"Jia Li 2"

"Jia Li 2"
3



Pada tengah malam Jia Li menyelinap ke perpustakaan kekaisaran, karena hanya tengah malam lah penjagaan mulai longgar. Hanya beberapa prajurit yang menjaga dan berkeliling, asalkan hati-hati Jia Li yakin bisa menerobos masuk tanpa ketahuan.


Jia Li berjalan di kegelapan, ia berusaha keras berjalan di bayangan dan menjauhi penerangan. Meskipun sulit dan beberapa kali hampir terjatuh, Jia Li tetap melanjutkan perjalanan. Itulah Jia Li, tidak akan pernah menyerah mendapatkan apa yang ia inginkan. saat Jia Li berhasil masuk ke perpustakaan tanpa ketahuan oleh para prajurit lewat jendela belakang perpustakaan itu, ia cukup gembira.


Jia Li bisa melihat ruangan perpustakaan yang sangatlah itu, besar dan luas. Jia melihat banyak rak buku yang penuh dengan buku-buku penting. Dia yakin butuh bertahun-tahun agar bisa membaca semua buku di dalam sana.


Setelah memastikan keadaan aman, Jia Li mulai mencari buku yang dirasa menarik, apalagi kalau bukan pengobatan. Waktunya hanya sebentar, jadi Jia Li tidak mau membuang-buang waktu sedikitpun, karena sebelum jam 3 dini hari ia harus keluar dari perpustakan, karena di waktu itu para pelayan mulai sibuk bekerja. Beruntungnya, Jia Li selalu menghargai waktu sehingga dia tidak pernah lalai selama hidupnya. Begitulah yang selama ini orang tuanya ajarkan, waktu adalah uang, waktu sangatlah berharga, dan menghabiskan waktu tanpa manfaat sama saja menunda keberhasilan. Meskipun dengan membaca buku membuat jam tidur Jia Li berkurang namun ia tetap bersemangat tingkat tinggi. Kesempatan mengorek ilmu pengetahuan di perpustakaan istana tidak boleh di sia-siakan.


Semenjak hari itu, Jia Li selalu datang ke perpustakaan kekaisaran pada jam yang sama. Ia tidak akan masuk ke perpustakaan itu jika ada orang yang masih ada di perpustakaan itu pada jam yang sama dengan waktu ia datang, atau karena ada pekerjaan tambahan dari pelayan senior. Selama itu juga tidak ada yang mengetahui jika Jia Li masuk ke dalam sana, hal itu karena Jia Li selalu melakukannya dengan hati-hati agar tidak ada yang curiga dan sangat rapi sehingga tidak meninggalkan jejak barang sekecil apapun.


Pagi harinya, Jia Li melakukan rutinitasnya seperti biasa, apalagi kalau bukan membersihkan istana pangeran ke 3. Tapi hari ini terlihat berbeda karena pelayan yang lebih senior tiba-tiba saja membantunya bekerja bahkan di seluruh istana kekaisaran terlihat sangat sibuk, Jia Li yang penasaran memberanikan diri bertanya dan betapa terkejutnya saat mendengar ucapan dari salah satu pelayan senior itu.


"pangeran pertama,  pangeran ke 2, dan pangeran ke 3 telah pulang nanti malam. Mereka telah pulang dari berkualifikasi. Akan ada perayaan besar untuk menyambut para pangeran itu nanti malam."ucap salah satu pelayan senior.


Jia Li cukup terkejut, pasalnya tuannya akan segera pulang. Jia Li sebenarnya cukup penasaran dengan rupa pangeran ke3, dalam hati Jia Li dia bertanya-tanya 'apakah pangeran ke 3 akan mirip seperti lukisan yang selama ini dia lihat, atau.... lebih jelek atau lebih cantik". Terkadang lukisan/ foto seseorang akan di lebih-lebihkan agar bisa terlihat jauh lebih cantik dari aslinya, tidak lain agar lebih menarik dan enak dipandang, itu yang Jia Li tau dari kehidupan sebelumnya contohnya untuk kebutuhan iklan, film, atau kebutuhan hiburan dll.


Hari mulai gelap, para bangsawan mulai berdatangan ke istana. Banyak dari mereka yang datang bersama dengan anak perempuan mereka, banyak dari perempuan itu masih berusia 13-19 tahun dan berparas cantik. Para perempuan itu juga di dandan secantik dan semenarik mungkin, apalagi tujuannya jika bukan menarik hari para pangeran.


