinya hingga dia merengek kepada ayah nya untuk masuk perusahaan Adijaya Group agar lebih dekat dengan Steve
"Hei kau dengar tidak.. " kata Steve memperkeras suara nya hingga Cecilia yang sedang melamun melonjak kaget
Seolah terhipnotis Cecilia mengangguk dan langsung keluar untuk membuatkan kopi untuk Steve
Beberapa lama kemudian Cecilia kembali dengan membawa secangkir kopi panas di tangan nya dan langsung meletakan di meja Steve
"Minum lah.. " kata Cecilia dengan tersenyum
Steve perlahan mengambil cangkir kopi dan menghirup aroma kopi setelah itu menyesap perlahan kopi tersebut
Cecilia memandang Steve dengan lekat
yang saat minum kopi saja begitu mempesona mata Cecilia berbinar melihat Steve mau meminum kopi buatannya
Namun tiba tiba Steve menyemburkan kopi itu sambil melonjak..
"Asinn... Beraninya kau membuatkan ku kopi asin.. " teriak Steve menaruh cangkir kopi dengan keras ke mejanya tatapan matanya seolah ingin melahap bulat bulat Cecilia hingga Cecilia terkaget
"Maafkan aku akan kuganti kopinnya.. " kata Cecilia dengan bergetar lalu secara infulsif dia menarik cangkir kopi dengan cepat sampai air kopi terseok karena terguncang lalu tumpah ke tangan nya
"Akhhh.. " pekik Cecilia menahan perih karena siraman kopi panas di tangan nya
Hal itu membuat Steve terkejut juga secara replek Steve memegang tangan Cecilia lalu meniupinya
"Hei kau tidak apa apa..?? " kata Steve masih meniupi tangan Cecilia wajah nya terlihat sedikit panik
Cecilia menatap Steve yang sedang meniupi tangannya
Ada apa dengan pria ini kenapa tiba tiba dia berubah peduli seperti ini
"Sudah aku tidak apa apa Tuan Steve.. tangan ku hanya tersiram sedikit.. " kata Cecilia pelan ketika melihat sinar kekhawatiran di mata Steve
Steve balas menatap Cecilia kemudian dia mengehmpas tangan Cecilia dengan kasar
"Bekerja lah dengan benar.. cepatlah buatkan aku kopi lagi.. dan awas kalo masih tidak enak.. " bentak Steve seketika wajah Khawatir Steve berubah menjadi dingin kembali
"Baik aku akan buat kan lagi.. " kata Cecilia lalu melangkah keluar
"Kenapa sih dengan pria ini apa dia mempunyai kepribadian ganda.. terkadang dia terlihat seperti anak kucing kehilangan induknya begitu menyedihkan ketika di lihat
lalu tiba tiba dia berubah menjadi macan garang yang siap memangsang.. sungguh aku makin penasaran dengan dia.. " gumam Cecilia sambil berjalan menuju pantri
Sedangkan di dalam ruangannya Steve menyandarkan kepalanya kekursi dan mengusap wajahnya dengan prustasi dan menarik nafas dalam
" Aku merasa kamu ada di samping ku saat menatap matanya tapi dia bukanlah kamu...
Sampai kapan aku harus menderita seperti ini Nadia.. " Steve memejamkan mata nya
Bukanya Steve tidak mau membuka hati untuk gadis lain nya namun dia bertekad sebelum mayat Nadia di ketemukan dia akan tetap menunggu Nadia pulang
Dan kata katanya saat berjanji untuk membuat Nadia menjadi perempuan satu satunya di dalam hidu Steve saat lamarannya di kaffe dulu mengikat erat hatinya, Dia hanya akan menunggu dan terus menunggu Sampai keajaiban datang kepadanya
Bagaimana jika suatu saat Nadia kembali dan Steve sudah bersama dengan perempuan lain itu yang selalu Steve takutkan
Hari sudah menjelang sore suana hening menyelimuti ruang kerja Steve karena para karyawan hampir semuanya sudah pulang menyisakan Steve yang masih bekerja dan juga Cecilia yang mulai tak betah duduk sesekali dia melirik ke jendela dan membuka tirai melihat ruangan kantor yang kosong
"Kapan kita akan pulang Tuan Steve..?? " tanya Cecilia dengan prustasi karena hari ini badan nya terasa pegal dan tulang tulang nya serasa mau patah karena Steve terus saja menguji nya dengan menyuruh kesana kemari, angkat barang ini dan itu serta melakukan pekerjaan yang seharusnya tak di kerjakan sekretaris yang hampir membuatnya pingsan karena kelelahan Namun sedetik pun Steve tak membiarkan Cecilia bersantai dalam satu ruangan dengannya dan baru lah saat akan menjelang pulang Steve memberikan tugas yang sesungguhnya kepada Cecilia yaitu jadwal harian Steve untuk pertemuan dengan rekan bisnis nya ,dan apa yang harus dia lakukan untuk menjadi sekretaris sesungguhnya
Steve melihat kegigihan Cecilia melakukan tugas yang ia berikan dengan cekatan tanpa menyerah walau sedikit terdengar mengeluh tapi dia tetap semangat menjalaninya hingga Steve menyerah dan memutuskan menerima Cecilia menjadi sekretarisnya
Sekali lagi Cecilia bertanya dengan suara yang dikeraskan
"Kapan kita akan pulang tuan Steve Adijaya..?? "
Akhirnya Steve menutup laptopnya kemudian merapikan jasnya lalu berdiri dan melangkah menuju pintu keluar Cecilia melonjak dari duduknya lalu mengambil tas tangan nya dan menyusul Steve keluar sambil bersungut sungut
"Dasar pria menyebalkan kenapa untuk menjawab saja susah sekali.. Apa dia berniat meninggalkan aku sendirian disini.." gerutu Cecilia di belakang Steve yang berjalan menuju lift lalu mereka masuk kedalam lift yang kosong karena karyawan sudah pulang semua
Sesekali Steve mencuri pandang ke arah Cecilia yang terlihat kedinginan
Ditambah posisi mereka yang berada di lantai 15 membuat angin mengehembus lebih dingin
Ketika Lift menunjukan angka 13 tiba tiba lift teras berguncang dan berhenti serta lampu di lift yang tiba tiba mati hingga kegelapan menelan mereka berdua
Cecilia memekik karena ketakutan
"Kenapa lift nya berhenti.. apa ada yang rusak "gerutu Steve lalu ia memijit tombol yang ada di lift namun lift masih tetap berhenti di lantai 13
"Aku takut.. " kata Cecilia lirih semakin mendekap dirinya sendiri
Dalam kegelapan menyelimuti mereka berdua Cecilia mulai merasa tubuhnya menggigil hingga gemertukan giginya terdengar oleh Steve
"Hei kau kenapa..?? " tanya Steve sambil menatap wajah Cecilia yang terlihat sangat pucat..
