
aku...aku...aku..aku hanya suka membaca buku saja, apa karena aku pelayan rendahan sehingga aku tidak memiliki hak untuk membaca ?" tanya Jia Li polos.
Jia Li menjawab pertanyaan Wang Xuemin dengan jujur. Ia tidak memiliki maksud lain selain ingin membaca, mempelajari segala hal tentang zaman yang kini ia tinggali. Bagi Jia Li hanya dengan belajar lah ia bisa melihat dunia. Sama di kehidupannya yang dulu, pendidikan adalah no 1, seseorang tidak akan bisa bertahan jika terlalu bodoh di zamannya yang dulu.
Jawaban Jia Li membuan Wang Xuemin terkejut. Wajar jika Wang Xuemin terkejut, karena di zaman ini hanya para bangsawan yang bisa membaca dan menulis, sementara rakyat biasa tidak bisa. Hal itu karena biaya pendidikan sangat mahal di zaman ini. Hal itu diperparah dengan banyak orang kalangan bawah berpikir bahwa pendidikan tidak begitu penting, yang mereka pikirkan adalah mencari uang sebanyak mungkin lalu menjadi orang kaya. Tapi....gadis di depannya berbeda, dia bisa membaca dan suka membaca. Tapi timbul banyak pertanyaan di benak Wang Xuemin saat ini, seperti kenapa dia suka membaca ?, siapa yang mengajarinya ? dan masih banyak lagi.
"kenapa kau suka membaca ?" tanya Wang Xuemin lagi.
"karena buku adalah gudang ilmu, dengan membaca kita bisa melihat dunia dengan baik" jawaban Jia Li kembali mengejutkan Wang Xuemin. Dia tidak menyangka gadis itu akan menjawab pertanyaannya dengan baik dan lancar. Apalagi jawabannya adalah hal yang belum pernah ia dengar.
"siapa yang mengajarimu membaca ?" tanya Wang Xuemin lagi.
"jika saya katakan 'tidak ada yang mengajari saya" apa pangeran akan percaya ?" tanya Jia Li.
Wang Xuemin terdiam untuk waktu yang lama. Dia melihat Jia Li, berusaha mencari hal yang mencurigakan dari darinya. Sebenarnya Lian sudah menyelidiki gadis itu, dan catatannya bersih. Dia hanya seorang pelayan biasa dan salah satu anjingnya, namun Wang Xuemin tidak begitu puas dengan jawaban itu.
Sementara Jia Li hanya diam, ia juga sibuk dengan pikirannya. Ia takut Wang Xuemin salah paham dengannya lalu menghukumnya dengan berat.
"buku apa yang kau suka ?" tanya Wang Xuemin.
Ucapan Wang Xuemin menyadarkan Jia Li dari lamunannya.
"ah... apah pangeran ?" Jia Li
"buku apa yang kau suka ?" tanya Wang Xuemin lagi.
"saya suka buku pengobatan, dan buku mengenai obat-obatan" jawab Jia Li.
Wang Xuemin yang mendengar itu hanya mengangguk. Ucapan Wang Xuemin selanjutnya membuat Jia Li terkejut, sampai-sampai dia mematung.
"mulai sekarang kamu menjadi pelayan pribadiku. Kamu akan selalu ada disisi ku, jangan pernah punya niat kabur apalagi menghianatiku. Aku akan membunuhmu dan memberi jasadmu sebagai makanan ****" setelah mengatakan itu Wang Xuemin pergi.
Wang Xuemin masih belum percaya dengan apa yang ia dengar dan ia lihat. Maka dari itu dia memerintahkan Jia Li menjadi pelayan pribadinya agar bisa mengawasinya lebih dekat. Jika Jia Li tetap menjadi pelayan biasa, akan sangat sulit memantau pergerakannya.
Setelah Wang Xuemin pergi, tubub Jia Li jatuh terduduk. Impiannya adalah keluar dari penjara emas ini, tapi kini ia harus terjebak di sini demi menyelamatkan hidupnya sendiri. Jia Li hanya bisa menangis dalam hati. Ia ingin memaki, menjerit, dan memukul sesuatu untuk melampiaskan emosinya, tapi ia tidak bisa pasalnya ini kediaman pangeran, jika ada barang yang rusak bisa-bisa ia akan di hukum mati. Jia Li benar-benar tidak berdaya.
