
Wang Xuemin keluar dari kamar kakaknya. Ia merasa sangat lelah karena semalaman tidak tidur.
Saat Wang Xuemin hendak memasuki kamarnya tapi, langkahnya terhenti di depan ruangan belajarnya. Kamar itu tadi malam terlihat sangat berantakan dan banyak sekali darah dari musuhnya yang tumpah. Tapi tempat itu kembali bagus dengan cepat karena orang-orang suruhan kakaknya. Entah kenapa memikirkan tempat itu yang sudah kotor oleh darah para pembunuh bayaran membuatnya merasa jijik dengan tempat itu. Saat Wang Xuemin hendak pergi dari tempat itu, ia mendengar sebuah suara dari dalam.
"Kau bagai burung yang indah
Terjebak dalam sangkar emas
Kau selalu tersenyum karena hidup mewah
Tapi jauh di dalam dirimu kamu bersedih
Kau menyesali segala keputusan yang pernah diambil
Kau ingin kembali ke awal dan mengubah semuanya
Tapi waktu tidak pernah kembali ke awal.
Yang tersisa tinggal penyesalan"
Dari suaranya, Wang Xuemin bisa menebak jika dia adalah perempuan. Suara itu terdengar sedih, namun tetap terdengar enak untuk didengar. Sementara puisinya sangat buruk, namun Wang Xuemin mengerti makna di balik puisi itu.
"seorang wanita yang cantik tinggal di istana megah dan diperlakukan bak ratu, tapi kenyataannya wanita itu tidak pernah bahagia. Dia hidup dalam penyesalan." itulah arti dari puisi itu, menurut Wang Xuemin.
"ya....puisinya memang tidak bagus, tapi mampu membuat orang terhanyut" ucap Wang Xuemin.
Tiba-tiba terdengar suara keras dari dalam ruangan. Suntak Wang Xuemin langsung masuk, dan ia melihat seorang pelayan pingsan. Wang Xuemin pun segera mengangkat tubuh gadis kecil itu dan membawanya ke ruangan, tidak lupa ia meminta anak buahnya untuk memanggilkan tabib. Wang Xuemin memang terkenal memiliki hati yang dingin, namun ia masih memiliki sedikit hati nurani dengan orang-orangnya. Alasan yang lebih tepatnya adalah karena gadis itu pelayan rumahnya makanya dia mau menolongnya.
"lapor pangeran ke 3, gadis ini kelelahan, pola makan yang tidak teratur dan ia juga demam tinggi. Seharusnya dia tidak bekerja dan beristirahat saja ." ucap tabib itu dengan hormat pada Wang Xuemin.
Tabib itu adalah tabib kepercayaannya, ia bernama tabib yi.
"terimakasih, kamu bisa keluar "
setelah memberi hormat, tabib Yi keluar dari kamar. Kini hanya tinggal Wang Xuemin dan gadis pelayan itu saja.
"ma...mama...papa...aku...mau pulang...aku rindu kalian." gadis itu menggigil. Tapi melihat gadis itu yang sangat merindukan orang tuanya membuat Wang Xuemin merasa sedih.
***
3 hari berikutnya.
Saat ini wang Xuemin sedang berada di kediaman Wang Chunying, sambil menikmati teh di pagi hari.
"apakah salah satu pelayan ini ada gadis yang kamu cari kakak ?" tanya Wang Xuemin pada kakaknya .
Sudah 3 hari kakaknya terus mencari keberadaan gadis pelayan yang telah di anggap dewi baginya itu. Tapi sudah hampir seluruh istana kekaisaran kakaknya telusuri tapi tetap tidak menemukan gadis pelayan yang ia maksud. Sosoknya seperti tertelan bumi.
"hem.... Belum, aku sudah mencarinya tapi tidak ketemu. Padahal aku sudah mengelilingi istana kekaisaran hampir 2 kali." Wang Chunying nampak sangat sedih.
"memang gadis itu seperti apa kak ?" entah kenapa Wang Xueming menjadi penasaran dengan gadis yang telah berhasil membuat kakaknya sedih dan putus asa karena mencarinya .
"dia... dia tidak cantik, tapi aura di tubuhnya yang membuatnya menarik. Dia berani dan...dia nampak cerdas." ucap Wang Chunying sambil membayangkan wajah gadis itu.
Menurut Wang Chunying, gadis itu memang tidak cantik, tapi entah kenapa terasa sangat menarik. Apalagi sorot mata gadis itu, dan... bibir kecilnya yang sangat menggoda. Selama hidup Wang Chunying, ini adalah ciuman pertamanya. Dulu ia berpikir akan memberikan ciuman pertamanya kepada istrinya, tapi impiannya kandas karena ciuman pertamanya telah dicuri.
