
"maafkan aku ya, karna kecerobohanku kalian hampir saja mati di tangan ayah ku" ucap Jia Li dengan mata berkaca-kaca. Dia benar-benar merasa bersalah.
"tidak nona, seharusnya kami yang berterimakasih karena nona kami selamat" ucap Nuan.
"iya nona, kami mengucapkan terima kasih" niu meneteskan air matanya lagi.
Jia Li menatap Kun yang berdiri tidak jauh darinya. Pria itu hanya menundukkan kepala.
"Kun, maafkan aku ya" ucap Jia Li.
"ah...tidak nona, ini memang salah saya. Saya pantas dihukum" ucap Kun.
"tidak Kun, ini salah ku. Kamu bukan lalai tapi akulah yang ceroboh" ucap Jia Li.
Kun terdiam. Ini pertama kalinya ia melihat seorang bangsawan mengakui kesalahannya, dan yang paling menyentuh adalah dia mau membela dan memohon untuk menyelamat kan nyawa budaknya.
"Kun. Tolong jangan benci aku karna masalah ini ya" Jia Li menatap pria itu. Menatapnya penuh rasa bersalah.
"mana mungkin budak ini berani membenci anda, nona" ucap Kun lembut. Ya...untuk pertama kalinya pria itu berbicara lembut pada Jia Li.
"Kun, jangan mengatakan kamu adalah budak. Aku tidak suka kata-kata itu. Kamu bekerja untukku, bukan budak, hanya bekerja untuk mendapatkan uang ! Begitu juga Niu dan Naun" ucap Jia Li tegas.
Ucapan Jia Li membuat mereka tersentuh, mereka tidak menyangka Jia Li begitu murah hati. Mereka merasa bersyukur memiliki majikan yang begitu murah hati dan begitu lembut.
"istirahatlah, aku tau kalian pasti lelah. Aku juga mau istirahat" setelah mengatakan itu, Jia Li pergi menuju kamar tidurnya, meninggalkan mereka yang masih terdiam.
"baru sehari kita bekerja dengan nona, tapi nona langsung baik pada kita" ucap Niu.
"ya....nona bahkan mau membelikan kita perhiasan bahkan mau menolong kita dari amukan tuan besar" Naun menatap kamar Jia Li kagum.
"...."Kun hanya diam. Pria itu hanya bicara jika disuruh. Namun di dalam hatinya, dia sangat senang memiliki Jia Li sebagai tuannya. Pria itu... selalu memuji Jia Li dalam hatinya.
Beberapa hari telah berlalu semenjak hari itu, Jia Li kini lebih banyak menghabiskan waktu di rumahnya menulis buku obat, atau belajar kesenian seperti menari, menyanyi, membuat puisi, mempelajari alat musik, menyulam, dan masih banyak lagi. Namun Jia Li yang telah terbiasa bekerja keras untuk mencari uang seperti di kehidupan sebelumnya merasa tidak betah dengan kegiatan itu, jadi... secara diam-diam ia telah membangun toko obat dengan uang yang ia tabung selama ini. Jia Li di bantu Kun, Niu, dan Naun, tentunya tanpa sepengetahuan Tong Mu.
Sementara itu, semenjak kejadian di gang sempit dan kotor itu banyak gosip beredar mengenai asal usul Jia Li. Ada yang mengatakan putri Tong Mu yang meninggal telah bangkit dari kuburnya, ada yang mengatakan Jia Li anak haram Tong Mu, dan masih banyak lagi. Bahkan gosip itu sudah masuk ke kediaman Tong Mu, Jia Li sendiri terlihat biasa saja saat para pelayan menceritakan itu, namun tidak untuk Tong Mu. Pria paruh baya itu takut jika reputasi anaknya akan rusak. Hal itu membuat pria paruh baya itu terus saja kepikiran dengan masalah yang terjadi, contohnya sekarang ini, pria itu sedang melamun di ruang belajarnya.
Tanpa sengaja Jia Li melihat Tong Mu melamun di ruang belajarnya. Jia Li yang merasa kasihan melihat pria paruh baya itu akhirnya datang mendekatinya.
"ayah, apa boleh aku masuk ?" tanya Jia Li.
Tong Mu melihat anaknya yang cantik berdiri di depan pintu masuk.
