
Sudah dua hari Jilli tidak bertemu dengan Jia Li. Dan Malam ini Jilli berencana untuk menemui Jia Li, dan memberikan kejutan kecil pada gadis itu.
"hai Jia Li" panggil Jilli. Panggilan Jilli yang tiba-tiba itu mengagetkan Jia Li.
Pria itu masuk lewat jendela kamar Jia Li.
"astaga, kau mengagetkan ku saja" ucap Jia Li kesal. Jia Li menatap pria itu tajam. Untung saat Jilli masuk dia memakai baju yang sopan, sempai tidak ia pasti akan sangat malu.
"hahahaha... Maaf maaf" ucap Jilli
"kenapa leluhur datang malam-malam ke tempat ku, jika ada orang yang salah paham pasti nama baikku akan tercemar !" ucap Jia Li kesal.
"kalau nama baikmu sampai tercemar, aku akan tanggung jawab. Tenang saja" ucap Jilli seperti bercanda. Lalu Jilli mengedipkan satu matanya.
"..."Jia Li hanya diam. Menatap Jilli dekan wajah kesal. Pria di hadapannya itu selalu saja datang dan pergi secara tiba-tiba dan suka sekali membuatnya kesal sampai-sampai Jia Li ingin mencekiknya.
"sudah jangan marah. Aku datang kesini cuman mau kasih sesuatu padamu" pria itu berjalan mendekati Jia Li lalu memberikannya sebuah kotak kayu.
"apa ini" tanya Jia Li.
"buka saja" Jilli mengambil kotak itu, lalu membukanya.
Jia Li menatap bola kaca yang diberi nama bola kenangan. Bola kaca itu termasuk barang yang sangat langka dan berharga. Selain itu bentuknya yang sangat indah dengan warna biru pucat dan sedikit bercahaya membuat bola itu menjadi incaran banyak orang. Jia Li menyentuh bola kaca itu dengan sangat hati-hati, tapi...tiba-tiba terdengar suara aneh yang terlihat dari bola kaca itu. Suara berat seorang pria. Pria yang sangat Jia Li rindukan.
"aku tidak mau dijodohkan dengan bocah ingusan yang jelek itu !" suara pria itu terdengar tegas.
Kemudian terdengar sebuah suara anak perempuan yang marah.
"aku juga tidak mau menikah dengan kamu dasar pria sombong" ucap anak perempuan itu tak kalah tegas.
Jia Li masih belum mengerti apa yang terjadi sebenarnya. 2 menit kemudian terdengar lagi suara itu.
"5 tahun tidak bertemu rupa kamu sudah menjelma menjadi gadis tercantik" suara pria dewasa itu terdengar begitu lembut.
"oh... Apakah sekarang kau mau menjadi suamiku ?" tanya gadis itu.
"tentu" jawab pria itu dengan mantap.
"uh...sayangnya gadis ini tidak sudi menikah denganmu DASAR PENJILAT !" gadis itu tertawa sinis. Dari suaranya bisa dilihat betapa bencinya gadis itu pada pria itu.
"kita lihat saja Jia Li. Aku Albern pasti bisa membuatmu jatuh cinta padaku !" pria itu terdengar begitu percaya diri.
"hem... Lakukan sesukamu. Tapi di masa depan jangan pernah menyesal karena terjebak dengan permainanmu sendiri !" Jia Li berusaha memperingatkan Albern.
Mata Jia Li mulai berkaca-kaca. Dia ingat sekarang siapa pria itu. Dia adalah Albern, tunangannya yang meninggal di hari pernikahan mereka. Pria yang mampu membuat Jia Li jatuh cinta, namun ia juga yang menghancurkan hati Jia Li dengan kepergiannya.
Sementara Jilli menatap Jia Li penuh tanya dan kebingungan dengan apa yang terjadi. Tapi entah kenapa ia merasakan rasa cemburu yang sangat menyiksa. Dia tidak suka dengan suara pria itu.
suara terdengar lagi.
"apa yang kau lakukan pria gil@. Kenapa kau menghancurkan pestaku ! Kau membuat ku malu di puluhan teman-teman ku !" Jia Li terdengar sangat marah.
"wajar aku marah. Siapa pun akan marah jika melihat tunangannya berpesta dengan banyak pria !" ucap Albern tidak mau kalah.
"kau seperti Jal*ng murahan yang dikelilingi pria itu !" tambah pria itu lagi.
