"Jia Li 2"

"Jia Li 2"
60



kau yakin ingin mengembalikan itu ? Apa kau tidak rindu dengan orang tua, sahabat, pekerjaan dan dunia liarmu di dunia asli kita ?" tanya Li Ewi yang mencoba meyakinkan Jia Li.


"kau ini bagaimana ! Tadi katanya aku tidak boleh pulang, sekarang kamu malah menyuruh aku pulang" ucap Jia Li kesal.


"bukan begitu, aku cuman mau kamu benar-benar yakin dengan keputusanmu. Jangan sampai kamu menyesal suatu hari nanti" ucap Li Ewi lembut.


@@@


"ya… aku pastikan, aku tidak akan menyesal" ucap Jia Li dengan sangat yakin.


"hem… baguslah" Li Ewi tersenyum lebar.


"oya, apa kamu tidak merindukan mereka ?" tanya Li Ewi menyelidiki.


"hmmm… jujur saja, aku memang merindukan orang tuaku, sahabat-sahabatku, pekerjaan, dan semua hal yang ada di dunia asli kita. Tapi sekarang aku benar-benar tidak bisa kembali karena anak-anak ini" ucap Jia Li lirih sambil mengelus perutnya yang rata.


"meskipun aku sedih tidak bisa kembali, aku cukup bahagia karena akan segera menjadi ibu dari anak orang yang kini ku cintai" ucap Jia Li dengan senyum kecil di wajahnya yang cantik.


"apa maksud dari ucapanmu itu ? Apa awalnya kamu tidak mencintainya ?" tanya Li Ewi.


"ih… kamu itu terlalu banyak bertanya seperti wartawan !" ucap Jia Li kesal. Jia Li memukul bahu Li Ewi karena kesal.


Li Ewi sama sekali tidak melawan. Ia juga tidak menghindari pukulan Jia Li. 


"sudah-sudah, pukulan mu itu sama sekali tidak menyakitiku, kau itu terlalu lemah. Sebaliknya kamu tidak melakukan ini, nanti kecapekan… kan kasian anakmu" nasehat Li Ewi.


"ih… menyebalkan " ucap Jia Li.


Tanpa sengaja Li Ewi melihat banyak tanda  merah di leher Jia Li.


"tunggu dulu, merah-merah kenapa di lehermu itu ?" tanya Li Ewi


"..." Jia Li terdiam sesaat. Lalu dengan cepat ia menutupi lehernya dengan kedua tangannya.


"astaga, jangan bilang kalian melakukan itu ?" Li Ewi menatap Jia Li syok.


"..." Jia Li hanya diam yang berarti iya 


"astaga, apa suamimu tidak bisa mengendalikan dirinya sampai-sampai dia menindas anaknya yang belum lahir !!! " 


"dia belum tau" ucap Jia Li dengan suara kecil.


"ASTAGA, apa kau gila. Kau bahkan belum memberitahu kehamilan mu padanya, padahal usia kandungan sudah 4 bulan. Dan parahnya kamu masih juga melakukan hubungan itu dengannya !" Li Ewi nampak sangat marah dengan Jia Li.


Bagi Li Ewi, Jia Li adalah sahabat pertama yang dia miliki setelah datang ke dunia ini. Belum lagi pemikiran mereka yang kecocokan dan apa adanya membuat  Li Ewi merasa nyaman bersahabat dengan Jia Li. Jadi sebagai sahabat sangat wajar jika Li Ewi sangat peduli dengan Jia Li.


Jia Li menundukan kepalanya karena di marahi Li Ewi.


"hmm… soal aku aku belum memberitahunya itu... karena aku tidak tahu harus bagaimana mengatakannya padanya. Dan...soal aku masih berhubungan intim dengan suamiku … itu akan baik-baik saja jika dilakukan dengan cara yang benar. Lagi pula melakukannya saat hamil bisa mempererat hubungan suami istri " jelas Jia Li.