Pada malam hari, semua orang berada di aula istana. Para pelayan senior akan ada di sana untuk melayani tamu bangsawan, dan para prajurit akan lebih banyak menjaga di sekitar aula untuk menjaga keamanan. Pelayan rendahan seperti Jia Li tentu tidak diizinkan berada di aula tersebut, meskipun jia li ingin berada disana untuk melihat rupa dari pangeran ke 3 namun ia tetap tidak bisa. Bahkan jika dia menyelinap, pasti akan ketahuan mengingat penjagaan di sana akan sangat ketat. Beberapa pelayan rendahan akan bekerja di dapur sementara yang lain akan mencuri aktu istirahat, sama halnya dengan Jia Li. Jia Li juga akan mencuri waktu ini untuk pergi ke perpustakaan kerajaan, kemungkinan ia bisa menghabiskan waktu cukup banyak di sana.


Jia Li sudah siap dengan baju khusus serba hitam dan juga penutup wajah. Jia Li memang sengaja memakai baju seperti itu untuk melindungi identitasnya jika ketahuan nanti, seperti di film-film gitu.


Saat Jia Li mendekati perpustakan kekaisaran, dia melihat tempat itu sangat sepi. Bahkan tidak ada penjagaan. Bukannya itu sangat bagus sehingga ia bisa leluasa membaca. Tanpa membuang waktu Jia Li masuk ke dalam ruangan itu melalui jendela belakang seperti biasa. 


"baiklah, kita membaca buku yang mana ya ?" tanya Jia Li.


Jia Li mengambil buku mengenai obat-obatan herbal, setelah mengambil buku yang ingin di baca lalu Jia Li berjalan menuju jendela yang memiliki sedikit penerangan dari lampu minyak yang terpantul dari luar jendela. 


"meskipun membaca di ruangan gelap bisa membuat mata rusak, tapi aku tidak memiliki pilihan lain. Syukuri saja apa yang ada" ucap Jia Li.


Berkat kecerdasannya dan kecepatannya membaca membuat buku yang ia baca bisa selesai dalam waktu 2 jam. Setelah membaca buku tersebut, Jia Li mengembalikan buku tersebut ke rak semula. Saat Jia Li hendak mengambil buku lainnya, jia li tanpa sengaja melihat meja kayu yang diatasnya terdapat lampu minyak dan juga buku. Karena penasaran Jia Li mendekati meja itu, dia melihat kekiri dan kekanan memastikan apakah ada orang di sana. Setelah memastikan tidak ada orang, Jia Li mulai membaca buku itu dengan posisi berdiri. Dengan sekali membaca jia li sudah mengerti apa maksud dari buku tersebut, buku itu berisi tentang pangaruh wanita dalam politik.


"sebenarnya dalam politik kerajaan, mengambil selir adalah hal yang baik untuk memperkuat kedudukan raja. Tapi tentu itu, tidak akan baik untuk kedudukan permaisuri, karena posisi permaisuri bisa terancam kapan saja terutama posisinya di hati yang kaisar. Bagi seorang istri memiliki hati sang suami adalah hal yang paling berharga melebihi segalanya, dan ketika isi hati sang suami telah berganti tentu itu akan sangat melukai hati istrinya. Hal paling buruk adalah wanita yang terkenal baik bisa saja menjadi pembunuh saat hatinya hancur. Intinya adalah politik bisa saja dikendalikan oleh pemilik hati sang raja, karena kenyataannya pria sangat lemah terhadap orang yang dia cintai. Siapapun itu, termasuk raja, karena raja tetaplah manusia, dia punya kelemahan walau hanya sedikit. Tidak heran para wanita raja di harem bersaing ketat untuk mencuri hati sang raja, bukan cuman ingin mendapatkan kasih sayangnya namun juga mengendalikan politik. Liciknya.... Namun itulah kenyataan. Selain itu.....Selain itu saat anak-anak raja yang telah tumbuh besar pasti akan memperebutkan tahta, itu tidak akan bisa terelakkan. Terkadang anak-anak yang memiliki hati egois dan iri  pada akhirnya berusaha menaiki kursi emas, bahkan tidak jarang membunuh saudara sendiri. Tanpa mereka sadari hal itu bisa membuat kerajaan hancur. Hah... Kerajaan adalah penjara emas yang penuh dengan darah, seseorang harus pintar membedakan mana lawan dan mana kawan. Menyedihkan...aku... Merasa kasihan dengan mereka yang terkurung di istana dan mati menyedihkan karena perbuatan orang yang serakah....."


"Perempuan memiliki hati yang rapuh, mereka selalu menyembunyikan perasaan dan selalu mengatakan tidak apa-apa atau baik-baik saja, tapi kenyataannya dia sangatlah tersakiti sampai-sampai kata-kata tidak bisa menggambarkan isi hatinya yang terluka. Mungkin itulah yang permaisuri rasakan... Hatinya mungkin telah hancur tanpa tersisa...." ucap Jia Li sendu. Dia benar-benar merasa sedih dengan kondisi sang permaisuri. Mata jia li bahkan berkaca-kaca.


