
aku pikir jika membacanya kembali mungkin kamu bisa membawamu kembali lagi kedunia itu. Tapi, aku tidak yakin apakah ini akan membawamu ketempat yang seharusnya. Maksudku, dulu aku juga ingin kembali ke dunia kita, tapi setelah aku berpikir-pikir ini sangat kecil kemungkinan kita bisa kembali ke dunia yang seharusnya. Segala kemungkinan bisa saja terjadi, salah satunya kamu muncul di dunia itu tapi di tanggal dan waktu yang berbeda, hal itu jelas akan mengubah sejarah atau terjadi hal buruk lainnya. Atau kamu terbangun tapi di tubuh yang berbeda. Ya...itu bisa saja terjadi " jelas guru surgawi Li Ewi.
@@@
"..." penjelasn guru surgawi Li Ewi itu membuat Jia Li takut. Ia mulai ragu untuk kembali.
"lagipula kamu sedang hamil, apakah kamu yakin ingin meninggalkan suamimu dalam keadaan seperti ini. Kasihan suamimu, dia pasti akan sangat menderita jika kehilangan kamu dan calon anak kalian nantinya. Belum lagi resiko yang akan dihadapi nanti, bisa saja bayi itu dalam bahaya karena kamu salah mengambil keputusan. " ucapan Li Ewi mengejutkan Jia Li.
"hamil !!" batin Jia Li.
"apa katamu ? Aku...aku hamil ?" tanya Jia Li. Ia tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"hm...jangan bilang kamu tidak tahu jika sedang hamil ?!" ucap Li Ewi yang hanya dibalas gelengan pelan oleh Jia Li.
" Ya Ampun padahal kamu dijuluki dewi dokter, tapi kondisi tubuhmu sendiri kamu tidak tahu ?" sindir guru surgawi Li Ewi.
Jia Li tidak tidak tahu harus berbicara apa.
"bagaimana kamu bisa tau ?" tanya Jia Li pada akhirnya.
"dengan kekuatan ku, aku bisa mendengar detak jantungmu. Dan aku bisa mendengar beberapa detak jantung dari tubuh mu, ya...aku pikir itu suara detak jantung itu milik bayi yang sedang kau kandung" ucap Li Ewi cuek sambil menatap perut rata Jia Li.
"kau bisa mendengarnya ? Mustahil, kau bohong ya ?" Jia Li menatap Li Ewi tajam. Ia melihat pria itu lekat agar bisa melihat kebohongan di wajahnya.
"ya ampun, untuk apa aku berbohong padamu. Tidak ada gunanya bagiku" Li Ewi nampak kesal dengan Jia Li.
Tapi melihat wajah Jia Li yang merasa bersalah membuat Li Ewi luluh.
"apakah kamu mau mendengarkannya ?" tawar guru surgawi Li Ewi yang langsung dijawab dengan angguk oleh Jia Li cepat.
guru surgawi Li Ewi menyentuh pergelangan tangan Jia Li. Lalu ia menyalurkan energinya, dan Jia Li langsung bisa mendengar suara detak jantung anaknya..
"bagaimana bisa ada 4 detak jantung ? " gumam Jia Li tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"jangan bilang ada 3 bayi di perutku ?!" batin Jia Li syok.
"bagaimana ?" tanya Li Ewi
"iya, itu benar" ucap Jia Li lesu. Jia Li tidak tahu harus bahagia atau malah menangis saat ini.
"kenapa kamu tidak semangat ? Apa kamu tidak mau bayi ini ? Jika tidak mah kenapa tidak menggunakan pengaman. Kan kamu dokter, pasti tau dong aturan mainnya" ucap Li Ewi sinis. Ia tidak suka melihat wajah Jia Li yang seolah tidak menginginkan bayi yang dikandungannya itu.
"aku tidak tahu" ucap Jia Li lesu.
"huh… kamu harus bertanggung jawab. Meskipun kamu tidak menginginkan dia tapi, jangan pernah berpikir untuk membunuhnya." nasehat Li Ewi penuh kasih sayang. Seperti seorang kakak yang menasihati adik perempuannya.
"ya aku tau. Lagian aku tidak sejahat itu sampai-sampai membunuh bayiku sendiri. Dasar bodoh !" Jia Li menatap Li Ewi tajam. Ia tidak mengerti kenapa Li Ewi bisa berpikiran ia akan melakukan aborsi.
"hahaha...bagus-bagus" Li Ewi bisa napas lega. Ia tadinya takut Jia Li akan melakukan aborsi karena tidak menginginkan bayi itu.
"wah aku tidak menyangka kita akan sangat akrab, padahal kita baru bertemu" ucap Li Ewi dengan senyum kecil.
"hmm… " dehem Jia Li.
