"Jia Li 2"

"Jia Li 2"
46



"******* itu dari dulu selalu saja menggoda Wang Chunying. Benar-benar ****** sialan. Tidak cukupkah dia menghancurkan hidupku di kehidupan dulu, dan sekarang ia ingin menghancurkan hidupku lagi dengan merebut suami ku. Dia bahkan dengan beraninya merebut Wang Chunying dari ku. " ucap seorang wanita.


"tidak, ini tidak bisa dibiarkan. Baik dulu maupun sekarang, ****** sialan itu harus mati di tanganku. Tapi, sebelum itu dia harus menyaksikan pria tercintanya itu bercinta dengan ku." tambah wanita itu lagi.


*


*


*


"guru, anda terlihat senang sekali " ucap shen. 


Saat ini Shen dan Wang Chunying sedang duduk di ruangan belajar sambil membaca buku dan menikmati teh di malam hari.


"iya shen, aku pikir hubungan ku dengan istriku semakin membaik" ucap Wang Chunying dengan senyum kecil di bibirnya.


Shen juga ikut senang jika gurunya itu senang.


"ya, saya yakin cepat atau lambar nyonya akan menerima guru sebagai suaminya lagi." ucap Shen penuh keyakinan.


"ya, aku juga berharapnya begitu" ucap Wang Chunying.


Tiba-tiba terdengar suara dari balik pintu.


"master, ini saya Liu Bei" ucap Liu Bei dari balik pintu.


"ya, masuklah" ucap Wang Chunying.


Liu Bei pun masuk. Setelah masuk pria itu langsung menunduk dengan hormat.


"sudah malam, waktunya makan malam master dan guru Dhen" ucap Liu Bei mengingatkan. Semenjak master hadir, Liu Bei lah yang selalu mengurus keperluan Wang Chunying dan juga guru surgawi Shen.


"ya. Bawa makanannya ke sini" ucap Wang Chunying.


Setelah mendengar hal itu Liu Bei langsung pergi untuk mempersiapkan makanan untuk Wang Chunying dan Shen.


Tidak lama kemudian makanan pun dihidangkan oleh para pelayan. Wang Chunying dan Shen pun mulai makan, sedangkan Liu Bei hanya menjadi penonton. Liu Bei harus tetap disana untuk berjaga siapa tau guru surgawi Shen dan Wang Chunying membutuhkan sesuatu.


"guru, bagaimana kita menghadapi Jilli sekarang ? Pria itu masih belum menyerah" tanya Shen.


Mendengar hal itu, Wang Chunying terdiam sesaat.


"orang itu tidak menyerah untuk mendapatkan nyonya. Aku rasa keberadaan nyonya telah diketahui guru" lanjut shen lagi.


"perkuat keamanan di sini, jangan sampai Jilli menerobos masuk dan percepat pembangunan istana di gunung itu, aku akan pindah dengannya setelah istana itu selesai di bangun. Dan...pastikan jangan sampai lokasi istana ku itu tetap tersembunyi, kalau perlu gunakan sihir agar istana itu tidak diketahui para musuh ku. Aku tidak mau ada masalah dalam rumah tanggaku lagi" ucap Wang Chunying terdengar tegas  penuh dengan tuntutan.


"baik tuan" ucap Shen patuh.


Entah kenapa mengingat nama Jilli, Wang Chunying jadi tidak selera makan. Pasalnya setiap kali mengingat nama Jilli, ia akan selalu mengingat kejadian di mana Jia Li lebih memilih Jili daripada ia.  Wang Chunying menjadi marah, kesal, sedih dan itu sudah jelas jika ia sedang cemburu. Hal itu wajar karena ia sangat mencintai Jia Li hingga ketulangnya.


Wang Chunying mengambil tehnya lalu meminum dalam sekali teguk kan agar bisa memadamkan api kemaraan dalam dirinya. 


Shen dan Liu Bei yang melihat perubahan emosi Wang Chunying mulai bergidik ngeri. Mereka tahu jelas jika Wang Chunying sudah marah, maka semua orang akan terkena imbasnya bahkan orang-orang yang tidak bersalah sekalipun akan terkena amukannya. 


"ada apa dengan ku, kenapa rasanya panas sekali" gumam Wang Chunying saat menyadari keanehan dalam dirinya.


Wajah Wang Chunying memerah dan berkeringat karena kepanasan. Wang Chunying tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya, ia merasa ada sesuatu yang sangat aneh pada dirinya bahkan semakin lama rasa panas itu semakin menyiksa dirinya.


"Master ada apa ?" ucap Liu Bei saat menyadari keanehan pada Wang Chunying.


"guru, ada apa ?" Shen juga terlihat khawatir.


"panas " ucap Wang Chunying. Ia melonggar kan bajunya karena kepanasan. Tapi sayangnya itu percuma, rasa panas itu semakin menyiksanya.


"jia li" batin Wang Chunying. Entah kenapa Wang Chunying jadi ingin lebih dekat dengan istrinya itu. 


