A Love Story

A Love Story
Bab 49



Pagi hari itu Kesibukan di perusahaan Adijaya group telah di mulai.Suasana kantor terasa hening hanya suara ketikan komputer yang terdengar saling bersahutan


Dua orang perempuan berjalan beriringan melintasi para karyawan yang sedang sibuk berkutat dengan pekerjaan nya masing masing untuk menuju ruangan CEO perusahaan


Di ruangan yang bernuansa formal dengan warna abu abu dan putih mendominasi serta dokumen dukumen yang tersusun rapih di rak yang hampir penuh, ruangan pribadi CEO Steven Adijaya yang terasa formal dan kaku dan jika memasukinya hawa dingin terasa menusuk apalagi jika melihat paras sang empunya kursi kebesaran yang sama dingin dan kakunya dengan suasanan ruangan


Steve masih terlihat fokus membaca laporan yang tadi di berikan oleh Staffnya ketika pintu ruangan diketuk oleh seseorang dari luar


"Masuk.. " ucap Steve datar tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen yang sedang ia pelajari


"Permisi tuan Steve saya membawa biodata karyawan yang akan menggantikan posisi sekretaris pribadi anda yang kosong dan orng itu sedang menunggu di luar " kata perempuan itu dengan kaku takut salah berkata karena CEO nya terkenal tak suka berbasa basi dan tempramen jika ada sedikit saja kesalahan yang di perbuat karyawan nya


"Suruh dia masuk.." balas Steve singkat


"Baik tuan.. " kata perempuan itu


Perempuan itu menuju pintu depan dan berkata ke karyawan baru yang akan menjadi sekretaris pribadi Steve untuk segera masuk dan sebelumnya ia memberi wejangan agar berhati hati dalam bekerja karena Ceo perusahaan ini sangat lah menyeramkan jika sedang marah


Lalu mereka masuk kembali dan mengahadap ke Steve yang sedang berkutat dengan laptopnya


"Tuan ini orangnya.. " kata perempuan itu dengan hati hati


"Oke kau boleh pergi.. " kata Steve perempuan itu keluar dan sempat memberikan kode untuk waspada kepada karyawan baru yang hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya


***


Steve berhenti mengetik dan akan memulai intervew sekali lagi terhadap calon karyawan yang akan menjadi sekretaris pribadinya dan untuk mengetes seberapa kompeten orang ini melakukan tugasnya sebagai sekretaris pribadi


Ketika matanya bertatapan dengan perempuan yang berdiri dihadapanya Steve terkejut dan mengerutkan kening


"Kau... " Desis Steve seolah tak percaya melihat perempuan yang ada di hadapannya


Sementara Perempuan yang ternyata adalah Cecilia tersenyum senang dan menyapa Steve


"Selamat pagi tuan Steven Adijaya.. " kata nya dengan santai dan bergerak duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Steve


"Kenapa kau ada disini..?? " kata Steve dengan ketus menatap setajam pisau ke pada Cecilia


"Kau tidak lihat aku akan menjadi sekretaris pribadi mu " kata Cecilia dengan santai dengan tersenyum menggoda dan meletakan tangan nya di pipi dengan gerakan lambat lalu menatap Steve dengan lekat


Steve memandang tidak suka kepada Cecilia karena Cecilia terlihat tidak sopan dan berani berkata tidak formal kepadanya


"Dan mulai sekarang aku akan selalu menempel kepada mu.. " kata Cecilia dengan senyuman menggoda nya dan mengedipkan sebelah mata nya kepada Steve


"Kau.. berani bersikap kurang ajar kepada ku di hari pertama mu bekerja hah.. " geram Steve setelah melihat Cecilia mengedipkan matanya, ia menatap sangar kearah Cecilia namun Cecilia terlihat tak merasa terganggu sedikitpun


"Kau lebih tak sopan lagi.. karena memeluk seorang gadis sembarangan , dan aku ada disini untuk membalas perlakuan mu yang memeluku sampai jantung ku berdebar tak karuan "


"Kau sebaiknya kau pergi dari sini.. kau tidak ku terima bekerja disini.." Kata steve setengah menggeram


"Sayang sekali .. tapi kau tidak bisa memecatku karena aku di kirim oleh tuan Adijaya sendiri untuk jadi sekretaris mu dan kau tak bisa mengusirku dari sini "


"Jadi kau memakai nama ayah ku untuk masuk ke perusahaan ku tanpa ada kemampuan sama sekali.. baik lah.. aku akan mengetes mental mu seberapa kuat kau bisa bertahan bersama ku.. "kata Steve dengan ketus seperti mengancam Cecilia


"Tantangan mu ku terima.. tuan Steve Adijaya " Cecilia tersenyum dengan percaya diri lalu mengulurkan tangan untuk besalaman dengan Steve


Namun dengan kasar Steve menepis tangan Cecilia hingga Cecilia merasa sedikit kesakitan namun tetap menunjukan wajah beraninya


"Aturan pertama kau tak boleh menyentuh ku sedikit pun.. "kata Steve dengan ketus dan menatap tajam mata Cecilia


Cecilia menelan ludah dan sedikit merinding ngeri


Kenapa dia harus menyukai pria menyeramkan ini


****


"Terimakasih Merisa karena mau membantuku memasukan putri ku ke perusahaan Adijaya "kata Pak Erlangga yang sedang duduk di ruangan nya bersama dengan bu Merisa


"Sudah lah tak usah sungkan itu bukan hal yang sulit untukku.. "Bu Merisa tersenyum lalu mengambil salah satu cangkir kopi yang telah di sediakan oleh pegawai Pak Erlangga lalu dengan elegan menyesap kopi secara perlahan


"Tidak itu hal yang sangat aku hargai karena aku bisa mengabulkan keinginan putri ku


