
Saat ini Jia Li sedang duduk di pinggir danau dengan Mo An, membahas mengenai gosip yang beredar belakangan ini.
"ada gosip apa lagi di istana ini ?" ucap Jia Li kesal. Jia Li selalu menjadi dirinya sendiri saat bersama Mo An.
"huh... Reputasimu semakin buruk, mereka membuat cerita 'kau menggoda pangeran ke 3""ucap Mo An
"apa kau percaya ?" tanya Jia Li sambil menatap Mo An dengan mata menyelidiki.
"..." Mo An hanya diam. Kemudian dia menundukan kepalanya tidak berani menatap Jia Li, seolah-olah menunjukkan kalau dia percaya akan semua gosip yang beredar.
Jia Li yang melihat itu hal itu menatap sahabatnya dengan wajah terkejut, ia tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Dia tidak mengerti bagaimana sahabatnya itu bisa berpikiran begitu sempit, dan tidak masuk akal.
"mana mungkin aku menggodanya, lihat saja wajahku dan tubuhku ini. Aku tidak cantik dan tidak ada yang menarik mana mungkin dia tertarik padaku. Pangeran ke 3 dekat denganku cuman karena aku pintar tidak lebih, dan hubungan kami hanya sebatas pelayan dan majikan. Aku tidak memiliki niat lebih ! Aku bahkan tidak pernah memiliki khayalan untuk naik ke ranjangnya, apalagi ke dalam hatinya !. Aku tau diri...!" ucap Jia Li emosi.
Karena terlalu emosi Jia Li ingin sekali memukul sesuatu hingga tanpa ia sadari ia memukul pohon yang berada di sampingnya dengan tangannya.
"ah...." rintih Jia Li saat tangannya terasa sangat sakit, ia tidak tahu jika kulit pohon itu memiliki duri yang cukup tajam.
"hati-hat..." ucapan Mo An terhenti.
"aku kecewa padamu ! Aku pikir kau akan selalu percaya padaku karena kita sahabat. Selama ini hanya kamu yang paling dekat denganku dan lebih tau aku lebih baik dari siapapun, rupanya aku salah. Mungkin hanya aku yang berharap terlalu lebih pada mu" setelah mengatakan itu Jia Li berlari meninggalkan Mo An. Hati Jia Li benar-benar sedih.
Dari awal Jia Li bertemu dengan Mo An, ia mengira jika Mo An adalah gadis yang sangat baik dan bisa di percaya. Dari awal Jia Li datang ke zaman ini hanya Mo An yang selalu ada disampingnya, ia pikir Mo An adalah sahabatnya, tapi kelihatannya hanya Jia Li yang menganggapnya begitu. Hal itu menyakiti hati Jia Li.
Mo An hanya bisa terdiam, ia menatap Jia Li yang semakin menjauh dengan sedih. Ia tidak menyangka Jia Li menganggapnya sebagai sahabat dan mempercayainya begitu banyak, penyesalan datang dan Mo An merutuki kesalahannya.
Di tempat lain Wang Xuemin sedang berkuda dengan kakaknya, Wang Chunying. Tentunya mereka tidak berdua, mereka diikuti pengawal yang menjaga mereka. Mereka berkuda di padang rumput yang tidak jauh dari kota.
Wang Chunying terlihat tampan dengan baju berkudanya berwarna putih. Penampilannya semakin sempurna dengan menunggangi kuda hitam yang nampak kuat dan gagah. Sementara wang Xuemin memakai baju berkuda berwarna merah tua. Ia menunggang kuda berwarna coklat gelap yang tidak kalah kuat dan gagah dengan kuda milik Wang Chunying. Mereka berdua bagaikan dewa.
Wang Chunying menunggang kuda dengan sangat cepat, sementara Wang Xuemin menyusulnya di belakang. Wang Xuemin berusaha keras mengejar kakaknya, ia ingin mengalahkan Wang Chunying yang memang ahli dalam berkuda. Tapi saat sampai di tempat pemberhentian, Wang Xuemin tetap tidak bisa mengalahkan kakaknya. Meskipun Wang Xuemin tidak bisa mengalahkan kakaknya, tapi ia cukup puas karena kemampuan berkudanya sudah jauh lebih baik ketimbang dulu. Setelah puas bermain kuda Wang Chunying dan Wang Xuemin dan mulai merasa lelah mereka pergi ke pinggir sungai untuk beristirahat.
"aku dengar, kau terpikat dengan pelayan ?" ucap Wang Chunying. Ia menatap adiknya dengan senyum jahil.
"sejak kapan kakak mendengar gosip murahan ?" Wang Xuemin menatap kakaknya tidak percaya.
"hem... Hanya kebetulan mendengar saja. Jadi... Seperti apa dia ?" Wang Chunying menatap adiknya jahil.
"dia tidak cantik namun menarik, sangat dewasa, dan pintar. Jika kakak mengobrol dengannya, pasti 1 jam tidak akan cukup" ucap Wang Xuemin.
"wah... Aku jadi semakin penasaran. Apa boleh aku berkunjung ke tempatmu ?" Wang Chunying menatap adiknya dengan mata menyelidiki, dia ingin tau apakah adiknya itu benar-benar tidak memiliki perasaan lebih dengan pelayannya sendiri.
Wang Xuemin terdiam, namun pada akhirnya dia menjawabnya "...ya ...boleh" namun dari ucapannya ia terlihat tidak yakin.