"hei…!!! Jaga lidahmu itu ! Aku bukan jal@ng dan mereka hanya teman. Kau catat itu di kepalamu MEREKA HANYA TEMAN !!!" ucap Jia Li dengan nada tinggi. Itu menunjukkan jika dia sudah sangat marah.
"pokoknya tidak boleh. Aku tidak mau kau berteman dengan mereka, apalagi berkumpul dan berpesta !" ucap Albern.
"itu namanya egois . Dengar, meskipun aku masih tunangan kamu, kau tetap tidak bisa mengatur kehidupan ku" ucap Jia Li.
"aku tidak peduli, jika aku katakan tidak boleh ya tidak boleh !" ucap Albern
"kenapa tidak boleh sih ?" tanya Jia Li frustasi. Ia tidak suka diatur-atur.
"aaah...." teriak Albern frustasi.
"kau ini benar-benar tidak tahu, atau pura-pura bodoh hah !" tambah pria itu. *Ucapannya lebih seperti ejek untuk Jia Li.
"kau mungkin menganggap mereka teman, tapi tidak dengan mereka. Aku laki-laki, aku bisa melihat tatapan mereka sangat berbeda padamu !" tambah Albern seperti orang gila. Dari suara pria itu terdengar sedikit sedih.
"tidak, hanya kemasukan debu" bohong Albern. Ya..mana ada pria yang mengaku menangis.
"kau pikir aku sebodoh itu sampai tidak bisa melihat kebohonganmu ?" ucap Jia Li kesal*.
"tidak, ini karena kemasukan debu !"ucap Albern kesal. Dia benar-benar tidak mau mengaku.
"ya...kemasukan debu. Kau puas !" ucap Jia Li mengalah.
"kenapa sih kamu bisa segil@ ini ?" tanya Jia Li.
Cukup lama Albern terdiam. "kenapa aku segila ini ?! karna aku jatuh cinta padamu makanya aku segila ini !!!" ucap pria itu dengan nada tinggi.
"cinta ? Bagaimana bisa ?" tanya Jia Li . Dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"aku tidak tahu bagaimana bisa jatuh cinta denganmu. Perasaan itu muncul tiba-tiba tanpa bisa kucegah. Rasa sayang, cemburu, obsesi, egois, perasaan ingin memiliki, marah tidak jelas, kesal dan benci saat melihatnya bersama dengan pria lain. Perasaan itu semua bercampur menjadi satu. Ya...aku pikir itulah cinta. Perasaan aneh yang kadang bisa membuat orang buta dan menjadi hilang akal." ucap Albern. Ucapan pria itu terdengar sangat tulus, dan ucapan itu selalu saja membuat hati Jia Li berdebar.
"*lalu bagaimana dengan semua kekasihmu itu ?" tanya jia li sinis.
"mereka bukan kekasih ku, mereka hanya teman tidurku"Albern menjawab pertanyaan dengan sangat jujur. Ia memang menganggap mereka semua tidak lebih dari teman tidur.
"hah...wah..betapa bajing**nya kamu, Albern !" Jia Li tertawa sinis.
"seba****n apapun aku, aku tidak pernah sedikitpun menjadikanmu mainan ku. Hanya dirimu yang ku cinta dan selamanya hanya kamu" ucap pria itu.
"Jia Li. Aku tau, aku ba****n, tangan ku kotor dengan darah, aku bukan pria yang baik,dan aku tau jika aku punya banyak sekali dosa. Tapi...kali ini percayalah padaku, aku akan membuktikan padamu kalau akulah yang terbaik untuk mu. Jia Li, izinkan aku menjadi pelabuhan terakhirmu, izinkan aku menjagamu, izinkan aku menghujanimu dengan cintaku, membahagiakanmu, mewarnai hari-harimu, tua bersamamu,....izinkan aku menjadi suamimu dan...izinkan aku menjadi ayah dari anak-anakmu kelak"mohon Albern.
"ku...kumohon Jia Li. Beri aku kesempatan untuk membuktikan. Bukalah hatimu untukku Jia Li " mohon pria itu sendu. Katakanlah ia mencoba membuat Jia Li iba, karena hanya dengan menjadi lema mungkin Jia Li mau membuka pintu hatinya untuknya. Albern sudah tidak peduli lagi dengan harga dirinya sebagai laki-laki, yang ia pikirkan adalah bagaimana bisa menjadikan Jia Li sebagai miliknya selamanya.
Sementara Jia Li hanya diam.