"ada apa nak" Jia Li berjalan ke arah Tong Mu.
"apakah Jia Li mengganggu ?" Tong Mu tersenyum lalu menggeleng pelan.
"kenapa ayah terlihat begitu khawatir, apa yang ayah pikirkan ?" tanya Jia Li.
"ayah tidak memikirkan apapun, saya pusing dengan pekerjaan" bohong Tong Mu.
"ayah jangan berbohong. Jia Li tau, ayah pasti memikirkan gosip murahan itu ya ?" Tong Mu hanya diam, itu menandakan jika ia memang memikirkannya.
"ayah hanya takut reputasimu menjadi buruk" Tong Mu terlihat sedih.
"ayah, seseorang yang berpendidikan seharusnya tidak mudah percaya dengan gosip murahan itu dengan mudah. Lagipula Jia Li sama sekali tidak terganggu kok yah" ucap Jia Li.
"ayah, ayah tau. Hanya saja ayah takut pangeran ke 4 tidak menyukaimu karena gosip itu" pria paruh baya itu nampak cemas. Cemas dengan masa depan anaknya.
"ayah, seharusnya tidak memikirkan itu. Jika Jia Li memang jodoh dengan pangeran ke 4 maka... seperti apapun rintangannya, pasti akan tetap berjodoh" ucap Jia Li dengan senyum lembut.
Tapi di dalam hatinya, Jia Li berharap pangeran ke 4 membatalkan pertunangan mereka. Jia Li tidak mau masuk ke istana yang penuh dengan kelicinan dan rasa iri. Hal yang paling membuat hati Jia Li panas adalah kata poligami, ia tidak meneria yang namanya poligami sampai kapanpun.
"ayah, ayah jangan terlalu memikirkan masalah gosip itu. Nanti ayah sakit" ucap Jia Li penuh perhatian.
"iya nak, sekarang kamu istirahat lah. Hari sudah malam" ucap Tong Mu.
"baik ayah" ucap Jia Li patuh. Saat Jia Li hendak pergi meninggalkan Tong Mu, pria itu mengatakan sesuatu.
"nak, 2 hari lagi kita akan pergi ke istana kekaisaran. Siapkan dirimu" ucap Tong Mu.
Tubuh Jia Li menegang. Dia tidak suka istana.
"apa aku harus ke istana ayah ?" tanya Jia Li kaku.
"tentu saja. Bagaimanapun ibu suri tua masih nenek buyut kekaisaran mu " ucap Ting Mu.
"ham...ayah ini masih cucu ibu suri tua nak. Ayah masih seorang pangeran, ya....meskipun ayah tidak mau menyandang gelar itu, atau tidak pernah ikut campur tentang urusan politik kekaisaran yang sangat menyusahkan itu, tapi bagaimanapun juga ayah tetap bagian dari keluarga kekaisaran. Jadi kita harus kesana meskipun tidak mau, lagipula apa kamu tidak penasaran dengan calon tunanganmu ?" ucap Tong Mu.
"he...hehehe... Ya" tawa Jia Li kaku. Ia tidak tahu harus merespon ucapan Tong Mu seperti apa.
"baiklah ayah, aku permisi dulu" ucap Jia Li.
"iya..." sebelum ucapan Tong Mu diselesaikan, Jia Li sudah pergi. Dia berlari cepat menuju kamarnya.
"hem.... Bagaimana jika nenek kekaisaran melihat Jia Li ya ?" gumam Tong Mu.
Sebenarnya Tong Mu sudah mengirim surat pada ibu suri tua. Ia menceritakan bagaimana pertemuannya dengan reinkarnasi Jia Li, bagaimana sifat, dan bentuk fisiknya yang sangat mirip. Ibu suri tua tidak banyak berkomentar, ia cuman mengatakan ingin melihat Jia Li secepatnya. Sebenarnya Tong Mu sedikit khawatir jika kehadiran Jia Li tidak disukai ibu suri tua, tapi jika itu terjadi maka Tong Mu akan tetap merawat Jia Li sebagai anaknya. Bahkan jika diperlukan, Tong Mu siap pindah dari ibu kota kekaisaran asalkan Jia Li tetap bersamanya.