***
1 minggu berlalu dengan cepat. Semenjak hari Jia Li bertemu dengan Wang Xuemin, ia tinggal di salah satu kamar di istana Wang Xuemin, dan diperlakukan dengan sangat baik seperti makanan yang enak, paju yang bagus, tempat tinggal yang nyaman dan yang lebih penting pangeran ke 3 memperbolehkannya membaca buku di ruangan belajarnya. Sementara pekerjaan Jia Li sekarang adalah melayani setiap harinya, seperti menyiapkan teh, membantunya memakai pakaian, dan masih banyak lagi. Pekerjaan itu bisa dikatakan sangat mudah ketimbang pekerjaannya yang dulu. Sementara pelayan lain yang melihat Jia Li sekarang hanya bisa menatapnya penuh rasa iri.
Saat ini Jia Li sedang menemai Wang Xuemin. Pria itu sedang duduk berhadapan dengan Lian atau lebih tepatnya kaki tangannya. Mereka sedang bermain mahjong dengan sangat serius, meskipun Lian sudah beberapa kali kalah dari Wang Xuemin namun Lian tetap tidak menyerah. Lian yakin bisa mengalahkan tuannya dalam permainan mahjong.
"kau kalah lagi " ucap Wang Xuemin dengan wajah datar, dia merasa sangat bosan dengan permainan Lian.
"..." Lian yang kalah hanya bisa menunduk lesu. Ia padahal sudah berusaha keras mempelajari mahjong, tapi tetap saja tidak bisa mengalahkan tuannya.
Wang Xuemin menatap Jia Li. Gadis itu sedari tadi fokus memperhatikan caranya bermain, seolah-olah dia tahu caranya bermain mahjong. Terbersit ide di kepala Wang Xuemin.
"apa kau tau cara bermain mahjong, Jia Li?" tanya Wang Xuemin
Jia Li dan orang-orang di ruangan itu sudah tidak lagi terkejut dengan pertanyaan Wang Xuemin yang mendadak. Pria itu memang suka mengajukan pertanyaan di luar dugaan kepada Jia Li. Padahal awalnya mereka terkejut dengan banyaknya pertanyaan yang di ajukan Wang Xuemin kepada Jia Li, seperti 'pertanyaan apa kamu bisa membaca ?". Tapi semua orang-orang yang bekerja di istana Wang Xuemin juga sudah tahu jika Jia Li bukanlah orang bodoh, dia seorang jenius, karena di zaman ini pelayan mana bisa membaca atau menulis.
Jia Li lantas menjawabnya dengan jujur.
Di kehidupan sebelumnya Jia Li pernah di ajari neneknya bermain mahjong. Meskipun ia jarang bermain karena kesibukannya, tapi Jia Li pemain yang cukup baik.
"hem... Kenapa kau sudah menyerah sebelum mencoba ? " Jia Li yang mendengar pertanyaan itu hanya bisa terdiam.
"Aku tidak percaya dengan ucapanmu sebelum aku melihatnya sendiri. Kemari dan bermainlah denganku !" ucap Wang Xuemin.
Jia Li menghembuskan napas kasar untuk meredakan emosinya. Jia Li berjalan mendekati Wang Xuemin dan duduk di depannya, sementara Lian duduk di samping nya.
"bermainlah dengan baik, jangan berpura-pura bodoh ! " ucap Wang Xuemin sambil menatap Jia Li sinis. Jia Li merasa tercekik karena ditatap sinis oleh Wang Xuemin.
Jia Li, Wang Xuemin, dan Lian mulai bermain. 1 jam kemudian.
"kamu bilang, kemampuanmu bermain mahjong tidak cukup hebat untuk mengalahkan ku ? Rupanya kemampuanmu cukup hebat " ucap Wang Xuemin saat permainannya dengan Jia Li semakin sengit
Jia Li hanya diam. Sementara Lian sudah kalah dari awal permainan hanya bisa diam sambil terus menonton permainan Jia Li dan Wang Xuemin. Tapi siapa yang sangka diakhir permainan dimenangkan oleh Jia Li, semua orang yang hadir terkejut karena Jia Li mampu mengalahkan Wang Xuemin yang terkenal hebat dalam permainan mahjong, Jia Li bahkan tidak menyangka bisa mengalahkan Wang Xuemin.
"heh... Kau bilang, kemampuan mu tidak lebih baik dariku ?" Wang Xuemin tertawa sambil menatap Jia Li sinis
"kata pangeran, saya harus bermain dengan baik dan jangan berpura-pura bodoh. Jadi saya bermain dengan sebaik mungkin agar tidak mengecewakan pangeran, jika akhirnya yang memenangkan permainan adalah saya. Itu salah pangeran sendiri kenapa meminta saya bermain dengan benar dan jangan berpura-pura bodoh" ucap Jia Li yang nampak jelas terlihat kesal. Ia telah menahan kemarahannya dari tadi karena dilihat dengan sinis dan selalu diperintah ini dan itu.