Mungkin alasan kenapa mereka bisa sangat dekat adalah karena mereka punya pikiran yang sama dan nasib yang hampir mirip. Jadi tidak heran jika mereka sangat akrab.
"mungkin kita bisa menjadi sahabat ?" kata Li Ewi.
"sahabatan dengan mu ? Hmmm… biar ku pikir-pikir dahulu ya" Jia Li tersenyum jahil pada pria itu.
"aduh… jangan sok jual mahal deh. Tidak semua orang bisa bersahabatan dengan pria tampan dan populer diriku ini" ucap Li Ewi sombong.
"aduh… sombongnya. Tampang gak seberapa, tapi sombongnya selangit" ejek Jia Li.
Bukannya marah Li Ewi malah tertawa mendengar hinaan itu. Semenjak dia tinggal disini, ini pertama kalinya ia diejek. Tapi, entah kenapa ejekan itu malah terdengar menyenangkan di telinganya, apalagi saat ia berhasil membuat Jia Li marah. Itu terasa menyenangkan. Li Ewi mendapatkan hobi baru, dimana mungkin di masa depan Li Ewi akan selalu menggoda Jia Li sampai marah.
Cukup lama Jia Li dan Li Ewi bersama. Hingga tanpa sadar hari sudah larut malam. Baik Jia Li maupun Li Ewi, tidak menyangka jika mereka sudah mengobrol terlalu lama. Jia Li akhirnya memutuskan untuk pulang, begitu juga dengan Li Ewi.
Li Ewi memaksa untuk mengantar Jia Li pulang, awalnya Jia Li menolak. Namun, Li Ewi begitu keras memaksa ingin mengantarnya pulang, hal hasil Jia Li menerima tawaran pria itu.
Dengan kekuatannya, Li Ewi membawa Jia Li kekediaman Wang Chunying dalam waktu hitungan detik.
"wah, ini luar biasa. Bagaimana kamu melakukan ini ?" tanya Jia Li, ia menatap Li Ewi dengan kagum.
"hem… ini mudah kok. Kamu bisa minta suamimu untuk mengajari mu" ucap Li Ewi dengan senyum kecil.
"aku ragu dia mau mengajariku" ucap Jia Li dengan lesu.
"ihsss menyebalkan sekali kamu !" ucap Jia Li kesal. Ia menginjak kaki Li Ewi saking kesalnya.
Li Ewi pura-pura kesakitan, agar membuat Jia Li merasa bersalah. Namun sayangnya itu tidak mempan. Jia Li terlihat kesal padanya.
"oh ya. tentang masalah kamu mau kembali kedunia kita yang dulu sebaiknya dipikirkan baik-baik Jia Li. Jika kamu mengambil keputusan yang salah kamu pasti akan menyesal." nasehat Li Ewi.
"iya" ucap Jia Li lemah.
"baiklah aku akan pergi sekarang. Jika kamu butuh bantuan, kamu tinggal tiup peluit ini. Aku janji akan datang dengan cepat" Li Ewi memberikan sebuah peluit yang terbuat dari perak. Peluit itu terlihat sederhana, namun cukup indah.
"hmm… terima kasih" ucap Jia Li.
Setelah itu Li Ewi langsung pergi meninggalkan kediaman Wang Chunying.
Setelah kepergian Li Ewi, Jia Li berjalan ke arah kamarnya. Tempat ini masih sepi, sepertinya Wang Chunying belum pulang. Itu jauh lebih baik, Jia Li masih malas melihat wajah pria itu, lagi pula ia ingin istirahat dengan tenang.
"aku hamil, dan akan segera menjadi ibu dari tiga anak" gumam Jia Li sambil mengelus perutnya yang datar.
Setelah sampai di kediamannya, Jia Li langsung pergi mandi. Beruntung di kediamannya ada beberapa pelayan lain yang bisa membantunya untuk mandi. Setelah selesai mandi Jia Li memutuskan untuk tidur, ia merasa sangat lelah hari ini.
Sementara disisi lain Wang Chunying dan semua orang yang hadir di Kekaisaran Bulan kelabakan mencari Jia Li. Wajar mereka kesulitan mencari Jia Li, karena Li Ewi sudah memasang mantra di tempat ia dan Jia Li bercerita tadi agar tidak bisa dimasuki orang. Hal hasil semua orang panik karena tidak berhasil menemukan Jia Li. Wang Chunying benar-benar marah saat ini, ia terus saja memaksa semua orang yang tidak becus mencari istrinya. Pria itu tampak sangat khawatir, dan sangat takut kehilangan Jia Li.
Sementara Jilli, pria itu juga khawatir dengan keadaan Jia Li. Takut jika wanita yang dia cintai terluka. Ia juga ikut membantu mencari Jia Li.
