
Saat ini Jia Li berdiri di pinggir danau, merenungkan apa yang terjadi padanya. 1 bulan yang lalu Jia li terbangun di tubuh seorang gadis berusia 10 tahun yang memiliki nama yang sama dengannya, awalnya dia kesulitan beradaptasi dengan keadaannya sekarang. Namun lambat laun dia menerimanya. Meskipun ia menerimanya, Jia Li tidak menyerah memikirkan cara agar bisa kembali ke zamannya. Dunia dimana seharusnya dia tinggali.
Jia Li menatap dirinya di pantulan air danau. Dia mengeluh melihat bentuk fisiknya sekali lagi. Bagaimana tidak tubuh gadis yang ia tempati saat ini tidaklah cantik, bahkan bisa dikatakan buruk rupa. Tubuh gadis ini gendut, kulitnya kusam, dan wajahnya penuh bintik, meskipun begitu Jai Li patut bersyukur karena ingatannya dari masa lalu dapat ia ingat dengan baik. Baginya kecantikan bisa di dapat asalkan memiliki uang dan ilmu pengetahuan, tapi otak yang pintar tidak bisa dibeli dengan uang.
"Jia Li, apa yang kau lakukan. Cepat ke istana pangeran ke 3 !" perintah seorang pelayan yang berdiri tidak jauh dari Jia Li.
"baik" patuh Jia Li.
Jia Li hanya bisa patuh dengan semua perintah yang diajukan. Hal itu karena dia masih belum mengenal orang-orang di istana itu dengan baik, dan dia juga tidak tahu peraturan yang berlaku di sana. Sebab itulah dia hanya bisa patuh, karena ia takut kesalahan sekecil apapun itu bisa saja mengancam nyawanya mengingat ini adalah istana dimana kasta tertinggi harus dipatuhi, sementara budak hanya bisa mematuhi.
Jia Li berlari secepat yang ia bisa menuju ke kediaman pangeran ke 3, tempat dimana dia biasanya ditugaskan. Jia Li ditugaskan sebagai pelayan yang membersihkan istana, hal yang sangat melelahkan menurut Jia Li. Bagaimana tidak, di kehidupan sebelumnya Jia Li sangat dimanjakan orang tuanya, semua keinginannya akan dikabulkan oleh kedua orang tuanya, ia tidak pernah kekurangan apapun baik itu uang maupun kasih sayang. Semua pekerjaannya akan dilakukan oleh pelayan, yang dia tau hanya belajar, belajar, bekerja dan menghambur-hamburkan uang. Hal itu di dukung oleh orang tuanya yang kaya raya, bahkan harta orang tuanya tidak akan habis hingga 10 generasi.
Setelah sampai di kediaman pangeran ke 3, jia Li langsung memulai membersihkan kediaman pangeran ke 3 itu, seperti mengepel lantai, mengelap perabotan yang ada, menyapu halaman, menyiram bunga dan masih banyak lagi. Hal itu Jia Li lakukan seorang diri, pelayan yang di tugasan serupa dengan ia kebanyakan sudah berusia lebih tua dan mereka melimpahkan semua tugas itu pada Jia Li. Jika dipikirkan, maka Jia Li merasa miris dengan nasibnya saat ini. Dia seperti seorang anak konglomerat yang jatuh miskin. Tapi apa gunanya mengeluh, itu tidak akan mengubah keadaan, yang Jia Li harus lakukan sekarang adalah tabah menerima keadaan, berusaha mencari cara bertahan hidup dan jalan pulang ke dunianya.
Jia Li berjalan memasuki kamar pangeran ke 3. Kamar itu terlihat sangat mewah, rapi dan bersih seperti biasa. Kamar dan juga seluruh tempat di kediaman pangeran ke 3 akan selalu dibersihkan setiap hari meskipun tidak ditempati. Membicarakan tentang pangeran ke 3, selama Jia Li bekerja di sana dia belum pernah melihat pangeran ke 3, beberapa orang yang ia tanyain mengatakan jika pangeran ke 3 pergi berkualifikasi 1 tahun yang lalu. Jia Li hanya bisa melihat lukisan laki-laki sekitar 18 tahun yang ia pikir adalah pangeran ke 3. Dari lukisan itu, pangeran ke 3 terlihat sangat cantik, dia bahkan lebih cantik dari perempuan.
Jika ditanya apakah Jia Li terpesona atau tidak, jawabannya adalah tidak. Jia Li tidak menyukai tipe laki-laki yang bahkan lebih cantik dari perempuan. Justru Jia Li tidak begitu suka padanya karena iri dengan kecantikan yang dimiliki pangeran ke 3.
Setelah membersihkan kamar pangeran ke 3, Jia Li beralih ke ruang belajar pangeran ke 3. Di tempat itu, Jia Li akan mencuri waktu untuk membaca beberapa buku, itung-itung menambah ilmu buat bekal hidupnya di zaman entah apa namanya ini. Hampir semua buku di ruangan itu telah jia li baca, dan ia kuasai.
"beruntung aku pintar sehingga tidak sulit mempelajari semua buku-buku ini" ucap Jia Li.
Kebanyakan buku yang ada di kamar pangeran ke 3 berisi tentang ilmu politik, dan ilmu beladiri. Sejujurnya Jia Li tidak begitu tertarik dengan 2 hal itu, tapi ia cukup paham dan dapat mempelajarinya dengan sangat mudah. Di zaman entah apa namanya ini, hanya keturunan kaisar yang bisa menjadi kaisar, selain itu kasta, tradisi, dan lingkungan sosial diatur dengan sangat ketat. Bahkan pendidikan saja hanya kalangan tertentu saja yang bisa mendapatkannya, dan yang paling menyedihkan kaum wanita di ibaratkan sebagai pemuas nafsu saja. Terdengar menyedihkan bagi Jia Li yang hidup di zaman modern dimana wanita dan pria di sama ratakan derajatnya. Meskipun wanita tidak begitu dihargai, pada kenyataannya wanita di zaman ini berperan penting dalam keadaan politik. Contohnya permaisuri atau wanita pemilik hati sang kaisar, mereka bisa sangat berpengaruh dalam politik kerajaan.