Wang Chunying bangkin lalu berjalan keluar ruangan menuju kediaman istrinya itu. Meskipun jalannya terhuyung-huyung karena rasa pusing dan gejolak aneh di dalam tubuhnya. 


"guru, master"  ucap Shen dan Liu Beli bersamaan yang kaget melihat tingkah gurunya.


 Panggil Shen dan Liu Bei yang terlihat khawatir dengan keadaan Wang Chunying. Namun panggilan mereka diabaikan Wang Chunying


"Jia Li" ucap Wang Chunying. Pria itu terus berjalan secepat yang dia bisa sambil memanggil nama sang istri. Tapi tiba-tiba Wang Chunying menjadi lemas dan hampir saja terjatuh.


Shen dan Liu Bei menjadi panik, mereka ingin membantu Wang Chunying. Namun saat mereka melangkah mendekat, pria itu malah mengatakan 'jangan mendekat" sehingga Shen dan Liu Bei tidak memiliki pilihan lain selain menjauhi pria itu. Mereka hanya bisa melihat penderitaan Wang Chunying dari ketahuan 


Wang Chunying berusaha berjalan dengan baik sambil berpegangan dengan dinding. Tiba-tiba seorang pelayan wanita datang mendekatinya. 


"guru surgawi Chunying, ada apa denganmu" tanya pelayan wanita. 


Pelayan wanita itu berpakaian dengan baju yang berbeda dengan seragam pelayan lainnya. Baju yang digunakan terlalu minum dan dandananya terlalu berlebihan untuk seorang pelayan. Meskipun begitu, penampilan wanita itu tetap terlihat cantik dan sangat menggoda. siapa saja yang melihat wanita itu pasti bisa menebak jika wanita itu berusaha menggoda guru surgawi Chunying.


Wanita itu dengan beraninya menyentuh lengan Wang Chunying dan membantu Wang Chunying untuk berdiri dengan benar. Wang Chunying menatap pelayan wanita itu. Sentuhan wanita itu membuat Wang Chunying menjadi sejuk, dan nyaman. 


Shen dan Liu Bei yang melihat itu entah kenapa merasa marah. Ia tidak suka jika ada wanita lain yang mencoba menggoda guru mereka, apalagi dengan cara licik seperti ini. 


Sesaat Wang Chunying terkejut saat melihat wajah wanita itu. 


Melihat Wang Chunying menatapnya, pelayan wanita itu menjadi malu. Ia mengira Wang Chunying terpesona dengannya, namun beberapa detik kemudian dengan kasarnya Wang Chunying mendorong pelayan wanita itu hingga terpental jauh, setelah itu tubuh pelayan wanita itu membentur dinding  lalu terjatuh ke lantai. Pelayan wanita itu bahkan sampai batuk darah.


Pelayan wanita itu menatap Wang Chunying dengan wajah sedih dan penuh kekecewaan. Matanya telah berkaca-kaca. Ia tidak menyangka Wang Chunying akan memperlakukannya sedemikian buruknya. Tanpa sadar air mata pelayan wanita itu terjatuh, rasa sakit di tubuhnya itu tudak seberapa tapi... Rasa sakit di hatinya itu terasa sangat menyiksanya.


"menjauh darku dasar ******" geram Wang Chunying. Ia menatap jijik dan penuh hina pada pelayan wanita yang dengan beraninya menyentuhnya itu.


Mungkin Wang Chunying sedang terpengaruh obat, atau dia sedang sakit, tapi… otaknya masih waras dan nafsu nya masih bisa dikendalikan. Hal itu tidak lain karena ia sangat mencintai Jia Li. Yah…kesetiaan itu adalah bukti cintanya pada Jia Li.


Setelah mengatakan itu Wang Chunying berlari secepat yang ia bisa menuju kediaman istrinya. Ya...hanya Jia Li yang ada di dalam otaknya saat ini. 


Melihat Wang Chunying telah berlari menjauh, Shen memutuskan mengabaikan pelayan wanita. Ia lebih memilih mengejar gurunya, ia takut terjadi sesuatu yang buruk dengan Wang Chunying. Sementara Liu Bei, pria itu menatap pelayan wanita itu penuh hina.


" kau bahkan tidak bisa menyaingi ujung kaki nyonya jia li, tapi beraninya kamu merayu master. Aku tidak sudi kamu menjadi nyonya ku sampai kapan pun, jadi… jangan bermimpi menjadi nyonyaku… dasar ****** murahan" mulut pedas Liu Bei itu selalu mampu mengeluarkan kata-kata tajam yang menyakiti hati siapa saja yang menjadi lawan bicaranya, contohnya pelayan wanita itu. Setelah mengatakan itu Liu Bei pergi. 


Pelayan wanita itu hanya bisa menatap kepergian Wang Chunying dengan sedih. Ia mengepalkan tangannya dengan kuat hingga tanpa sadar kuku-kuku panjangnya itu telah menembus daging di telapak tangannya hingga mengeluarkan darah.


"jia li...kau harus mati ! Aku bersumpah akan membunuhmu sama seperti di kehidupan sebelumnya !" ucap wanita itu penuh kebencian.