
Setelah pulang berkuda Wang Chunying langsung pergi kerumah adiknya, ia ingin sekali melihat pelayan yang digosipkan dekat dengan adiknya. Sekalian menunggu ia dan Wang Xuemin menikmati makan malam, anggap saja ini untuk menambah energi yang hilang karena seharian berkuda.
"dimana dia ?" tanya Wang Chunying tidak sabar.
"sabarlah kakak, seorang pelayan sedang memanggilnya" Wang Xuemin merasa sedikit kesal karena kakaknya terus menanyakan Jia Li.
"wah... Apa dia sangat istimewa sampai-sampai seorang pelayan harus memanggilnya terlebih dahulu untuk menemui tuannya ?" goda Wang Chunying
"kakak jangan bicara sembarangan !" ucap Wang Xuemin kesal.
"hahaha... Lian, katakan padaku seperti apa dia, dan bagaimana adikku memperlakukannya ?" pertanyaan itu langsung membuat lian menegang, ia tidak tahu harus menjawab apa. Masalahnya adalah tuannya memang memperlakukan Jia Li sangat berbeda dengan pelayan yang lain, tapi tidak mungkin ia mengatakan kebenaran kepada pangeran pertama karena akan merusak citra tuannya.
"saya tidak tahu" jawab lian akhirnya.
"hahahaha... Coba lihat wajah lian. Dia tidak bisa berbohong jika terjadi sesuatu antara tuannya dan pelayannya, tapi ia masih tetap saja mencoba melindungi tuannya" ucap jendral yu.
"tidak, tidak, tidak ada sesuatu antara pangeran ke 3 dan Jia Li. Sungguh" ucap lian dengan gugup.
"sudahlah, jika pun ada itu tidak menjadi masalah. Paling pangeran ke 3 bisa membawanya sebagai selir" ucap yelu dengan enteng sambil menikmati makanannya.
Di zaman ini, seorang pelayan bisa saja naik ke ranjang seorang pangeran atau pun kaisar. Tapi posisi mereka tetaplah sebagai selir, meskipun mendapat cinta dari pangeran/kaisar tapi, posisi mereka tidak bisa naik ke posisi istri atau permaisuri karena status mereka yang rendah.
"jangan bicara sembarangan yelu, aku tidak akan memiliki selir. Aku hanya memiliki satu istri selama hidupku" ucap Wang Xuemin kesal, Wang Chunying yang mendengar percakapan itu hanya bisa tertawa.
"pangeran agak aneh sekarang, di dunia ini sangat wajar jika pria memiliki istri lebih dari satu" ucap Ping
"atau jangan-jangan gosip jika pangeran ke 3 di guna-guna benar adanya ?"tambahnya lagi.
"hai pria tua menyebalkan, jangan jangan asal bicara. Apa anda tahu jika fitnah lebih kejam dari pembunuhan !!. Dengan fitnah kau bisa membunuh orang secara perlahan !!" suara itu lantas membuat semua orang terkejut.
Seorang gadis berdiri di ambang pintu dengan raut wajah marah. Wajahnya bahkan memerah karena marah. Baju gadis itu kotor, wajah dan tangannya ada bercak darah. Wang Xuemin dan lian yang melihat itu terkejut, dan khawatir.
"anda nampak berpendidikan, bijaksana, dan berkelas. Saya bisa menebak dengan pasti, anda pasti anak bangsawan. Tapi saya tidak menyangka bangsawan seperti anda mempercayai gosip murahan. saya pikir seorang pria lebih suka menghabiskan waktu mencari kekayaan, kekuasaan dan wanita, tapi rupanya saya salah. Saya benar-benar tidak menyangka ada pria yang suka menggosip, dan lebih parahnya mempercayai gosip murahan yang tidak berdasar. Apakah anda tau gosip itu dibuat untuk menghancurkan hubungan baik saya dan pangeran ke 3, apa anda tahu jika gosip itu membuat saya semakin dibenci banyak orang disini, dan apa anda tau karena gosip murahan itu saya kehilangan sahabat saya ! Kalau sayang bisa memilih, saya ingin keluar dari istana yang bagaikan penjara emas ini !!" ucap Jia Li emosi. Matanya kini telah merah dan berkaca-kaca karena menahan tangis.
"...." ping yang mendengar itu tidak bisa berkata-kata. Ia bahkan terkejut karena untuk pertama kalinya ia dimarahi oleh seorang gadis kecil yang berumur 10 tahun.