"Ternyata Kau begitu menyayangi putri mu.. "kata bu Merisa sambil tersenyum ironi karena pak Erlaga dulu menceritakan masa lalu kelam nya kepada bu Merisa yang terpaksa meninggalkan putri satu satunya sendirian


"Setelah semua penderitaan yang dialami putri ku karena aku dan keegoisan ku dulu membuat ku ingin membahagiakan putriku dan mengabulkan apa pun yang dia ingin kan.. meskipun tak sepadan dengan penderitaan yang dia alami selama ini.. " sejenak pak Erlangga menghela nafas dalam ketika mengingat masa lalu kelamnya "Aku benar benar seorang ayah yang jahat "


""Setidak nya kau menyesali semua yang kau lakukan.. "


"Tetapi tetap saja jika dulu aku bisa menjadi kepala keluarga yang baik dan tidak terlilit hutang kepada rentenir maka keluargaku.. istriku.. masih bersama ku saat ini


penyesalan ku tak pernah berakhir karena aku hanya diam saja saat istriku melindungiku dari serangan depkolektor hingga dia meregang nyawa di hadapan ku dan aku malah kabur bersembunyi seperti seorang pengecut.." mata pak Erlangga terpejam dengan bibir yang sudah bergetar menahan keperihan dan penyesalan yang sudah terlambat baginya


"Sudah Er.. semua itu sudah berlalu.. Bukanya sekarang putri mu sudah bahagia bersamamu.. "Bu Merisa coba menghibur pak Erlangga kembali sambil menepuk pelan bahu pria itu "Semuanya akan baik baik saja "


Pak Erlangga mengangguk kan kepala pelan dan mengendalikan perasaan nya kembali


Belum... ada satulagi yang belum terlaksanakan yaitu keinginan terbesar putriku sebelum kehilangan ingatan nya


****


Di perusahaan Adijaya gruop


"Ya ampun apa kah benar ini pekerjaan seorang sekretaris "Gumam Cecilia dengan kesal membawa setumpukan berkas berkas yang di inginkan oleh Steve sampai dia harus memiringkan kepalanya untuk melihat ke depan karena tumpukan berkas itu sama tingginya dengan kepala Cecilia


hik.. Apa dia sedang mengerjai ku saat ini.. aku ingin segera tiba di ruangan nya


Para karyawan menatap kedatangan Cecilia yang membawa setumpukan berkas yang menjulang tinggi tanpa mau membantu karena Steve mengintruksikan mereka untuk tidak membantu sekretaris barunya


Padahal para karyawan lelaki yang terpesona kepada Cecilia merasa kasihan kenapa gadis secantik Cecilia harus membawa berkas sebanyak itu ingin mereka menolong tapi ada singa galak yang siap menerkam di belakang mereka


"Tetap semangat ya.. "bisik perempuan yang tadi pagi membawa nya ke ruangan Steve .


Cecilia hanya mengangguk pasrah dan mempercepat langkahnya ingin segera meletakan tumpukan berkas ke meja Steve


Sementara di ruangan nya Steve tersenyum sinis misi pertamanya untuk membuat Cecilia dengan sukarela pergi dari kantornya baru akan di mulai


"Dia akan segera meninggalkan perusahaan ini . " gumam Steve dengan sinis sambil menjalin tangan nya di depan dagu


Suara pintu terbuka , dengan susah payah Cecilia membukanya tanpa bantuan dari siapa pun dengan setumpukan berkas di tangan nya lalu dia meletakan berkas berkas itu di meja Steve dengan kasar


"Tuan Steve tugas ku sudah selesai.. " kata Cecilia sambil terengah engah mengatur nafas


"Hmm.. " gumam Steve tanpa menoleh kepada Cecilia menyibukan diri menatap laptop nya


"Ishh menyebalkan sekali pria satu ini.. " gumam Cecilia perlahan


"Kau mengatakan sesuatu.. " kata Steve datar


"Tidak tuan.. aku bilang aku sudah membawakan berkas berkas ini untuk mu.. "


kata Cecilia mengelak


"Ohww.. " Steve lalu bergerak mengambil satu berkas yang paling atas dengan konsen mempelajari nya


Dan keningnya berkerut lalu menatap tajam ke arah Cecilia


"Apalagi sekarang.. " gumma hati Cecilia mewanti wanti


"Hei kau tidak menelitinnya terlebih dahulu sebelum membawanya kemari.. kau membawa kan ku berkas yang salah.. " teriak Steve hingga menggema keseluruh ruangan pribadinya, Cecilia merasa ngeri hingga meremas kedua tangan nya


"Bawa kembali berkas berkas ini ketempatnya semula dan kembali lagi dengan berkas yang benar.. " teriak Steve lagi hingga Cecilia hampir melangkah mundur karena kaget


"Baik lah.. aku akan kembalikan lagi.. " kata Cecilia tegas mencoba menyembunyikan rasa takutnya kepada Steve


"Cepat lakukan sekarang.." geram Steve dengan tatapan setajam siletnya


"Sialan kau Steve Adijaya " Geram hati Cecilia lalu dengan terpaksa membawa kembali tumpukan berkas yang bagaikan gunung itu..


Steve tersenyum sinis entah kenapa mengerjai Cecilia membuat dia merasa senang dan dia menunggu moment moment mengerjai Cecilia kembali


"Papahhh.. aku ingin pulang pah.. kenapa memperjuangkan cinta harus semenderita ini padahal banyak laki laki yang mengejarku tapi kenapa dia tidak tertarik sedikit pun pada pesona ku.. " gumam Hati Cecilia sambil kembali membawa tumpukan berkas berkas dengan keringat membasahi seluruh tubuhnya