"cih, bilang saja kau terlalu mesum sampai-sampai tidak bisa menahan nafsumu" ejek Li Ewi.


"cih, seperti tidak pernah melakukannya saja…." ucapan Jia Li terhenti. Ia lalu menatap Li Ewi dengan terkejut.


"kau masih perjaka ya ?" tanya Jia Li.


"ah...apa..apa m.." ucap Li Ewi gugup.


"HAHAHAHA.... Astaga, astaga. Aku tidak percaya." Jia Li tertawa keras.


"HAI berhenti tertawa !" ucap Li Ewi kesal.


"bagaimana aku bisa berhenti tertawa sedangkan ini sangat lucu. Kau tinggal di AS dari kecil hingga dewasa, seharusnya kau sudah melakukannya dengan pacarmu saat usia 15 tahun. Oh...jangan jangan kamu bahkan tidak punya pacar " ucap Jia Li tidak percaya


"jia li" geram Li Ewi. Namun sayangnya Jia Li tidak bisa berhenti meledek Li Ewi


"bahkan setelah kamu pindah kesini, kamu masih juga belum menikah padahal usiamu lebih dari ratusan tahun. ASTAGA…" ucapan Jia Li terhenti, ia mendekati Li Ewi dan menatapnya penuh selidik.


"kamu normal kan ?" tanya Jia Li dengan suara pelan seperti bersisik namun kata-kata Jia Li itu sangat menyakitkan bagi Li Ewi.


"ya jelas aku normal.  Aku pria normal. Hanya karena aku tidak tidur dengan wanita saat ini bukan berarti aku tidak normal. " jelas Li Ewi penuh emosi.


"memangnya waktu di dunia kita dulu kamu sudah berapa banyak pria yang bermain dengan mu ?" tanya Li Ewi kesal.


"hehehe… aku tidak melakukannya. Tapi itu karena mantan kekasih ku yang terlalu menjagaku, aku dan dia tidak pernah melakukan hubungan intim dan dia tidak mengijinkan pria lain menyentuh ku" ucap Jia Li sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"oh, sama saja dong" ucap Li Ewi.


"hem… maaf Li Ewi. Sepertinya aku harus segera kembali nanti suamiku mencariku" ucap Jia Li. Saat Jia Li hendak pergi Li Ewi mengatakan sesuatu pada Jia Li.


Jia Li menatap pria itu.


"jadi... sebagai sahabat, aku harap kamu hidup dengan baik. Tapi jika terjadi sesuatu padamu di masa depan, aku bisa menjadi tempatmu berlindung" ucap Li Ewi tulus dengan senyum lembut di wajahnya.


Jia Li tersentuh mendengar ucapan Li Ewi. Pria itu benar-benar tulus padanya, bukan pandangan cinta antara pria dan wanita yang dia berikan. Tapi, pandangan seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya.


"aku juga berharap kau bahagia disini Li Ewi. Jangan terlalu menutup diri, carilah kekasih agar hidupmu lebih berwarna" ucap Jia Li dengan senyum jahil. Setelah mengatakan itu Jia Li berlari.


Sementara Li Ewi yang mendengar ucapan itu berdecak kesal. Dia tidak suka jika membahas mengenai hubungan asmaranya.


*


*


*


Jia Li membuka pintu kamarnya dengan perlahan. Lalu berjalan mengendap-endap menuju kasurnya. Di sana Wang Chunying masih tertidur dengan lelap. Jia Li menarik napas lega. Ia merasa lega karena pria itu masih tertidur dengan lelap tanpa gangguan. 


Kemudian Jia Li naik keatas ranjang dan mulai memejamkan matanya. Tidak lama Jia Li telah terlelap dalam tidurnya. Tapi, saat Jia Li tertidur dengan nyenyak, mata Wang Chunying terbuka.


Wang Chunying mendekat kerah Jia Li. Memeluk istrinya dari belakang dengan erat.


"kamu terlalu banyak rahasia istriku. Merahasiakan sejarah kehidupan mu, merahasiakan hatimu, bahkan kamu merahasiakan kehamilanmu dariku. Kamu jahat !" ucap  Wang Chunying.