"hem... Lama-lama berada di ruang belajar pengaran ke 3 aku bisa jadi sejarawan. Dalam waktu 1 bulan saja aku bisa memahami banyak hal, apalagi jika setahun. " ucap Jia Li.
Setelah menghabiskan waktu cukup lama di sana, Jia Li pergi meninggalkan ruangan itu. Dia ingin mencari makanan karena perutnya sudah sangat lapar. Saat sampai di dapur istana, jia li hanya diberi makanan sisa oleh para pelayan, lagi dan lagi jia li hanya bisa pasrah dan bersabar. Memang kadang manusia tidak bisa selamanya berdiri di atas kejayaan, adakalanya ia akan jatuh.
"aku mau pulang" batin Jia Li di sela makannya.
"jia li, kamu sedang apa ?" ucapan itu membangunkan jia li dari lamunannya.
"em... Lagi makan. Buta ya" jawab Jia Li jutek.
"iya aku tau. Ohya aku punya berita baru loh. Berita terpanas" ucap Mo An
Mo An bekerja di dapur kekaisaran jadi dia sangat mudah mendapatkan informasi karena semua pelayan akan datang ke tempat itu untuk mengambil makanan untuk tuan mereka atau sekedar makan.
"berita apa ?" tanya jia li.
Di zaman ini jika ingin mengikuti berita atau informasi terkini cuman dari mulut kemulut. Itu sebabnya banyak orang yang sangat suka bergosip, baik itu pria maupun wanita. Meskipun Jia Li tau bergosip itu tidak baik, tapi ia tidak ada pilihan. Setidaknya ia tidak perlu percaya semua ucapan Mo An 100% mengingat cerita lewat ucapan seseorang kadang bisa di lebih-lebihkan dan dikurang-kurangkan.
"Kaisar mengangkat selir baru, dia sangat cantik dan sangat muda. Usianya bahkan baru 19 tahun. Namanya selir fen" ucap mo an.
"cuman itu ?" tanya jia li dengan ekspresi datar.
Kedatangan selir ke istana bukanlah hal baru. Menurut informasi yang Jia Li dapat, ada sekitar 30 selir di harem, menambah 1 itu bukan masalah besar karena harem sangat luas dan megah, wajar saja banyak wanita yang lari ke ranjang hangat kaisar. Selain itu, wanita yang menjadi permaisuri saat ini adalah permaisuri Kiew yang berusia 40 tahun. Permaisuri itu memiliki 3 orang anak, 2 laki-laki dan 1 perempuan, dan pangeran ke 3 adalah anak kedua permaisuri Kiew. Sementara kebanyakan selir hanya memiliki anak perempuan. Jikalau mereka memiliki anak laki-laki, anak mereka akan mati di usia muda. Hanya anak selir kekaisaran Mei (selir kesayangan kaisar) yang masih hidup, dia anak laki-laki berusia 19 tahun (pangeran ke 2), selain itu selir mei juga punya 2 anak perempuan. Dan tidak lupa selir puyo (selir kesayangan kaisar) yang memiliki anak laki-laki berusia 12 tahun (pangeran ke 4).
Alasan kenapa semua anak laki-laki itu bisa bertahan hidup karena ibu mereka bukanlah orang bodoh, dan mereka memiliki dukungan politik yang cukup untuk melindungi anak-anak mereka. Jika di cari tau harem sebenarnya tempat yang sangat mengerikan.
"bukan cuman itu jia li. Aku dengar saat raja menghabiskan waktu dengan selir itu semalam, permaisuri menangis. Beberapa pelayan dan prajurit mendengar hal itu" ucap Mo An.
"bukannya sudah wajar kalau permaisuri bersedih. Lagi pula istri mana yang ingin membagikan suaminya ?" jujur saja Jia Li turut merasa sedih jika memikirkan kondisi permaisuri saat itu. Dia pasti sangat menderita.
"sudahlah. Jangan memikirkan perasaan permaisuri, kita ini hanya budak. Tidak ada yang akan mendengarkanmu, bahkan jika kamu mati" ucap Jia Li.
"Kecuali jika kamu memiliki hati orang berpengaruh atau menjadi orang berpengaruh baru semua ucapanmu di dengar." lanjut Jia Li dalam hati.
"ih gitu banget sih kamu" ucap Mo An sambil memancungkan bibir. Dia kesal karena sekarang jia li tidak suka bergosip lagi. Biasanya mereka akan menghabiskan banyak waktu untuk bergosip.
Setelah selesai makan, Jia Li berkeliling istana. Ia ingin menyelinap masuk ke dalam perpustakan kerajaan. Meskipun resikonya dipenggal, tapi Jia Li tidak takut sama sekali. Mati baginya bukanlah masalah besar karena sekarang dia sebatang kara dan tidak memiliki apapun. Beda jika di zamannya dulu, Jia Li akan berpikir ratusan kali jika ingin mati karena ada orang tuanya di rumah yang selalu menunggunya pulang, karyawan berjumlah jutaan orang yang menggantungkan hidupnya di perusahaannya dan masih banyak lagi.
Dari kejatuhan Jia Li melihat pintu besar yang jia li yakini adalah perpustakaan kerajaan. Dia tempat itu ada beberapa pengawal kerajaan yang berjaga. Tidak begitu banyak, Jia Li yakin bisa menerobos masuk.