Meskipun Wang Chunying sudah berusia 19 tahun, namun ia belum juga menikah. Dia bahkan tidak memiliki selir di istananya. Sama halnya dengan sang adik, Wang Xueming. Padahal di zaman ini laki-laki berumur 17 tahun sudah boleh menikah, dan ada juga yang telah memiliki anak. Jadi bisa dikatakan bahwa Wang Chunying dan Wang Xueming termasuk pria yang lambat menikah. Ibu mereka, permaisuri kiew sering sekali mendesak anak-anaknya supaya cepat menikah, tapi Wang Chunying dan wang Xueming selalu memiliki alasan untuk menolak permintaan ibunya. Sementara kaisar tidak begitu peduli dengan urusan asmara anaknya, yang penting anaknya bahagia dan dapat menjadi kaisar selanjutnya. Membicarakan kaisar, pria itu sangat ingin menjadikan Wang Chunying sebagai penerusnya.
Wang Xueming yang menatap kakaknya hanya seperti itu merasa khawatir.
" kakak kenapa ?" tanya Wang Xueming
"tidak-tidak kenapa-napa" ucap Wang Chunying.
"oh ya kakak, Lian sudah tau siapa orang yang menyelinap ke perpustakaan malam itu" Wang Chunying yang mendengar itu tetap diam.
"dia hanya seorang pelayan dari istana ku. Saat ini dia sakit dan tidak sadarkan diri, saat dia bangun aku akan segera menyelidiki alasan dia menyelinap ke perpustakaan kekaisaran kak" ucap Wang Xueming yang hanya di balas deheman.
"lalu bagaimana langkah selanjutnya untuk melawan selir mei dan anaknya itu ?" tanya Wang Xueming.
Percakapan antara Wang Chunying dan Wang Xueming berlangsung sangat panjang, mereka membahas mengenai strategi apa yang cocok digunakan untuk membalas perbuatan selir mei kemarin.hingga tanpa mereka sadari hari sudah sore.
Setelah menyelesaikan urusannya dengan kakaknya, Wang Xueming memilih pulang ke istananya, dia juga ingin istirahat karena merasa lelah. Tapi itu kembali tertunda saat liam muncul secara tiba-tiba di belakangnya.
"pangeran ke 3, gadis itu telah sadar" Ucap liam
"hah....ya" setelah mendengar ucapan Wang Xueming, liam langsung menghilang.
Wang Xueming kemudian pergi ke kamar gadis yang pingsan di kamarnya, yang rupanya adalah sosok misterius yang ditemui di perpustakaan.
Saat Liam melaporkan hal ini padanya 2 hari yang lalu, ia sangat terkejut. Ia tak menyangka ada pelayan yang sangat pintar di istananya. Kecerdasan itu membuat Wang Xueming semakin penasaran dengan gadis kecil itu.
Wang Xueming membuka pintu kamar gadis itu, saat pintu dibuka ada seorang gadis yang sedang duduk di pinggir kasur. Dia tidak cantik, namun ada sesuatu dari dirinya yang membuat orang tidak bosan memandangnya.
Wang Xuemin berdiri di pintu masuk, menyender pada punggung pintu yang masih tertutup sambil mengamati gadis itu.
Gadis itu menatap Wang Xueming yang baru saja datang. Dengan cepat gadis itu berdiri lalu memberi hormat.
"Salam hormat saya pangeran ke 3," Ucap Gadis itu sambil memberi hormat dengan cara sedikit membungkukkan badannya dan mengepalkan tangannya di dada. Gadis itu sudah tau pangeran akan datang menemuinya, pasalnya seorang pelayan sudah mengatakan bahwa pangeran akan datang.
"bangkit" ucap Wang Xuemin.
Gadis itu bangkit. Ia kini bisa melihat wajah Wang Xuemin yang cantik.
"aku tidak suka basa-basi. Sekarang aku tanya, siapa namamu ?"
Ucapan itu sedikit membuat gadis itu terkejut, namun ia tetap terlihat tenang meskipun jantungnya berdebar kencang karena ketakutan.
"Jia Li, pangeran" Ucap Jia Li.
"kenapa kau bisa ada di perpustakaan malam itu ?, apa yang kau cari ?"
"..."cukup lama Jia Li terdiam. Ia terkejut karena ada orang yang tau mengenai ulahnya selama ini. Meskipun ia terkejut ia berusaha tetap tenang.
"Jawab aku " ucap Wang Xueming dengan menekan kalimatnya, pria itu Pada dasarnya paling tidak suka menunggu.
"aku...aku...aku..aku hanya suka membaca buku saja, apa karena aku pelayan rendahan sehingga aku tidak memiliki hak untuk membaca ?" tanya Jia Li polos.