Sementara di kamar, Jia Li terlihat gelisah. Dia sangat benci berada di istana. Entahlah… dia sangat benci dengan istana kekaisaran. Jia Li terus mondar mandir, sampai-sampai Niu dan Naun pusing melihat nona mudanya.
"nona ada apa ?" tanya Niu penasaran.
"...." Jia Li menatap Niu sesaat. Namun ia kembali berkeliling sambil menggigit kuku jempolnya. Saat ini Jia Li sedang berpikir, ia harus mencari cara agar pangeran ke 4 membencinya lalu membatalkan pertunangan.
"bagaimana ini" gumam Jia Li.
Niu dan Naun saling bertukar pandangan, mereka mulai khawatir dengan nona muda mereka.
"apakah... nona gelisah karna gosip yang menjelek-jelekkan nama nona" tanya Naun sedih.
"ah...GOSIP !" ucap Jia Li. Tiba-tiba sebuah ide muncul.
"kau jenius Naun. Kita bisa menyebarkan gosip jika aku bodoh, buruk rupa, penyuka wanita dan sedikit tidak warat" ucap Jia Li dengan senyum lebar. Namun ucapan Jia Li membuat para pelayannya terkejut, bagaimana mungkin nonanya mau merusak citranya sendiri.
"apa yang nona lakukan, jika nona lakukan itu citra nona akan rusak" ucap Naun.
"iya nona, lalu bagaimana jika pangeran ke 4 termakan gosip itu. Pertunangan akan dibatalkan nona" tambah Niu.
"ya. Memang itu yang aku mau, aku mau pertunangan dibatalkan !" ucap Jia Li dengan senyum lebar.
Niu dan Naun tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Di semua orang di ibu kota tahu jika pangeran ke 4 sangatlah tampan, cerdas, dan sangat kuat dalam ilmu beladiri. Semua gadis di ibukota berlomba-lomba mendapatkan sedikit cintanya, namun nona muda mereka yang akan di jadikan permaisuri pangeran ke 4 malah menolaknya. Ini terdengar gila di telinga mereka.
"Kun, masuklah" ucap Jia Li.
Kun pun masuk saat mendengar panggilan dari nona mudanya.
"Kun, kau bayar beberapa orang untuk menyebar gosip jika aku jelek, bodoh, menyukai wanita, dan...setengah gila. Ini uangnya" ucap Jia Li sambil memberikan 10 koin emas.
"apa yang anda lakukan nona ! Nama anda akan rusak nanti" ucap Kun tidak percaya.
"iya nona, jangan lakukan itu" mohon Niu dan Naun
"Kun, tolong bantu aku. Aku tidak mau menikah dengan orang yang tidak mencintaiku dan aku juga tidak mau di poligami. Jika pernikahan ini terjadi, hidupku akan sangat menderita. Kumohon bantu aku" ucap Jia Li dengan mata berkaca-kaca yang akan membuat semua orang iba.
Benar saja, baik Kun, Naun maupun Niu. Mereka mendadak kasihan pada nona muda mereka. Nona muda mereka begitu baik, lembut dan sangat murah hati, sangat sayang jika dia menikah dengan orang yang akan membuat hidupnya menderita.
"ba...baiklah no...na" ucap Kun pada akhirnya. Sebenarnya dia ragu dengan keputusannya, namun rasa iba pada nona mudanya begitu besar.
Di Masa depan, gosip itu akan menyebar bagai virus.
****
Dua hari kemudian.
Saat ini Jia Li dan Tong Mu sedang berada di kereta menuju istana kekaisaran untuk menemui ibu suri tua. Jia Li terlihat jujup, ia takut jika sikapnya akan menyinggung ibu suri tua.
"ayah, bagaimana jika ibu suri tua, tidak suka padaku" tanya Jia Li.
Tong Mu menatap Jia Li. Ia tersenyum lembut pada anaknya itu.
"tentu saja ibu suri tia akan menyukaimu, percaya apa ayah" Tong Mu mengelus tangan anaknya. Mencoba menenangkan Jia Li.
"jika tidak, aku tidak peduli" tambah Tong Mu dalam hati.
__________
Trima kasih sudah baca novel ini 😊. Jangan lupa like jika suka bab ini ya, komen dan beri keritik agar kedepannya penulisan saya jauh lebih bagus lagi.