Semua orang terkejut melihat sikap Jia Li yang dengan berani menyalahkan pangeran.
Jia Li yang menyadari kesalahannya lantas menundukan kepalanya dan meminta maaf.
"maafkan saya pangeran, saya telah berbuat salah" ucap Jia Li, dari raut wajahnya terlihat jelas jika ia ketakutan. Takut pria itu menghukumnya dengan berat, enak kalah langsung di hukum mati, kalau di siksa hingga mati gimana ?
Wang Xuemin yang melihat tingkah Jia Li tertawa dengan keras. Tawa yang sudah lama tidak pernah terlihat. Belum pernah ia menemukan ada orang yang berani tidak sopan padanya, apalagi jika orang itu adalah pelayannya sendiri, tapi entah kenapa Wang Xuemin merasa senang dengan sikap Jia Li yang seperti itu.
"kau harus lebih hati-hari. Jika sekali lagi aku terpaksa menghukummu" ucap Wang Xuemin pada akhirnya. Setelah mengatakan itu Wang Xuemin pergi dan diikuti pelayan lainnya. Kini tinggal Jia Li dan Lian.
"huh... Tumben sekali ia tidak marah" batin Lian.
Lian berjalan mendekati Jia Li dan duduk di sampingnya. Sementara Jia Li menarik napas panjang dan menghembuskannya kasar, ia merasa lega.
"untung pangeran tidak marah" ucap Lian.
"huh... Apa yang membuatmu betah bekerja dengannya ?" tanya Jia Li langsung. Ia menatap Lian dengan penuh rasa penasaran.
Jia Li merasa bingung, kenapa Lian begitu betah bekerja dengan orang seperti Wang Xuemin
"hem... Kau mau tau ?" tanya Lian.
Jia Li mengangguk kecil. Lian tersenyum kecil saat melihat tingkah Jia Li yang sangat menggemaskan.
"singkat cerita saat aku usia 10 tahun, aku kehilangan kedua orang tuaku. Saudara-saudaraku yang lain tidak mau menampungku karena mereka juga kesusahan sehingga aku menjadi gelandangan/ pengemis. Suatu hari tanpa sengaja aku bertemu dengan pangeran ke 3, karena kasihan pangeran ke 3 memungutku lalu jadilah aku seperti ini " ucap Lian.
Jia Li sedikit meragukan cerita itu. Dia tidak yakin Wang Xuemin memiliki hati sebaik itu padahal dia nampak sangat sombong dengan apa yang dia miliki.
Semenjak hari itu, ketika Wang Xuemin ingin bermain mahjong maka Jia Li pasti ada disampingnya untuk bermain. Semakin lama Jia Li menghabiskan waktu Wang Xuemin, ia semakin tau sifat buruk dan baiknya Wang Xuemin, pria itu hanya baik pada orang-orangnya dan akan bersikap buruk pada orang yang bukan orang-orangnya, ia juga hanya akan bersikap sangat ramah kepada orang-orang terdekatnya saja. Satu hal yang membuat Jia Li terkejut adalah saat mendengar ucapan Lian, ia bilang Wang Xuemin hanya patuh dengan ucapan kakak pertamanya, bahkan kaisar yang ayah kandungnya saja tidak pernah ia dengar. Kekecewaannya pada kaisarlah yang membuatnya menjadi pembangkang, namun seperti apapun Wang Xuemin memperlakukan ayahnya, ia tetap menjadi anak kesayangan kaisar.
Waktu berlalu dengan cepat hingga tanpa terasa sudah 3 bulan. Hari-hari Jia Li semakin baik, ia semakin mendapat perhatian lebih dari Wang Xuemin. Pria itu suka dekat dengan Jia Li karena otak Jia Li yang pintar, sikapnya yang dewasa, sangat enak untuk diajak bicara, jujur dan apa adanya. Hal itu membuat pria itu betah berlama-lama dengannya. Jia Li sendiri tidak masalah dengan hal itu, tapi pelayan lain menjadi sangat iri dengannya. Jia Li bahkan bisa melihat kemarahan dan kebencian dari sorot mata mereka, hal ini semakin diperparah dengan beredarnya gosip yaitu ' Jia Li. Pelayan rendahan itu, menggunakan sihir untuk membuat pangeran jatuh hati padanya"