Setelah menumpahkan semua emosinya, Jia Li menyadari kesalahannya. Tidak seharusnya ia bersikap tidak sopan dengan tamu pangeran ke 3, seharusnya ia lebih sabar meskipun hatinya sakit karena harga dirinya diinjak-injak.
"ma...maafkan...ke...kebodohan...saya" ucap Jia Li dengan terbata-bata, air matanya turun. Jia Li memberikan hormat, setelah itu lari dari ruangan itu, dia agak takut berhadapan dengan pangeran ke 3. Jia Li hanya bisa berdoa semoga pangeran ke 3 memaafkannya.
Sementara Wang Chunying yang melihat itu hanya tertegun. Ia sangat terkejut karena melihat gadis yang selama ini ia cari rupanya berada di hadapannya saat ini. Gadis yang ia cari hampir ke seluruh istana kekaisaran dan bahkan di kota sekitar, rupanya ada di dekatnya sendiri. Dia merasa bodoh, seharusnya ia mencari lebih teliti di kediaman adiknya sehingga ia bisa bertemu lebih cepat dengan gadis itu.
"saya permisi sebentar" ucapan lian menyadarkan semua orang di ruangan itu. Lian memberi hormat lalu langsung berlari secepat yang ia bisa untuk mengejar Jia Li. Entah kenapa ia merasa sedih melihat gadis itu. Semenjak Jia Li tinggal di istana pangeran ke 3 mereka sudah semakin dekat, sama seperti Wang Xuemin, lian juga merasa nyaman dan betah bila dekat dengan Jia Li. Bagi lian, Jia Li adalah gadis pertama yang mampu dekat dengannya.
Wang Chunying yang tersadar juga ikut mengejar gadis yang selama ini ia cari. Melihat hal itu, orang di ruangan itu juga mengejar Wang Chunying.
"Jia Li, tunggu" panggil lian.
Panggilan Lian tidak juga membuat Jia Li berhenti berlari. Lari lian yang cepat karena memiliki kaki yang panjang dan kuat membuatnya sangat mudah menyusul Jia Li, lian meraih lengan Jia Li, membuat gadis itu akhirnya berhenti.
"apa ?" kata Jia Li ketus dengan airmata yang telah membasahi wajah. Hal itu membuat dia merasa bersalah.
"apa kamu datang untuk menghukum ku. Jika iya, langsung saja bunuh aku, jangan siksa aku. " ucap Jia Li penuh keyakinan. Bagi Jia Li di bunuh secara langsung jauh lebih baik dari pada di siksa, karena di zaman ini hukuman penyiksaan sangat lah gila.
"kau ini bicara apa ?, siapa juga yang mau menghukum mu. Itu tidak penting, lagi pula pria itu memang salah karena mempercayai gosip murahan" kata-kata lian membuat Jia Li merasa hangat. Ia merasa dibela.
"oh... Ini karena kecerobohanku, tenang saja nanti juga sembuh" ucap jiali.
Jia Li melihat telapak tangannya yang berdarah, dan bajunya yang kotor dengan wajah datar seolah-olah tidak merasa ada yang salah dengan penampilannya.
"sini aku obati, pasti sakit" lian mengambil lengan Jia Li untuk melihat lukanya, namun Jia Li menarik lengannya cepat.
"ini hanya luka kecil, tidak sakit sama sekali, aku bisa menyembuhkannya. Tapi ada luka yang lebih menyakitkan dari ini" ucap Jia Li. Jia Li menyembunyikan tangannya yang terluka di punggungnya.
"katakan, aku akan mengobatinya" tawar lian.
"hah... Kau tidak akan bisa" ucap Jia Li dengan tawa meremehkan.
"aku pasti bisa, percaya padaku. Sekarang katakan saja di mana luka yang sangat menyakitkan itu" lian berusaha meyakinkan Jia Li. Lian merasa sangat khawatir, ia tidak sabar untuk mengobati gadis itu.
"disini, di dalam hatiku. Apa kau bisa mengobati hatiku yang hantur ini, jika ia lakukanlah rasanya aku sudah tidak tahan dengan rasa sakit ini" ucap Jia Li sambil menunjuk dadanya.