Sudah cukup lama Wang Chunying tidak berkunjung ke-kediaman adiknya, itu karena sibuk mencari gadis yang menyelamatkannya. Wang Chunying bahkan hampir putus asa mencarinya. Sementara Wang Xuemin sendiri lebih banyak menghabiskan harinya di istananya, hal yang membuat Wang Chunying penasaran.
***
Di tempat lain Jia Li berlari secepat mungkin menuju taman belakang di kediaman pangeran ke3. Matanya telah memerah dan sudah berkaca-kaca karena menahan tangis, ia benar-benar merasa sangat kecewa dan hatinya terluka. Jia Li berlari ke belakang pohon besar, duduk di sana lalu menutupi wajahnya dengan tangannya. Saat itulah air matanya yang sedari tadi ia tahan kini turun, Jia Li menangis tanpa suara.
Di kehidupan dulu, Jia Li selalu di manjakan oleh orang tuanya, dan dikelilingi sahabat-sahabat yang menyayanginya dan selalu percaya padanya. Tapi di kehidupan ini, Jia Li benar-benar sendiri dan yang paling menyakitkan adalah orang yang ia anggap sebagai sahabat rupanya tidak menganggapnya. Jia Li merasa dipermainkan oleh takdir.
"aku... mau pulang" gumam Jia Li putus asa.
Hanya itu yang Jia Li inginkan, tapi sekeras apapun ia mencari jalan untuk pulang, ia tidak menemukan caranya. Yang ada hanya jalan buntu. Sudah hampir setengah tahun Jia Li ada di zaman ini, dan ia yang selalu tenang dan kuat mulai merasa putus asa. Siapa yang ada di posisinya pasti akan putus asa, bagaimana tidak Jia Li kehilangan keluarganya, sahabat, harta, kedudukan, karir, segalanya. Segalanya.
Tangis Jia Li terhenti saat mendengar suara burung. Jia Li lantas mencari asal suara, ternyata tidak jauh dari ia duduk tadi ada anak burung. Anak burung itu terlihat sangat cantik dengan ukuran sangat kecil, dan bulunya berwarna biru dan kuning. Anak burung itu seperti jatuh dari sarangnya pikir Jia Li. Jia Li melihat ke atas pohon dan benar saja, di atas pohon itu ada sarang burung.
Jia Li merasa kasihan pada burung itu, entah kenapa ia berpikir jika burung itu punya nasib yang sama dengannya.
"hai. Apa kau ingin pulang ke rumah ?" tanya Jia Li pada burung itu.
Jia Li pun mengambil anak burung itu dengan lembut, lalu meletakkannya di kantong bajunya yang agak longgar agar burung itu tidak terluka. Setelah memastikan anak burung itu aman, Jia Li mulai memanjat pohon. Entah keberanian dari mana untuk memanjat pohon, padahal ia belum pernah memanjat pohon selama hidupnya. Setelah sampai di atas pohon Jia Li langsung mengembalikan anak burung itu ke tempatnya, tapi baru beberapa menit burung itu ada di tempatnya anak burung itu kembali melompat keluar dari sangkar jia ingin menyelamatkannya namun gagal. Jia Li merasa takut, ia takut terjadi sesuatu pada anak burung itu, tapi tanpa diduga anak burung itu malah terbang, terbang semakin tinggi. Jia Li yang melihat itu tersadar akan sesuatu.
Burung itu seakan memberitahunya sesuatu, meskipun kamu terjatuh, dan tidak memiliki siapapun untuk bertanya apalagi meminta tolong, itu semua bukanlah akhir segalanya. Dengan usaha dan kerja keras meskipun terjatuh berkali-kali, tapi suatu hari bisa terbang, terbang tinggi diatas langit seperti burung tadi.
"jika anak burung itu bisa bangkit dari keterpurukan, kenapa aku tidak. Aku pasti bisa terbang bebas den menemukan kebahagiaanku sendiri di dunia ini" ucap Jia Li dengan senyum percaya diri. Ya dia yakin akan menemukan kebahagiaannya.
Saat Jia Li hendak turun, ia baru menyadari jika pemandangan di atas pohon itu sangat indah. Ia tidak menyangka kediaman pangeran ke 3 cukup indah jika dilihat dari ketinggian. Setelah puas memandangi pemandangan itu, Jia Li hendak turun dari atas pohon, tapi ia terpeleset hingga terjatuh ke tanah.
"ah..." rintih Jia Li saat tubuhnya mendarat di tanah, tapi untungnya ia tidak ada terluka serius hanya sedikit sakit di bagian kaki kanannya saja. Hanya saja bajunya menjadi sangat kotor.
Jia Li berjalan dengan tertatih-tatih menuju kamarnya. Ia ingin mandi dan mengobati luka pada telapak kanannya dan kaki kanan. Tapi saat Jia Li hendak memasuki kamar seorang pelayan datang dan mengatakan jika pangeran ke 3 memanggilnya.
"baiklah aku akan kesana, aku mau ganti baju dulu" ucap Jia Li.
"kau benar-benar tidak tau diri. Apa kau mau membuat pangeran menunggu ha ?. Mentang-mentang kau pelayan kesukaannya, bukan berarti kau bisa bertindak tidak sopan dengan cara membuatnya menunggu !" ucap pelayan itu marah.
Jia Li yang mendengar itu hanya bisa bersabar. Dia tahu semua pelayan memusuhinya sekarang, jika pangeran ke3 sampai membencinya maka habis-lah dia.
"baiklah, aku akan kesana" ucap Jia Li pada akhirnya.
"Hari benar-benar buruk" gumam Jia Li.