"persetan dengan harga diri. Apapun akan kulakukan asalkan dia selamanya menjadi milikku. Jika dia tidak bisa kumiliki, maka yang lain tidak akan pernah bisa" gumam Albern yang masih bisa di dengar. Pria itu tetap saja keras kepala, hal yang paling Jia Li benci.
"baiklah, tapi bisakah kamu menyanggupi syarat dariku ?" ucap Jia Li
"apa itu ?" tanya Albern penuh semangat.
"yang pertama, kamu tinggalkan kebiasaan mu yang suka tidur dengan ****** itu. Yang kedua 60% hartamu diubah atas namaku. Yang ke 3 jika kamu ketahuan berselingkuh, aku bisa mengajukan cerai dan semua hartamu akan jadi milikku" ucap Jia Li. Ucapan hanya sebuah alasan agar Albern berhenti mengejarnya. Namun otak Jia Li mendadak buntu dan jantungnya mendadak berdebar kencang saat mendengar ucapan pria pria itu.
"lakukan sesukamu, asalkan kamu mau menjadi istriku. Bahkan aku rela mati agar bisa memiliki raga dan jiwamu" ucap pria itu dengan sangat serius.
Itu terdengar gila, tapi itu mampu meluluhkan hati Jia Li yang sangat sulit ditembus. Lagipula Jia Li suka dengan uang… bukan karena matre tapi ini memang kebutuhan. Yah… manusia butuh uang untuk bertahan hidup. itulah yang Jia Li pikirkan saat itu.
Seorang pria bermata biru dengan rambut coklat gelap terbayang di pikiran Jia Li, dia adalah Albern. Pria gila yang selalu mengejar Jia Li. Pria yang akhirnya mampu memenangkan hati Jia Li dengan segala usaha dan paksaannya, tapi pria itu juga yang menghancurkan hati Jia Li karena kematiannya di hari pernikahan mereka. Ya...Hati Jia Li benar-benar hancur saat mendengar pria yang dicintai meninggal karena tabrakan mobil tepat di hari pernikahan mereka. Jia Li bahkan hampir gila karena patah hati.
Tangan Jia Li gemetar sehingga bola kaca itu jatuh dari tamannya. Air mata Jia Li tidak bisa ditahan lagi dan tubuhnya mulai lemas.
"maaf, aku harus pergi" setelah mengatakan itu Jia Li berlari keluar. Ia meninggalkan Jilli yang masih terdiam.
Hati Jia Li terasa sakit saat ingatan tentang pria yang paling dicintai kembali terbayang.
Selama ini Jia Li berusaha melupakan tentang pria itu. Saat ia berhasil melupakannya, Jia Li mulai menata hidupnya kembali meskipun ia sulit membuka pintu hatinya kembali. Setelah kematian Alber tidak ada yang mampu membuatnya jatuh hati, ketulusan dan cinta Alber yang besar padanya benar-benar mampu mengukir namanya di dalam hati. Tidak pernah ada kenangan yang buruk saat bersama Alber. Hanya kebahagiaan saat bersamanya. Namun setiap kenangan itu muncul maka rasa rindu dan kehilangan selalu menyiksanya. Ia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa kekasihnya telah tiada.
Disisi lain. Jilli mematung saat mendengar suara-suara itu. Hatinya merasa sakit saat mendengar hal itu. Rasa sakit itu bukan karena ia cemburu, tapi karena menyadari betapa besarnya cintanya pada Jia Li. Perasaan pria bernama Alber pada Jia Li tidak hanya sekedar kata-kata, namun ia tunjukan dengan tindakan nyata. Jadi sangat wajar jika Jia Li juga mencintai pria itu.
"kenapa rasanya sangat sakit, tapi aku tidak tahu dimana rasa sakit itu" gumam Jilli. Jilli menyentuh dadanya, lalu meremas baju di sekitar dadanya dan tanpa ia sadari air matanya jatuh.
"ini menyakitkan !" ucap Jilli. lalu ia memukul dadanya pelan.
Jilli menatap arah diama Jia Li menghilang dengan wajah sedih.
Disisi lain, Jia Li menunggang kuda hitamnya dengan sangat cepat. Ia tidak tahu harus kemana, tapi yang jelas ia ingin pergi ketempat yang jauh. Tempat yang bisa menenangkan pikiran dan hatinya yang sedang kacau. Cukup jauh Jia Li berkuda, mungkin ia sudah berada di luar ibu kota sekarang.
-
_______
Terima kasih sudah baca novel ini. Jangan lupa like, comment (kritik dan saran ya), agar penulisan ku kedepannya bisa lebih bagus lagi dan aku jadi semangat nulis. 😊.