Hati Jia Li benar-benar hancur karena, karena ia merasa takdir mempermainkannya. Pertama ia kehilangan kekasihnya, kedua ia terbangun di dunia yang entah apa namanya, membuat Jia Li kehilangan segalanya mulai dari orang tua, sahabat, harta, kedudukan, segalanya. Bahkan di dunia ini pun orang yang Jia Li anggap sahabat rupanya tidak menganggapnya. Menyedihkan. Yah... Kehilangan semua orang yang dia sayang benar-benar menyukainya, rasa rasa rindu akan kedua orang tuanya mulai menyiksa Jia Li. Ia hanya bisa membayangkan kedua orang tuanya untuk melepas rasa rindu walau hanya sesaat, ia berharap mereka baik-baik saja meskipun ia tidak ada lagi di samping mereka.
"kau...sakit hati ?, kau dikhianati kekasihmu ?" lian menatap jiali, entah kenapa lian merasa hatinya sedikit terluka.
Jia Li menatap Lian tidak percaya, kenapa bisa lian berpikiran tentang itu.
"siapa dia bukan urusanmu, memangnya kau siapa ku hingga ingin tahu urusan pribadiku ?" ucapan Jia Li terasa sangat menyakitkan untuk lian. Pria itu hanya terdiam sambil menundukan kepalanya.
"....."
"udah lah, aku lelah" Jia Li hendak pergi namun tangannya ditahan lagi oleh Lian.
"apa lagi ?"
"katakan dulu siapa ?, apa kekasihmu ?" ucapan lian seakan penuh tuntutan.
"cih, bukan kekasih !, memang sakit hati harus karena kekasih ?. Pikiranmu terlalu sempit lian. Dengar ya lian, yang membuat orang sakit hati atau sedih nya seseorang itu bisa di sebabkan banyak hal bukan cuman karena kekasih !. Contohnya kehilangan orang tua, kehilangan sahabat, kehilangan harta, kehilangan tahta, dan masih banyak lagi Lian. " Jia Li hendak melangkah pergi, namun Lian meraih tangannya lagi.
"apa lagi sih lain ?!" kata Jia Li yang mulai marah.
"..." lian hanya diam.
Jia Li menatap wajah Lian, dia seakan mengerti apa yang pria itu inginkan. Jika Jia Li tidak menjelaskannya pria itu tidak akan pernah membiarkannya Pergi.
"dia itu orang yang aku anggap sebagai sahabat. Aku marah dan kecewa padanya karena mempercayai gosip murahan, aku pikir dia lebih mengenalku daripada siapapun, rupanya aku salah. Dan yang paling menyakitkan adalah dia tidak menganggapku sebagai sahabat....." kata-kata Jia Li terhenti saat ia memperhatikan wajah Lian lebih dekat. Entah kenapa Jia Li merasa lian menyukainya.
"lian, kenapa kau sangat ingin tau ? Jangan katakan kau suka padaku." Jia Li menatap lian menyelidiki.
"a...ah...ti...dak" ucap Lian gugup.
"oh apa benar begitu ?" Jia Li menatap Lian jahil. Ia suka menggoda Lian. Menurut Jia Li, Lian hanya sekedar suka padanya, bukan sedang jatuh cinta.
"hahahaha... Lian, tunggu saat aku berusia 17 tahun, aku yakin akan menjadi kecantikan yang mampu meruntuhkan kekaisaran dan saat hari itu tiba jangan pernah menjilat kata-katamu ya karena... aku takut kau akan patah hati" setelah mengatakan itu Jia Li pergi. Jia Li berlari kecil menuju kamarnya, gaun yang Jia Li kenakan mungkin kotor tapi itu tetap terlihat indah dan anggun. Kaki kecil jiali terlihat karena gaunnya sedikit terangkat, ia benar-benar sangat mempesona.
Tanpa Jia Li dan Lian sadari percakapan mereka di dengan oleh Wang Chunying, wang Xuemin, dan ketiga sahabat mereka. Wang Chunying yang melihat itu merasakan api kemarahan di dadanya, gadis yang selama ini mengganggu pikirannya dan hatinya di sukai pria Lain, sedangkan Wang Xuemin ia merasakan hatinya sakit melihat Jia Li bisa sekadat itu dengan Lian. Sementara jendral ping, ia hanya memperhatikan Jia Li dari kejauhan dengan mata tajamnya, memperhatikan gadis yang beraninya memarahinya dan memukulnya di depan umum. Sementara ye dan yelu hanya bisa diam, mereka merasakan aura yang menyeramkan di sekitar mereka.