Wang Chunying mengelus perut rasa Jia Li dengan lembut dan penuh kasih sayang. 


Ya… Wang Chunying mengetahui semuanya. Tadi Wang Chunying telah terbangun saat mendengar ucapan Jia Li  yang seperti kalimat perpisahan, dan itu membuat Wang Chunying gelisah dan takut kehilangan Jia Li lagi. Setelah mengatakan itu Jia Li pergi dari kamar dengan mengendap-endap, karena curiga  Wang Chunying mengikuti istrinya itu dari belakang. 


Betapa terkejutnya dia saat melihat Jia Li bertemu dengan Li Ewi, pria berdarah dingin itu. Awalnya Wang Chunying berpikiran buruk tentang pria itu, namun saat mendengar pembicaraan mereka Wang Chunying mulai merasa tenang. Meskipun begitu, jauh di dalam hatinya ada perasaan aneh yang bercampur menjadi satu. 


Meskipun dia kecewa dengan perilaku Jia Li yang merahasiakan banyak hal darinya, namun Wang Chunying sangat senang karena Jia Li memilih hidup bersamanya.


Wang Chunying juga senang karena Jia Li ternyata mencintainya, dan...ia senang karena saat ini Jia Li sedang hamil anak mereka. Malam ini adalah malam yang paling membahagiakan untuk Wang Chunying. Malam yang tidak mungkin melupakannya.


"apa kamu baik-baik saja di dalam sana ? Apa ayah menindas kamu ?" tanya Wang Chunying sendu sambil mengelus perut Jia Li yang rata.


"mereka baik, jadi jangan mengelus perutku lagi. Itu geli. Dan maaf karena tidak memberitahumu, aku cuman tidak tahu harus mengatakannya bagaimana padamu" mata Jia Li terbuka, lalu dia berbalik hingga bisa menatap wajah Wang Chunying.


"kamu tidak tidur ?" tanya Wang Chunying.


"tadinya aku tidur, cuman kamu mengelus perutku terus. Karena merasa geli jadi aku terbangun" jelas Jia Li.


"maaf" ucap Wang Chunying. Pria itu kemudian menarik Jia Li kedalam pelukannya.


"tidak apa-apa " ucap Jia Li.


"jadi 6 bulan lagi kita akan punya anak ?" ucap Wang Chunying yang terlihat sangat bahagia.


"ya… seharusnya begitu" ucap Jia Li.


"hmm tapi kita masih bisa melakukan itu kan ?" tanya Jia Li dengan suara manjanya.


"maksudmu ?" Wang Chunying menatap Jia Li tidak mengerti.


"itu, melakukan itu. Masak kamu tidak mengerti" ucap Jia Li dengan wajah cemberut dan sedikit merah karena malu. Jari-jari Jia Li bermain di dada Wang Chunying. 


Wang Chunying mulai mengerti maksud Jia Li. Maksud Jia Li adalah kegiatan di atas ranjang mereka.


"tapi kamu sedang hamil" 


"iya aku tau, tapi aku menginginkannya. Lagian anak-anak kita baik-baik saja kok asalkan kita melakukannya dengan benar dan lembut" ucap Jia Li dengan bibir dimajukan.


Melihat tingkah Jia Li yang lucu membuat Wang Chunying menangang. Padahal mereka baru beberapa jam yang lalu melakukan hubungan intim. 


"apa benar tidak apa-apa ?" tanya Wang Chunying serius.


"iya tidak apa-apa. Buktinya waktu aku hamil 3 bulan pertama, kita hampir tiap hari melakukan itu tapi, mereka sampai sekarang baik-baik saja. Bahkan mereka tumbuh dengan baik" ucap Jia Li meyakinkan Wang Chunying.


Setelah mendengar hal itu, Wang Chunying tanpa basa-basi kembali menjajah tubuh istrinya yang seksi itu. 


*


*


*