"Aku pobia gelap.. " kata Cecilia lirih
"Dasar penakut. cuma karena hal seperti ini saja kau sampai menggigil .. " kata Steve setengah mengejek
"Sungguh aku tidak bercanda.. aku lemas dan nafasku sesak.. " Cecilia mencoba menarik nafas dalam dalam dan menghembuskan beberapa kali
"Kau benar punya pobia seperti itu..?? " tanya Steve mulai merasa bimbang dan ia berusaha memencet tombol darurat yang ada di lift
Cecilia akhirnya jatuh terduduk untungnya Steve menahan tubuh nya hingga tidak terbentur ke lantai lift..
"Hei apa kau baik baik saja.. " tanya Steve sekarang kepanikan mulai menerpa dirinya karena tak ada seorang pun menghampiri mereka di lantai 13 ini
"Tolong.. aku takut.. ini lantai 13 kata teman teman ku lantai 13 adalah lantai terkutuk.. "kata Cecilia histeris masih memeluk dirinya sendiri
"Hei jangan bicara yang tidak tidak.. itu hanya mitos saja.. "
" Akan ada seorang perempuan berambut panjang dengan wajah menyeramkan mengesot di lantai dengan menyisakan noda darah yang mengerikan dimana mana.. "Kata Cecilia dengan histeris
"Shh.. hentikan.. berhenti membual kau hanya berhalusinasi . " kata Steve mencoba menenangkan Cecilia
tiba tiba lift terasa bergetar
"Akhhh... " pekik Cecilia tanpa sengaja dia memeluk Steve dengan erat
"A aku takutt.. " kata Cecilia dengan tersengal sengal karena nafasnya sesak
"sesak.. " kata Cecilia mulai terbatuk batuk dan memukul mukul dadanya sendiri
Steve merasa sangat panik karena Cecilia bisa melukai dirinya sendiri kalau terus memukul dadanya
Steve memegang erat tangan Cecilia supaya berhenti memukul diri sendiri
"Apa yang harus kulakukan..?? "tanya Steve sambil menatap khawatir pada Cecilia yang sangat terlihat pucat dengan nafas yang terputus putus
"nafas buatan... " kata Cecilia lemah hampir setengah sadar
"Apa.. " Steve kebingungan berpikir apa dia harus melakukanya atau membiarkan saja Cecilia tersiksa karena susah bernafas
Tapi Steve tak tega melihat Cecilia yang mulai merasa tercekik bernafas dengan tersengal sengal
Tanpa berpikir lagi Steve menempelkan bibirnya pada bibir Cecilia dan mulai memberikan nafas buatan
Berkali kali Steve mencoba bernafas lalu menghembuskan kembali kemulut Cecilia
Ternyata bibir Cecilia terasa manis membuat Steve tertegun beberapa saat,
Steve merasa hati nya berdebar kencang karena secara tidak langsung dia berciuman dengan Cecilia
Nafas Cecilia mulai terasa normal Hingga Cecilia bisa menghirup udara leluasa
Cecilia memejamkan matanya , wajahnya menelusup kedada bidang Steve dan tangan nya masih dengan erat memeluk tubuh Steve yang memberikan rasa tenang pada diri Cecilia
Steve menelan Saliva merasa canggung karena posisi intim nya dengan Cecilia namun jantung nya tetap berdetak cepat tanpa bisa di kontrol
Steve merasa ingin memeluk Cecilia lebih lama lagi
Siapa sebenarnya kau ini Cecilia tingkah mu dan Nadia berbeda tapi aku merasakan kehangatan yang sama saat memeluk dirimu , mendekap mu seperti ini membuatku merasa tenang, nyaman dan rileks
Steve menarik nafas dalam dan terbuai untuk memejamkan mata sejenak dengan Cecilia berada di pelukannya dan rasa kantuk mulai menelusup ke diri Steve dan akhirnya mereka berdua tertidur di lift yang masih belum bisa bergerak yang gelap tanpa cahaya lampu