Kaisar Bulan dan putri Mulan sendiri menjadi orang yang harus disalahkan tentang masalah ini. Dan orang yang terus menyudutkan mereka dan memanas-manasi Wang Chunying agar menghukum Kaisar Bulan dan Putri Mulan adalah Liu Bei, karena ia juga kesal dan marah. Bagaimana tidak, sangat sulit bagi masternya untuk menjalin hubungan yang baik dengan nyonya Jia Li, namun karena ucapan Kaisar Bulan hubungan Masternya dan Nyonya Jia Li hancur seketika.
Sementara Wang Chunying sendiri merutuki kesalahannya. Seandainya tadi ia menolak tawaran kaisar Bulan lebih cepat mungkin Jia Li tidak akan marah seperti ini padanya, dan seandainya dia tadi menahan kepergian Jia Li, pasti saat ini ia masih bersama dengan istrinya itu. Jujur saja saat ini Wang Chunying sangat marah, gelisah, takut, dan khawatir pada istrinya itu.
Saat salah satu anak murid Shen mengabarkan jika Jia Li sudah pulang barulah Wang Chunying merasa agak tenang. Dengan cepat Wang Chunying pulang kerumahnya.
*
*
*
Setelah sampai di kediamannya, Wang Chunying dengan cepat berlari ke kamar Jia Li. Saat ia melihat wanita yang dia cintai tertidur dengan pulas di atas kasur itu, Wang Chunying menjadi agak kesal sekaligus senang karena Jia Li dalam keadaan sehat.
Wang Chunying memeluk Jia Li dengan erat. Gerakan tiba-tiba Wang Chunying itu membuat Jia Li terbangun dari tidurnya.
"kamu sudah pulang ?" tanya Jia Li lembut seolah-olah kejadian beberapa jam tadi tidak pernah terjadi.
"kau dari mana ? Apa kau tau aku mencarimu seperti orang gila ?!" Wang Chunying terlihat marah, namun ia berusaha menahan amarahnya. Ia tidak mau Jia Li marah lagi seperti tadi.
"aku minta maaf, tidak seharusnya aku marah padamu tadi, padahal sudah jelas kamu tidak salah. Aku juga minta maaf karena pergi dari acara itu dan membuat keributan, kamu pasti malu ya karena aku ? Aku minta maaf. Tadi aku memang tidak bisa menahan emosiku, mungkin karena hormon- di tubuhku ku berubah-ubah" Jia Li merasa bersalah.
Ucapan Jia Li itu membuat Wang Chunying tertegun. Ia tidak menyangka Jia Li mengakui kesalahannya dan minta maaf padanya. Hal itu membuat amarah Wang Chunying seketika menghilang.
"tidak apa-apa, lain kali jangan diulangi lagi ya" Wang Chunying menatap Jia Li dengan lembut. Ia tidak mengerti dengan Jia Li belakangan ini. Emosi Jia Li sering sekali berubah drastis dalam waktu singkat, kadang marah-marah lalu beberapa jam kemudian kembali reda. Dan hal itu sedikit membuat Wang Chunying khawatir.
"tidurlah" ucap Wang Chunying. Ia tau Jia Li pasti kelelahan.
Tapi saat Wang Chunying hendak pergi, Jia Li malah mempererat pelukannya.
"bisakah kamu temani aku tidur ?" tanya Jia Li. Wanita itu menenggelamkan kepalanya di dada bidang Wang Chunying.
"baiklah, tapi aku mandi dulu ya. Aku sangat berkeringat karena mencarimu seharian" ucap Wang Chunying dengan senyum di wajahnya.
Mendengar hal itu Jia Li menggelengkan kepalanya cepat.
"hmmm tidak usah, aku suka dengan baunya" ucap Jia Li dengan sangat manjanya.
"..." Wang Chunying terdiam. Dia bingung dengan sikap Jia Li.
"baiklah" jawab Wang Chunying pada akhirnya.
"oh ya, kenapa kamu bisa sampai di rumah ?" tanya Wang Chunying sambil menatap Jia Li tajam.
"tadi aku bertemu Li Ewi. Dia yang mengantarkan aku pulang " ucap Jia Li dengan Jujur.
"APA !? Bagaimana bisa ? Apakah kamu terluka ? Apakah dia menyakitimu ?" tanya Wang Chunying yang terlihat sangat panik.
Jia Li menatap Wang Chunying yang panik. Ia bingung, ada yang salah dengan Li Ewi sampai Wang Chunying terlihat sekhawatir itu.
"memangnya salah ? Li Ewi orang yang baik kok. Buktinya dia membawaku pulang dengan selamat tanpa lecet" jelas Jia Li.