Tapi tiba-tiba Jia Li teringat kisah cinta di balik istana misterius di pedalaman cina beberapa bulan yang lalu.


"karena janji bisa diingkari, jadi yang ia butuhkan hanya pembuktikan... Raja itu benar-benar membuktikan cintanya yang tulus dan sucinya pada sang pujaan hati" ucap Jia Li. Jia Li membayangkan bagaimana rupa sang raja dan permaisuri. 


Jia Li beranjak dari tempat ia berdiri. Ia merasa sudah terlalu lama di perpustakaan dan harus secepatnya kembali, seseorang bisa saja curika karena mendapati ia tidak ada di tempat yang seharusnya. Jia Li mengembalikan posisi buku persis seperti semula, dia tidak mau ada yang curiga. Dengan cepat jia li menghilang dari kegelapan. 


Tanpi tanpa Jia Li tau, sedari tadi gerak geriknya terah diperhatikan oleh beberapa orang.


"siapa dia... ?" tanya seorang pria. Pria itu terlihat sangat cantik, melebihi seorang wanita. 


"entahlah. Awalnya aku pikir dia pembunuh bayaran, tapi aku perhatikan dia datang kesini hanya ingin membaca buku saja" ucap seorang pria lainnya, pria itu keluar dari bayang-bayang, wajahnya tidak jauh terlihat tampan dan terlihat berwibawa.


"meskipun begitu, kita harus berhati-hati kakak. Kita harus menyelidiki siapa sosok itu" ucap pria berwajah cantik itu. Pria berwajah tampan hanya diam tanpa menanggapi adiknya itu.


"lian, selidiki siapa orang itu" ucap pria berwajah cantik itu pada pria yang berdiri di balik bayangan, dia adalah kaki tangannya.


"ya, pangeran ke 3" ucap lian itu patuh. Setelah memberi hormat, lian pergi secepat kilat.


"tenanglah Wang Xuemin. Aku yakin dia bukan musuh kita, jika dia musuh kita mana mungkin dia memiliki hati yang begitu tulus pada ibunda kekaisaran" ucap pria berwajah tampan yang menasehati adiknya, ia begitu yakin karena bisa melihat ketulusan di mata sosok misterius itu. Pria itu adalah Wang Chunying, pangeran pertama yang kemungkinan besar menjadi raja selanjutnya. 


"hem...iya kak. Tapi... Apa benar hati ibunda telah hancur ?" tanya wang xuemin dengan wajah sendu.


"aku tidak tau. Tapi mungkin saja begitu" ucap Wang Chunying  dengan sendu.


Selama ini Wang Chunying  melihat ibunya nampak baik-baik saja, tapi jika di pikirkan bisa jadi apa yang dikatakan orang misterius itu ada benarnya. Semakin ia memikirkannya, maka ia semakin merasa sedih atas nama ibunya. 


"cepat geledah tempat ini dan jangan sampai ada yang terlewat" ucap Wang Chunying. Setelah perintah itu beberapa pria berpakaian hitam keluar dari bayangan dan segera menggeledah perpustakaan itu.


Sebenarnya niat awal mereka datang kesini adalah mencari tau tentang wasiat sang raja yang mungkin saja berada di tempat ini. Wasiat sang raja adalah wasiat mengenai siapa yang mewarisi tahta kekaisaran yang belum lama dibuat kaisar. Tapi siapa yang tau jika mereka akan bertemu sosok misterius, awalnya mereka pikir dia adalah mata-mata dari pangeran ke 2 tapi ternyata tidak, jika itu benar maka perpustakaan kekaisaran akan menjadi tempat ia dieksekusi. Tapi baik Wang Chunying dan juga Wang Xuemin sangat yakin jika sosok itu bukanlah orang biasa mengingat pengetahuannya politik dan taktiknya luar biasa. Mungkin jika mereka mendapatkan sosok itu, mereka akan memanfaatkan kecerdasannya.


***


Di tempat lain, jia li yang merasa diikuti bergerak dengan sangat lincah di kegelapan. Dia beberapa kali mencoba mengecoh orang yang sedari tadi mengikutinya, hingga jia li menemukan tempat yang cocok untuk bersembunyi. 


Jia Li bersembunyi di dalam danau di bagian yang terdapat banyak tentara teratai yang kebetulan tepat di bawah jembatan kayu. Air di danau itu sangat dingin, dan hampir membuat jia li mati rasa. Namun dia harus bertahan, ia takut jika pria yang mengikutinya adalah orang kekaisaran yang akan menghukumnya karena menyelinap masuk ke perpustakaan kaisaran. Setelah dirasa aman jia li baru keluar dari danau. 


"di....di...dingin" ucap jia li dengan suara gemetar.